Pendekar Naga Emas S2

Pendekar Naga Emas S2
Pertapa Gila


Dengan berlari di udara dan sesekali melompat Liang Xie telah sampai ke pucak tertinggi Gunung Phoenix. Anak yang ada di bahunya masih tertidur nyenyak tanpa sadar apa yang baru saja terjadi sebelumnya.


Liang Xie kemudian melangkah menuju rumah kayu, dia mendapati di halaman depan gubuk tersebut, kakaknya Jiang Feng tengah bertapa dengan cara yang unik.


Jiang Feng bertapa di atas sebuah batu hitam, kakinya lurus ke atas sedangkan kepalanya di bawah menempel pada batu tersebut. Tubuhnya tak sedikitpun bergerak, sementara kedua tangannya dirangkapkan di depan dada. Kumis dan janggutnya yang panjang menjulai menutupi wajah dan sepasang matanya.


Diam-diam Liang Xie menjadi kagum melihat kakak seperguruannya bertapa seperti itu. Dia yakin diantara tokoh-tokoh pendekar terkemuka di Kekaisaran Ming hanya kakak seperguruannya lah yang sanggup bertapa seperti itu. 


Kini setelah bertemu, Liang Xie malah jadi bingung sendiri bagaimana membangunkan kakak seperguruannya tersebut. Tiba-tiba anak yang dipanggulnya menggeliat dan membuka matanya, bocah itu terheran-heran melihat dimana sekarang ia berada.


Dan keheranannya semakin bertambah ketika menyaksikan Jiang Feng yang bertapa dengan kaki di atas dan kepala di bawah.


"Hei, itu patung ataukah manusia?" Bocah itu berseru lantas turun dari pundak Liang Xie.


"Aku sendiri tidak tahu, nak. Coba kau tarik keras-keras janggutnya. Jika dia manusia, tentunya dia akan menjerit kesakitan, tapi jika patung pasti akan diam saja." Ucap Liang Xie setelah mendapatkan akal bagaimana membangunkan kakaknya.


Bocah pengembala mendekati Jiang Feng yang disangkanya patung, tangan kanannya di ulurkan untuk menarik janggut orang tua itu tapi mendadak terjadi sesuatu yang mengejutkan bocah itu, demikian pula Liang Xie.


Ketika tangan bocah itu hampir menarik janggut, tiba-tiba janggut tersebut bergerak dan melilit lengan bocah itu dengan erat.


Sontak saja membuat bocah itu kaget, dia menggerakkan tangan kirinya untuk melepaskan tangan kanannya dari lilitan, tapi tangan kirinya juga malah ikut terlilit. Bagaimanapun bocah itu berusaha berontak untuk melepaskan kedua tangannya, tetapi semua usahanya tersebut sia-sia saja.


"Kakak, kau bangunlah!" Liang Xie berseru. Dia berfikir bahwa kakaknya tidak sepenuhnya berada dalam pertapaan.


Tiba-tiba bocah pengembala menjerit karena kedua tangannya begitu sakit, dan lalu bocah itu terpental ke arah batu besar.


Kakek janggut putih itu terkesiap kaget, untung dia masih sempat menangkap tubuh si bocah, kalau tidak bocah itu akan menghatam batu besar.


Setelah menangkap si bocah, Liang Xie tertegun sekilas. Menggerakkan janggut dengan di aliri Qi dan bisa menghempaskan seseorang tentu merupakan hal yang luar biasa.


"Liang Xie, ratusan tahun kau tak muncul. Begitu datang kau hanya mengganggu ketentraman puncak Gunung Phoenix ini saja." Terdengar suara halus yang tidak lain adalah suara Jiang Feng.


Liang Xie memandang ke depan, dia mendapati Jiang Feng sudah duduk di batu yang mana tadi menjadi tempatnya bertapa.


Sepasang mata Jiang Feng menatap pada adik seperguruannya, pandangan itu seolah-olah menembus dada dan jantung Liang Xie.


Buru-buru Liang Xie membungkukkan badan, "Bukan maksudku mengganggu ketentraman disini, tapi pembantu-pembantu itu yang memaksaku berlaku keras."


"Kekerasan itu memang perlu ada, tapi untuk waktu-waktu dan orang-orang tertentu. Kekerasan yang di lakukan secara sembarangan adalah suatu kejahatan. Lian Tao dan Shin Hai memang pembantu-pembantu tak berharga, tapi di puncak gunung ini, mereka adalah tuan rumah yang harus di hormati oleh setiap tamu, siapapun dia adanya. Disini, di puncak Gunung Phoenix ini, tuan rumah yang membuat peraturan bukan orang luar."


Wajah Liang Xie terlihat bersemu merah mendengar perkataan kakak seperguruannya itu. Ratusan tahun silam, dia sebenarnya juga adalah penghuni Gunung Phoenix, menemani dan mengurus gurunya bersama kakak seperguruannya itu. Namun setelah gurunya yang berjuluk Pertapa Phoenix Api meninggal, dia memutuskan turun gunung, sementara kakak seperguruannya Jiang Feng masih tetap ingin berada di sana.


"Sekarang katakan apa keperluanmu datang kemari.?"


"Kakak, anak itu..."


"Aku tidak tanya anak itu! Yang ku tanyakan adalah keperluanmu.." Tukas Jiang Feng tanpa menoleh ataupun melirik bocah pengembala yang berdiri tegak di samping adik seperguruannya.


"Begini kakak..." Liang Xie menerangkan pertarungannya dengan kakek jubah hitam, yang tidak lain adalah Raja Kelelawar Hitam dari Gunung Utara.


"Jika tidak ada bocah pengembala yang pandai meniup seruling itu, pasti jiwaku sudah melayang di tangannya Raja Kelelawar Hitam. Aku telah berhutang nyawa terhadap bocah ini, dan aku harus membalasnya." 


Liang Xie beranggapan ketika dia bertarung melawan Raja Kelelawar Hitam dan hampir saja menemui ajalnya, suara seruling bocah pengembala telah menyelamatkannya, sebab dia melihat sendiri bagaimana suara seruling bocah itu mengganggu konsentrasi lawannya, sehingga membuat sihir Raja Kelelawar Hitam lenyap. Liang Xie tidak menyadari bahwa bukan suara seruling bocah pengembala tersebut yang menyelamatkannya, tetapi seseorang yang melihat pertarungan tersebut dari jauh, yaitu Arya.


"Aku tidak tertarik pada ceritamu, tidak tertarik padamu dan juga bocah itu. Sekarang silahkan angkat kaki dari puncak gunung ini."


"Kakak, tapi..."


Jiang Feng tidak memperdulikan adik seperguruannya itu, malah dia sekarang mulai membuka mulutnya dan asyik bernyanyi.


"Puncak Gunung Phoenix tinggi sekali tapi lebih tinggi akal dan budi. Laut selatan dalam sekali tapi lebih dalam hati sanubari. Yang tinggi mudah jatuh, yang dalam sukar di selam. Akal dan budi kadang tak berguna jika perasaan lebih menggelora." Jiang Feng mengulang sekali lagi lagu itu.


Di lain pihak, bocah pengembala yang merasa lagu itu cukup merdu, lantas mengeluarkan serulingnya, meniupnya mengiringi nyanyian si kakek.


Mengetahui nyanyiannya ada yang mengiringi, Jiang Feng terus saja mengulangi nyayiannya sampai enam kali berturut-turut. Setelah itu dia tiba-tiba mendongak ke langit dan tertawa tergelak-gelak.


Bocah pengembala yang sedang asyik meniup serulingnya, merasakan lututnya goyah oleh suara tawa tersebut dan sesaat kemudian dia terhuyung jatuh ke tanah.


Liang Xie sendiri jika tidak sigap mengerahkan Qi miliknya pasti juga akan bergetar seluruh tubuhnya karena kuatnya tekanan suara tertawa kakak seperguruannya itu.


"Kakek, nyanyianmu bagus sekali. Kenapa berhenti?"


"Kurang ajar, ditanyai malah menyuruh orang menyanyi. Apa kau kira aku penyanyi keliling." Bentak Jiang Feng, lalu tiba-tiba dia berkelebat jungkir balik. Detik kemudian, dia sudah kembali ke posisi bertapa dimana kaki lurus ke atas dan kepala di bawah.


"Hei nak, kenapa kau hentikan serulingmu. Ayo lekas mainkan lagi."


"Apa kau kira aku ini peniup seruling keliling." Bocah pengembala merengut dan balik menyindir Jiang Feng.


Liang Xie yang khawatir kakak seperguruannya akan kumat sifat anehnya, marah terhadap bocah tersebut, buru-buru membuka mulut. "Kakak, kau tahu aku telah berhutang nyawa padanya. Hutang dalam bentuk apapun harus di bayar. Kau saksikan sendiri keadaan anak ini. Tubuh dan struktur tulangnya begitu baik, rasanya sulit mencari bocah seperti dia di seluruh daratan ini. Sebenarnya aku berniat untuk mengambilnya jadi murid, tapi aku pikir kakak lebih baik dariku untuk membimbingnya. Jadi sebagai balas budiku padanya, maka ku harap kakak mau mengangkat bocah ini menjadi murid."


"Enak sekali bicaramu." Tukas Jiang Feng. "Kau minta aku mengambil murid anak yang tidak jelas asal-usulnya, apa kau sudah gila atau otakmu memang sudah miring."


"Kakak, kau bisa lihat sendiri, anak ini istimewa."


"Apanya yang istimewa? Dia sama seperti anak-anak lainnya." Tukas Jiang Feng.


"Aku mohon padamu.."


"Sepertinya kau memang benar-benar sudah gila." Jiang Feng menggelengkan kepalanya. "Bagaimana kalau di kemudian hari bocah itu mengecewakan aku?"


"Jika itu terjadi, kakak boleh mengambil nyawaku."


"Sudahlah kek, aku juga tidak mau mengemis menjadi muridnya." Timpal si bocah.


"Bocah kurang ajar, aku tidak bicara denganmu." Hardik Jiang Feng. "Oh ya, kau belum menerangkan namamu."


"Namaku, Xiao Tian. Dan sekarang aku akan angkat kaki dari sini." Anak pengembala berpaling ke arah Liang Xie, lalu berkata. "Kek, kau yang membawaku kemari, sekarang kau memiliki kewajiban membawaku turun dari tempat memuakkan ini."


"Bocah gila, orang hendak membalas budi malah bersikap konyol." Bentak Jiang Feng.


"Aku tak membutuhkan balas budi.."


"Xiao Tian anak kurang ajar, kau mendekatlah kemari!" Jiang Feng memanggil, tapi si bocah tidak mau beranjak dari tempatnya.


Namun tiba-tiba ada aura aneh yang keluar dari tubuh Jiang Feng, membuat tubuh si bocah terseret ke hadapan kakek itu.


"Aku sudah melihat susunan tulangmu, tapi aku belum melihat bagian-bagian terdalam tubuhmu. Sekarang kau lepaskan pakaianmu."


Mendengar perkataan Jiang Feng, wajah Liang Xie nampak senang, sedangkan bocah pengembala terlihat marah.


"Kakek gila, seenaknya saja menyuruh orang telanjang. Kau saja yang telanjang, mengapa menyuruh orang." Bentak anak itu dengan nada ketus.


"Anak kurang ajar!" Jiang Feng mendengus marah, lalu dia bergerak cepat merobek seluruh pakaian bocah itu dari jauh, hingga kini anak itu telanjang bulat.


"Hemmm bagus, kau memang boleh juga."


Setelah berkata demikian, Jiang Feng mencekal tengkuk Xiao Tian lalu melemparkannya ke udara, menyambutnya dengan kedua kakinya, lalu dengan kakinya itu tubuh Xiao Tian di pentalkan kembali ke atas, di sambut lagi di pentalkan lagi demikian berkali-kali. 


Anehnya Xiao Tian tidak merasakan sakit sedikitpun, tapi sensasi itu membuat dia bergidik ngeri. Bocah itu tak henti-hentinya menjerit ketakutan.


Tiba-tiba muncul Shin Hai dan Lian Tao. Mereka tertawa terbahak-bahak melihat gurunya itu mempermainkan seorang bocah seperti bola.


"Guru, tendang dia kemari." Seru Shin Hai sambil mengulurkan kedua tangannya.


Mendengar itu, Jiang Feng tertawa lalu menendang Xiao Tian ke arah Shin Hai.


Shin Hai dengan sigap menyambut tubuh Xiao Tian, lalu menendangnya melayang ke arah Lian Tao.


Tiga kakek-kakek gila dari gunung Phoenix tersebut nampak asyik menendang-nendang tubuh bocah kecil, Xiao Tian seperti layaknya bermain bola. Mereka tidak perduli dengan jerit ketakutan si bocah.


Sementara itu, Liang Xie yang menyaksikan hal itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar manusia-manusia gila.." gumamnya dalam hati.


Namun Liang Xie juga merasa senang, sekalipun kakak seperguruannya tidak mengatakan bersedia menjadikan Xiao Tian menjadi muridnya, namun melihat sikap kakak seperguruannya itu secara tidak langsung Jiang Feng telah menyatakan bahwa dia berkenan dengan bocah itu.


Dengan senyuman puas, Liang Xie berkelebat pergi meninggalkan puncak gunung Phoenix.