
Di arah lain, para anggota Lembah Petir yang dalam perjalanan bersama Liu Wei dan Huang She akhirnya tiba di dekat pertarungan. Mereka tidak berani bergerak semakin dekat karena khawatir akan terkena dampak serangan nyasar. Maka mereka hanya bisa melihat pertarungan yang tidak begitu jelas dengan perasaan campur aduk.
Barulah ketika tetua Lin Hai melihat Huang She, Liu Wei bersama beberapa siluman yang dikenalnya sebagai peliharaan Arya. Diapun segera menuju ke tempat gadis-gadis muda tersebut.
Merasakan adanya aura beberapa siluman yang mendekat, Hulao, Honglong, Griffinhan dan Wouven segera berpaling ke arah aura siluman tersebut berasal. Awalnya mereka bersiaga dengan menyiapkan serangan masing-masing untuk berjaga-jaga apabila mendapatkan kemungkinan terburuk yakni serangan susulan dari musuh. Namun saat siluman-siluman yang terbang tersebut semakin mendekat, akhirnya Hulao dan yang lainnya mengurungkan serangan mereka.
“Apa yang sebenarnya terjadi disini?” Tanya tetua Lin Hai begitu sampai di dekat mereka.
Liu Wei dan Huang She yang terlalu fokus melihat jalannya pertarungan antara Arya dan panglima kegelapan sontak saja terperanjat kaget ketika mendengar pertanyaan tetua Lin Hai tersebut. Merekapun cepat-cepat memutar tubuh ke arah suara itu berasal.
“Guru..” ucap kedua gadis itu serentak.
Tetua Lin Hai mengerutkan dahi lalu mengangguk. “Kenapa kalian pergi tanpa memberitahukan dulu pada kami? Dan apa yang sebenarnya terjadi disini?”
Tetua Sekte Lembah Petir ini menatap Liu Wei dan Huang She bergantian, kemudian dialihkannya pandangannya ke atas dimana pertarungan berlangsung sengit.
Terdengarlah suara Liu Wei, gadis itu berbicara dengan nada bergetar karena masih dilanda perasaan cemas terhadap keselamatan Arya. “Aku juga tidak tau, guru.”
Tetua Lin Hai menatap gadis itu, tidak biasanya gadis itu bersikap demikian. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang di pikirkan tetua Sekte Lembah Petir tersebut atas sikap Liu Wei. Namun pada saat demikian terdengar pula suara Huang She.
“Maafkan kami, guru.. kami tidak sempat memberitahukan kepergian kami. Semua ini karena Griffinhan tiba-tiba membawa kami ke tempat ini.” Huang She menundukkan kepalanya saat tetua Lin Hai menatapnya lekat-lekat. Namun kemudian gadis ini melanjutkan perkataannya. “Griffinhan membawa kami ke sini karena dia merasakan keberadaan Arya. Dan Arya sekarang sedang bertarung melawan panglima kegelapan.”
Kening tetua Lin Hai segera berkerut. Tetua dari Sekte Lembah Petir yang mendapatkan kembali penampilan muda tersebut dapat memahami bahwa kepergian Liu Wei dan Huang She pastilah menyangkut persoalan yang penting, tetapi dia sama sekali tidak menyangka jika persoalan tersebut berhubungan dengan pertarungan Arya.
Sepasang alis tetua Lin Hai terpaut berkedut-kedut, lalu dipalingkannya pandangannya ke atas berusaha melihat lebih jelas pertarungan yang berlangsung di atas sana. Demikian pula para tetua serta para anggota Sekte Lembah Petir yang mendengar keterangan Huang She tersebut.
Tiba-tiba saja Hulao menggeram sebelum melesat cepat menuju ke suatu tempat. Semua orang seketika memandangi siluman harimau putih yang telah bertransformasi setengah manusia itu. Banyak pertanyaan atas sikap Hulao yang tiba-tiba tersebut.
Cepat sekali Hulao telah menghadang sekumpulan pendekar yang tengah melesat terbang menuju ke tempat pertarungan Arya.
Para Pendekar tersebut segera bersiaga, mereka bahkan tanpa basa-basi langsung melancarkan serangan. Hulao hanya menghindari setiap serangan yang datang dari para pendekar itu. Dia tidak mau melukai mereka karena mengenal orang-orang itu adalah sekelompok anggota organisasi Yenmin yang pernah ditemuinya di wilayah kerajaan Guangzhou saat menangkap hewan iblis yang menyamar menjadi seorang pemuda yang mempertontonkan atraksi.
Pada suatu kesempatan, Hulao meraung keras layaknya harimau yang murka. Semua anggota organisasi Yenmin segera menjaga jarak. Mereka sontak saja bergetar merasakan kuatnya tekanan raungan tersebut.
“Dengar! Aku tidak ingin melukai kalian. Jadi pergilah jangan mengganggu pertarungan tuanku.!” Hulao berkata demikian karena dia khawatir keberadaan para anggota organisasi Yenmin ini dalam pertarungan malah justru merusak konsentrasi Arya.
Seorang lelaki berjenggot agak panjang berwarna kelabu mengerutkan kening. Dengan wajah tegang dan nada bergetar dia membentak. “Apakah kau kawan dari makhluk itu?!”
“Tidak! Sama sekali bukan! Keberadaanku disini justru melawan makhluk itu.” Hulao berhenti sesaat, dilihatnya lelaki berjenggot tersebut yang nampak tidak mempercayai ucapannya. “Kita sebenarnya pernah bertemu. Ah...” Hulao bingung untuk menjelaskan, maka di biarkan saja orang-orang itu mau percaya atau tidak. Yang jelas dia tidak akan membiarkan orang-orang ini mengganggu pertarungan tuannya.
Benar saja, lelaki berjenggot itu kembali membentak. “Kalau kau berada di pihak pemuda itu, kenapa kau malah tidak membantunya dan sekarang justru malah melarang kami yang berniat membantunya?!”
“Terserah pada kalian saja. Yang jelas aku tak akan membiarkan kalian mencampuri urusan tuanku.”
“Baiklah, lalu sekarang apa mau mu siluman!?”
“Tergantung sikap kalian..” Jawab Hulao tenang.
“Kami akan membantu pemuda itu!” Lelaki berjenggot itu menatap rekan-rekannya. Orang-orang anggota organisasi Yenmin itu mengangguk dan segera melesat menuju ke tempat Arya.
“Jadi kau tetap akan menghalangi kami?”
Hulao mengangguk. Maka demikianlah terjadi pertarungan di antara mereka. Hulao yang tidak mau kesalah-pahaman ini berakibat buruk, maka dia pun hanya selalu menghindar dan terus saja berusaha menghalang-halangi jalan orang-orang itu mendekati pertarungan tuannya.
****
Berhasil mendaratkan serangan yang membuat Arya terpental. Yeva tidak membuang kesempatan. Dengan segera panglima kegelapan ini maju melayangkan pedang berniat menanggalkan kepala Arya.
Tapi mata kuning pemuda itu dapat melihat beberapa detik sebelum kejadian. Maka Arya segera menyilangkan lengan kanannya yang berlapis energi emas dan kilatan petir putih berbentuk kepala singa untuk membuat laju pedang panglima kegelapan itu seketika terhenti beberapa jengkal sebelum mengenainya.
Yeva berdecak kesal karena serangannya kembali gagal, namun dia tidak tinggal diam karena saat lengan Arya menyilang, panglima kegelapan itu melihat celah pada perut pemuda itu.
Dengan cepat Yeva pun berputar menyamping dan memberikan tendangan kuat tepat pada sasaran yang di incarnya.
Benar saja, tendangannya masuk pada perut Arya, membuat tubuh pemuda itu melayang jatuh dan juga menghantam bebatuan besar.
Batu yang dihantam tubuh Arya seketika meledak menciptakan debu tebal yang membumbung tinggi ke angkasa.
Panglima kegelapan tersenyum puas karena serangannya kali ini berhasil, namun senyumnya kembali lenyap saat dari balik asap tebal tersebut berdatangan banyak bola energi putih bertekanan tinggi.
Tak ingin terkena serangan tersebut, Yeva buru-buru bergerak cepat menangkis setiap bola energi dengan pedangnya, membuat bola energi itu terpental ke segala arah.
Ledakan demi ledakanpun terjadi saat bola energi putih menyentuh permukaan tanah, menciptakan lubang kawah yang cukup dalam.
Sehingga daratan tempat pertarungan mereka kini menjadi tidak berbentuk karena terdapat banyak lubang kawah yang setiap lubangnya mengepulkan asap putih bercampur debu.
“Sial!” Umpat Yeva.
Dia memang berhasil menangkis semua serangan bola energi, namun fokusnya lengah hingga tidak menyadari Arya sudah berada di belakangnya.
Saat panglima kegelapan berbalik, kedua kepala singa di lengan pemuda itu telah menempel tepat di dadanya.
BUUUUMM!
Terjadi dua ledakan besar, tubuh panglima kegelapan terlempar sangat jauh menembus tebing batu di sebelah timur gunung Berapi, tubuh itu terus masuk menembus tanah dan bebatuan hingga mencapai sumber kawah gunung. Ketika Yeva tercebur masuk lubang kawah. Gunung Berapi itupun mengeluarkan asap putih yang sangat tebal.
Bibir Arya terlihat menyeringai menyaksikan lawannya itu terhempas jauh menembus daratan.
Namun wajahnya mendadak menjadi buruk, dia merasakan ada energi besar melesat sangat cepat dan langsung menebaskan pedang ke tubuhnya.
Beruntung mata yang dimilikinya dapat merasakan energi lawan, hingga tangan Arya masih sempat bergerak menciptakan tembok pelindung untuk menahan serangan tersebut. Akan tetapi serangan panglima kegelapan kali ini sangat kuat hingga membuat Arya terpental jauh ke belakang.
Saat tubuh Pendekar Naga Emas ini masih melayang, panglima kegelapan tiba-tiba muncul di atasnya dan langsung kembali menyerang dengan serangan energi.
Selarik sinar hitam melesat cepat menyongsong tubuh Arya. Merasakan ada energi berbahaya datang, pemuda itupun cepat-cepat menendang udara bersalto ke depan dan dengan cepat menyilangkan lengannya untuk menahan serangan yang datang.