MY HUBBY IS A PRESDIR

MY HUBBY IS A PRESDIR
Episode 20


Sore itu setelah membersihkan diri Ken dan Jennie pun kembali kerumah ,


" kak , ayo kerumah Daddy kita makan malam disana "


" emm..gak deh Ken , kakak lelah banget sayang . kakak langsung pulang aja ya . gimana kalo besok aja kan hari Minggu tuh pasti Daddy dirumah .besok kamu jemput kakak ya "


" oke deh , by kak" Ken masuk kemobil nya


" daah...."


Setelah sampai rumah pukul enam sore Jennie masuk dan mendapati Derren dan Nadya sedang duduk di ruang tv ,ia melihat Nadya yang begitu manja dengan derren . sudah biasa memang jika hati Sabtu derren pulang lebih awal . Jen tidak memperdulikan mereka dan berlalu begitu saja ke kamar nya .


Bohong jika dia tidak sakit hati . tapi dia segera menepis rasa sakitnya itu . Jen berganti pakaian dengan kaos oblong yang sedikit kebesaran dan hotpants ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memainkan ponselnya .


Ting


chat masuk dari Radith


Radith


" Jen , kamu udah periksa email dari pak Handoko"


Jennie


" Belum dit , aku belum sempat ngecek ,apa ada masalah "


Radith


" Tidak juga , Hanya saja beliau ingin segera bertemu dengan mu ,hotel di new York akan segera diresmikan dia harap kamu bisa datang untuk meresmikan bersama "


Jennie


" Tentu dit, kapan peresmian nya "


Radith


" dua Minggu lagi di hari Sabtu jam tujuh malam, saat ini mereka sedang mempersiapkan semua nya "


Jennie


" Oke lah, Kamis aku berangkat ,Jumat buat jadwal pertemuan dengan pak Handoko dan jangan lupa suruh Siska untuk menyiapkan apartemen untuk ku dan Ara "


Radith


" Oke honey😊"


Jen hanya tersenyum melihat balasan pesan Radit dan mengecek email dari pak Handoko tentang peresmian hotel mereka tanpa menyadari derren sudah berada dikamar


Derren melihat Jen tersenyum sendiri dengan handphonenya mengepalkan tangannya .


Cemburu? tentu saja . siapa yang tidak cemburu melihat orang yang dicintai nya tersenyum ntah pada siapa . mungkin kekasih nya pikir derren .


Setelah selesai Jen meletakkan handphonenya di atas nakas . ia hendak turun dari ranjang tapi terkejut melihat derren.


" Astaga . mas kau mengejutkan ku saja " ucapnya mengelus dada nya


" kenapa kau senyum senyum sendiri seperti tadi . apa itu kekasih mu" ucap derren menatap tajam pada Jen


" bukan . itu temanku " jawab Jen


" apa mas membutuhkan sesuatu "lanjutnya lagi . Jen berusaha bersikap biasa kepada derren


" Benar kah hanya teman " bukannya menjawab dia malah bertanya


Jen hanya menganggukan kepalanya.


Derren berjalan ke arah Jen dan duduk ditepi ranjang menatap Jennie . betapa ia sangat merindukan sosok Jen .wanita yang sudah memporak porandakan hatinya .ia sangat takut kehilangan Jen saat ini . tapi dia juga tidak bisa mengabaikan Nadya, derren meraih tangan Jen


" sayang aku minta maaf kepada mu , aku sangat menyesal . aku mohon apa pun yang terjadi jangan tinggalkan aku , Sungguh aku sangat mencintaimu Jen , aku tidak tau kapan perasaan ini ada . yang aku tau aku tidak bisa kehilangan mu sayang " derren menatap Jen lembut penuh penyesalan .


" Kau boleh menghukum ku . lakukan apapun yang membuat mu memaafkan ku . beri aku waktu untuk membuktikan bahwa aku sungguh mencintaimu, jangan abaikan aku .aku tidak sanggup sayang . lebih baik kau memarahiku . memukul ku tapi jangan abaikan aku "


jika dia tetap bertahan mungkin dia tidak akan sanggup .


Jen menarik nafas dalam-dalam.


" Mas . dengarkan aku !aku ingin jujur padamu . dan aku hanya mengucapkannya sekali jadi dengarkan baik-baik.


Aku sudah memaafkan mu . Jujur aku sudah mulai mencintaimu . malam itu aku ingin mengungkapkan perasaan ku. tapi sungguh aku benar-benar kecewa padamu . Cintaku yang bahkan belum dimulai kau sudah mematahkan nya. tapi aku harus mengerti dia lebih membutuhkan mu . aku tidak bisa egois akan hal itu. aku ikhlas kau bersamanya. Tapi..." Jen menggantung ucapannya


" Sungguh aku tidak bisa berbagi "


" Mas , jika kau mencintaiku kau tidak akan membiarkan aku sakit kan dengan melihat mu bersama wanita lain ... so please let me go baby..." ucap Jen menggenggam tangan derren menatap nya memohon .


Derren menggelengkan kepalanya


" Tidak . aku tidak bisa melepas mu . aku tidak bisa tanpamu sayang . please jangan tinggalkan aku "


Jen tersenyum lembut pada derren dia juga tidak tega padanya .


" mas beri aku waktu , sekarang ayo kita turun makan malam . oh ya . besok aku akan kerumah Daddy bersama Ken " tidak tega dengan derren jika ia mengabaikan nya terus . biarlah beberapa waktu kedepan dia akan membuat derren bahagia sebelum ia pergi.


" iya sayang . apa tidak mas antar saja "


" tidak aku sudah janji dengan Ken . kami akan menghabiskan waktu di rumah Daddy "


" Baiklah . ayo turun "


Di meja makan Nadya selalu berusaha mencari perhatian derren menatap sinis pada Jen . tapi Jen tetap stay cool tak peduli dia hanya melakukan tugasnya saja mengambilkan makan untuk derren . setelah itu dia makan dengan tenang .


" sayang . suapin...". ucap Nadya manja


" Bisakah kau makan dengan tenang " tegas derren


" tapi anak kita ingin di suapi papa nya" bergelayut di lengan derren


Dengan kesal derren menyuapi Nadya .


setelah makan Jen membereskan meja makan dibantu oleh bi Lastri . sedangkan derren keruang kerjanya


" Non. biar bibi aja , non istirahat saja "


" Tidak apa bik , setelah ini aku akan istirahat "


bi Lastri tidak bisa mencegah nya lagi karena memang Jen biasa melakukan nya . tiba-tiba Nadya datang dengan angkuh melipat kedua tangannya.


" heh, orang rendahan jadi biasa melakukan pekerjaan rendahan "


Jennie yang mendengar itu tidak memperdulikan nya . merasa tidak di perduli kan Nadya jadi kesal


" hei . buatkan aku susu hamil "


Henning


" Apa kau tuli " seru nya


"Biar bibik buat kan non" ucap bi Lastri .


" tidak ,aku ingin wanita itu yang membuatnya"


Jen yang mendengar itu berbalik menatap Nadya


" Bukan aku tidak mau . hanya saja aku tidak ingin bayi yang tak berdosa itu meminum susu yabg di buat oleh wanita rendahan seperti ku "


lalu ia berjalan melewati Nadya dengan santai .


" Hei dasar kau wanita tak tau malu " teriak Nadya


Jen menghela nafas menghadapi sikap Nadya . bukan dia tak berani melawan . dia hanya tak ingin melawan wanita hamil . tapi jika nanti dia sudah kelewat batas . jangan salahkan jika dia bertindak tak berperasaan. .