MY HUBBY IS A PRESDIR

MY HUBBY IS A PRESDIR
Bab 4


Ke esokan hari nya di rumah sakit , Pagi hari Jen terbangun mendapati derren Sudah siap dengan pakaian kerja nya . Sangat tampan ! Batin Jen


" Kamu mau kemana ?" tanya Jen


" Aku ada mitting sebentar . nanti Akan ada yang kesini menjenguk mu , Aku berangkat dulu ya ! Maaf gak bisa nemenin kamu sarapan nanti aku panggilin suster untuk membantu mu jika butuh sesuatu " ujar derren dan di angguki oleh Jen


" hati hati di jalan derren " ujar Jen sedikit canggung .


Deg


Derren menoleh ke arah Jen dengan jantung yang berdetak cepat , Selama ini baru kali ini Jen memanggil nya dengan sebutan Nama seperti dulu awal mereka menikah . kalau boleh jujur dia lebih suka Jen memanggil nama nya karena menurut nya akan merasa lebih dekat .


" Ada apa ?" tanya Jen yang melihat derren melamun , Derren menggelengkan kepala nya dan tersenyum pada Jen .


" Kemari lah " Ujar Jen lagi dan derren pun menuruti nya dengan mendekat ke arah Jen .


Jennie meraih tangan derren dan mencium nya ,ia sedikit merapikan kerah baju dan dasi derren dari tempat nya yang duduk bersandar di atas tempat tidur nya .


" Sudah " Jen Tersenyum hangat pada nya , yang membuat derren merasa sangat bahagia ,walau Jen lupa ingatan tapi derren bahagia dengan Jen bersikap seperti ini itu artinya Jen sudah bisa menerima diri nya sebagai suami nya . memang Setelah mendengar apa yang di kata kan derren semalam hati Jen jadi tak karuan . pikiran nya terus memikirkan perkataan derren . dia juga bingung harus bersikap seperti apa. Jadi Jen memutuskan untuk mempercayai jika derren suami nya ,jadi dia berusaha menjadi istri yang baik untuk nya .


Ternyata dengan melakukan itu membuat hati nya begitu bahagia .


" Terima kasih , Aku berangkat " derren mengelus kepala jen dengan tatapan hangat lalu ia keluar dari ruangan itu setelah sebelum nya ia memberi tahu suster untuk menemani istri nya sebelum dia kembali dan keluarga nya datang .


Derren juga sudah menghubungi Mama nya agar datang lebih cepat karena ia harus ke kantor ada sedikit masalah disana .


Satu jam berlalu setelah kepergian derren Papa mama derren datang bersama Varo dan Jihan .


" Assalamualaikum!!" Ujar papa mama derren masuk kedalam ruang rawat Jen . disana Jen sudah tampak segar di temani oleh seorang suster yang sedang membawa Piring bekas makan Jen ..


" Wa'alaikum salam " jawab mereka bersama an dari dalam .


Varo , anak itu yang kini usia nya hampir 3 tahun saat pertama kali melihat bunda nya sadar ingin sekali rasa nya ia memeluk sang bunda ,tapi kata sang Oma jika Bunda nya sedang amnesia dan tak mengingat mereka .jadi dengan sekuat perasaan nya ia menahan untuk tak memeluk bunda nya . dengan tatapan sendu dan rindu Varo menatap Jen .


" Apa kabar sayang ? Mama senang kamu sudah sadar " kata mama Anita


" mama?" tanya Jen bingung . mama Anita hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban nya.


" kenalin kalau begitu , Saya mama derren yang artinya juga mama kamu , dan ini papa , Dan yang ini Varo ,ini Jihan " mama Anita memperkenalkan semua orang pada Jen . Jen menatap satu persatu wajah mereka .hingga pandangan nya beralih pada Varo dan Jihan . kedua anak itu sangat mirip .Tampan dan cantik .. Mirip diri nya dan derren ..


" Apa mereka anak anak ku ?" Pikir Jen


" Jangan paksa mengingat apa pun sayang , Jika sudah waktu nya kau akan ingat dengan sendiri nya , Kata dokter juga ini tidak akan lama kan" ujar mama derren kemudian dan di angguki oleh Jen


" Apa mereka anak anak ku ma ?" tanya Jen dan mama Anita dengan senang menganggukan kepala nya .


" Iya Mereka anak anak mu nak ," jawab papa derren


" Benarkah , manis sekali !" ujar Jen Tersenyum dan ia membuka tangan nya lebar ke arah Varo yang membuat Varo mengerti dan langsung memeluk sang bunda .


" Bunda " Lirih nya dalam pelukan jen , Hati Jen menghangat mendapat pelukan dari buah hati nya , ikatan Batin ibu dan anak memang tak bisa diragukan lagi ." Bunda aku sangat merindukan mu " Jen mengelus lembut kepala Varo dan mencium sayang kepala dan pipi gembul putra nya itu .


Mama dan papa derren sangat terharu melihat mereka , walau Jen tak mengingat mereka tapi Jen mau menerima mereka dengan baik .


Varo yang biasa nya tak mau di cium pun sekarang diam saja dan menerima perlakuan bunda nya karena ia memang sangat merindukan bunda nya itu .


Lalu Jen berganti menatap jihan


" Apa boleh aku menggendong nya" tanya Jen pada Mama derren yang sedang menggendong Jihan .


" Tentu sayang " Mama Anita memberikan jihan , bayi berusia tiga bulan yang sangat menggemaskan itu .


Seksama Jen memandang wajah Jihan . Air mata nya luruh menatap wajah bayi mungil itu . Sesal dalam hati nya tak terukur . Ia tak dapat memberi ASI pada putri kecil nya . Dia merasa tak berguna sebagai seorang ibu . Samar samar bayangan bayangan masa lalu terekam di kepala nya .ia merasakan sakit di kepala nya tapi Jen segera menepis nya .


Papa dan mama derren yang tidak tau hanya berfikir jika Jen merasa terharu melihat putri nya .jadi dia pun menangis .


" Siapa nama lengkap nya ma ?" tanya Jen


" Ariella Jihan Putri Admaja " jawab mama derren sambil tersenyum


" Nama yang indah , Siapa yang memberinya nama ?" tanya Jen


" Varo yang memberinya nama , Dan itu kesepakatan mu dan dia sebelum kau melahirkan Jihan " Jelas sang mama dan di angguki oleh Jen


" Apa selama bunda tertidur kau menjaga adik mu sayang ?" tanya Jen pada varo sambil tersenyum


" Tentu bunda , Aku sudah berjanji akan selalu menjaganya , aku bahkan meninggalkan ponsel ku demi menjaga nya " jawab Varo antusias dan membuat Jen terkekeh mendengar jawaban Varo .


" Dia memang sangat menyayangi ponsel nya , Saat melihat mu Tak sadar dia berjanji pada ayah nya untuk menjaga adik nya dan meninggalkan ponsel nya walau sesekali dia tetap memainkan nya " Jelas papa derren dan Jen Tersenyum mendengar nya . ia Mengelus kepala Varo


" Terima kasih sayang !" Ujar Jen pada nya .


mereka berbincang bincang tanpa ada yang di tutupi dari Jen , Daddy Jen sedang berada di luar kota saat ini jadi belum bisa datang tapi ia segera menyelesaikan pekerjaan nya dan akan segera kembali untuk putri kesayangannya .


Tapi tiba-tiba Jen menanyakan varrel pada Papa dan mama derren .


" Pa, ma Dimana Varrel ? Kalian pasti tau varrel kan ?" tanya Jen. dan mereka saling pandang kemudian tersenyum menatap Jen lalu mengangguk sebagai jawaban nya .


" Dia sedang kuliah di London nak , Sekarang dia sedang menyusun skripsi ini akhir semester dia kuliah " jelas papa derren


" Benarkah ? aku sangat merindukan nya " gumam Jen


" Dia bahkan lebih dari sangat merindukan mu. 3 bulan ini dia selalu menanyakan diri mu , Dia tak tau kondisi mu kami tidak memberi tahunya karena takut dia khawatir dan tak bisa berkonsentrasi pada skripsi nya " Jelas mama derren dan di angguki oleh Jen


" Bisa pinjam kan ponsel ma ? Aku ingin menelpon nya "


" Tentu sayang " Mama Anita memberikan ponsel nya pada Jen dia juga menunjukkan nomer ponsel varrel karena mama Anita yakin Jen juga tak mengingat nya .


Tak lama Sambungan telepon itu terhubung tapi Varrel tak mengangkat nya.


" Tidak di angkat ma " Kata Jen sudah 2 kali tapi Varrel tidak menghubungi nya .


" Mugkin masih tidur sayang ,disana kan masih jam 4 pagi " Jawab mama derren sambil melirik jam di ponsel nya dan di angguki oleh Jen .


***


Sedangkan di tempat lain di negara buang sama , Seorang wanita sedang terdiam dengan pandangan yang kosong , Ia tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi di rumah tangga nya yang baru terbilang masih seumur jagung .


Sudah enam bulan ini Ibu mertua nya tinggal bersama dia dan suami nya . Awal nya mereka hidup seperti biasa dan saling menyayangi . sampai saat ibu Willi menuntut mereka untuk segera memiliki keturunan . Ara dan willi juga sudah memeriksa ke dokter kandungan dan mereka dinyatakan subur dan baik baik saja . maka nya mereka santai saja jika sudah waktu nya nanti juga di kasih .


Tapi tidak dengan ibu mertua nya yang setiap saat membahas tentang cucu dan kehamilan . Ara tak pernah membantah nya dan pasti hanya akan berkata ' kami telah berusaha ma ' tapi satu kalimat pendek itu mampu memancing emosi ibu Willi .dan terjadi pertengkaran di antara mereka . begitu lah sehari-hari di rumah Ara yang kadang membuat nya lebih baik pula g larut dari pada harus berdebat dengan mertua nya dan menjadi dosa untuk nya .


Dulu ibu Willi adalah sosok yang lemah lembut dan penyayang , Tapi semenjak kematian Alexa putri nya dan enam bulan lalu di susul dengan kepergian papa nya dia menjadi keras hati dan keras kepala , Dia sosok ibu ke dua bagi Jen dulu karena memang mommy Jen dan mama Willi adalah sahabat . waktu mengubah segala nya . Willi pun kadang tak mengerti akan ibu nya itu .


" Sayang " Willi datang dan duduk di hadapan Ara yang masih melamun


" Sayang " kata Willi lagi yang mampu menyadarkan Ara dari lamunan nya


" Hm" jawab Ara memalingkan wajah nya ke arah lain setelah menyadari Willi di hadapan nya


" Maaf kan mama" Kata Willi sambil menggenggam tangan Ara


" Mama tidak bersalah , Aku lah yang seharus nya minta maaf , Aku tau mama kesepian dan menginginkan se orang cucu , Tapi aku yang tidak bisa memberikan nya " Ujar Ara ia menarik nafas panjang dan mengeluarkan nya perlahan " Kau turuti lah permintaan mama , Mungkin menikah dengan wanita pilihan nya kau dapat memberi kan mama apa yang beliau ingin kan " Kata Ara tanpa melihat Willi


Mendengar itu Willi bangun dan menatap tajam ke Ara


" Apa maksud mu berkata seperti itu ?" tanya nya dengan nada dingin , untuk pertama kali nya Ara berbicara tak masuk akal menurut nya .


" Aku hanya ingin yang terbaik untuk mu , Kau juga pasti menginginkan seorang anak bukan ? Tapi jika bersama dengan ku kau tidak mendapatkan nya maka turuti permintaan mama dengan menikah lagi " kata Ara masih dengan pendiriannya


Ara berfikir mungkin dokter salah memeriksa nya , Jadi tanpa di ketahui Willi dan ibu nya dia memeriksa kan lagi kandungan nya di tempat berbeda , dan ternyata benar dia sulit memiliki keturunan karena rahim nya mengalami masalah karena suatu benturan yang keras . mungkin kemungkinan untuk diri nya hamil hanya sekitar 30% dan Ara menyadari itu karena memang dulu dia sering berkelahi karena memang itulah yang harus dilakukan nya setiap bertemu musuh black Devils .


Jadi dia memutuskan untuk membiarkan Willi menikah lagi dari pada menunggu diri nya yang ntah kapan bisa memberi keluarga suami nya seorang cucu .


" Apa yang kau kata kan ,hah !! Apa kau sudah tak mencintai ku ? Apa hanya segini cinta mu untuk ku sampai kau menyuruh ku menikahi wanita lain ? Apa pernikahan kita hanya sebuah lelucon untuk mu hah !!! " teriak Willi pada Ara " Dan apa kau tidak akan terluka jika aku melakukan nya ?" ,ia benar benar tak bisa menahan emosi nya . bagaimana tidak ia sangat mencintai wanita di hadapan nya ini setelah Ella gadis kecil nya yang kini sudah menjadi istri sahabatnya sendiri . Bahakan rasa cinta nya pada Ara berbeda dengan Ella . Ntah lah dia sendiri tidak bisa menjelaskan hal itu .


" Maaf !" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Ara bukan ia tak punya jawaban lain ,tapi ia tak ingin membuat emosi suami nya bertambah meledak . Ara memeluk tubuh Willi tapi ia berusaha tak menangis di hadapan suami nya .


Mendapat pelukan dari wanita yang sangat ia cintai itu , Emosinya mulai mereda ia mengangkat tangan nya membalas pelukan Ara


" Jangan pernah berkata seperti itu lagi " lirih nya " Aku tak sanggup jika harus membagi cinta ku , Aku tidak bisa menyakiti mu " ucap nya masih sambil memeluk istri nya .dan Ara hanya diam tak menjawab perkataan Willi . Hati nya sakit setiap hari ibu mertua nya selalu menuntut diri nya . Hati nya sakit Jika ia tidak berterus terang pada Willi


" Bukan kah kata dokter tidak ada masalah pada kita berdua ? jadi buang jauh jauh pikiran mu itu. aku yang akan bicara pada mama agar ia tak selalu menuntut cucu dari kita " ujar Willi lagi


" Tidak ,kau akan menyakiti hati mama nanti , Sayang ada yang ingin aku tunjukkan pada mu " Ara melepaskan pelukan nya lalu ia berjalan menuju nakas dan mengambil sebuah amplop yang berlogo rumah sakit disana .


Ia menyodorkan nya pada Willi , Ara berfikir dengan Willi melihat ini mungkin ia akan berubah pikiran dan mau Menerima wanita yang di pilihkan oleh mama mertua nya .


" Apa ini? " tanya nya


" Buka saja " Perlahan tangan Willi membuka amplop itu ,dan membuka setiap lipatan kertas yang ada di dalam nya .ia membaca itu dengan teliti dan rasa khawatir .


Deg


" I .. ini ?? bagaimana bisa " tanya Willi Ter bata


**Bersambung


Hai readers kesayangan author .


Jangan lupa like comment n vote nya ya .. agar aku semakin semangat untuk up ..


Happy reading gays**