MY HUBBY IS A PRESDIR

MY HUBBY IS A PRESDIR
Bab 17


Vania tersenyum miring mendengar bisikan dari Lisa. ia menatap Lisa intens


" Kalau gue nolak ? " tanya nya datar


" Lo !! Berani Lo sama gue ?? Liat aja ntar apa yang bakal gue lakuin kalau Lo berani macam macam sama gue " Seru Lisa sambil menunjuk wajah Vania


" Laku kan apa pun yang Lo mau ,gue gak peduli ,gue juga gak merasa pernah cari masalah sama Lo ,gue disini hanya ingin kuliah dengan tenang ,tapi karena Lo yang mulai gue juga gak bisa menghindar !!" Ucap Vania penuh tekanan


" Dasar cewek cupu Mu*****!!!" Awas Lo !!" Lisa menggebrak meja Vania dan kembali ke bangku nya . Tak lama dosen yang akan mengajar datang .


" Selamat Siang !!" ujar Mr . Kim Jeon Dosen Muda asal Korea yang ketampanannya tidak diragukan lagi . Tapi dia di kenal dengan Dosen killer usia nya yang menginjak 28 tahun tapi tak menampakan diri nya jika dia sudah berusia segitu ,wajah nya yang imut membuat orang mengira bahwa dia masih berumur 23 tahun.


" Siang Mr. " jawab Mereka semua kecuali Varrel , Setelah mengabsen mahasiswa nya satu per satu Mr. Kim menyuruh semua mahasiswa mengumpulkan tugas Minggu lalu


" Baiklah , Segera kumpul kan tugas Minggu lalu ! " ucap nya tegas.


Setelah mengumpulkan tugas mereka Mr Kim memulai pembahasan nya . Satu jam berlalu akhirnya Kuliah hari ini berakhir .


Mr. Kim menyuruh Asistennya membawa tugas tugas yang di kumpul tadi ke ruangan nya .


" Gila tu dosen cakep nya gak ketulungan tapi galak nya luar biasa " ujar salah satu mahasiswa yang berada di kelas .


" Bener tuh , coba aja tu dosen murah senyum ,hais makin semangat nih belajar nya " sambung yang lain nya


Mr Kim memang dosen baru di kampus itu , baru 1 bulan terakhir ini dia mengajar karena sebelum nya ia mengajar di salah satu universitas di negara nya .


Vania membereskan buku buku nya ,dan segera keluar dari kelas .. karena waktu nya makan siang dia akan makan lebih dulu di cafe depan kampus .


Vania duduk di salah satu kursi di kafe itu ,setelah memesan makanan ia memilih memainkan ponsel nya sambil menunggu makanan datang . Karena hari ini Roza ada kelas nya nanti jadi ia makan sendiri.


" Boleh gue duduk sini ?" tanya seseorang yang membuat nya mendongakkan kepala nya melihat orang tersebut


Betapa terkejutnya dia ternyata orang itu adalah Varrel .


" Eh ... Bo ..boleh " jawab nya terbata ,ia takut Varrel akan memarahi nya lagi , Vania menundukkan pandangan nya setelah varrel duduk di hadapan nya


" Maaf " ujar Varrel sedikit enggan


" Eh , Ap ..apa ?" ujar Vania bingung


" Maaf soal kemarin. aku udah salah karena memarahi mu di depan umum , Aku tau kamu gak sengaja , sekali lagi maaf !" ujar varrel menatap Vania


" I .. iya gak apa-apa " jawab Vania yang masih tidak percaya Varrel meminta maaf pada nya .


" Silahkan pesanan nya nona !" ujar seorang pelayan mengantar makanan yang Vania sempat pesan tadi


" Iya , Terima kasih " jawab nya sambil tersenyum pada pelayan tersebut , " Buat kan moccaCino satu " kata Varrel pada pelayan itu


" Baik "jawab pelayan itu lalu pergi menyiapkan pesanan varrel


" Kamu gak makan ?" tanya Vania ragu


" Gak , Aku jarang makan di luar kalau kesini paling cuma minum , makan kalau dengan Ezhel dan Aiden " jawab Varrel tenang masih memandang Vania , Vania yang di lihatin sejak tadi oleh varrel pun jadi gugup . bagaimana tidak baru kali ini ia berada sedekat ini dengan pria yang ia sukai.


" Kenapa gak di makan ? " tanya Varrel yang melihat Vania sejak tadi hanya mengaduk ngaduk makanan nya


" e.. iya " Vania mulai makan dengan tenang ,ia berusaha menenangkan diri nya agar terlihat biasa saja di hadapan varrel . dan semua itu tak lepas dari pandangan varrel .


" Apa ada yang salah dengan ku ? kenapa sejak tadi Melihat ku seperti itu ?" tanya Vania


" Tidak. hanya ingin saja !" jawab varrel singkat


" Kenapa ?" tanya varrel


" tidak apa " Vania cepat cepat menghabiskan makanan nya agar bisa segera pergi dari situasi canggung ini


" jangan terburu-buru , nanti tersedak " ujar Varrel


santai tanpa merasa bersalah ,padahal Vania begitu karena ulah nya yang sejak tadi melihat Vania seperti itu . Vania menghela nafas nya meletakan sendok nya perlahan . ia memberanikan diri menatap Varrel .


" Bagaimana aku tidak terburu-buru ,jika kau melihat ku seperti itu ? " ujar Vania menatap Varrel


deg


Jantung Vania berdetak cepat saat pandangan mereka bertemu cukup lama .


" Permisi , ini pesanan nya tuan " suara pelayan membuyarkan adegan tatap menatap mereka .


" CK ,sial ada apa dengan jantung ku " batin varrel


" Kau berasal dari mana ?" tanya Varrel sambil menyesap minuman nya


" Indonesia " jawab Vania santai tanpa melihat varrel ,ia memilih memainkan ponsel nya dari pada harus menatap varrel karena tidak baik untuk kesehatan jantung nya.


Vania tersenyum melihat chat grup teman-teman SMA nya dulu . Mereka memang sangat lucu lucu . walaupun ia menjalani masa SMA hanya satu tahun setengah tapi dia sudah punya teman-teman sekelas nya saat masih kelas X yang bisa membuat nya merasa nyaman . bahkan saat mereka sudah tak sekelas lagi sanpai sekarang mereka masih berhubungan baik. untuk Mempererat persahabatan mereka ,yang sekarang sudah pada kuliah di tempat yang berbeda beda mereka membuat grub chat untuk saling bertukar kabar .


Varrel yang melihat Vania Tersenyum dengan ponsel nya merasakan sesuatu yang lain dalam hati nya ,entah perasaan apa dia juga tidak tau . tapi varrel Segera menepis perasaan itu


Vania memasukkan ponsel nya ke dalam tas milik nya .


" Maaf , aku duluan ya rel ?" ujar Vania sambil berdiri dari duduk nya


" Mau kemana ? dan kamu tau nama ku ?" tanya Varrel ,Vania tersenyum menanggapi pertanyaan Varrel


" Aku mau Ke toko buku sebelum pulang , Siapa yang gak tau nama kamu ? mungkin seluruh mahasiswa di sini pasti sudah sangat tau siapa diri mu " jelas Vania sambil tersenyum ,dan Varrel hanya bisa mengangguk karena ia tau pasti akan hal itu


" Boleh aku tau nama mu ?"tanya Varrel


" Vania " ujar Vania singkat " Aku duluan ya , sampai jumpa " Vania berlalu begitu saja karena ia tidak ingin berlama lama dengan varrel . bukan apa apa ? ia hanya tidak ingin jatuh terlalu dalam mencintai varrel ,ia belum siap untuk patah hati .


Vania dapat bernafas dengan lega karena saat ini dia sudah berada di dalam taxi .


" Vania ?" Gumam nya sambil tersenyum tipis .


**


" Sayang !!!!" teriak seseorang dari dalam kamar


" Astaga !! Ayah ... Selalu saja pagi pagi begini teriak teriak " gerutu seseorang yang tak lain adalah Varo


" biarkan saja !! Dia memang selalu begitu " Jen juga tak habis fikir dengan Suami tampan nya itu, ada saja yang di suruh nya pada Jen kalau Jen sedang repot dengan kedua anak nya . saat ini Jen masih menyiapkan sarapan untuk Varo dan Jihan , Jihan yang sudah berumur satu tahun sudah harus makan ,apa lagi dia kan tidak menyusu Jen .


" Bunda kesana lah dulu , aku tidak yakin ayah akan diam jika bunda belum menghampiri ayah " ujar Varo yang sudah duduk manis di kursi meja makan menunggu bunda nya yang sedang membuat susu untuk dia dan adik nya yang duduk di tempat duduk khusus untuk bayi seusia nya .sedangkan Alia sedang Menghaluskan makanan untuk Jihan yang sudah di siapkan oleh Jen tadi .Ayah nya sejak tadi tak berhenti berteriak memanggil sang bunda .


Seperti nya itu sudah menjadi hobi ayah nya di pagi hari . padahal bunda nya sudah menyiapkan semua keperluan nya ,dari mulai pakaian , pakaian dalam ,dasi sepatu ,jam tangan dan lain nya . tapi masih tetap ada saja ulah nya . Pernah suatu hari derren mencari jam tangan nya padahal sebelum nya sudah di siapkan oleh Jen tapi sengaja ia sembunyikan karena hanya ingin Jen memperhatikan nya . Varo dan Jen sampai tak habis pikir dengan hot Daddy itu .


" Baik lah , tunggu sebentar ya kita akan sarapan bersama nanti " ujar Jen di angguki oleh Varo .


Di kamar tampak derren sedang cemberut di depan kaca dengan rambut dan dasi yang masih berantakan . Jen yang sudah tau ulah suami nya itu hanya bisa menghela nafas nya .


Ia berjalan menghampiri suami nya ,tanpa berkata Jen merapikan dasi derren dan menyisir rambut nya Setelah itu tak lupa dengan Pomade agar rambut nya terlihat lebih rapi.


" Sudah !! Ada lagi ??" tanya Jen menatap sang suami dengan tatapan kesal . karena derren hanya menampilkan gigi putih nya yang sangat rapih itu merasa tidak bersalah akan tindakan nya .


" Jangan marah . hm !!" ujar derren meraih pinggang Jen dan memeluk nya sambil mengusel Di dada Jen karena memang posisi Jen yang berdiri dan derren duduk menghadap nya .


" Gak marah sayang , Tapi heran aja gitu !!" ujar Jen sambil menunduk melihat derren


" jangan heran sayang , Ntah kenapa rasa nya di pagi hari jika tak mengganggu mu ada yang kurang gitu " ujar derren tanpa rasa bersalah . yang membuat Jen menghela nafas nya . saat ini ia tak ingin berdebat .


" Ya sudah , ayo turun sarapan , anak-anak sudah menunggu sejak tadi, Aku juga harus mengajar Varo Muay Thai nanti " ujar Jen pada derren


" Iya sayang , tapi kenapa harus Muay Thai ? dia kan masih kecil pasti akan sangat berbahaya ?" ujar derren .


" ntah lah ,dia yang memilih nya sendiri ,jika dia sudah mahir itu baru dia akan mencoba yang lain nya " ujar Jen menjelas kan


" Ya sudah ,tidak apa-apa ! dia kan laki laki jadi harus kuat " dan kini mereka berjalan bersama keluar kamar menuju ke meja makan .


" Pagi boy , pagi girl !!" sapa derren pada ke dua anak nya dan mengecup pipi gembul Jihan laku beralih pada Varo , tapi Varo segera menghalangi nya


" Padi yah !! stop jangan cium Abang . oke !!" jawab Varo yang tak mau di cium oleh ayah nya . itu sudah biasa untuk mereka yang mendapat penolakan dari Varo . tapi jika dia yang mencium tidak Apa . Jen dan derren pun heran apa gak sama saja .


" Sayang kenapa sih setiap bunda atau ayah cium gak mau ?" tanya Jen penasaran sambil mengambilkan sarapan untuk mereka


" Karena Abang udah besar bunda , apa kata orang nanti kalau Abang masih di cium sama orang tua nya , bisa hilang sudah kegantengan yang Abang miliki karena rasa malu " jawab varo santai yang membuat kedua orang tua nya melongo mendengar jawaban nya


" Astaghfirullah !! Dari mana dia dapet sifat katak begitu ?" gumam Jen pelan tapi masih dapat di dengar oleh derren


" yang jelas bukan dari aku yank " jawab nya yang mendapat tatapan tajam dari Jen


" Terus maksud kamu dari aku gitu ??" tanya Jen kesal


" Bukan .bukan tapi sepertinya ini ajaran Ken deh yank " ujar derren yang memang mengetahui anak nya yang satu itu sangat dekat dengan Ken , jadi tak bisa di pungkiri karena sifat Ken yang Kepedean nya sudah tingkat akut jadi bisa tertular pada anak nya . padahal dulu Varo pendiam dan cuek pada sekitar . semenjak ia jarang bermain ponsel dan lebih sering dengan Ken dia jadi seperti itu .


Aletha sudah melahirkan seorang putri yang bernama Kenzia Nugraha yang sering di sapa dengan Beby Zia . Jen dan derren Juga sering menginap di rumah ke dua orang tua derren karena Varo yang selalu meminta karena ingin main dengan Ken . Tapi jika sudah di sana dia tidak akan betah lama sampai berhari hari karena pasti dia akan meminta pulang karena kangen dengan Beby Rara anak dari Gabriel dan Disha .ntah lah anak itu Jen dan derren juga kadang tak mengerti dengan putra nya itu .


Setelah sarapan Derren berpamitan pada anak dan istrinya untuk ke kantor .


" Aku berangkat dulu sayang" ujar derren tak lupa mengecup kening Jen dan putri nya Jihan . sedang kan Varo dia yang mencium ayah nya .


" Hati hati Mas !"


" Dah ayah ganteng , tapi masih ganteng Varo " ujar Varo yang membuat derren terkekeh


" Yah . .yah " Ujar Beby Jihan melambaikan tangan nya . di umur satu tahun Jihan memang sudah bisa berbicara walau masih beberapa kata .. Dilihat dari anak itu yang tidak rewel dan lebih banyak diam bisa di pastikan sifat nya yang pendiam menggemaskan semua orang.


" Dah bidadari kecil ayah , Baik baik dirumah ya sayang " ujar derren sekali lagi ia mencium Jihan yang berada di gendongan Jen


Jihan Tersenyum manis pada ayah nya itu .


Setelah derren berangkat mereka masuk kedalam , Jen memberikan jihan pada Alia .


" Bang , Ganti baju nya kita berlatih Muay Thai . bunda tunggu di ruang berlatih " ujar Jen


" Siap Bun !!" jawab varo lalu ia berlari ke kamar nya mengganti pakaian dengan baju berlatih nya .


Jen memang sengaja dari kecil mendidik Varo bela diri , Karena beban nya di masa depan pasti berat dan mau tak mau Varo harus menjalani nya . walau ada varrel tapi tetap saja perusahaan mereka yang semakin lama semakin berkembang dan semakin banyak pula yang ingin menjatuh kan , maka mereka harus kuat luar dalam untuk menjaga nya . kalau boleh memilih seperti nya Jen lebih memilih menjadi orang yang sederhana dan hidup bahagia dengan keluarga kecil tanpa memiliki musuh . tapi sepertinya tidak mungkin .. karena hidup tidak ada yang lurus lurus aja . di bawah kita di tendang , di atas kita di jatuh kan ...


**Bersambung


Abang Varrel



Vania



Bunda



Ayah



Jangan lupa like comment n vote nya ..


Happy reading**