
Masih di Rumah Jen .
" Jen .. sebenarnya Willi meminta ku untuk tak bekerja lagi . tapi aku menolak nya dan semenjak terakhir kali ia meminta ku untuk itu . dengan penolakan ku sekarang dia berubah pada ku "ujar Ara dengan mata sendu menatap Jen
"Ra , kalau kamu mau keluar ya gak papa. Keluarga lebih penting dari pekerjaan. Aku gak mau karena pekerjaan hubungan mu dan Willi menjadi renggang .. Ra sekarang aku sudah ingat semua nya .. Dan aku yang akan menghandle perusahaan, Kamu gak perlu khawatir . oke "
" Bukan begitu , Tapi bagaimana dengan mu jika mengurus perusahaan sendiri , Kau juga kan harus membagi waktu dengan Keluarga mu Jen "Ara tak enak jika harus membiarkan Jen mengurus perusahaan sendiri .
"Dengarkan aku! Masih ada Sam Ra , Dia bisa membantu ku , Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku . Lagian kamu gak bekerja juga kan Rekening mu masih mengalir " goda Jen
" Kau ini !! Aku hanya memikirkan mu , Kita tak pernah berpisah sebagai partner tapi sekarang ?"
" Sudah lah tidak apa ,Kalau aku kesulitan aku bisa meminta bantuan Derren , Kau fokus saja pada Willi ,dia itu sedikit keras kepala ,Aku tidak ingin hubungan mu dengan nya jadi renggang hanya karena ini , " Kata Jen sambil memakan cemilan yang tersedia di meja yang di berikan bibi tadi
" Minum lah dulu ,kau pasti haus kan "
" Jen , Aku ingin mengadopsi anak dari yayasan mu , Apa boleh ?" kata Ara Setelah meminum minuman nya , Ia menatap Jen penuh harap
Seketika Jen juga menatap Ara dengan tatapan yang sulit di artikan .
" Siapa ??" tanya Jen , Bukan tak percaya pada Ara bisa merawat anak nya tapi bagaimana dengan mama Willi ? pikir Jen
" Leo ! " Ujar Ara menatap Jen
" Leo ?? Bagaimana kau tau ada Leo disana ?" tanya Jen penuh selidik , karena memang Leo baru di temukan tidak lama ini . umur nya Baru setengah tahunan , Leo di temukan oleh bibi Anna di depan gerbang yayasan Jen 6 bulan lalu . Bayi merah yang masih tersisa Darah di tubuh nya , bayi baru lahir dengan di balut bedongan itu di tinggalkan orang tua nya di sana . Saat itu juga Jen di beritahu oleh bi Anna sebelum Jen melahirkan Jihan . Jen sempat melihat nya sekali , bayi yang tampan , Jen juga tak habis pikir kenapa orang tua nya tega meninggalkan anak setampan itu di sana .
" Aku sudah melihat nya , Aku sangat suka dengan anak itu , Jen ijin kan aku merawat nya " pinta Ara
Jen terdiam sesaat " Bukan aku tak percaya pada mu bisa merawat nya Ra , tapi apa mama Willi bisa menerima nya ? Aku khawatir dengan pertumbuhan nya kelak jika dalam keluarga yang merawat nya ada yang tak menginginkan diri nya, Aku tidak ingin dia tumbuh menjadi sosok yang merasa tak inginkan dan menjadi pribadi yang tidak baik " jelas Jen pada Ara . Ara terdiam memikirkan apa yang dikatakan oleh Jen .
" Kau benar , Lalu bagaimana?" Ara memijit pelipis nya . ia bingung harus bagaimana .
" Ra , Berusaha lah lagi .. Aku akan mengizinkan kau membawa Leo jika mama Willi menerima nya juga . sebelum itu berusaha lah , Kau kan masih punya kesempatan 30 % dan itu cukup besar . bahkan kita bisa memenangkan pertarungan hanya dengan kemungkinan 10% , Jadi jangan menyerah . Jangan stress ,itu juga bisa memacu untuk sulit hamil , Istirahat lah dirumah jangan pikirkan perusahaan,aku yang akan mengurus nya ,turuti Willi ,oke ! Kau bisa kembali ke perusahaan kapan pun kau mau "Dia ingin Ara tidak menyerah .. Tuhan pasti akan mengabulkan doa orang yang mau berusaha .
" Terima kasih Honey , Kau yang terbaik ,Selama kau sakit aku memendam ini sendiri " Ara memeluk Jen . ia sangat bersyukur punya sahabat seperti Jen .kini ia akan stay dirumah mengurus Willi dan dia akan Konsul pada dokter tentang kandungan nya.
Setelah berbincang , Karena sudah menjelang sore Ara pamit pulang . Jen mengantar nya kedepan Setelah itu Jen ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
" Bundaaaa ... Abang pulang " teriak Varo dari luar karena dia baru kembali dari rumah gabriel
" CK ,anak itu !!" gumam Jen di dapur yang sedang menyiapkan bumbu bumbu untuk memasak di bantu bibi
" bundaaaa " teriak nya lagi karena tak ada sautan dari Jen
" Bunda di dapur sayang " seru Jen , tak lama Varo muncul dan langsung naik ke kursi sebrang Jen dan duduk disana memperhatikan bunda nya sedang meyiapkan masakan
" Kenapa teriak teriak ? Apa sudah ingat rumah jadi pulang ? Kenapa tidak di sana saja ?" Sindir Jen karena Varo main dari pagi hingga menjelang sore baru pulang
" Astaga bunda .. Apa bunda mengusir anak bunda yang tampan ini ?" ujar Varo yang membuat Jen berdecak kesal . dapat dari mana sifat percaya diri yang tinggi anak nya ini?" pikir Jen dan bibi yang berada di situ pun terkekeh mendengar nya
" CK .. Percaya diri sekali " Saut Jen
sedangkan Varo hanya terkekeh " Bunda boleh aku bantu ? Oh iya dimana adek dan ayah ?" tanya nya kemudian
" Tidak ! cukup lihat saja , Ayah dan Jihan di kamar dari tadi ntah lah sedang apa " Jawab Jen sambil menggoreng Kentang untuk di buat Bergedel .
" Oh . Baiklah " Varo terus memperhatikan sang bunda memasak hingga selesai .dengan menu Cah kangkung , Bergedel kentang , Udang balado dan Tumis Kerang cabai ijo permintaan Varo .
" Bi tolong Siapkan di meja makan ya ? Saya mau mandi dulu sudah lengket , Ayo bang kamu juga harus mandi " ajak Jen sambil mengulurkan tangan nya pada varo dan di sambut dengan riang oleh anak nya itu "
" Siap Bu Bos " Jen mengantar Varo ke kamar nya ,di sana ternyata ada Alia yang baru selesai memandikan Jihan . Jen menyuruh Varo mandi dan dia menyiapkan pakaian Varo meletakkan nya di atas tempat tidur nya . lalu Jen berjalan ke arah Alia yang sedang memakaikan baju Jihan .
" Uluh anak bunda sudah mandi ,hm ?!! Wangi nya ... " Jen mencium gemas pipi gembul Jihan .
Ceklek
Tampak derren yang baru keluar dari kamar mandi masih menggunakan handuk yang melilit di pinggang nya .
Jen Tersenyum pada nya sejenak lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri .
Setengah jam Jen telah selesai lengkap dengan pakaian nya .Dilihat nya derren sedang Duduk bersandar di dipan sambil memegang benda pipih di tangan nya .
" Sayang . Ayo makan dulu kasian Varo kalau menunggu ,dia pasti lapar " kata Jen yang membuat derren mengalihkan pandangannya pada Jen dan mengangguk menyetujui .
Dan benar saja Varo sudah berada di meja makan menunggu mereka dengan wajah yang cemberut membuat Jen dan derren terkekeh .
***
" Sorry lama .." Ujar Varrel pada Ezhel dan Aiden yang sudah menunggu nya sejak setengah jam yang lalu di sebuah cafe favorit mereka .
" Gak kok , Bukti nya kita belum Ngeluarin akar " Saut Aiden yang tak masuk akal membuat varrel Tersenyum tipis Lalu ia duduk di salah satu kursi disana .
" Kalian udah pesan makanan ?" tanya nya kemudian
" CK . Ya belum kita kan nunggu Lo "
" Sorry " Lalu varrel memanggil pelayan untuk memesan makanan
tak berapa lama makanan mereka datang ,
" Gimana skripsi Lo ?"Tanya Ezhel
" Sudah sih ! Tinggal sidang aja "Jawab varrel sambil mengunyah makanan nya . Varrel sekarang memang sudah banyak bicara tak seperti dulu jika bersama Ezhel dan Aiden tapi tetap sama kalau dengan orang lain .
" Yah .. kalau Lo udah lulus kita gak ketemu lagi dong" Ujar Aiden
" Kalian kan bisa mengunjungi ku . lagian gue kan mau ambil S2 disini, Jadi masih lama lah . " jawab varrel
" Serius ??" tanya Ezhel
" Hm !"
"Eh liat deh , Itu bukan nya Roza ya ??" tanya Aiden
" Mana ?" Tanya Ezhel
" Tuh " jawab Aiden sambil menunjuk ke arah 2 wanita yang sedang asik bercanda
" Iya , Eh siapa tu yang bersama nya , Cantik banget !!" Kata Ezhel sambil memperhatikan wanita yang bersama Roza . karena mereka tak pernah melihat gadis itu sebelum nya . Sedangkan varrel sedikit melirik ke arah wanita yang di tunjuk Aiden tadi karena dia memang tak mengenal mereka ya dia cuek aja .
Ezhel dan Aiden memang mengenal Roza , Karena Mereka sekelas . Karena Sifat Roza yang ceria dan bar bar ,suka buat masalah di kelas jadi mereka mengenal Gadis itu .
" Samperin yuk !" Ajak Aiden Pada kedua sahabatnya
" Ogah " jawab mereka bersamaan yang membuat Aiden berdecak kesal .
Bersambung
Abang Varrel
Vania saat di luar kampus