Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 107


Meka melihat kearah penampakan sosok wanita muda tadi. Dia mencoba mengucek-ngucek matanya memastikan atas penglihatannya.


"Masa gw berhalusinasi? Tadi benar-benar gw lihat wanita muda disitu. Tapi kemana dia?" bathin Meka yang melihat sekeliling.


Saat Meka hendak memutar badannya kearah rombongan, dia dikejutkan dengan sosok Ki Baron.


"Maaf Mbaknya ngapain kesini? Bukannya rombongan ada disana?" tanya Ki Baron yang menatap Meka curiga.


"Ah iya maaf Ki, saya tadi ingin melihat sekitar rumah ini. Rasanya sejuk banget udara disini," bohong Meka.


Ki Baron bisa melihat ketidak jujuran Meka terhadapnya.


"Hati-hati Mbak kalau disini. Jangan mencoba mencari tau. Akan berbahaya buat diri sendiri," peringatan Ki Baron membuat Meka mengernyitkan dahinya.


"Maksud Ki Baron apa ya?" tanya Meka yang berpura-pura polos.


"Saya tau kalau Mbak e berbeda dari teman-teman yang lainnya. Saya hanya mengingatkan, jangan melampaui batasan yang ada disini," ucap Ki Baron yang memberi peringatannya lagi.


"Saya akan patuhi aturan disini Ki. Maaf kalau saya lancang berjalan di sekitar rumah ini," balas Meka dengan senyuman.


Lalu Meka pergi meninggalkan Ki Baron yang menatapnya dengan tajam. Meka menghampiri Zain.


"Sayang, kamu dari mana? Aku cariin tadi gak ada disini?" Zain merasa cemas melihat Meka.


"Maaf Mas, tadi aku sekedar jalan disana, sepertinya rumah ini sangat luas," bohong Meka.


"Udah ayok kita masuk, jangan jauh-jauh dari Mas," ucap Zain.


Mahasiswa lainnya menatap curiga melihat Meka yang semakin lengket dengan Dosga mereka. Namun tidak ada yang berani mengutarakan isi dari pikiran mereka terhadap Dosen Zain mengenai kedekatan Meka dan Dosen Zain.


"Deon, Meka dan Dosga kita punya hubungan ya?" tanya salah satu Mahasiswa yang berdiri dekat Deon.


"Ya mereka memang dekat. Kalau gak salah mereka akan segera menikah," celetuk Deon yang semakin membuat Mahasiswa itu penasaran dan terkejut.


"Serius Lo Deon? Wah gosip baru nih di Kampus kita. Bakalan patah hati semua nih cewek-cewek yang mengidolakan Pak Zain," balas Mahasiswa itu yang bernama Rido sebagai ketua panitianya.


"Ya itu lebih bagus. Biar mereka gak mengharapkan Pak Zain lagi," ucap Deon merasa puas.


"Hahaha, pantes dari kemaren gw lihat mereka jalan berdua mulu. Ternyata mau nikah toh," sambung Rido.


"Heum."


Setelah mereka masuk ke dalam rumah yang memiliki dua lantai dan ruangan utama yang besar, Bu Arin kembali meminta ketua panitia untuk mengabsen dan membagi kamar untuk beberapa Mahasiswa.


"Baiklah, sebelum kalian ke kamar yang belum tau tempatnya, Rido akan membagi beberapa Mahasiswa. Dan disini ada 8 kamar, tapi satu kamar tidak boleh dihuni karena kamar itu tempat penyimpanan barang milik keluarga ini," jelas Bu Arin.


Lalu Rido ketua panitia membacakan nama-nama yang akan menempati masing-masing kamarnya.


"Arif, Hanif, Rafka, Zulfikar, Roma, Budi, akan menempati kamar lantai dua, kamar paling ujung," ucap Rido.


"Untuk selanjutnya, Asih, Isna, Meka, Ani, Puspita, berada di kamar lantai dua sebelah kamar kelompok pertama," lanjut Rido.


"Lalu untuk kelompok ke tiga terdiri dari Eko, Saya, Deon, Andre, Rifki dan Andi berada dilantai dua juga setelah kamar kelompok dua."


"Selanjutnya yang terakhir ada Irma, Ita, Noni, Hera, Ana dan Tuti ada di kamar pertama lantai dua. Semua Mahasiswa berada di lantai dua. Sedangkan para Dosen berada dilantai bawah," jelas Rido.


Lalu Bu Arin melanjutkan pembagian untuk para Dosennya.


"Untuk Dosen, kamar pertama di tempati oleh saya dan Bu Dewi. Sedangkan kamar yang kedua ditempati Pak Robby dan Pak Anton. Dan yang terakhir ditempati Pak Zain. Jadi semua sudah jelas ya untuk penempatan kamarnya. Dan sekarang kalian silahkan meletakkan barang bawaan kalian ke kamar sesuai kelompoknya. Tepat jam 13.00 siang, kita berkumpul disini untuk makan siang sekaligus membahas kegiatan besok," jelas Bu Arin.


"Baik Bu...," balas semua Mahasiswa.


Lalu mereka mulai melangkah kearah kamar masing-masing. Meka harus berpisah kamar dengan Zain. Dia tidak ingin membuat teman-teman yang lainnya bertanya-tanya.


Meka dan kedua sahabatnya masuk ke dalam kamar mereka. Disana ada dua kasur spring bed ukuran jumbo. Meka, Asih dan Isna memilih spring bed yang berada dekat jendela kamar. Dan yang satunya lagi untuk Mahasiswi lainnya.


"Eh Mek, Lo merasa aneh gak dirumah ini?" tanya Asih yang memang tingkat keingin tahuannya tinggi.


"Gw kok ngerasa rumah ini ada sesuatunya Mek. Masa ada kamar yang tidak boleh ditempati yang katanya menyimpan perabotan rumah ini? Kan aneh," ucap Asih tanpa takut di dengar mahluk halus dirumah ini.


"Hussst, jangan kencang-kencang Sih ngomongnya. Disini banyak kuping halus yang bisa mendengar pembicaraan kita," ucap Meka yang memperingati Asih.


"Mek, Lo buat gw takut deh. Maksudnya kuping halus itu, milik mahluk ghaib disini ya?" tanya Isna yang sudah ketakutan.


"Ya gitu deh Na," jawab Meka santai.


Isna yang penakut langsung melihat sekeliling ruangan kamar itu. Lalu bulu kuduknya merinding.


"Mek, gw jadi penasaran dengan kamar yang dimaksud Bu Arin!" ucap Asih yang semakin ngeyel.


"Jangan Asih, kalau kita sudah dilarang, jangan dibantah. Bahaya loh!" ucap Meka kesal.


"Iya Sih, dengerin apa kata Bu Arin," sambung Isna yang juga kesal dengan Asih.


"Iya-iya gw gak akan bahas itu lagi deh," balas Asih yang pura-pura setuju.


Semenjak memasuki rumah itu, Asih semakin memiliki rasa penasaran. Apalagi dia sudah mengetahui tentang Desa itu dari dulu. Sehingga saat kesempatan datang dihadapannya, dia pun penasaran dengan cerita yang beredar di masyarakat.


Asih tidak tau, kalau rasa penasarannya itu bisa membahayakan nyawanya nanti. Dan dia sudah menjadi incaran seseorang untuk diserahkan ke penguasa Desa tua itu.


Setelah para Mahasiswa meletakkan barang-baramg mereka di dalam kamar masing-masing, mereka segera keluar dari kamar menuju lantai bawah. Dimana Dosen-dosen sudah berkumpul diruangan besar.


"Ayo semua turun, kita makan siang dulu," ajak Bu Arin saat melihat mereka sudah pada turun.


Makanan dihidangkan oleh istri Kepala Desa. Untuk beberapa hari mereka disana semua keperluan makan akan disiapkan oleh istri Kepala Desa.


"Wah, gw jadi laper nih lihat hidangan yang menggugah selera," celetuk Rafka.


"Ah, Lo tau nya makan mulu. Pantesan Lo gendut begini ya," ketus Hanif yang mengejek Rafka.


"Namanya juga makanan, pasti gw tergiur melihatnya," balas Rafka.


Mahasiswa yang lainnya menonton perdebatan mereka berdua. Mereka semua menikmati makan siang bersama.


Zain mengajak Meka makan siang duduk di luar sambil menikmati udara di luar.


"Sayang, Mas pengen makan berdua diteras yuk," ajak Zain.


"Iya Mas," jawab Meka.


Lalu Zain dan Meka berjalan keluar ruangan itu menuju bangku yang ada di teras. Saat mereka sudah duduk di bangku, Meka dikejutkan dengan sosok mahluk tinggi besar di dekat pagar. Dia menyeringai menatap Meka.


"Astaghfirullahal'adzim," ucap Meka saat melihatnya di pagar.


"Ada apa sayang? Kamu melihat sesuatu?" tanya Zain khawatir.


"Mas, sepertinya disini kurang nyaman ya. Aku kok ngerasa bakalan terjadi sesuatu terhadap kita," ucap Meka yang merasakan tak nyaman.


"Banyak berdo'a aja sayang, semoga tour kegiatan ini bisa selesai dengan aman," balas Zain.


"Aamiin Mas, semoga ya," ucap Meka penuh harap.


Lalu mereka berdua menikmati makan siangnya diteras. Meka tak memperdulikan penampakan mahluk jelek di pagar itu. Namun dia tetap waspada dengan sekitarnya.


Tiba-tiba, angin diluar terasa dingin dan kencang.


"Mas kok dingin ya disini. Perasaan tadi biasa aja ya," ucap Meka bingung.


"Ayo kita masuk ke dalam sayang, hawanya kurang nyaman," ajak Zain yang juga merasakan ke janggalan.


Mereka masuk ke dalam rumah dan bergabung dengan yang lainnya.


Di luar rumah, sudah banyak berdiri mahluk-mahlum ghaib yang menyeramkan. Mereka melihat banyak manusia yang berada di dalam rumah. Mahluk-mahluk ghaib itu berada di Desa ghaib yang bersebelahan langsung dengan rumah itu.