
Malam pun semakin larut, serangan-serangan di luar rumah Ustadz Ahmad masih terdengar dan tidak berhenti hingga pagi menjelang. Suara Adzan berkumandang membuat mahluk-mahluk kiriman itu berhenti membuat kekacauan.
Saat suara Adzan terdengar, Ustadz Ahmad dan yang lainnya juga sudah bangun. Mereka melaksanakan kewajibannya.
Sementara Isna tidak ikut karena sedang berhalangan. Dia memilih untuk mandi agar bisa bersiap-siap pergi dari rumah Ustadz.
Hari semakin terang, mereka semua melakukan aktifitas masing-masing. Meka dan Zain sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Desa tua.
"Ustadz, Kek, kami akan berangkat sekarang. Biar tidak membuang waktu, lebih cepat lebih baik," ucap Meka saat dia menghampiri Ustadz dan Kakek tua di ruang depan.
"Sebaiknya kalian sarapan dulu nak Meka. Karena tenaga juga di perlukan untuk memasuki wilayah sana. Dan alangkah baiknya kalian berangkat sama Kakek. Tadi saya dan Kakek sudah mendiskusikannya setelah selesai sholat. Karena bagaimanapun Kakek berasal dari Desa tua itu," jelas si Ustadz.
Meka menoleh ke Zain, lalu dia pun mengangguk mengikuti kemauan Ustadz Ahmad.
"Baiklah Ustadz, kalau memang Kakek ikut bersama kami, itu lebih mempermudah langkah kami nanti ketika bertemu dengan Ki Baron," balas Meka.
"Kalau gitu, kita sarapan dulu. Setelah selesai, kalian berangkatlah, karena waktu kita tidak banyak," ucap si Ustadz.
"Bagaimana dengan sahabat kamu Meka?" tanya Kakek tua itu tiba-tiba. Dia melirik ke arah kamar Meka dimana Isna masih bersiap-siap.
"Mereka akan pergi bertemu dengan Ibunya Deon, Kek. Dan tidak bisa ikut membantu," jawab Meka menjelaskan.
"Sudah saya duga itu," gumam Kakek itu.
Meka mengerutkan keningnya, bingung mendengar gumaman Kakek tua itu.
"Apanya Kek yang sudah di duga?" tiba-tiba Zain menyela.
"Ah tidak apa-apa. Nanti kalian akan tau dan mengerti, bagaimana seseorang yang egois hanya memikirkan dirinya sendiri. Lebih baik jauhi manusia seperti itu," ucap Kakek tua itu penuh kebencian.
Kakek Tua itu bisa merasakan dan mengetahui keburukan dari orang yang ada di sekitarnya. Dan dia tidak menyukai Isna dan Deon, terutama Isna sahabat Meka. Kakek itu melihat aura negatif yang banyak dalam dirinya. Dan itu membuktikan jika dia memiliki sifat dan karakter yang kurang baik.
Meka dan Zain tidak mengerti dengan apa yang di sampaikan Kakek tua itu. Namun untuk menghormatinya, mereka mengangguk saja.
"Oh ya Ustadz, bagaimana keadaan di luar sana? Apa mahluk-mahluk itu sudah tidak ada?" tanya Pak Zain.
"Mereka sudah pergi Pak Zain. Karena mahluk itu hanya kiriman sementara untuk membuat energi Meka dan Kakek serta saya habis. Sehingga ketika malam bulan purnama nanti, iblis itu bisa menjalankan ritualnya," jawab Ustadz Ahmad menjelaskan.
Saat mereka masih membahas tentang rencana-rencana yang akan dilakukan, Isna keluar dari kamar dan berjalan menghampiri Meka.
"Mek, Deon belum gabung kesini ya?" tanya Isna tanpa rasa segan.
"Belum Na, coba aja Lo panggil, dia masih di kamar kok," jawab Meka dengan pandangan berbeda.
Ketika melihat kedatangan Isna, Meka teringat akan kata-kata Kakek tua itu. Meka berpikir apa maksud dari ucapan Kakek itu. Apakah itu ada hubungannya dengan Isna dan Deon atau kah hanya sebatas pemberitahuan saja.
"Oh ya udah, gw samperin dia dulu ya," balas Isna. Dia pun meninggalkan Meka dan yang lainnya tanpa rasa canggung.
Meka yang melihat sikap Isna sedikit berbeda, mengerutkan keningnya. Dia menatap punggung Isna dari belakang. Lalu Meka menoleh sekilas ke arah Kakek tua yang memperlihatkan wajah tak sukanya dengan sikap Isna.
Zain yang memang seorang dosen, bisa memberikan penilaiannya tentang sikap Isna yang dianggap kurang sopan saat menghampiri Meka. Isna tidak memiliki sopan santun untuk menyapa orang yang lebih tua saat dia berada di tengah mereka.
Ketika mereka diam sibuk dengan pikiran masing-masing, istrinya Ustadz datang menghampiri mereka.
"Ayo kita sarapan. Udah siap semuanya," ucap istri Ustadz memberitahu.
"Oh ayo mari-mari sarapan dulu," ajak Ustadz Ahmad.
Lalu Ustadz Ahmad dan Kakek tua itu berjalan duluan. Setelah itu Meka dan Zain mengikuti mereka di belakang.
"Sayang, kamu lihat tadi bagaimana sikap Isna. Sepertinya ada sesuatu yang berbeda," ucap Zain mengingatkan Meka.
"Mas gak bisa mengatakannya, Mas hanya bisa merasakan saja. Jangan bilang, dia menghindar dari kamu sayang," terka Zain.
"Maksudnya menghindar gimana Mas?" Meka semakin penasaran dengan apa yang di pikirkan suaminya.
"Feeling Mas, sepertinya mereka tidak ingin ikut campur dengan masalah yang kamu hadapi. Dan mereka mungkin mencari aman," ucap Zain menerka-nerka.
"Apa iya mereka seperti itu Mas?" tanya Meka sambil merenung.
Zain tidak melanjutkan ucapannya karena mereka sudah tiba di meja makan. Zain tidak ingin pembahasan ini di ketahui sama yang lainnya.
"Ayo-ayo kita sarapan. Semua udah siap. Sarapannya ala kadarnya aja ya nak Meka," ucap istri Ustadz Ahmad.
"Iya Ummi, ini juga sudah Alhamdulillah enak. saya jadi gak enak karena tidak bisa membantu Ummi dan Nenek di dapur," balas Meka sungkan.
"Ah tak usah dipikirkan nak Meka. Ayo kalian kan harus segera berangkat. Biar tidak kesiangan nantinya," ucap Ummi.
Meka dan Zain mengambil posisi bersampingan. Sedangkan Ustadz Ahmad duduk di kursi bagian depan tengah. Sementara Kakek duduk di samping Ustadz Ahmad sebelah kanan bersama istrinya.
"Nak Isna dan Deon kemana ya? Kok gak kelihatan?" tanya Nenek itu.
"Mereka bentar lagi kemari Nek," jawab Meka.
"Oh ya sudah, ayo kita sarapan duluan aja," ajak Ustadz Ahmad.
Mereka pun mulai menikmati sarapan yang di atas meja makan. Kemudian Isna dan Deon datang bergabung di meja makan.
"Nak Isna, Deon ayo sarapan," ajak Ustadz Ahmad ketika melihat mereka datang.
"Iya Ustadz," jawab mereka berdua.
Tanpa rasa malu, Isna dan Deon mengambil posisi di samping Nenek. Mereka pun ikut menikmati sarapan yang di buat Ummi dan Nenek.
Tak ada percakapan yang terjadi di meja makan. Ustadz dan yang lainnya memilih diam. Ada yang memang menikmati sarapannya, ada juga yang sedang memikirkan sesuatu.
Tak jauh dari tempat mereka berkumpul, Khodamnya Meka menatap serius ke arah Meka. Dia terus menunggu Meka untuk selesai dan segera berangakt ke Desa tua.
Khodamnya Meka terus mengawasinya. Karena dia bisa merasakan sesuatu yang akan terjadi ketika pergi ke Desa tua.
Meka yang bisa merasakan keberadaan Khodamnya, menoleh ke samping dan matanya menangkap sosok Khodamnya yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh arti.
Khodamnya Meka mengangguk mengisyaratkan bahwa dia tidak perlu khawatir akan langkahnya nanti.
Meka pun menghela napas beratnya sambil menundukkan wajahnya sambil mengunyah makanannya.
Setelah beberapa menit mereka menyantap hidangan itu, Meka dan Pak Zain bersiap-siap untuk berangkat. Begitu juga dengan Isna dan Deon. Mereka berdua juga sudah menunggu Meka dan Pak Zain di ruang depan.
"Ayo kita berangkat Meka," ajak Kakek tua itu.
"Iya kek, kita berangkat," balas Meka.
Isna dan Deon berpamitan sama Ustadz Ahmad untuk tidak kembali kesini untuk beberapa hari.
Sementara Meka dan Pak Zain juga serta Kakek tua itu berpamitan juga dengan Ustadz Ahmad.
Mereka pun berjalan ke depan memasuki mo il masing-masing. Isna dan Deon masuk ke mobil Deon. Sedangkan Meka dan Zain serta Kakek masuk ke mobil Zain.
Kedua mobil itu pergi meninggalkan rumah Ustadz Ahmad ke tempat masing-masing tujuan.