
Saat ini di meja makan suasana terasa hening. Tak ada yang berbicara. Zain sedang membantu Meka untuk makan. Walaupun canggung di hadapan Ustadz dan Ummi, Zain tetap menyuapi Meka makan.
Sementara Kakek tua itu masih dalam keadaan lemah, dia masih berbaring di sofa. Tenaga dalam yang dia salurkan ke Meka cukup menguras energinya. Sehingga dia jatuh terkulai ke lantai saat pertarungan selesai.
Saat ini Kakek tua itu di bantu sama istrinya untuk makan. Mereka makan di sofa terpisah dari Ustadz Ahmad dan Zain serta Meka.
Setelah makan malam selesai, Zain kembali memapah Meka untuk duduk di sofa.
"Sayang gimana keadaan kamu? Udah enakan sekarang?" tanya Zain yang berjongkok di bawah lutut Meka.
"Aku udah baikan Mas. Badanku juga udah enakan. Kalau tadi iya, terasa lemas banget," jawab Meka.
"Kalau gitu gimana kalau malam ini kita nginep di sini. Karena kita gak mungkin kembali ke Apartement. Kamu juga harus beristirahat dulu," ucap Zain memberi saran.
"Kita harus permisi dulu Mas sama Ustadz Ahmad," balas Meka.
"Nenek yakin Ustadz Ahmad akan menyetujui kalau kalian nginap disini. Nenek akan menyiapkan kamar kalian," si Nenek ikut nimbrung dalam pembicaraan Meka dan Zain.
"Nek, gak usah repot-repot. Nenek kan harus mengurus Kakek. Biarkan saya yang merapikan kamarnya nanti," ucap Zain yang membalas keinginan si Nenek.
"Iya Nek, biar kami aja yang merapikannya. Kami juga harus minta izin sama Ustadz Ahmad," sambung Meka.
Lalu dari arah ruang makan, Ustadz Ahmad dan Ummi datang berjalan ke arah ruang depan.
"Nah itu Ustadz Ahmad," tunjuk si Nenek.
Meka dan Zain melihat kedatangan Ustadz dan Ummi ke arah mereka.
"Gimana keadaan Kakek, Nek?" tanya Ummi saat melihat Kakek masih terbaring di sofa.
"Sepertinya masih perlu pemilihan nak," jawab Ummi.
"Apa gak sebaiknya Kakek di bawa ke kamar aja Nek?" tanya Ustadz Ahmad.
"Iya Nek, biar bisa istirahat di dalam kamar," sambung Ummi.
"Baiklah, Nenek akan bawa Kakek ke kamar dulu ya," ucap si Nenek.
"Mari saya bantu Nek," balas Zain langsung.
"Iya biar kami aja Nek yang bawa Kakek ke dalam kamar," pinta Ustadz Ahmad.
Kemudian Ustadz Ahmad dan Zain membantu Kakek itu berjalan menuju kamarnya. Sedangkan si Nenek mengikuti mereka di belakang.
Sementara di ruang depan, Ummi menemani Meka yang sedang duduk bersender di sofa.
"Nak Meka, sebaiknya kalian menginap saja disini," ucap Ummi yang mengkhawatirkan keadaan Meka.
"Terima kasih Ummi. Sebenarnya tadi kami juga sudah membahas itu Ummi. Kalau malam ini kami akan menginap disini," balas Meka.
"Alhamdulillah berarti saya tidak perlu khawatir jika kalian memilih kembali ke Apartement," sambung Ustadz Ahmad.
"Iya Meka, tadi Ummi dan Ustadz sempat membahas tentang kalian. Ustadz Ahmad khawatir dengan kalian jika memilih kembali ke Apartement. Dan ternyata kalian memilih hal yang baik untuk tetap disini," ucap Ummi menjelaskan ulang.
Lalu tiba-tiba ponsel Meka berdering. Ummi dan Meka saling bertatapan.
"Saya lupa Ummi, kalau Deon dan Isna tadi rencananya mau kemari. Dan saya melarang mereka untuk kemari," ucap Meka sambil mengangkat tlpnya.
"Assalamu'alaikum Na!" sapa Meka.
"Wa'alaikumussalam Mek...," sahut Isna di seberang.
"Kalian dimana Na? Kalian baik-baik aja kan?" tanya Meka cemas.
"Iya Mek, kami baik-baik aja kok. Mek, kami bisa ke rumah Ustadz? Kalau kami balik ke Apartement, rada-rada takut Mek. Mending kami nunggu kalian aja balik," ucap Isna memberitahu.
"Loh emang kalian dimana nih?" tanya Meka.
"Kami masih di luar Mek. Nih lagi di cafe dekat rumah Ustadz. Gimana Mek?" jawab Isna dan dia bertanya kembali.
"Gimana Ustadz, mereka mau menginap disini juga?" tanya Meka dengan menjauhkan ponselnya dari mulutnya.
"Tentu boleh nak Meka. Suruh lah mereka kesini. Tapi lebih baik lihat dulu keadaan di luar. Apakah sudah aman atau tidak," ucap Ustadz Ahmad.
"Na, kalian kemari aja, karena gw dan Pak Zain akan menginap disini. Tapi kalian tunggu sebentar karena gw akan memastikan keadaan di depan dulu ya," Meka kembali berbicara dengan Isna.
"Ok Mek, kalau gitu kami tunggu info dari Lo ya," balas Isna.
"Tapi lebih baik kalian bisa standby dan bersiap-siap kemari, biar gw tunggu di depan dengan Ustadz Ahmad," ucap Meka menyarankan Deon dan Isna segera meluncur kemari.
"Baiklah Mek, kami sekarang akan bergerak kesana," balas Isna.
"Ok, gw tunggu ya."
Meka pun mematikan sambungan tlp nya dan dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
"Gimana nak Meka? Mereka ada dimana?" tanya Ustadz Ahmad ketika melihat Meka selesai ngobrol.
"Mereka sekarang berada di cafe dekat sini Ustadz. Dan saya menyarankan mereka agar segera kemari Ustadz. Dan kita akan menunggu mereka di luar Ustadz," jelas Meka.
"Oh baiklah kalau gitu ceritanya. Ayo sekarang kita lebih baik ke depan saja. Sambil melihat situasi di luar sana," ajak Ustadz Ahmad.
"Iya Ustadz, tapi saya nunggu Zain dulu biar Mas Zain tau saya menunggu Deon dan Isna di depan," ucap Meka.
"Oh iya, kalua gitu kita tunggu aja Pak Zainnya," balas Ustadz.
Kemudian Zain datang dari arah dalam, dia menghampiri Meka yang duduk di samping Ummi.
"Gimana sayang, kamu udah ngomong sama Ustadz dan Ummi?" tanya Zain yang duduk di samping Meka.
"Udah Mas, tadi Ummi juga menyarankan seperti itu," jawab Meka.
"Makasih Ustadz udah ngizinin kami untuk bermalam disini," ucap Zain.
"Itu lebih baik Pak Zain. Karena kondisi nak Meka juga masih belum stabil. Alangkah baiknya kalian memang harus menginap disini," balas Ustadz.
"Oh ya Mas, Deon dan Isna juga mau menginap disini. Mereka takut kalau harus tinggal di Apartement kita," ucap Meka memberitahukan hal tersebut ke suaminya.
"Oh seperti itu ya. Terus sekarang dimana mereka?" tanya Zain.
"Mereka sekarang berada di cafe yang dekat sini Mas. Dan sekarang mereka bersiap-siap kemari Mas," jawab Meka.
"Loh emang keadaan di depan sudah aman?" tanya Zain.
"Justru itu Pak Zain, saya dan nak Meka mau ke depan melihat situasi. Meka menunggu Pak Zain dulu tadi," jawab Ustadz Ahmad.
"Kalau gitu Mas ikut ke depan ya. Mas gak mau kamu kenapa-napa," pinta Zain.
"Ya sudah kalau gitu. Pak Zain boleh ikut ke depan. Ayo sekarang lebih baik kita ke depan," ajak Ustadz Ahmad.
"Baik Ustadz," balas Zain.
Zain membantu Meka berjalan. Mereka berjalan di belakang Ustadz Ahmad. Pintu rumah depan di buka sama Ustadz Ahmad.
Keadaan di luar rumah begitu sepi, hening tak terdengar suara-suara berisik. Meka curiga dengan keadaan seperti itu.
"Meka segera menghubungi Isna dan Deon agar secepatnya datang ke rumah Ustadz.
"Ustadz kenapa keadaannya hening dan sepi sekali ya?" tanya Meka curiga.
"Iya nak Meka, apa sebaiknya kita ke dalam?" tanya Ustadz Ahmad.
Lalu tlp Meka berdering kembali, dan Meka langsung mengangkatnya.
"Na buruan masuk ke sini. Kami sudah berada di halaman. Cepatan!" seru Meka.
Isna pun segera mematikan sambungan tlp nya dan memberitahukan ke Deon untuk segera masuk ke dalam pekarangan rumah Ustadz.
"Itu mereka, ayo buruan De!" teriak Meka.
Deon dan Isna segera keluar dari mobil begitu Deon memarkirkannya. Mereka bergegas menghampiri Meka.
"Ayo nak Meka buruan masuk ke dalam rumah, cepatan," ajak Ustadz Ahmad yang sedikit berlari ke arah dalam rumah.
Meka dan yang lainnya segera berlari juga mengikuti Ustadz Ahmad untuk masuk ke dalam rumah. Lalu Zain langsung menutup pintu rumah itu. Ketika Zain sudah menutup pintu rumah itu, tiba-tiba terdengar suara pintu di dobrak.