
Meka dan Zain menunggu di depan pintu kedatangan. Meka tampak bahagia karena akan bertemu dengan Papa dan Om nya yang sangat disayanginya.
"Apa kamu bahagia sayang?" tanya Zain sambil melihat ke dalam ruangan kedatangan penumpang pesawat.
"Ya Mas, aku sangat bahagia banget. Sudah lama tidak bertemu dengan mereka," Meka terus melihat ke dalam melihat satu persatu penumpang yang keluar dari pintu kedatangan.
Hingga akhirnya Meka menatap tak percaya dengan kedatangan sosok yang sangat dirindukannya.
"Papa....!" panggil Meka dengan air mata yang sudah terjun bebas tanpa ada bendungan yang menahannya.
Papanya Meka diam terpaku menatap anak perempuan yang sangat disayanginya dan merupakan satu-satunya yang masih dimilikinya. Air mata pun tak bisa ditahan hingga menetes ke pipi.
"Meka...," Papanya Meka merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan anaknya.
Meka berjalan cepat menghampiri Papanya serta Omnya yang bernama Sandy. Meka berhambur dalam pelukan Papanya dengan tangisan yang terdengar menyentuh hati siapapun.
"Pa..., Meka kangen banget...," lirihnya.
"Iya sayang, Papa udah di sini. Papa juga sangat merindukanmu," balas Papanya yang mengusap rambut Meka dengan sayang. "Gimana keadaanmu sayang? Kamu kelihatan agak pucat? Ada apa?" tanya Papanya saat melihat wajah Meka yang sedikit pucat.
"Pa, apa khabar?" tanya Zain yang menyela percakapan mereka berdua dengan menghampirinya.
"Nak Zain, Papa baik-baik aja kok," jawab Papanya Meka. "Gimana dengan kamu, kelihatannya semakin gemuk sekarang," goda Papanya Meka sambil menepuk pundak Zain.
"Hahaha, Papa bisa aja."
"Om Sandy.......!" Meka juga memeluk Om kesayangannya yang selalu menjadi temannya ketika Meka kecil dulu.
"Keponakan Om, makin cantik aja," balas Omnya sambil mencubit hidung Meka dengan gemas.
"Tante....!" seru Meka sambil memeluk istri Omnya.
"Selamat ya sayang, Tante dengar kamu sekarang lagi mengandung," ucap Tantenya dengan wajah tersenyum.
"Ih...Tante senyumnya itu godain Meka aja," Meka pun membalas senyuman Tantenya.
Meka menggandeng Papanya seperti saat dia masih kecil yang selalu menggandeng lengan Papanya jika jalan-jalan bersama. Dan kebiasaan itu tidak bisa dihilangkannya.
Sandy dan istrinya hanya senyum-senyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah Meka yang manja terhadap Papanya.
"Kamu sudah makan sayang?" tanya Papanya Meka.
"Kalau makan malam sih belum Pa. Rencananya sih pengen bareng Papa dan Om serta Tante," jawab Meka yang terus berjalan berdampingan dengan Papanya.
"Kalau begitu kita ke hotel dulu, setelah itu kita cari makan malam bersama, gimana?" tanya Papanya.
"Gimana Mas?" Meka malah bertanya dengan Zain.
"Mas ngikutin kamu aja sayang. Kalau kamu mau makan malam sama Papa dan Om serta Tante, gak masalah," jawab Zain yang berjalan disamping Meka.
Ketika mereka berjalan keluar Bandara, Papanya Meka merasakan hal yang tidak baik sedang terjadi dalam rumah tangga Meka dan Zain. Papanya bisa melihat adanya aura jahat yang sedang mengincar Zain saat ini. Namun dia tidak ingin membuat kekacauan dalam pikiran Meka. Papanya mencoba mengabaikan apa yang dirasakannya.
"Meka dimana Khodammu?" tanya Papanya saat tidak melihat keberadaan Khodamnya Meka.
Saat pertanyaan itu keluar dari mulut Papanya Meka, tiba-tiba Khodamnya muncul disamping Papanya.
"Hah, kebiasaan muncul selalu mendadak," celetuk Meka.
Papanya Meka bisa melihat keberadaan Khodamnya Meka. Dia pun tersenyum melihatnya.
"Saya ingin bicara dengan kamu nanti. Temui saya ketika Meka kembali ke rumahnya," pinta Papanya Meka yang berbicara melalui bathinnya.
"Baik Tuan akan saya laksanakan. Saya permisi dulu," ucap Khodamnya yang menghormati Papanya Meka.
"Huuuu, kalau sama Meka malah seperti jailangkung. Datang tak diundang dan pergi tanpa diantar," kesal Meka yang melihat Khodamnya tunduk hormat kepada Papanya.
"Kamu tidak boleh seperti itu Meka. Dia selalu berada disamping kamu saat berhubungan dengan mahluk ghaib," balas Papanya yang geleng-geleng kepala.
"Iya sih Pa. Ah sudahlah jangan bahas dia. Meka sekarang mau bersenang-senang karena kedatangan Papa dan Om serta Tante," ucap Meka yang tidak ingin membahas Khodamnya.
Papanya Meka mengacak-acak rambut Meka dengan rasa sayang. Mereka berjalan ke parkiran dan masuk ke dalam mobil. Zain yang mengendarai mobilnya membawa keluarga Meka ke hotel yang tak jauh dari rumah orang tuanya.
Dalam perjalanan, Papanya Meka selalu melihat ke arah kaca spion menatap Zain lekat-lekat. Dia bisa sangat jelas aura jahat sedang mengincar Zain. Papanya Meka berusaha menahan keinginannya untuk mengetahui tentang Meka dan Zain dari Khodamnya Meka.
"Zain, gimana dengan pekerjaanmu sebagai Dosen?" tanya Papanya Meka yang membuka percakapan.
"Saya sudah tidak bekerja lagi Pa sebagai Dosen di sana. Dan rencananya saya akan menjalankan Perusahaan Papa saat ini," jelas Zain sambil melirik ke arah kaca spion.
"Bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka menyetujui keinginan kalian itu?" tanya Papanya Zain langsung.
"Kalau masalah itu, Zain hanya berbicara sama Papa saja. Kalau sama Mama, Zain belum cerita Pa. Rencananya setelah acara selesai baru Zain cerita ," ucapnya.
"Baiklah, Papa berharap kalian bisa segera ikut bersama Papa kembali ke Medan. Karena di sana, Papa bisa memantau keadaan Meka.
"Iya, Pa. Kami pun berharap Mamanya Zain tidak menghalangi kami untuk tinggal di Medan selama Meka hamil Pa," ucap Meka yang menyambung ucapan Zain.
"Meka, gimana kandungannya? Apakah jenis kelaminnya sudah bisa dilihat?" tiba-tiba Tantenya melemparkan pertanyaan yang sengaja agar Papanya Meka dan Zain tidak bersitegang.
"Kalau soal itu belum Tante. Tapi Meka akan kontrol nantinya Tante dan konsultasi," jawab Meka tersenyum di depan.
.
"Tante senang banget mendengar kehamilanmu dari Papa kamu kemaren. Apalagi saat mengajak Tante ke Jogja. Itu hal pertama yang Tante lakukan," ucap Tantenya dengan kegembiraan yang terpancar dari matanya.
"Kalau begitu, sebelum kita kembali ke Medan. Gimana kalau kita jalan-jalan. Di sini banyak tempat wisatanya Tante," balas Meka yang memberikan informasi tentang Jogja.
"Wah boleh itu Meka. Tante gak sabar pengen jalan-jalan ke Borobudur dan Keraton," ucap Tantenya lagi penuh harap.
"Meka, Tante kamu ini dari kemaren terus mengatakan, kalau di Jogja nanti yang ingin dikunjunginya adalah Borobudur dan Keraton. Om sampai pusing mendengar itu aja yang disampaikan Tante kamu," ucap Omnya yang tidak berani menoleh ke arah istrinya.
"Hahaha, tidak apa-apa dong Om. Kan Tante baru ini kali pertama ke Jogja. Wajar dong kalau rasa kepengennya tinggi. Asal jangan kebawa mimpi ya Om," ledek Meka senyum-senyum di depan.
"Wah, kamu bisa tau aja Mek, Tantemu ini sampai kebawa mimpi juga kok," sambung Omnya yang merasa senang menjahilin istrinya.
"Ih...Bang, kamu buka kartu aja. Malu kan sama Papanya Meka," kesal istrinya Sandy.
"Gak usah malu sama saya. Sandy emang dari dulu senengnya jahilin istrinya. Jangankan kamu, almarhum kakaknya saja suka dijahili. Kadang sampai nangis lagi," ungkap Papanya Meka memberitahu tentang sikap iparnya yang jahil.