Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 68


Zain merasa senang dan hatinya terasa lega karena Meka akhirnya mengetahui tentang perjodohannya. Zain menatap istrinya terus. Terkadang Zain merasa lucu dengan dirinya sendiri, yang bisa jatuh cinta terhadap Mahasiswanya sendiri bahkan menjadikannya menjadi istrinya. Zain pun senyum-senyum sendiri.


"Sayang, ayo makan! Apa yang membuatmu senyum-senyum sendiri?" Meka menatap heran kearah Zain.


"Oh itu, Mas teringat bagaimana dulu mendekatimu sayang. Lucu dan bisa-bisanya Mas tergoda dengan Mahasiswi sendiri. Hingga berakhir dalam pernikahan," jelas Zain dengan senyum mengembangnya.


"Pertemuan yang tak disangka ya Mas. Aku juga kemaren kesal sama kamu, bisa-bisanya menyuruhku terus-terusan keruangan Mas dengan banyak alasan. Hmmm rupanya ada niat dibalik keinginan," balas Meka yang juga senyum-senyum.


Tak terasa mereka sudah menghabiskan makanannya. Meka merasa kenyang. Lalu dia membersihkan meja dan merapikan piring-piring yang kotor.


Zain yang menunggui Meka di meja makan menatap istrinya dari belakang. Ada desiran yang mengalir di tubuhnya saat memperhatikan bokong istrinya yang hanya menggunakan daster ngepres. Zain bangkit dari kursinya menghampiri Meka. Lalu dia memeluk Meka dari belakang dan mencium aroma tubuh istrinya.


"Kamu harus sekali sayang," ucap Zain dengan suara seraknya.


Cha terkejut karena tiba-tiba dipeluk dari belakang.


"Mas buat aku kaget aja."


"Masih lama kah sayang membersihkan piringnya?" tanya Zain yang sudah tidak bisa menahan hasratnya.


"Kalau Mas mau duluan ke kamar, gak apa-apa. Aku nanti menyusul," Meka tidak mengerti dengan kode yang diberikan Zain.


"Sayang, ayo ke kamar," ajak Zain sambil meraba-raba perut rata Meka.


Meka tercekat karena sentuhan Zain yang membuat darahnya berdesir.


"Mas pengen sayang," bisik Zain ditelinga Meka dengan suara beratnya.


Meka langsung menghentikan kegiatan membersihkan piring kotornya. Dia terdiam dan langsung membalikkan tubuhnya hingga mereka saling menatap.


Zain menatap istrinya dengan kabut gairah. Dia langsung melu*** bibir sexy milik Meka. Mereka saling menyesap, bertukar salivanya hingga membuat sesuatu yang berada dibawah berkedut-kedut. Zain langsung menggendong Meka masuk ke dalam kamar mereka. Perlahan-lahan Zain menurunkan Meka dari gendongannya tanpa melepaskan penyatuan bibir mereka. Zain terus memberikan rangsangan terhadap Meka hingga satu persatu pakaian ditubuh mereka terlepas.


Meka melepaskan pagutan ya sesaat untuk mengambil nafas. Tanpa membuang waktu Zain merebahkan tubuh Meka diatas tempat tidur dan menjejali setiap inci tubuh Meka. Meka merasa terbang ke awang-awang. Baginya ini benar-benar nikmat.


Setelah lama melakukan pemanasan, akhirnya Zain melakukan penyatuannya. Mereka smaa-sama mengerang..


"Zaiiinn....," desah Meka sambil memanggil nama suaminya.


"Meka ku.....," panggil Zain dengan suara desahannya.


Mereka menghabiskan malam panasnya selama beberapa jam dengan berbagai macam gaya. Zain sangat menikmati permainan mereka. Peluh keringat bercucuran ditubuh keduanya. Zain terus menghentak-hentakkan senjatanya ke dalam goa Meka. Hingga mereka melakukan pelepasan terakhirnya.


"Saaayaaannggg Mas mau keluar....!" teriak Zain.


"Sama-sama Mass....!" sahut Meka yang juga akan keluar.


Dan akhirnya mereka mencapai puncaknya secara bersamaan. Zain terkulai lemas disamping tubuh Meka. Begitu juga dengan Meka yang sudah lemas. Lalu Zain bangkit dan mengecup kening istrinya.


"Makasih sayang, kamu nikmat sekali," puji Zain.


Meka malu-malu mendengar ucapan Zain yang menurutnya fulgar. Padahal itu sah-sah saja karena Meka sudah halal bagi Zain.


Zain mengajak Meka tidur, dan dia memeluk tubuh polos istrinya di dalam selimut. Mereka akhirnya tidur dengan pulas.


Keesokan paginya, Meka terbangun dan merasakan badannya yang pegal-pegal. Dia melihat kesamping ternyata suaminya masih tertidur. Lalu Meka bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya habis melaksanakan malam panas dengan suaminya.


Setelah selesai, Meka keluar dari dalam kamar mandi. Dia melihat Zain yang masih terlelap. Kemudian Meka keluar dari kamarnya dan membuat sarapan pagi untuk Zain dan dirinya.


Setelah semua beres, Meka masuk ke dalam kamar untuk membangunkan Zain.


"Sayang, sudah pagi. Ayo bangun! Kita kan mau ke kampus. Aku udah siapkan semuanya," ucap Meka yang membangunkan Zain.


Zain membuka matanya dan melihat istrinya sudah mandi dan wangi.


"Kamu kenapa gak bangunin Mas? Kan biar bisa mandi bareng sayang...!" protes Zain.


"Kalau kita mandi bareng, bisa-bisa kita gak jadi ke kampus. Aku kan harus masuk kuliah hari ini Mas..!" ucap Meka sambil membelai wajah Zain.


"Ya udah, kalau pagi gak dapat jatah, ntar malam kita main lagi ya sayang," pinta Zain yang tak pernah puas dengan Meka.


"Dasar dosen mesum," balas Meka memanyunkan bibirnya.


"Biarin, tapi sayangku suka kan?" goda Zain sambil memeluk Meka.


"Udah mandi, aku tunggu disini biar kita sarapan, terus langsung berangkat ke Kampus."


"Iya-iya sayang. Tapi ntar malam jadi ya," Zain mengingatkan Meka kembali.


"Iya Zain...., sekarang mandi dulu terus sarapan."


Lalu Zain melangkah ke arah kamar mandi. Dia mulai membersihkan tubuhnya hingga bersih dan harum. Setelah selesai, Zain keluar dari kamar mandinya dan menyapa kearah Meka yang sedang memandangnya.


"Ayo kita sarapan, Mas udah siap," ajak Zain.


"Heum."


Mereka berdua keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan. Zain sangat menikmati masakan istrinya di pagi hari.


"Sayang, nasi goreng buatanmu enak banget!" seru Zain yang memuji masakan istrinya sambil mengunyahnya.


Meka tersenyum mendengar pujian dari Zain. Dia merasa senang jika Zain menyukai masakannya.


"Sayang, kamu sudah siap bertemu sahabat-sahabat kamu di Kampus?" tanya Zain yang menatap kearah Meka.


"Kalau ada apa-apa, kamu langsung khabari Mas ya!" pinta Zain.


"Iya Mas...!"


Setelah menyelesaikan sarapan pagi, mereka bersiap-siap untuk berangkat ke Kampus. Zain dan Meka keluar dari Apartemennya, lalu masuk ke dalam mobil. Zain dan Meka berangkat bareng satu Mobil.


Dalam perjalanan yang begitu padat, Meka dan Zain mengisinya dengan mendengarkan lagu. Meka terbuai dengan alunan musik dari lagu itu. Tak terasa akhirnya mereka sampai di Kampus. Zain mengajak Meka keluar dari Mobil.


"Ayo sayang Ki keluar," ajak Zain.


Meka merasa khawatir jika dia keluar barengan dengan Dosganya. Mereka akan curiga dengan kedekatan keduanya. Namun Zain meyakinkan Meka untuk tidak memperdulikan tatapan Mahasiswa lainnya.


Meka dan Zain berjalan berdampingan tanpa berpegangan tangan. Meka sengaja melakukannya karena mereka berada di Kampus.


Dari kejauhan Meka melihat Isna sahabatnya menatapnya dengan datar. Dan dia juga melihat Ghani yang menatapnya dengan dingin dan wajahnya terlihat sendu.


"Ada apa dengan Ghani?" pikir Meka.


Meka merindukan panggilan Ghani yang heboh saat dia memasuki Kampus. Tapi sekarang panggilan itu hilang karena ketidak percayaan mereka terhadap ucapan Meka.


Meka berjalan santai bersama Dosganya hingga sampai di depan kelasnya.


"Sayang, Mas tinggal ya. Nanti khabari Mas kalau sudah mau pulang," ucap Zain sambil memegang pipi Meka.


"Iya Mas," balas Meka.


Adegan seperti itu terlihat oleh Dosennya yaitu Bu Arin. Dari kejauhan dilantai atas, Bu Arin menatap Meka dengan tajam. Dia ingin sesegera mungkin untuk menghancurkan Meka. Supaya Zain bisa beralih ke dirinya.


"Meka, dia ada disini," bisik Khodamnya melalui bathin.


"Siapa?" tanya Meka.


"Berhati-hatilah saat melangkah," Khodamnya mengingatkan Meka akan bahaya.


Meka menatap ke sekeliling, hingga dia menangkap sosok wanita tua itu.


"Kenapa wanita tua itu terus mengikuti Bu Arin?" bathin Meka yang bingung melihatnya.


Zain mengernyitkan keningnya menatap istrinya yang celingak-celinguk.


"Sayang, ada apa?" tanya Zain bingung.


"Gak ada apa-apa Mas," bohong Meka yang tak ingin Zain khawatir.


"Ya sudah, Mas ke ruangan dulu ya."


"Iya Mas."


Zain meninggalkan Meka yang masih berdiri di depan pintu kelasnya menatap kepergian suaminya. Lalu dia masuk ke dalam kelasnya dan mendapati Shinta sedang menatap tak suka kearahnya.


Lalu dari luar, Isna dan Ghani masuk ke dalam kelasnya dan menatap Meka.


Isna menghampiri Meka dan duduk dihadapannya.


"Mek, Lo kemana aja seminggu ini? Kenapa tidak ada khabarnya? Apa gw juga punya salah sama Lo?" tanya Isna yang berada dihadapan Meka.


"Sorry Na, gw lagi ketimpa kemalangan. Nyokap gw meninggal kemaren," jawab Meka.


"Innalillahi wainnailaihi raji'un...! Kenapa Lo gak ngabari kita-kita Mek!" seru Isna yang merasa bersalah


"Emang kalian masih perduli dengan gw? Bukannya kalian juga gak pernah menghubungi gw?" tantang Meka dengan wajah sinisnya.


"Meka, gw tau salah. Tapi gw perduli sama Lo. Kenapa gw gak menghubungi Lo, itu karena gw mikir, Lo gak akan mau terima tlp dari gw atau yang lainnya," jelas Isna.


Meka menatap mata sahabatnya untuk mencari kejujuran dari ucapannya.


Lalu tiba-tiba Deon ikutan nimbrung bersama mereka. Tanpa di duga, Deon memeluk Meka sambil terisak.


"Mekaaaaa ku sayang....,eike minta maaf ya say...! Eike gak percaya ucapan yei. Eike salah. Ternyata apa yang yei bilang tentang bokap eike, benar. Bokap eike sudah tiada Meka ku......!" Deon merasa bersalah terhadap Meka. Dia memeluk Meka dengan erat.


Meka tak percaya mendengar ucapan Deon sahabatnya yang melambai itu.


Isna mengangguk membenarkan ucapan Deon.


"Innalillahi wainnailaihi raji'un," ucap Meka tak percaya.


"Bokap eike jadi tumbal kekayaan keluarga Nyokap eike. Sekarang eike gak mau tinggal dirumah itu lagi. Eike takut akan diperlakukan sama dengan Bokap," jelas Deon.


"Lo tau dari mana Bokap Lo udah tiada?" tanya Meka penasaran.


"Eike curiga dengan kamar yang berada diujung deretan kamar eike. Ternyata disana tempat pemujaan yang dilakukan Nyokap eike. Dan saat itu eike gak sengaja mendengar perbincangan Nyokap dan kakek yang mengatakan bahwa eike jangan sampai tau tentang kematian Bokap eike yang sudah ditumbalkan mereka," terang Deon sambil menunduk sedih.


"Emang Nyokap Lo gak nyariin saat tau Lo gak dirumah lagi?" tanya Meka.


"Nyokap nyariin. Katanya eike gak boleh pergi dari rumah itu."


"Loh kenapa emangnya Deon?" tanya Meka curiga.


"Ternyata eike akan dijadikan budak nafsu Nyai yang bersemayam di kamar itu," ungkap Deon ketakutan.


Meka dan Isna menutup mulut mereka secara bersamaan. Mereka merinding mendengar penuturan dari Deon. Mereka gak menyangka ternyata harta yang dimiliki Deon berasal dari pesugihan keluarganya.