
Meka berteriak kencang hingga membuat Zain terkejut mendengar teriakan Meka, hingga dia mengerem mendadak dan banting stir kearah supermarket yang dipinggir jalan. Mobil pun menabrak tembok parkiran supermarket itu.
Deon dan Isna terhempas kedepan dan kepala mereka terbentur jok depan. Sedangkan Meka kepalanya membentur dashboard mobil hingga terluka. Dan Zain pun begitu juga. Mobil berhenti dan bagian depan sedikit rusak akibat membentur tembok parkiran supermarket.
Perlahan Meka bangkit dan melihat Zain yang sedikit sadar. Lalu dia mengalihkan pandangannya kearah Deon dan Isna.
"Mas kamu gak apa-apa?" tanya Meka yang mengecek keadaan suaminya.
"Kepala Mas sakit banget sayang," jawab Zain sambil memegang kepalanya.
Lalu Meka beralih menoleh ke belakang.
"Na, Deon kalian gak apa-apa?" Meka melihat Isna pingsan ditempat.
Orang-orang yang berada disekitar melihat kejadian itu. Mereka segera menghubungi ambulance dan mengecek orang yang berada di dalam mobil.
"Buka pintunya Mbak, Mas!" teriak orang dari luar yang sudah berkerumun.
Lalu Meka membuka pintu mobilnya dan meminta tolong untuk dipanggilkan ambulance karena sahabatnya dibelakang sedang pingsan.
Setelah pintu mobil yang berada dibelakang Meka terbuka, beberapa orang yang ada di dekat mobil langsung mengeluarkan Isna dan Ghani. Sedangkan Meka masih bisa keluar sendiri. Dia mencoba memapah suaminya untuk diletakkan dilantai supermarket.
"Itu ambulancenya sudah datang, ayo bantu bawa Mbak dan Masnya," suruh salah satu orang tua yang sedang berjalan kaki di daerah situ.
Lalu Isna dan Deon serta Zain dibawa pergi oleh ambulance. Dan Meka juga berada di ambulance bersama orang tua tersebut yang menggunakan pakaian koko dan kain sarung. Tampaknya orang tua itu baru kembali dari Masjid.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya orang tua itu.
"Saya baik Pak," jawab Meka singkat.
"Hmmmm, kasihan teman-teman kamu, mereka ikut terkena imbas akibat perbuatannya," ucap orang tua itu tanpa melihat kearah Meka.
"Bapak bilang apa barusan?" Meka menatap tajam orang tua itu.
"Kamu banyak sekali yang menginginkannya. Siapa namamu nak?" tanya orang tua itu.
"Saya Meka Pak, maaf kenapa Bapak ngomong seperti itu?"
"Saat ini, ada sosok mahluk tinggi besar berbulu hitam, sedang mengikutimu. Dia menginginkan nyawamu. Kamu bisa melihatnya kan?" orang tua itu tersenyum kearah Meka.
"Apakah Bapak bisa melihatnya?"
Orang tua itu tersenyum menganggukkan kepalanya.
Meka terdiam, dia melihat keadaan Zain yang tertidur setelah benturan itu.
"Dia akan baik-baik saja. Dia suami nak Meka?" orang tua itu bertanya.
"Iya, dia suami saya."
"Hmmm, akan banyak sekali yang akan kamu hadapi bersamanya. Semoga kamu bisa menghadapinya."
Meka menatap curiga dengan orang tua itu.
"Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu? Apakah dia memiliki kelebihan sama sepertiku?" bathin Meka.
Orang tua itu tersenyum, karena dia bisa mendengar kata hati Meka. Lalu dia pun berkata, "aku bisa mendengar apa yang kamu ucapkan, karena kita sama-sama memiliki mata bathin."
Tentu saja Meka tersentak mendengar ucapan orang tua itu yang bisa mendengar kata hati Meka.
"Ba..bapak bisa mendengarnya?" Meka tak percaya dia bertemu dengan orang yang sama sepertinya.
Orang tua itu tidak banyak bicara, dia hanya mengangguk saja.
"Siapa Bapak?" tanya Meka penasaran.
"Saya hanya orang biasa, kebetulan tadi saya baru selesai dari Masjid , karena ada pengajian disana dan saya yang membawakan pengajian itu. Panggil saja saya Ustadz Imron," orang tua itu menjelaskan dan memperkenalkan dirinya.
"Tapi apa Ustadz?" tanya Meka yang gak sabaran.
"Tapi saya melihat kalian akan berpisah nantinya. Akan ada seseorang yang mencoba memisahkan kalian. Dan itu adanya campur tangan keluarga suamimu," Ustadz itu memberitahukannya.
Meka terdiam, dia menatap lekat kearah Ustadz itu. Ada ketidak percayaan dibenaknya. Namun dia juga ingin mempercayainya.
"Kamu tidak perlu percaya dengan ucapan saya. Jalani saja, semua sudah diatur sama yang maha kuasa."
Meka tak menggubris ucapan Ustadz itu, dia menggenggam tangan Zain yang terbaring.
"Sayang, bangunlah, maafkan aku yang selalu melibatkan mu dalam kehidupanku yang
seperti ini," bathin Meka yang ada rasa sesak di dadanya kala melihat suaminya terbaring.
Ustadz itu berkata lagi
"Bawalah orang tua teman kamu untuk menemui saya ketika mereka pulih. Saya akan menghilangkan jeratan iblis dalam diri orang tuanya."
Meka menoleh kearah Ustadz itu saat mendengar penuturannya.
"Dari mana Ustadz bisa mengetahuinya," tanya Meka yang kebingungan.
"Saya bisa melihatnya saat saya menggenggam tangannya laki-laki itu. Teman kamu yang pingsan tadi."
"Kalau boleh tau Ustadz tinggal dimana ya? Dan kenapa saya harus membawanya ke Ustadz?"
"Karena waktu orang tuanya sudah tidak lama jika dia ingin diselamatkan. Karena saat ini iblis itu sedang mengambil yang lainnya," jelas Ustadz itu.
"Baik Ustadz, kemana saya harus membawanya?"
"Dari tempat kejadian tadi, rumah saya ada di seberang jalan itu, yang memiliki taman yang sangat luas. Bawalah segera dan jangan membuang waktu."
Baik Ustadz, saya akan memberitahukan sahabat saya saat dia pulih."
"Mengenai suami saya, Maaf Ustadz, bukannya saya tidak mempercayainya, tapi saya tidak mau mendahului apa yang di rencanakan Allah SWT. Tapi saya akan mengingat apa yang Ustadz sampaikan, agar nanti saya lebih berhati-hati dalam menghadapi keluarga suami saya," Meka memberikan penjelasannya.
"Hmmmm, saya berdo'a semoga kehidupanmu bahagia ya bersamanya."
"Terima kasih Ustadz."
Tak berapa lama, mobil ambulance tiba di rumah sakit terdekat. Meka dan Ustadz itu turun membawa tubuh Zain masuk ke dalam ruang ICU.
Begitu juga dengan Ghani dan Isna, mereka segera di bawa masuk ke ruang ICU.
Meka segera mengurus administrasinya dan Ustadz itu menunggu di depan ruang ICU. Setelah Meka menyelesaikan administrasinya, dia kembali menghampiri Ustadz yang berdiri didepan ruangan.
"Gimana Ustadz, apakah Dokter sudah menangani mereka?" Meka bertanya saat berdiri disamping Ustadz itu.
"Dokter sudah masuk ke dalam. Dan sekarang mereka sedang dalam perawatan. Kita berdo'a saja mudah-mudahan mereka tbaik-baik aja," Ustadz itu tetap menunggu di depan ruangan itu.
Meka mondar-mandir di depan ruangan itu sambil terus berdo'a. Dia sangat mengkhawatirkan mereka.
"Kenapa keadaannya semakin rumit. Begitu banyak yang berbuat jahat terhadapku. Ya Allah, jauhilah hamba dan suami serta sahabat hamba dari jeratan iblis dan mahluk ghaib lainnya," bathin Meka yang berdo'a dalam hatinya.
Tiba-tiba pintu ruangan ICU terbuka dan seorang Dokter muda keluar dari ruangan itu. Meka segera menghampiri Dokter itu dan bertanya.
"Bagaimana keadaan mereka Dokter?" tanya Meka khawatir.
"Alhamdulillah mereka baik saja. Hanya saja mereka agak sedikit pusing yang diakibatkan benturan keras. Biarkan hari ini mereka beristirahat diruangannya," jelas Dokter itu.
"Terima kasih banyak Dok," ucap Meka.
Meka dan Ustadz itu segera memasuki ruangan itu. Lalu suster memindahkan mereka keruangan istirahat. Meka dan Ustadz itu mengikuti kemana pasien dibawa hingga memasuki ruangan ruangan yang besar dan didalamnya ada tiga tempat tidur. Pasien ditempatkan diruangan itu.