
Meka masih dalam posisi diam. Dia menatap ke depan dengan pandangan kosong.
"Sungguh rumit," gumam Meka.
Zain yang mendengar ucapan Meka, menoleh sekilas dan bertanya.
"Apanya yang rumit sayang?" tanya Zain bingung.
"Hah, eh itu Mas rumit banget masalah ini ya. Semoga kita bisa melewatinya," jawab Meka yang sedikit puyeng.
Zain mengerti kegelisahan Meka. Tapi dia tak mampu membantunya. Hanya do'a yang bisa Zain panjatkan untuk kebahagiaan rumah tangganya.
"Masih jauh ya Mas?" tanya Meka.
"Kenapa sayang? Kamu gak enak badan?" tanya Zain balik.
"Nggak Mas, aku kebelet ke kamar mandi," jawab Cha malu.
"Hahaha kirain kenapa. Bentar lagi kita sampai kok," ucap Zain.
Tak lama kemudian, ternyata apa yang di ucapkan Zain kenyataan. Mereka tiba di rumah orang tuanya Zain.
Zain pun memarkirkan mobilnya di perkarangan rumah orang tuanya.
"Sepertinya ada tamu sayang," ucap Zain sambil dagunya menunjuk ke depan.
"Ah iya Mas, di depan ada tamu. Siapa ya Ma" tanya Meka penasaran.
"Ayo kita ke dalam. Mama pasti udah menunggu," ajak Zain.
"Iya Mas."
Zain dan Meka keluar dari dalam mobil. Mereka berjalan ke arah rumah. Namun sesampainya di depan rumah Meka merasakan hawa yang panas dan tak nyaman.
"Apa ini, kenapa aku merasakan kehadiran sosok iblis?" bathin Meka yang terpaku diam berdiri di depan pintu rumah itu.
Zain yang berjalan menggenggam tangan Meka, juga ikut berhenti dan menoleh ke arah Meka.
"Loh kenapa berhenti sayang?" tanya Zain.
"Mas, aku merasakan kehadirannya. Ada hawa panas Mas disini," jawab Meka.
"Maksud kamu gimana sayang? Gak mungkin Mama dan Papa macem-macem," ucap Zain tak suka.
"Maaf Mas bukan maksudku mengatakan Mama dan Papa yang tidak-tidak, tapi aku benar merasakannya," balas Meka.
"Ya udah, sekarang kita masuk aja dulu yuk. Jangan berprasangka yang tidak baik," ucap Zain tak suka.
Zain tak suka Meka mengatakan hal seperti itu. Karena mereka saat ini berada di kediaman orang tua Zain. Dan itu membuat Zain tidak menyukainya.
"Iya Mas."
Meka tau Zain tersinggung dengan ucapannya. Tapi Meka benar-benar merasakan kehadiran iblis itu. Meka tidak menuduh orang tuanya melakukan hal kotor.
Mereka masuk ke dalam rumah dan mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum," ucap Meka dan Zain bersamaan.
"Wa'alaikumussalam," sahut orang yang berada di dalam ruangan itu.
Ternyata tamu yang datang ke rumah Zain adalah, sepupu Zain bersama orang tuanya yaitu Mona.
Mona langsung menghampiri Zain tanpa rasa malu. Dia bergelayut manja di lengan Zain.
Tentu saja itu membuat Zain risih. Walau Zain tadi sempat kesal sama Meka, bukan berarti dia menerima perlakuan perempuan lain.
"Mona jaga sikapmu, saya sudah memiliki istri.," tegas Zain sambil menghempaskan tangan Mona.
Mona merasa malu dan kesal karena perlakuan Zain yang menolaknya. Padahal Mona ingin mencoba menaklukkan Zain dengan membaca mantra yang meniupkan ke telinga Zain. Tapi Zain malah mendorongnya.
"Sialan nih Zain, aku akan terus mendekat ke kamu. Tidak perduli kamu sedang bersama perempuan ini. Kamu hanya milikku Zain," bathin Mona yang menatap Zain tajam.
Meka bisa merasakan sesuatu dari tubuh Mona. Dia melihat tajam ke arah Mona.
"Perempuan ini, kenapa dia bersekutu dengan iblis? Apa dia ingin membuat Zain bertekuk lutut di hadapannya? Apa ini.....?" bathin Meka yang langsung mengerti maksud Khodamnya.
"Terima kasih Mona," balas Meka dengan wajah datar.
Lalu Zain menarik Meka dari hadapan Mona dan menyalami Mama dan Papanya Zain.
Zain mengajak Meka duduk di dekat Mamanya. Meka juga menyerahkan paper bag oleh-oleh dari Paris untuk Mamanya.
"Ma, ini oleh-oleh kami kemaren bulan madu dari Paris," Meka sengaja mengatakan dengan jelas untuk membuat Mona kepanasan.
Dan ternyata benar, Meka melirik sekilas ke Mona dan melihat raut wajah Mona yang merah karena amarah bukan karena malu-malu kucing.
"Oh sayang, terima kasih. Gimana bulan madunya, lancarkan buat Mama dan Papa, cucu?" tanya Mama Zain yang penuh semangat.
"Do'akan ya Ma, semoga Meka cepat hamil. Kami akan terus berusaha," Zain langsung menjawab pertanyaan Mamanya.
"Tentu Papa dan Mamamu akan selalu mendo'akan kalian. Kalian tadi dari Apartement?" tanya Papanya Zain.
"Iya Pa, kami tadi dari Apartement. Terus Meka tadi mengingatkan Zain untuk singgah ke toko roti kesukaan Mama," jawab Zain.
"Owhhhh, Meka...,kamu perhatian banget sama Mama," balas Mamanya Zain tersenyum.
"Wah kak, ternyata Meka anak yang baik ya. Kita tidak menyangka dia sangat perhatian sama Kakak ipar," tiba-tiba Mamanya Mona nyeletuk.
"Iya dek, Kakak beruntung Zain memiliki Meka," puji Mamanya Zain.
"Gimana khabar Om dan Tante?" tanya Zain yang teringat keberadaan yang lainnya.
"Ah kamu akhirnya ingat Om dan Tantemu disini," sindir Omnya.
"Maaf Om, maklum lah Om, kami rindu banget sama Mama dan Papa," ngeles Zain.
Lalu Zain menoleh ke Meka dan dia tersenyum hangat ke arah istrinya.
"Hahaha, bisa aja kamu Zain," balas Omnya dengan wajah dingin.
Kemudian Mona yang duduk di samping Mamanya, terus menatap ke arah Zain. Pandangannya tak lepas dari wajah tampannya.
"Owhhhh Zain...kamu emang sangat tampan. Aku harus memilikimu, oh...rasanya aku sudah tak sabar ingin memuaskan mu di ranjang. Aku ingin merasakan tubuh kekarmu yang membuatku bisa berfantasi liar," bathin Mona senyum-senyum.
"Mona, gimana, apa jadi menetap di Indonesia? tanya Mamanya Zain.
"Iya Tante, Mona pengen mendapatkan apa yang Mona inginkan Tante," jawab Mona sambil melirik Zain.
"Wah bagus itu Mon. Semangat kamu ya, Tante dukung itu," balas Mamanya Zain.
Mamanya Zain tidak tau maksud dari perkataan Mona. Dia mengira kalau Mona ingin menggapai cita-citanya yang di inginkannya. Padahal yang di maksud Mona adalah mendapatkan Zain.
Meka menatap Mona dengan menelisik dari matanya. Dia tau kalau Mona menginginkan suaminya. Tapi Meka tak bisa menebak bagaimana cara Mona mendapatkan suaminya.
"Meka sayang, kamu sudah makan nak?" tiba-tiba Mamanya Zain bertanya.
"Makan malam belum Ma, nanti aja bareng Mama dan Papa," jawab Meka.
"Pas banget, Mama udah masak kesukaan kalian berdua. Malam ini kalian jadi nginep disini kan sayang?" tanya Mamanya Zain lagi.
"Iya Ma, kami nginep disini," jawab Zain.
Mamanya Zain sangat menyayangi Meka sekarang. Karena dia sudah melihat bagaimana sosok Meka terhadap anak satu-satunya. Tidak ada keraguan di mata Mamanya untuk Meka. Meka sangat pas menjadi istri Zain anaknya.
Mona merasa hatinya panas melihat interaksi kedua orang di hadapannya. Mamanya Zain begitu dekat dengan Meka. Membuat Mona kepanasan dan ingin segera menghancurkan kehidupan Meka.
Hai para pembaca setiaku. Aku senang di akhir tahun ini bisa membuat kalian merasa senang dengan novel ku ini.
Dukung terus karyaku ini ya, hingga menjadi karya terbaik di novel horor.
Jangan lupa LIKE, VOTE, HADIAH DAN KOMENNYA YA...
SELAMAT TAHUN BARU 2023. SEMOGA DI TAHUN ITU KITA BISA MENJADI LEBIH BAIK DAN MEMPERBAIKI DIRI. MENINGGALKAN MASA LALU TAHUN 2022, MERAJUT HARAPAN DAN KEINGINAN DI TAHUN 2023.
SUKSES SELALU UNTUK KALIAN SEMUA....
SEE YOU AGAIN 2023.
SEMOGA KARYAKU MENJADI KARYA YANG TERBAIK DI TAHUN 2023, AAAMIIIN...