Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 164


Meka masuk ke dalam kamarnya menghampiri Zain.


"Mas, ayo kita makan. Isna dan Deon sudah datang. Mereka menunggu di ruang makan," ucap Meka memberitahukan kedatangan sahabatnya.


Zain yang masih setia di depan leptopnya, seketika berhenti dan menghampiri Meka.


"Sudah lama mereka datang?" tanya Zain yang tidak menyadari kedatangan Deon dan Isna.


"Baru aja Mas. Tuh dua-duanya udah pada kelaparan, hehehe," jawab Meka cengengesan.


"Kalau begitu ayok. Mas juga sudah laper banget nih," ajak Zain.


Lalu mereka keluar dari dalam kamar dan berjalan ke arah meja makan.


"Apa khabar Deon, Isna?" tanya Zain saat melihat keduanya duduk di kursi meja makan.


"Eh Pak Zain, saya dan Isna baik-baik aja Pak," jawab Zain.


"Gimana dengan Pak Zain sendiri?" tanya Deon balik.


"Alhamdulillah seperti yang kalian lihat, saya sehat-sehat aja," balas Dosga mereka.


"Kalian gimana tadi di Kampus?" tanya Meka yang mengambil alih percakapan.


"Mek, boleh gak kita makan Nyambi ngobrol," potong Isna.


"Oh iya ayo di ambil aja. Gak usah sungkan," balas Meka tersenyum.


Meka mengambil makanan untuk Zain terlebih dahulu. Setelah itu baru Meka mengambil untuk dirinya.


Sementara Isna dan Deon, sudah langsung mengambil makanan diatas meja. Mereka tanpa sungkan sama tuan rumah lagi.


"Mek, Lo pasti gak nyangka kalau ada kejadian yang aneh di Kampus. Tapi yang tau itu hanya kami berdua saja," ungkap Isna.


"Kejadian aneh?" ulang Meka.


"Iya, ceritanya tadi gw sama Deon ke Kampus. Terus kita lagi ngobrol tentang Bu Arin yang udah meninggal. Nah saat kami ngobrol tentang Bu Arin, tiba-tiba bulu kuduk kami berdiri merinding. Dan setelah itu, ada angin dingin yang berhembus ke arah wajah kami. Padahal matahari terik, aneh kan!" cerita Isna.


"Terus apa yang terjadi lagi" tanya Meka lagi.


"Saat gw dan Deon bengong. Lo tau si Robby kan? Nah dia tuh datang-datang ngagetin kami berdua dari belakang. Ya, sontak gw dan Deon terkejut. Dianya malah ketawa-tawa. Nyebelinkan!" sambung Isna.


"Iya, maksud Lo bilang kejadian aneh tuh yang namanya Isna..." tanya Meka yang sedikit kesal dengan cerita Isna.


Deon pun kesal melihat Isna menceritakan kejadian tadi sepotong-potong.


"Udah! Gw aja yang lanjut ceritanya. Nungguin Isna yang ngomong kelamaan," celetuk Deon.


Lalu Deon pun memulai cerita yang di ceritakan Isna barusan.


"Setelah si Robby datang, dia tuh ngomong sembarang. Mana mungkin ada mahluk halus siang bolong begini. Lagian ini udah jaman modern. Gak mungkinlah ada demit, kata si Robby. Terus si Isna marah-marah," jelas Deon.


"Emang Isna marah kenapa? Emang ada yang salah dengan omongan Robby?" tanya Meka.


"Gak salah sih Mek...! Tapi dia itu songong mengatakan gak akan ada yang namanya demit. Ya karena gw kesal, gw bilang, mudah-mudahan Lo di tampol sama tuh demit. Eh saat gw dan Deon meninggalkan dia, kami malah mendengar dia menjerit kesakitan," jelas Isna.


"Loh kenapa dia malah menjerit? Emang apa yang terjadi sama dia?" tanya Meka yang semakin penasaran.


"Itu dia Mek. Saat dia menjerit kesakitan, dia bilang kalau dia melihat hantunya Bu Arin. Dia tuh kelihatan pucat dan gemetaran loh," jawab Isna.


Meka dan pak Zain jelas saja terkejut, mereka kaget mendengar nama Bu Arin.


"Maksud kalian, si Robby melihat Bu Arin yang berada di sana?" tanya Dosga mereka tak percaya.


"Masa sih Na? Gak mungkin kayaknya," sambung Meka yang merasa itu tidak mungkin.


"Kenapa tidak mungkin Mek? Si Robby loh yang ngelihatnya. Dia sampai pucat dan ketakutan gitu. Terus bibirnya kena tampol sama Bu Arin sampai dower dikit," balas Isna meyakinkan Meka.


"Dan Lo tau gak Mek, masa dia bilang selamat tinggal sama kita berdua, aneh kan?" ucap Deon sambil mengunyah makannya.


"Terus anaknya sudah pulangkan?" tanya Meka.


"Itu dia Mek...! Saat Dosen udah selesai memberikan pelajaran dan keluar dari ruangan, si Robby diam aja. Kayak orang kerasukan gitu. Tapi masih bisa diajak ngobrol. Dia kelihatan aneh Mek. Gw khawatir aja dengan keadaan dia nanti," jawab Isna.


"Menurut Lo ada kemungkinan Bu Arin tidak tenang?" tanya Deon.


"Gw gak bisa memastikan De. Ya besoklah gw lihat kalau ke Kampus," jawab Meka.


"Oh ya Mek, gw lupa, Ustadz minta Lo datang ke kediamannya hari ini. Tapi kalau hari nih gak bisa gak apa-apa. Atau coba Lo hubungi Ustadz Ahmad. Yang penting, gw udah menyampaikan pesannya," ucap Deon.


"Buat apa ya Ustadz itu nyuruh gw ke rumahnya,?" tanya Meka penasaran.


"Kalau Ustadz Ahmad udah nyuruh kita kesana, lebih baik kita datang sayang. Gak enak menolak permintaan Ustadz Ahmad," tiba-tiba Zain menyela obrolan mereka.


Meka penasaran dengan keinginan Ustadz itu yang memintanya datang ke rumahnya. Meka mengunyah makanan tapi pikirannya masih menebak-nebak apa kiranya yang mau di sampaikan.


"Berarti habis makan ini kita ke tempat Ustadz Ahmad Mek?" tanya Isna


"Ya seperti itu. Apa kalian gak mau?" tanya Meka curiga.


"Hehehe, mau sih. Tapi Mek, gw mau minta Lo ikut sama kita ke kost," ucap Deon yang melirik ke arah Dosga mereka dan dia merasa gak enak dengan Pak Zain.


"Loh emang kenapa harus ditemani? Kalian kan bisa ke kost berdua aja?" tanya Meka.


"Bukan gitu Mek, masalahnya di kost itu ada sesuatu yang berhubungan dengan hal ghaib. Gw dan Isna tidak berani ke sana jika harus berdua sama isna," jelas Deon.


"Emang kenapa? Apa ada hal aneh yang terjadi Na, De?" tanya Meka curiga.


Meka curiga kalau ada sesuatu yang terjadi ketika dia berada di Paris. Lalu Meka teringat akakan adanya keberadaan mahluk ghaib genduruwo di kost itu. Dan juga Meka mengingat kamar yang ada di depan kamar Isna itu memiliki aura gelap.


"Apa ini ada hubungannya dengan kamar yang ada di hadapan kamar Isna?" bathin Meka sambil mengaduk-aduk makanannya.


"Eh Mek, kok malah Lo melamun?" tanya Isna yang duduk di sebelahnya.


"Ah nggak, gw teringat sesuatu aja tadi," kilah Meka.


"Emangnya Lo tau sesuatu di kost gw dan Isna" tanya Deon yang langsung menebaknya.


"Ah nggak kok. Gw hanya berpikir tentang undangan dari Ustadz Ahmad tadi," bohong Meka yang mencoba menutupi hal tentang kost Deon dan Isna.


"Kita ke kost kami dulu ya Mek, setelah itu baru kita ke tempat Ustadz Ahmad. Karena beberapa hari belakangan ini gw dan Isna tinggal tempat Ustadz itu," jelas Deon.


"Oh iya gw lupa nanyai tentang Deon yang kemaren katanya sakit. Emang sakit apa sih De?" tanya Meka memancingnya.


"Hahh, ceritanya juga panjang Mek. Intinya gw sempat beberapa hari tak sadarkan diri. Lalu Isna membawa gw ke Ustadz Ahmad. Dan di tempat Ustadz Ahmad, akhirnya gw bisa kembali bangun dari tidur beberapa hari lalu," ungkap Deon.


"Lo tidur beberapa hari yang lalu? Emang kenapa bisa Lo tidur selama itu?" tanya Meka lagi.


"Kata Ustadz itu, kalau jiwa gw keluar dari raga dan tersesat di dunia lain. Gw mau dijadikan tumbal untuk seseorang yang melakukan perjanjian sama iblis. Dia ada di kost gw dan Isna," jawab Deon.


Pak Zain sempat kaget, dia teringat akan kejadian yang dialaminya waktu itu. Kalau gak Meka dengan cepat menariknya kembali, ntah apa yang akan terjadi dengan dirinya.


Meka tidak memperlihatkan ekspresi terkejut karena dia sudah bisa menebak. Tapi dia tidak tau kalau kejadian Deon sama dengan suaminya. Dan bedanya Deon akan dijadikan tumbal, sementara suaminya dibawa ikut selamanya oleh Bu Arin ke dunia lain.


"Oh yang bantu Lo itu Ustadz Ahmad ya?" tanya Meka.


"Bukan hanya Ustadz Ahmad aja Mek, tapi Kakek tua yang berada di rumah itu. Apa Lo kenal sama Kakek tua itu?" tanya Isna.


Meka mencoba mengingatnya. Dan akhirnya dia mengingat bahwa pernah menyelamatkan Kakek dan Nenek dari Desa tua itu.


"Oh Kakek itu, ya gw ingat," jawab Meka singkat.


"Nah, dia tinggal disana bersama istrinya," balas Isna.


"Ya gw tau itu. Terus gimana selanjutnya tentang keadaan Lo, Deon?" tanya Meka lagi.


"Gw di sarankan sama Ustadz itu tidak boleh ke kost hanya dengan Isna. Bagaimanapun mereka masih mengincar gw," jawab Deon.


"Iya Mek, nanti temani gw dan Deon ya kesana!" Isna memohon dengan menunjukkan wajah melasnya.


"Gw terserah Pak Zain. Kalau di izinin, ya gw ikut ke kost kalian," balas Meka sambil melirik suaminya.


"Pak, boleh ya Meka menemani kami ke kost. Pak Zain juga bisa nemani kami kok," ucap Deon yang memohon kepada Dosganya.


"Sebenarnya saya tidak ingin Meka mengurus hal seperti ini lagi. Tapi karena kalian sahabatnya, dan Meka juga pasti kepikiran terus. Jadi saya izinin," ucap Dosganya.


"Alhamdulillah, makasih banyak ya Pak!" seru Deon kesenangan.


Isna pun merasa lega karena Dosga mereka memberi izin terhadap Meka. Sehingga Meka bersedia menemaninya ke kostan.


"Ayo lanjutkan makan kalian. Saya mau ke kamar dulu," ucap Zain yang meninggalkan istri dan kedua sahabatnya Meka.


"Oh iya Pak," balas Deon.


Zain pun beranjak dari meja makan. Dia tidak ingin mencampuri pembicaraan mereka. Zain lebih memilih ke kamar untuk menyelesaikan tugasnya.


"Eh Mek, menurut Lo Bu Arin bisa gentayangan gak sih?" tanya Deon yang tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka.


"Isssh Deon, kamu ini dari tadi tuh bahasnya Bu Arin mulu. Kayaknya kamu pengen banget ya ketemu Bu Arin," celetuk Isna yang gak mau membahas tentang Bu Arin.


"Yeeee, mana mungkin aku mau ketemu sama demit. Bisa-bisa aku dibawanya ke alamnya. Serem banget....," Deon pun bergidik membayangkannya.


"Kalau kamu takut, ngapain di bahas? Kayak gak ada pembahasan lain aja yang buat senang gitu kek," ketus Isna.


Meka merasa lucu melihat kedua sahabatnya yang sering beradu debat. Mereka emang pasangan yang serasi.