
Lalu mereka bertiga menghampiri Dosganya. Isna dan Deon senyum-senyum melihat Meka dan Pak Zain.
Meka sengaja tidak memberitahukan kejadian tadi dengan kedua sahabatnya. Sebab semua itu akan membuat Shinta semakin membencinya nanti.
"Mek, Lo serius, Dosga kita mau ikut?" tanya Isna sambil berjalan disamping Meka.
"Iya, tadi gak sengaja pas gw ke toilet ketemu sama si Dosga. Trus dia nanya, kenapa gw buru-buru. Ya gw jawab kalau kita mau hangout," jelas Meka dengan menolehkan kepalanya kesamping.
"Berarti kita gak bebas dong kalau tuh Dosga ikut?" tanya Isna lagi.
Deon pun menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Isna.
"Dia gak akan ganggu kok. Dia cuma ngikut aja katanya," Meka mencoba membuat kedua sahabatnya nyaman atas keikutsertaan suaminya.
Mereka berjalan tak berapa jauh hingga akhirnya ketiganya sampai dihadapan Dosganya.
"Siang Pak...!" sapa Deon dan Isna.
"Heum," Dosganya hanya menjawab singkat.
"Maaf Pak, benar ya kalau Pak Zain mau ikut sama kita hangout? Apa gak ganggu Pak Zain nantinya?" ucap Isna sambil melirik Meka.
Dosganya tidak menjawab, malah langsung mengintruksikan berangkat.
"Ayo jalan sekarang. Kita naik Mobil saya saja," ucap Dosganya tanpa ekspresi.
"Waowww Mek...gila Lo ya, si Kutub Utara bisa minta ikut sama Lo. Gw curiga nih, Lo pake pelet ya sama tuh Dosga?" ucap Isna ngasal.
"Enak aja Lo ngomong. Gw cabein nanti tuh bibir tipis Lo, biar gak ngasal bicara," celetuk Meka dengan mencubit lengan Isna.
"Awwww Mek...sakit tau. Hehehe gw gak serius loh...Habis tuh Dosga lengket banget sama Lo," balas Isna.
"Iya beib, tuh Dosga bucin banget deh sama yei. Apa dia gak pernah jatuh cinta ya sebelumnya?"
"Tanya aja sendiri," balas Meka.
"Ihhhhh eike serius Meka....!"
"Gw dua rius Deon.....!"
Deon semakin sewot dibuat Meka. Dia semakin penasaran dengan Dosganya dan Meka.
Akhirnya mereka sampai diparkiran. Mereka masuk ke dalam mobil. Saat Meka hendak duduk dibelakang bersama kedua sahabatnya, tiba-tiba suaminya berkata,
"Meka, kamu duduk di depan nemani saya. Masuklah," suruh suaminya.
Isna dan Deon saling berpandangan, mereka tersenyum melihat sikap Dosganya yang bucin banget.
Lalu Meka masuk ke dalam mobil dan duduk di depan bersama Zain. Mobil pun melaju ke tujuan yang dituju.
"Pak, kami jadi gak enak nih. Maaf kalau boleh tau, kenapa ya mau ikut jalan sama kami?" tanya Deon yang mulutnya gak bisa ditahan.
"Kenapa, kalian keberatan saya ikut?" tanya Dosganya.
"Eh anu Pak gak kayak gitu. Kita gak nyangka aja Pak Zain mau jalan bareng kita," Isna menyenggol lengan Deon dan mengerucutkan bibirnya ke Deon.
Sedangkan Meka yang berada di depan hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari kedua sahabatnya. Dia pun sesekali melirik ke arah suaminya yang tak berekspresi.
"Hahaha benar-benar kayak Kutub Utara nih orang kalau sama yang lain. Kalau sama gw hmmmm maunya kelonan terus sampai letih badan gw," bathin Meka senyum-senyum.
Zain melirik kesamping, dia melihat istrinya yang senyum-senyum sendiri. Lalu dia berniat mengerjai istrinya.
"Kenapa kamu Meka senyum-senyum? Ada yang lucu? Atau kamu juga gak suka saya ikut?!" tanya Dosganya tanpa senyuman. Padahal didalam hatinya, dia tertawa mengerjai istrinya yang mendadak hilang senyuman.
"Oh nggak ah Pak, saya senang banget kalau bapak ikut," jawab Meka dengan memanyunkan bibirnya.
Meka tidak mau memanggil sebutan Mas dihadapan kedua sahabatnya. Dia masih merasa canggung dengan panggilan itu saat dihadapan sahabatnya.
Zain hanya melirik kearah istrinya, dia pun senyum-senyum dengan tingkah istrinya.
"Jangan manyun gitu dong Mek...nanti cantiknya hilang loh," goda suaminya.
Meka melototkan matanya menatap suaminya yang mencoba menggodanya dihadapan sahabatnya.
"Hei tumben tuh Dosga kita mencair kalau sama Meka ya!" bisik Isna.
"Karena Dosga kita udah klepek-klepek sama Meka," balas Deon dengan suara pelan.
"Gimana ya rasanya malam pertama Meka?" tanya Isna dengan penasaran.
"Ihhhh, kalau Lo pengen ngerasain malam pertama, nikah aja kayak si Meka!" celetuk Deon.
"Hahaha emang gampang nikah, kawin yang gampang Deon..!" balas Isna dengan cekikikan.
Deon pun ikut cekikikan mendengar jawaban sahabatnya Isna.
Tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke tujuan. Mereka akhirnya sampai di Mall yang dituju. Isna dan Deon keluar duluan, Sedangkan Meka menatap tajam ke arah suaminya.
"Mas, kenapa sih godain aku tadi. Aku kan gak bisa jawab. Malu tau sama Deon dan Isna."
"Hehehe habis kamu ngegemesin sih sayang. Udah gak usah dipikirin. Mereka juga pasti ngerti kok dengan sikap kita berdua."
"Ayo kita turun. Mereka sudah nungguin kita Mas," ajak Meka.
Lalu Zain keluar duluan dan dia membukakan pintu buat Meka.
"Silahkan sayangku...!" ucapnya sambil tersenyum.
Meka keluar dan tak sengaja dia memandang kearah Isna. Dan ternyata sikap Dosganya itu menjadi tontonan bagi Isna dan Deon.
Meka mencoba berpura-pura tidak mengerti ekspresi sahabatnya. Dia berjalan menghampiri kedua sahabatnya.
"Lama banget sih beib...! Eike dah kesemutan nih nungguin...," ucap Deon cemberut.
"Mek, Pak Zain ternyata bisa juga ya bersikap seperti itu, manis banget so sweet...," sambung Isna.
"Iya beib, eike lihat tuh si Dosga romantis bingit. Eike jadi gemeezzzz deh. Coba eike yang diperlakukan begitu, uhhhhh bisa pingsan eike Mek...!" seru Deon semangat.
"Hahaha bisa aja kalian ini. Tuh Pak Zain dah datang. Yuk kita masuk ke Mallnya. Oh ya nih mau jalan-jalan dulu atau mau langsung makan?" tanya Meka.
"Kayaknya makan dulu deh beib, eike dah kelaparan nih! Kacian nih cacing eike dah protes minta di kasih makan," canda Deon yang ngasal.
"Cacing kok dipelihara," celetuk Isna.
"Biarin, kan emang ditubuh kita ini ada cacingnya beib...! Makanya kalau yei lagi kelaparan pasti bunyi kan tuh perut. Nah itu bunyi suara cacing. Yang demon unjuk rasa bilang, " Laper...laper....," hehehe," Deon semakin gilain bercandanya.
"Hahaha bisa aja Lo Deon," balas Meka.
Zain datang menghampiri Meka. Dia langsung menggenggam tangan Meka dihadapan kedua sahabat Meka. Dia gak perduli dengan pikiran Mahasiswinya itu.
"Eh Pak Zain main genggam aja!" Deon tak percaya dengan apa yang dilihatnya sampai dia menutup mulutnya.
"Kenapa, ada yang salah?" tanya Dosganya polos.
"Gak salah sih Pak...tapi so sweet banget. Kita kan jadi kepengen Pak," celetuk Isna.
"Saya pengen megang tangan Meka. Habis gemesin," ucap Dosganya dengan genitnya.
Meka menjadi salah tingkah dihadapan kedua sahabatnya. Meka tak berani menatap lama-lama mereka.
"Apaan sih nih Mas Zain...seneng banget buat gw gugup begini. Pasti mereka menuntut gw buat cerita nih," bathin Meka.
Pelan-pelan Meka melepaskan genggaman tangan suaminya sambil menatap dengan kode memohon. Dan Dosganya tersenyum mengerti arti tatapan istrinya. Dia pun segera melepas tangannya dari tangan Meka.
Mereka berjalan bersama menuju sebuah cafe. Karena saat ini perut mereka sudah pada keroncongan alias kelaparan.
"Eh beib, bukannya tuh Shinta ya..?! Panggil yuk!" Deon hendak memanggil Shinta namun ditahan Meka.
"Eh Deon gak usah. Biar aja dia jalan sendiri sama temannya. Gw lagi gak pengen gabung sama dia," ucap Meka memohon.
Deon dan Isna mengerutkan keningnya menatap Meka penuh tanda tanya.
"Ada apa Mek? Kayaknya Lo ini banyak banget rahasianya ya! Mending nanti Lo cerita deh ke kita ok!" pinta Isna.