
Mamanya dan Mona membawa perempuan itu ke dalam kamar mereka.
"Hei bagaimana tugasmu, hah?" tanya Mamanya Mona.
"Ah iya Nyonya. Tadi saya mendengar percakapan mereka di ruang makan saat Nyonya dan Nona belum datang," ucap perempuan itu.
"Terus apa yang di bicarakan mereka? Cepat katakan?" paksa Mamanya Mona.
"Saya mendengar kalau orang tua Nyonya Meka akan berkunjung ke rumah Ustadz yang tadi datang saat acara," jelasnya.
"Kenapa laki-laki itu ngotot ingin ke rumah Ustadz itu ya? Hmmm, ada apa ini?" bathin Mamanya Mona yang semakin penasaran.
"Terus gimana tanggapan Om?" Mona memicingkan matanya bertanya dengan perempuan itu.
"Tuan tidak berminat untuk ikut Nona. Tapi saya tidak tau apa alasannya gak ikut," jawab perempuan itu.
"Ma, sepertinya ada yang di sembunyikan deh Ma. Kok Mona merasa ada sesuatu hal yang rahasia ya Ma," ucap Mona.
"Mmmm, Mama juga merasa seperti itu Mon," balas Mamanya. "Apa Tante kamu tau ya kalau mereka besok ke rumah si Ustadz itu?" tanya Mamanya Mona dengan curiga.
"Mona juga gak tau Ma," jawab Mona.
"Kamu tau gak, apakah Mamanya Zain mengetahui tentang kepergian mereka ke rumah si Ustadz itu?" tanya Mamanya Mona.
"Sepertinya tidak Nyonya. Karena mereka membahasnya ketika Nyonya itu gak ada di sana," jawabnya.
"Ya sudah kamu bisa kembali ke kamarmu. Tetap pantau terus apa yang di lakukan mereka," perintah Mamanya Mona.
"Baik Nyonya, asalkan bayarannya jangan lupa di transfer ya Nyonya," balas perempuan itu yang tak tau malu.
"Kamu tenang aja. Saya akan segera mentransfernya. Sudah sana, saya mual melihatmu," ketus Mamanya Mona.
"Baik Nyonya," perempuan itu pergi meninggalkan kamar mereka dengan hari yang dongkol.
"Dasar Nenek tua, sombong sekali. Sudah syukur aku mau membantunya. Awas saja kalau dia tidak membayar apa yang sudah aku lakukan," gumam perempuan itu sambil berjalan meninggalkan kamar yang di tempati Mona.
Di dalam kamar, Papanya Meka masih ngobrol sama Omnya Meka di kamar Papanya.
"San, saya sangat terkejut melihat keluarga ini. Apakah Meka tertekan ya dengan keluarga ini?" tanya Bang iparnya yang meminta jawabannya.
"Iya Bang, aku juga kaget tadi melihat perempuan muda itu sangat menginginkan suaminya Meka. Dan Neneknya Zain juga sepertinya tidak menyukai Meka," jawab iparnya.
"Saya juga sarankan, besok setelah selesai dari rumah Ustadz itu, kita langsung berangkat saja," ucap Sandy memberi sarannya.
Papanya Meka berpikir, dia menimbang ucapan Adik iparnya ini. "Sepertinya saran kamu bagus juga San. Abang akan memberitahu Meka sekarang juga agar mereka bersiap-siap," balas Abang iparnya.
"Satu lagi, kamu tadi melihat pemuda tampan di antara rombongan Ustadz Ahmad?" tanya Abang iparnya.
Sandy berpikir mengingat-ingat orang yang tadi datang bareng Ustadz Ahmad.
"Ah iya, aku mengingatnya Bang," jawabnya. "Tapi ada apa dengan pemuda itu bang? Kenapa Abang mempertanyakannya?" tanya Sandy dengan bingung.
"Pemuda itu berbeda San," Papanya Meka kembali mengingat tatapan laki-laki tampan itu. Dan wujud dari laki-laki itu.
"Maksud Abang? Berbeda yang bagaimana?" tanya Adik iparnya yang tambah bingung.
"Dia bukan manusia seutuhnya." Sandy terkejut dan terpelongo.
"Apa Abang bilang? Bukan manusia seutuhnya?" ulangnya karena takut pendengarannya yang salah.
"Iya, dia adalah sebangsa jin. Abang tidak tau kenapa dia bisa bersama rombongan Ustadz itu."
"Wah ini benar-benar aneh ya Bang. Kita berkunjung kemari, justru mendapatkan banyak kejutan seperti ini," ungkap Sandy.
"Deg." Papanya Meka langsung menoleh ke arah Adik iparnya. Tatapan kaget bercampur terpelongo karena ucapan terakhir Adik iparnya.
Papanya Meka kembali teringat dengan Khodam anaknya yang mengatakan akan mendapatkan kejutan saat acara Meka.
Sandy mengerutkan keningnya melihat Abang iparnya yang berbicara sendiri dengan suara rendah. Dia pun bertanya.
"Abang ngomong apa?" tanya Sandy yang terus menatap Abang iparnya.
"Ah tidak apa-apa. Abang hanya teringat ucapan seseorang kemaren," jawabnya.
"Siapa Bang? Emang dia bilang apa sama Abang?" tanya Sandy sedikit curiga. Sandy mengetahui tentang keluarga iparnya ini. Tapi dia tidak ingin mengatakan bahwa dia mengetahui kelebihan yang di miliki Abang iparnya. Karena dulu Kakaknya yang menjadi Mamanya Meka berpesan agar dia tidak memberitahu tentang rahasia kelebihan suaminya. Maka dari itu Sandy diam saja.
"Ah sudahlah, tidak usah di bahas," kilah Abang iparnya. Papanya Meka berjalan ke arah meja dan mengambil ponselnya. "Abang mau menghubungi Meka. Dan memberitahukan ke mereka untuk mempersiapkan segalanya buat keberangkatan kita besok sore," ucap Abang iparnya.
Sandy hanya bisa mengangguk dan tak melanjutkan rasa penasarannya tadi. Karena Abang iparnya sudah tidak ingin membahasnya.
"Assalamu'alaikum nak," sapa Papanya. "Kalian sudah tidur?" tanya Papanya Meka.
"Wa'alaikumussalam Pa. Kami masih ngobrol Pa," jawab Meka yang duduk di sebelah Zain. "Ada apa Papa menghubungi Meka?" tanyanya.
"Sepertinya kalian harus ke kamar Papa. Karena di sini juga ada Om mu."
"Oh baiklah Pa, kami akan segera ke sana, tunggu ya Pa," balas Meka.
Setelah ponselnya di tutup, Meka melihat ke Zain dan berkata, "Mas, Papa menyuruh kita untuk datang ke kamarnya."
"Kenapa Papa malam banget menyuruh kita ke kamarnya? Apakah ada hal penting?" tanya Zain.
"Aku juga gak tau Mas. Sepertinya memang penting," jawab Meka.
"Ya sudah, ayo kita temui Papa," ajak Zain.
Keduanya keluar dari dalam kamarnya dan berjalan menuju kamar Papanya Meka. Namun ntah kenapa Meka merasakan aura jahat ada di dalam rumah mertuanya. Meka memandang sekeliling melihat ruangan yang sudah gelap tanpa banyak lampu yang nyala. Dia pun mengeratkan pelukannya ke lengan Zain. Meka pun bergidik ngeri saat melewati ruangan yang sedikit gelap.
"Kenapa sayang?" tanya Zain setengah berbisik.
"Rumah ini kok tiba-tiba kelihatan serem ya Mas," jawab Meka.
"Ah itu mungkin perasaan kamu aja sayang. Udah gak usah di perhatikan," ucap Zain.
"I--iya Mas," jawabnya gugup. Seketika lampu padam semua, Meka pun terkejut dan langsung naik ke atas tubuh Zain.
"Maaasss," ucapnya dengan suara yang tertekan.
"Kenapa bisa mati lampu ya," pikir Zain.
Zain pun menyalakan lampu ponselnya, karena kebetulan dia membawanya. Zain mempercepat langkahnya menuju kamar mertuanya. Dia khawatir dengan Meka yang takut kegelapan.
Sesampainya di depan kamar Papanya Meka, Zain mengetuk pelan pintu kamar itu. Hingga pintu perlahan terbuka dan muncul sosok Papanya yang membuat Meka terkejut karena wajahnya tidak terlihat akibat lampu yang remang.
"Akkkhhh," Meka teriak dengan menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
"Kamu kenapa berteriak Meka, nanti pada bangun," ucap Papanya.
Kamar Papanya Meka terletak di agak jauh dari kamar yang lainnya. Sehingga teriakan Meka tidak begitu terdengar, apalagi suara hujan yang deras di luar sana membuat suara Meka tenggelam.
"Papa ngagetin Meka. Kenapa gak bawa penerang lampu Pa?" tanya Meka yang sudah masuk ke dalam kamar Papanya.
"Ya sudah duduklah di sana," suruh Papanya.
Meka melihat Omnya sudah duduk santai di sofa. Dia pun menghampiri Omnya dan duduk di sebelahnya.
Begitupun dengan Zain, dia mengikuti Meka dan duduk di samping Meka. Zain masih bingung dengan Papanya Meka yang menyuruh mereka ke kamar.
"Apa ada hal penting yang mau di bicarakan Pa?" tanya Zain tanpa basa basi.
"Ya Zain, Papa mau memberitahukan ke kalian untuk segera bersiap-siap karena besok sore kita harus berangkat ke Medan," jawab Papanya Meka.