Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 210


Pagi menyapa, hari baru di mana semua orang merasa legah karena musnahnya iblis dan dukun itu. Semua orang yang berada di rumah Ustadz Ahmad merasakan suka cita yang luar biasa.


Ummi dan Nenek sudah berkutat dengan peralatan dapurnya. Mereka membuat sarapan untuk di makan bersama.


"Nek, saya sekarang bisa bernafas dengan legah. Kalau tidak kepikiran terus nek, dengan mereka yang menghadapi masalah ini. Kasihan nak Meka, selalu ada yang di hadapinya," ucap Ummi ketika mereka menyiapkan makanan untuk sarapan.


"Begitulah nak, karena Meka di berikan kelebihan itu. Pasti akan menghadapi hal yang berhubungan dengan ghaib. Dia tidak bisa menolaknya, karena sudah takdirnya menerima kelebihan itu," balas Nenek tua.


"Berat sekali ya nek. Tapi syukurlah semua sudah terselesaikan. Mudah-mudahan nak Meka ada yang melindunginya," ucap Ummi.


Sementara di dalam kamar, Meka sudah selesai mandi. Dia melihat Zain yang masih tidur lagi. Meka melanjutkan aktifitas nya merias diri di depan cermin. Ketika Meka melihat pantulan dirinya di cermin, dia melihat Rudy dengan senyum khasnya. Meka tersentak. "Astaghfirullahal'adzim," ucap Meka sambil memegang dadanya.


Lalu Meka mengusap-usap cermin itu memastikan kalau itu hanya khayalan dia saja. Dan apa yang di lihat Meka berdasarkan dari pikirannya.


"Kenapa aku malah memikirkannya?" bathin Meka.


Meka tak menyadari kalau suaminya Zain sudah bangun dan melihat tingkahnya. Lalu Zain berjalan mendekati Meka.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Zain dengan memegang kedua bahu Meka.


Meka terkejut dan melihat Zain yang berdiri di belakangnya dari cermin.


"Mas, kagetin aja. Mas udah bangun dari tadi? tanya Meka yang mengalihkan pertanyaan Zain.


"Iya, Mas udah bangun dan melihat kamu sedang bercermin di sini. Kamu kenapa tadi?" tanya Zain ulang.


"Ah itu Mas, aku merasa senang akhirnya kita bisa kembali ke Apartement hari ini. Tapi masih ada yang mengganjal di pikiranku Mas," ucap Meka yang menatap Zain dari cermin.


"Apa itu sayang? Apa masih ada yang kamu khawatirkan?" tanya Zain.


"Iya Mas," jawab Meka mengangguk.


"Apa yang membuat kamu khawatir. Semua sudah selesai sayang. Dukun dan Iblis itu sudah musnah. Apa yang kamu pikirkan lagi?" tanya Zain.


Meka mengehela nafasnya dengan terasa berat. Dia memandang Zain dengan lekat.


"Aku memikirkan Bu Arin dan orang tuanya. Mereka masih belum bisa terima keadaan mereka," jawab Meka.


"Oh iya Mas juga melupakannya. Apa dia akan melakukan sesuatu untuk tetap memiliki Mas?" tanya Zain.


"Mungkin Mas, tapi aku gak tau juga. Semoga tidak ada lagi hal yang membuat kita seperti ini ya Mas," harap Meka.


Meka sebenarnya masih khawatir karena jiwa Bu Arin masih belum di musnahkan. Saat ini dia tidak mengetahui keberadaannya. Tapi Meka yakin Bu Arin akan terus mencoba dan mencoba terus.


"Sudah sayang, jangan pikirkan mahluk ghaib itu. Sekarang kita akan kembali ke Apartement. Kamu bisa beristirahat di sana. Mas juga akan mengajukan pengunduran diri di kampus. Biar fokus sama Perusahaan Papa," ucap Zain.


"Loh Mas, kamu tidak mengajar lagi nanti di kampus?" tanya Meka yang masih menatap Zain dari cermin.


Lalu Zain berpindah di hadapan Meka dan berdiri di dekat cermin.


"Ya, Mas mau fokus aja sama Perusahaan Papa. Kasihan Papa, sendirian mengurusnya. Mas takut adik-adik dan Kakak Papa ikut campur dalam menjalankan Perusahaan itu," jelas Zain.


"Oh.., syukurlah kalau Mas sudah sadar. Karena bagaimanapun anak mereka itu hanya Mas saja kan. Kapan kita ke rumah Mama dan Papa?" tanya Meka.


"Lusa kita akan ke sana. Mas akan mengabari Mama nanti," jawab Zain.


Kemudian terdengar suara ketukan dari balik pintu kamar mereka.


"Tok tok tok, nak Meka..., ayo mari sarapan!" panggil Ummi memberitahukan Zan dan Meka.


"Ah iya Ummi, maaf kalau kami merepotkan Ummi. Saya juga tidak membantu Ummi di dapur," sesal Meka.


"Jangan merasa sungkan nak Meka. Ummi tidak mempermasalahkannya. Ayo kita gabung dengan yang lainnya.


"Oh baik Ummi," balas Meka. "Mas, ayo keluar, kita sarapan dulu," ajak Meka.


Zain pun berjalan menghampiri Meka dan Ummi yang berada di depan pintu.


"Maaf jadi ngerepotin Ummi," ucap Zain saat berhadapan dengan Ummi.


"Tidak apa-apa Pak Zain. Sudah, ayo kita sarapan," ajak Ummi.


Meka dan Zain berjalan mengikuti Ummi ke arah ruang tengah. Ternyata di sana sudah ada Ustadz Ahmad dan Kakek tua serta Ustadz Ridwan dan beberapa muridnya. Pandangan Meka beralih ke sosok yang sedang santai di belakang Ustadz Ridwan. Rudy memilih duduk di belakang Ustadz. Rudy lebih suka menghindari Meka.


Semakin Rudy menghindarinya, Meka justru semakin penasaran dengannya. Mata mereka tak sengaja saling bertemu tatap. Rudy hanya tersenyum melihat Meka yang berjalan di samping Zain. Sedangkan Meka ingin membalasnya, namun dia simpan senyuman itu di dalam hatinya.


"Ayo Pak Zain duduk disini. Kita sarapan bareng. Ini merayakan rasa syukur kita bisa membinasakan iblis dan dukun itu," ucap Ustad Ahmad.


Zain melihat begitu banyak makanan yang di hidangkan di lantai yang beralaskan tikar. Makan bersama yang jarang Zain dan Meka rasakan.


"Iya Ustadz," balas Zain.


"Gimana keadaan nak Meka?" tanya Kakek tua yang melihat wajah Meka sedikit pucat.


"Alhamdulillah kek, saya sehat kok," jawab Meka.


Zain dan Meka memilih duduk di dekat Ustadz Ahmad. Ketika Meka duduk di samping Ummi, ternyata Rudy duduk maju ke depan di samping Ustadz Ridwan. Sehingga posisi Meka dan Rudy saling berhadapan. Rudy bisa dengan jelas menatap Meka.


Meka membuang mukanya, berpura-pura tak melihat ke arah Rudy. Namun berbeda dengan Zain. Mereka saling bertatapan. Rudy dengan tatapan tenang dan senyum menawan, sementara Zain menatap tanpa ekspresi dan dingin. Sorot matanya memancarkan rasa tidak senang.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Meka berbisik di telinga Zain.


"Mas tidak suka, dia terus menerus menatap kesini. Apa kamu tidak melihatnya?" tanya Zain yang mulai kesal.


"Buat apa aku melihatnya Mas?" tanya Meka balik.


"Ayo Pak Zain kita makan," tiba-tiba Ustadz Ahamd mengajaknya makan. Kebetulan Ustadz Ahmad duduk di sebelah Zain.


"Ah iya Ustadz," balas Zain.


Mereka pun menikmati hidangan yang di suguhkan oleh Ummi dan Nenek. Murid-murid Ustadz Ahmad dengan lahap memakan makanan itu. Begitu juga dengan Kakek tua dan Rudy, mereka berdua makan dengan lahap.


Meka merasa tidak enak karena keadaan Zain yang sudah cemburu. Tepat pada saat itu, Meka merasa mual dan dia langsung lari ke dapur.


"Uwek..uwek..," Meka merasa perutnya tak nyaman. Dia lari ke belakang dan memuntahkan isi perutnya.


Zain bingung dan langsung menyusul Meka ke belakang.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Zain heran.


"Gak tau nih Mas, bawaannya pengen mual-mual," jawab Meka.


"Kita ke dokter aja ya. Mas khawatir sama kamu. Biar kita tau kamu kenapa ya," uacoa Zain cemas.


Zain mengusap-usap punggung belakang Meka. Agar mualnya mereda.