Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 80


"


"Huss ngapain kamu mikirin seperti itu. Mudah-mudahan tidak begitu ceritanya. Sekarang mereka dimana?" tanya Isna.


"Mereka berada di dalam kamarnya. Na, kamu hari ini mau masak apa?" tanya Deon.


"Emangnya kamu mau dimasakin apa Deon?" tanya Isna balik.


"Ya terserah sih, sebisa kamu aja. Aku pasti menyukai apa yang kamu masak."


"Hmmmm gombal. Kamu ini sekarang mulai pintar ngegombal dan menggodaku," celetuk Isna.


"Buat kekasihku kenapa tidak. Yang penting kamu terima gombalan dan godaan dari ku," Deon menaik-naikkan alisnya menggoda Isna.


Isna memutar matanya dengan malas dan berkata, "Hah mulai lagi. Syukur tampan, kalau jelek, ogah banget aku digodain dan digombalin kamu."


"Udah yuk temani aku nonton di depan. Eh ngomong-ngomong sekarang kita udah memberikan panggilan aku dan kamu ya. Mmmm lebih enak kedengarannya," Deon tersenyum melihat Isna.


Lalu mereka berdua keluar dari kamar itu menuju ruang tengah untuk menonton TV.


Sore harinya, Zain keluar dari kamarnya menghampiri Deon dan Isna yang sedang duduk di sofa.


"Bersiap-siaplah kita makan diluar. Bapak ingin mengajak Meka dan kalian makan diluar," Zain menyuruh mereka segera bersiap-siap.


Lalu dia kembali masuk ke dalam kamarnya dan duduk ditepi ranjang dekat Meka. Dia menatap wajah Meka yang masih memancarkan kesedihannya.


"Mas gak akan meninggalkanmu sayang, Mas janji akan memperjuangkan pernikahan kita," gumam Zain sambil membelai lembut pipi Meka.


Meka merasa terusik dengan sesuatu yang menyentuh kulitnya. Dia membuka matanya perlahan dan mendapatkan suaminya yang duduk disampingnya.


"Mas, kamu sudah lama disini?" tanya Meka yang berusaha duduk.


"Baru aja kok sayang."


"Jam berapa sekarang? Apakah sudah malam? Hah, aku tidur terlalu lama ya."


"Gak apa-apa sayang. Sekarang kamu bersiap-siap, Mas mau ngajak kamu dan sahabat kamu makan diluar. Kamu mau kan sayang?" tanya Zain penuh harap.


"Tidak perlu, Mas sudah memberitahu mereka dan menyuruh mereka bersiap-siap. Ayo sekarang kita yang harus siap-siap," Zain melangkah ke lemari pakaian dan memilihkan pakaian untuk istrinya dan dirinya.


"Biar aku aja Mas yang pilih. Kan aku ingin menjadi istri yang baik dengan mengurusmu." Meka melangkah ke lemari pakaian dan memilihkan pakaian untuk suaminya.


Lalu mereka mulai bersiap-siap. Saat Meka media dirinya di depan cermin, dia kembali melihat sosok bayangan hitam berada diluar jendela kamarnya. Dia penasaran dan berjalan menghampiri bayangan itu. Meka terkejut dan mundur selangkah kebelakang, karena bayangan itu mulai mendekatinya.


"Menjauh....!" teriak Khodamnya.


"Sosok itu tak lain adalah kiriman dari Shinta sahabatnya yang menginginkan kematian Meka.


Perlahan-lahan sosok itu mulai memperlihatkan wujudnya seperti gundoruwo dengan mata merah tajamnya dan tinggi besar. Dia mencoba menggapai Meka, namun tiba-tiba dia terpental karena hantaman dari Khodamnya Meka.


"Kenapa kamu melindungi manusia itu?" geram gundoruwo itu.


"Kau tidak perlu tau. Sekarang enyahlah dari sini atau aku musnahkan," ucap Harimau putih milik Meka.


"Hahahaha, aku tidak akan melepaskannya. Dia milikku, karena orang yang memerintahkan ku, menginginkannya menjadi istriku. Aku akan kembali lagi," gundoruwo itu menghilang.


"Dia akan kembali dan berhati-hatilah. Seseorang menginginkan kematianmu Meka," ucap Khodamnya yang memberitahukannya.


"Siapa yang mengirimnya?" tanya Meka penasaran.


"Sahabatmu sendiri. Kau tau itu. Dia masih mencoba dengan segala cara mendapatkan suamimu, berhati hatilah," pesan Khodamnya.


Zain berlari menghampiri istrinya dengan wajah pucat.


"Sayang kamu gak kenapa-napa?" tanya Zain khawatir.


"Aku baik kok Mas. Kamu sudah siap?" tanya Meka saat melihat penampilan Zain yang sudah rapi.


"Sudah, bisa kita berangkat sekarang?" tanya Zain.


Meka pun mengangguk mengiyakan keinginan suaminya.