Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 150


Malam itu, lagi-lagi Meka bermimpi buruk. Dalam mimpinya, dia melihat seorang gadis cantik yang sedang menangis sambil menunduk di bangku panjang tepi jalan. Meka menoleh kesana kemari, namun tak ada seorangpun yang terlihat.


Meka bingung hingga dia mengerutkan keningnya.


"Kenapa sepi sekali? Kemana orang-orang, aku tidak melihat ada yang lewat disini. Dan anak gadis itu, kenapa dia menangis, kemana orang tuanya?" gumam Meka saat melihat anak gadis itu sendirian sambil menangis.


Meka mencoba mendekati anak itu dan berdiri di hadapannya.


"Adik, kamu kenapa sendirian disini? Kenapa kamu menangis di jalan seperti ini? Siapa yang menyakitimu, hah?" tanya Meka.


Anak gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, dia masih tidak mau memperlihatkan wajahnya.


"Ayo Kakak antar kamu pulang, disini sepi sekali. Apa kamu tidak takut sendirian disini? Lagian kenapa wajah kamu di tutupin rambut seperti itu, kamu terlihat menakutkan. Kenapa kamu diam, hah?" tanya Meka bingung.


Anak gadis itu tetap diam dan tidak bergerak sedikitpun. Lagi-lagi dia menggeleng-gelengkan kepalanya terus menerus.


Meka curiga, lalu Meka mencium aroma busuk disekitarnya. Dia mengendus-endus bau itu dari mana. Dan penciumannya berhenti tepat di hadapan Meka. Meka mendekatkan hidungnya ke arah anak gadis itu, dan.....


Anak gadis itu menoleh ke atas menatap Meka dengan seringai jahatnya. Dia memperlihatkan gigi-gigi hitamnya dan wajah yang berlubang-lubang dimana banyak ulat-ulat kecil berada di dalamnya. Anak gadis itu sedang mengunyah daging manusia yang masih segar. Lalu dia tertawa terbahak-bahak memperlihatkan mulutnya yang semakin terbuka lebar yang di penuhi daging manusia.


"Hahahahaha, hihihihihihi, aakuuu meenyuukaaaiimuuu, keemaaariiilaahhh," ucap anak gadis itu yang tak lain sosok iblis yang dipelihara laki-laki psikopat itu.


Meka terjengkang ke belakang hingga dia terjatuh ke aspal jalan. Meka berusaha bangkit, namun kakinya terasa kaku dan tak bisa digerakkan.


"Maauuu keemaaanaaa cantiiik! Ikuuutlaah beersaamaakuu, kaauu teerpiiliih! Hahahaha," ucap iblis itu.


"Si--siapa kamu!" teriak Meka tergagap karena ketakutan.


Keringat mulai bercucuran di dahi Meka, dia terus meneguk ludahnya berulang kali. Meka ketakutan hingga suaranya tercekat.


"Jangan mende--dekat! Pergiiiiii!" Meka berteriak terus, dia menangis karena takut.


Mahluk itu terlihat menjijikkan, banyak belatung berjatuhan dari wajahnya yang berlubang, matanya terus mengeluarkan darah-darah hitam yang bau busuk.


"Kaamuu suudaah meendeeengaaarkuuu, aayooo aaanaaakkuuu iiikuuutlaah, jaaangaan taakuuut," tangan mahluk itu terulur ingin menggapai tangan Meka.


Meka tak sanggup menghindarinya, dia memejamkan matanya sambil berdo'a merapalkan ayat-ayat Al-Qur'an yang dia hafal. Meka terus membacanya, hingga Khodamnya muncul di hadapan Meka mengahalangi tangan mahluk itu untuk menggapai Meka.


"Pergilah Meka, kembali ke alammu, berkonsentrasi lah dan kau akan menemukan jalannya," suruh Khodamnya.


Meka berkonsentrasi memejamkan matanya sambil membaca terus ayat-ayat suci Al-Qur'an, hingga dia terbangun di tempat tidur dengan mata yang sudah terbuka.


Meka langsung terduduk melihat ke sekelilingnya dan dia menoleh ke arah Zain yang ternyata masih tertidur lelap.


Meka membangunkan Zain, dia ketakutan, keringat masih bercucuran dari dahinya dan tubuhnya.


"Mas, Mas, ayo bangun Mas," Meka menggoyangkan tubuh Zain hingga Zain terbangun.


"Sayang ini masih jam berapa? Kenapa kamu udah bangun...?" tanya Zain yang merasa matanya masih perih.


"Mas, aku takut," jawab Meka.


Zain langsung mengucek-ngucek matanya, dia melihat ke arah istrinya yang ternyata terlihat pucat. Zain spontan terduduk langsung dan memegang wajah istrinya.


"Sayang, ada apa ini? Kenapa kamu gemetaran seperti ini?" tanya Zain cemas.


Zain turun dari tempat tidur dan mengambil air putih untuk Meka agar Meka meminumnya dan lebih tenang.


"Sayang, kenapa kamu ketakutan begini? Ceritakan ke Mas?" tanya Zain lagi.


"M--mas a--aku bermimpi. Tapi mi--mpi itu sangat nyata terlihat," jawab Meka berusaha menelan ludahnya.


"Kamu mimpi serem lagi ya? Mimpi apa?" tanya Zain lagi.


"Mas, ta--tadi a--aku berte--temu de--dengan Iblis," Meka tercekat tak sanggup bercerita.


"Coba tarik nafas kamu dan buang perlahan. Istighfar sayang, ayo coba lakukan," suruh Zain.


Meka pun mengikuti apa yang di suruh Zain. Dia menarik nafasnya perlahan dan membuangnya dengan perlahan juga. Meka mencoba menenangkan degup jantungnya yang masih berpacu kencang. Lalu dia menoleh ke arah Zain dan langsung memeluk Zain dengan erat.


"Mas, ayo kita pindah dari Hotel ini. Aku gak mau Mas disini,, hiks hiks hiks," Meka pun menangis dengan ketakutan.


"Iya sayang, besok kita akan pindah pagi-pagi. Mas akan cari Hotel lain yang jauh dari sini, suapaya kamu tenang ya," balas Zain menenangkan Meka.


"Iya Mas, hiks hiks hiks," Meka masih menangis di dalam pelukan suaminya.


Dia terus memeluk Zain dengan erat untuk menghilangkan rasa takutnya yang kali ini berlebihan. Ntah kenapa Meka sangat ketakutan, tidak seperti biasanya. Meka masih membayangkan wajah iblis itu yang sangat mengerikan dan menjijikkan.


"Sayang, sekarang kamu tidur ya. Mas akan menjaga kamu sampai kamu terlelap. Besok kita akan membahasnya ya," Zain menyuruh Meka berbaring.


Lalu tak berapa lama, Meka pun terlelap tidur. Sedangkan Zain tertidur dengan posisi duduk di samping Meka. Dia menjaga Meka sampai dia pun tertidur.


Di alam ghaib, Khodamnya Meka melihat iblis itu yang terus memakan daging manusia.


"Siiaapaaa kaauu!" ucap iblis itu yang melirik ke arah Khodam itu. Dia masih enggan melepaskan daging manusia itu di dalam mulutnya.


"Jangan ganggu dia. Cari makananmu yang lainnya," suruh Khodamnya Meka.


"Hahahahaha, diiiaaa suuudaaah diiitaandaaaiii," balas iblis itu.


"Jangan ganggu dia, kalau tidak, aku akan menghancurkanmu bersama laki-laki itu," ancam Khodamnya Meka.


"Hahahaha, kaauu meengaaancaamkuuu! Siiiaaapaaa kaaauuu?" tanya mahluk itu.


"Aku Khodam leluhur penjaganya. Kau tak boleh menyentuhnya, kalau kau sampai menyentuhnya, kau akan kumusnahkan selamanya," Khodam Meka memberi peringatan ancaman.


"Hahahahaha, aakuuu tiidaak taakuut, keemaaariiilaahhh, seepeertiinyaa daagiingmuuu leezaat," seringai liblis itu.


Lalu si Khodam mengeluarkan cambuk api yang sangat di takuti para iblis. Mata iblis itu terbelalak melihat cambuk itu, dia pun gemetaran ketakutan. Cambuk itu mampu melahap iblis itu sampai habis.


"Jaaangaaan laakuuukaaan! Aakuuu taaak aakaan meeenggaangguunyaa laagiii!" teriak iblis itu yang langsung menghentikan kunyahannya.


"Sudah terlambat, kau tak mendengarkanku dari tadi. Dan sekarang enyahlah...! sentak Khodam itu yang langsung melesatkan cambukan itu ke tubuh iblis itu dan membelitnya hingga jatuh tersungkur.


Iblis itu mengguling-gulingkan badannya kesakitan akibat lilitan cambuk api itu.


"Heeentiiikaaan....!" teriak iblis itu kesakitan.


Kemudian si Khodam membaca mantra dan menarik cambuk itu lalu menghentakkannya lagi, hingga daging-daging iblis itu terpecah belah berceceran di aspal. Lalu berubah menjadi asap hitam pekat dan menghilang.


Si Khodam langsung menghilang dan kembali ke Meka. Dia melihat Meka yang sangat ketakutan dengan tubuh gemetaran. Lalu si Khodam mengusap wajah Meka dan menghapus ingatannya tentang kejadian yang dialaminya di dalam mimpinya.


Pagi pun tiba, matahari menyinari kamar Meka yang masuk dari celah jendela. Zain pun terbangun, membuka matanya dan menoleh ke arah Meka.


Zain melihat Meka yang masih terlelap tidur. Zain tak ingin membangunkannya. Dia membiarkan istrinya beristirahat. Zain pun mulai membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Setelah selesai, dia keluar dan melihat Meka sudah bangun. Zain pun menghampiri Meka dan tersenyum.


"Sayang gimana tidurnya? Kamu udah terlihat baikan sekarang," ucap Zain.


"Maksud Mas apa?" tanya Meka bingung.


"Loh kok kamu malah tanya maksud Mas, sayang?" Zain malah bertanya balik dengan kebingungan yang sama.


"Iya, kalau bangun tidur kan seharusnya memang seseorang kelihatan segar. Emang ada yang salah Mas?" tanya Meka lagi.


"Tapi bukannya kamu tadi malam bermimpi sayang? Coba kamu ceritakan ke Mas," pinta Zain.


Meka bingung dengan ucapan suaminya. Dia mengerutkan keningnya heran.


"Apa yang kamu katakan Mas? Aku tidak bermimpi!" ucap Meka meyakinkan.


Zain bingung melihat istrinya yang tidak mengingat apapun tadi malam.


"Kenapa istriku tidak mengingatnya? Apakah dia dibuat seperti....," Zain langsung mengerti melihat keadaan Meka.


Lalu dia tidak lagi mempertanyakan tentang mimpi tadi malam.


"Ya sudah, sekarang kita sarapan dulu yuk. Gimana, hari ini kita jadi pindahnya, Mas sudah memesankan Hotel yang lain," ucap Zain memberitahu.


"Oh iya kah Mas? Aku senang kita akhirnya pindah. Kapan kita keluar dari sini Mas?" tanya Meka gak sabaran.


"Setelah sarapan kita berangkat ya. Mas akan buat cek out dari Hotel ini nanti setelah selesai sarapan," jelas Zain.


"Baik Mas, aku bersih-bersih dulu ya, habis tuh kita turun ke bawah untuk sarapan," balas Meka.


Kemudian Meka masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Zain masih berkutat dengan pikirannya yang membingungkan.


Tak berapa lama, kemudian Meka keluar dari kamar mandi, dia melihat Zain sedang duduk di sofa sambil nonton TV.


"Mas, aku sudah siap, ayo kita sarapan," ajak Meka bersemangat.


Zain beranjak dari tempat duduknya dan tersenyum melihat Meka yang sudah bersemangat dan wajahnya tidak lagi terlihat pucat. Zain merasa senang, akhirnya Meka kembali seperti semula. Walaupun Zain tidak tau apa mimpi Meka sampai saat ini, tapi dia bersyukur melihat Meka kembali ceria lagi.


Mereka keluar dari kamar menuju lift. Meka sengaja tak melihat ke arah pintu kamar itu. Dan dia tidak memperdulikan suara-suara jeritan dan teriakan dari dalam kamar itu. Hingga akhirnya lift kamar itu terbuka dan mereka masuk ke dalam.


Namun mereka harus bersitatapan lagi dengan laki-laki itu. Tapi kali ini dia tidak sendirian, melainkan dengan seorang wanita cantik berambut pirang. Laki-laki itu menyunggingkan senyumnya menatap Meka dengan tajam. Tapi Meka tidak merespon tatapan itu. Dia hanya menangkap tatapan laki-laki itu dari sudut ekor matanya.