Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab


"Baiklah, aku akan kembali," balas Meka.


Dia pun berjalan menuju cahaya putih yang ada di hadapannya. Hingga akhirnya Meka kembali ke dunianya dan dia terbangun tersentak, lalu langsung terduduk. Meka melihat suaminya masih tertidur di sampingnya sambil memeluknya.


"Hah, ternyata hanya mimpi. Semoga mimpi itu tidak pertanda buruk ya," gumam Meka sambil mengusap lembut rambut suaminya.


Meka menoleh ke arah jendela, ternyata masih gelap. Lalu dia melihat jam dinding dan ternyata sudah hampir subuh.


Kemudian terdengar suara adzan subuh berkumandang. Meka langsung turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi. Setelah itu Meka pun melaksanakan kewajibannya Sholat subuh.


Setelah selesai, Meka kembali ke tempat tidur membangunkan Zain.


"Mas, ayo bangun. Ini sudah subuh, kamu gak sholat?" tanya Meka sambil menggoyang-goyangkan tubuh Zain.


"Iya sayang, kamu udah subuh?" tanya Zain balik.


"Udah Mas, ayo bangun. Nanti telat subuhnya," jawab Meka.


Zain pun bangun dan pergi ke kamar mandi. Setelah itu dia pun sholat subuh. Setelah melaksanakannya, Zain kembali ke tempat tidur dan berbaring di samping Meka. Dia memeluk Meka dan tersenyum melihat istrinya.


"Mas, tadi aku bermimpi," tiba-tiba Meka membalikkan tubuhnya menghadap ke Zain.


"Mimpi? Kamu mimpi apa sayang?" tanya Zain penasaran.


"Aku bermimpi tentang Mona, Mas," jawab Meka.


"Loh kenapa kamu mimpiin dia?" tanya Zain heran.


"Ntahlah Mas, aku juga gak tau kenapa bisa mimpiin dia. Dan mimpi tentang dia sudah beberapa kali," jawab Meka.


Zain pun merasa heran, tapi dia teringat tentang kejadian di supermarket kemaren saat bertemu dengan Mona. Zain berpikir, mungkin istrinya terbawa suasana kemaren sehingga memimpikan Mona.


"Emang kamu mimpi yang gimana sayang?" tanya Zain. "Atau mungkin kamu terbawa suasana karena kejadian kemaren ya?" tanya Zain lagi.


"Aku juga gak tau Mas, apa aku terbawa suasana kemaren atau tidak. Yang pasti mimpi itu memperlihatkan Mona sedang berjalan dengan laki-laki yang mirip denganmu Mas. Tapi aku hanya melihatnya dari belakang. Tapi laki-laki itu mirip banget dengan kondisi fisik kamu Mas," jawab Meka menjelaskan.


"Kamu melihatnya dari belakang. Kemungkinan itu hanya perkiraan kamu saja sayang. Mungkin ada laki-laki lain yang mirip dengan ciri-ciri Mas," balas Zain yang mencoba menenangkan istrinya.


"Tapi itu mirip banget Mas. Aku bisa melihatnya dengan jelas walaupun dari belakangnya. Dan ketika aku berusaha mendekati mereka, tiba-tiba angin kencang datang menghalangi oandnagnaku Mas, sehingga aku tidak bisa melihatnya dan mereka menghilang dari hadapanku," ucap Meka memberitahu.


"Ya sudahlah sayang, itu hanya bunga tidur saja. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan rumah tangga kita. Percayalah, Mas tidak akan berpaling dari kamu ya sayang," Zain mencoba menenangkan istrinya dan menghibur Meka.


"Iya Mas, aku hanya khawatir jika mimpi itu menjadi pertanda untukku. Tapi mudah-mudahan semua berjalan dengan baik ya Mas. Dan aku harap nanti ketika kita berjauhan, jangan pernah berinteraksi dengan perempuan itu. Kamu harus janji ya Mas," pinta Meka penuh harap.


"Iya Mas."


Meka dan Zain kembali tertidur berdua hingga hari benar-benar terang. Meka dan Zain kembali terbangun.


"Ternyata sudah terang ya Mas," ucap Meka saat dia terbangun.


"Iya sayang. Gimana tidur kamu, nyenyak kan? Masih mimpi lagi?" tanya Zain.


"Aku nyenyak banget Mas. Dan tadi tidak mimpi lagi," jawab Meka tersenyum.


Meka turun dari tempat tidur mau melangkah ke kamar mandi. Ternyata Zain mengikuti Meka berjalan ke alamat mandi.


"Loh Mas, kamu mau ngapain?" tanah Meka heran.


"Mau mandi bareng sama kamu sayang. Mas kepengen," bisik Zain yang suaranya sudah serak.


"Ayo Mas," ajak Meka yang ternyata tidak menolak kemauan Zain.


Mereka pun masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan pergulatan panas. Di dalam kamar mandi, suasana menjadi panas karena penyatuan keduanya. Zain dan Meka melakukan beberapa kali hingga akhirnya mereka merasakan puncak kenikmatan secara bersama.


Setelah selesai, Zain menggendong Meka keluar dari dalam kamar mandi. Zain membantu Meka memakai pakaiannya dan merapikan rambut Meka.


Kemudian Zain membawa Meka keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju ruang makan. Ternyata Mamanya Zain sudah ada di sana.


"Pagi Ma....," sapa Zain.


"Pagi sayang...!" sahut Mamanya. Ayo kita sarapan, Mama udah buat nasi goreng buat kalian," ucap Mamanya.


"Papa kemana Ma?" tanya Zain yang tidak melihat keberadaan Papanya


"Pagi Zain, Meka," sahut Papanya.


"Habis nih kalian mau langsung kembali ke Apartement?" tanya Papanya yang langsung bertanya.


"Iya Pa, kami langsung kembali. Karena Zain dan Meka harus ke kampus mengurus semuanya," jawab Zain sambil mengunyah makanannya.


"Terus kaaon kalian kembali ke sini lagi?" tanya Papanya. "Kemaren rencananya Mama kamu mau mengadakan syukuran hari Minggu ini untuk menyambut kehamilan istri kamu, kalian harus nginap sebelum acaranya," ucap Papanya.


"Insyaallah hari Sabtu aja ya Pa, kami kemari lagi. Karena banyak yang harus Zain selesaikan," jawab Zain.