Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 173


Meka merasa malu dengan tatapan menggoda suaminya. Zain yang sudah tidak sabaran, terus menghujani kecupan-kecupan di seluruh tubuh Meka hingga membuatnya mendesah di bawah Zain.


Tanpa membuang waktu, Zain langsung menancapkan miliknya ke dalam milik Meka yang sudah basah. Zain tersenyum melihat wajah istrinya yang menggoda dengan mata sayunya yang berkabut gairah.


"Ma--aasss," Meka mendesis tak karuan.


"Iya sayang..," balas Zain dengan suara beratnya.


Zain dan Meka terus memburu kenikmatan dalam ruangan itu. Suara-suara merdu menggema membuat kedua sejoli itu bergairah dan tak ingin menghentikan pergulatan panasnya. Zain menatap istrinya yang sudah mulai kelelahan karena dia melakukan terus-terusan tak pernah puas.


Hingga akhirnya pelepasan terakhir mereka, Zain menyudahi aktifitasnya menggagahi istrinya. Zain terkulai lemas di samping Meka sambil memeluk Meka. Mereka berdua kelelahan tinggal terlelap. Malam pun semakin larut.


Meka tidak mengetahui jika sesuatu yang berbahaya telah menantinya. Banyak hambatan dan situasi yang mengharuskannya berbuat hal yang menyakitkan.


Malam berganti pagi. Udara yang segar dan sinar matahari yang malu-malu memperlihatkan wajahnya menandakan akan cuaca mendung.


Meka terbangun dari tidurnya, dia menoleh ke arah Zain dan melihat suaminya yang masih terlelap sambil memeluknya.


Meka turun dari tempat tidur, dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Beberapa menit berlalu, Meka akhirnya selesai membersihkan tubuhnya. Dia keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Zain masih tidur pulas.


Lalu Meka mendekatinya dan membangunkan Zain.


"Mas, bangun. Nanti kesiangan ke Kampusnya loh!"


"Uh...., pegel semua badan Mas," ucap Zain.


"Hehehe, aku kira Mas bakalan kuat. Ternyata bisa juga lelah ya," ledek Meka sambil tertawa.


"Kamu ngeledek Mas ya!"


"Nggak ngeledek Mas, tapi lucu lihat kamu yang ternyata bisa kelelahan. Padahal aku mikir tuh, kamu gak akan berhenti Mas memangsaku," jawab Meka tenang.


"Habis kamu nikmat banget sayang. Mas jadi ketagihan terus," balas Zain.


"Sekarang Mas mandi dulu. Aku mau buat sarapan kita," ucap Meka yang menyuruh Zain segera ke kamar mandi.


Zain pun berlalu dari hadapan Meka. Sementara Meka keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk buat sarapan.


Ketika Meka asyik memasak, dia dikejutkan dengan kehadiran Khodamnya yang mendadak.


"Astaghfirullahal'adzim, ngagetin aja," celetuk Meka.


"Dia sudah melihatmu Meka. Berhati-hatilah. Aku akan mengawasinya," ucap Khodamnya memberitahu sesuatu.


"Maksudnya apa?" tanya Meka.


"Dia sudah mengetahui keberadaanmu. Dia akan segera menghancurkanmu," jawab Khodamnya.


"Kamu gak jelas kalau ngasih tau. Senengnya setengah-setengah. Buat aku kesal dan menebak-nebak. Kalau kamu mengawasi ku, seharusnya kamu kasih tau dengan jelas," bentak Meka.


"Aku tidak bisa memberitahumu dengan jelas karena kalau aku memberitahumu, kau akan selalu bergantung terhadapku. Dan tidak ada kewaspadaan dalam dirimu terhadap lingkunganmu," balas Khodamnya.


"Kalau begitu tidak perlu memberitahuku jika ada sesuatu yang akan terjadi," ketus Meka.


"Aku akan mengawasimu. Kau adalah keturunan dari leluhurmu yang harus aku jaga," Lalu Khodamnya itu menghilang.


Meka diam di tempatnya berdiri. Dia mencoba mencerna ucapan Khodamnya. Meka merasa kesal karena sang Khodam tidak terus terang akan sesuatu yang terjadi nantinya. Khodamnya selalu memberikan peringatan dan kewaspadaan saja, sehingga membuat Meka kesal.


Sementara si Khodam tak mau ambil pusing dengan sikap Meka. Apapun yang diucapkan Meka, dia tidak akan pernah meninggalkannya. Karena janji yang dibuat leluhurnya terhadap leluhur Meka.


Kemudian pintu kamar mereka terbuka. Zain keluar dari dalam kamar, dia menghampiri Meka yang sedang melamun.


"Sayang, kamu kenapa malah melamun disini?" tanya Zain yang bingung melihat makanan Meka yang gosong.


"Ah, eh iya Mas. Aduhhhhh jadi golongkan," kesal Meka.


Lalu Meka mengganti dengan maskaan yang baru untuk di masak.


"Aku lagi kesal Mas sama Khodamku," jawab Meka.


"Kenapa kesal, bukannya dia tidak pernah mengganggumu sayang?" tanya Zain.


"Iya Mas, emang sih dia tidak pernah mengganggu, tap dia tidak pernah dengan jelas memberitahukan sesuatu yang akan terjadi terhadapku," jawab Meka.


"Niatnya mungkin baik sayang. Dia tidak ingin kamu bergantung terhadapnya, sehingga kamu akan santai menjalani hidup," ucap Zain.


"Kamu sama Mas jawabannya dengan dia. Khodamku juga berkata demikian. Mungkin aku aja yang meminta lebih. Padahal kita manusia tidak boleh bergantung dengan mahluk ghaib kan Mas," balas Meka.


"Iya sayang. Sarapannya mana ini? Dari tadi ngomong doang disini," ucap Zain.


"Ini udah selesai Mas. Bentar aku siapkan di atas meja makan dulu. Biar kita sarapan bareng."


Meka memasak ulang nasi gorengnya yang tadi gosong. Setelah selesai, dia menghidangkannya di atas meja makan.


"Ayo Mas kita sarapan," ajak Meka.


Zain menghampiri meja makan dan mengambil tempat duduknya.


"Ini baru benar! Tadi Mas sempat kaget lihat nasi goreng kamu yang gosong," ucap Zain.


"Hehehe iya Mas, habis tadi mikirin ucapan si Khodam. Katanya aku harus berhati-hati terhadap sesuatu yang akan terjadi Mas. Makanya mau mikir dari tadi.


"Pantes aja gosong sayang," ledek Zain.


"Ihhhh Mas, ngeledekin aku terus," kesal Meka.


Akhirnya Zain dan Meka tertawa karena sikap masing-masing. Mereka menikmati sarapan paginya dengan suasana hati yang happy.


Setelah mereka menyelesaikan sarapan paginya. Zain dan Meka pergi ke Kampus.


Selama perjalanan Meka masih memikirkan ucapan Khodamnya yang mengatakan 'dia melihatku'. Meka bingung apa artinya itu. Siapa yang melihatnya dan untuk apa? Meka masih diam sambil berpikir.


Zain sekilas melirik ke samping, dimana Meka duduk. Dia mengernyitkan dahinya melihat tatapan Meka yang kosong.


"Sayang, ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang kamu tidak ceritakan sama Mas ya?" tebak Zain.


"Maaf Mas, aku bukannya tidak mau cerita, tapi tadi emang gak teringat untuk menceritakannya ke kamu," jawab Meka.


"Tentang apa sayang?" tanya Zain.


"Khodamku bilang, ' dia melihatku', Mas," jawab Meka.


"Siapa yang melihat? Dan buat apa?" Zain bertanya kebingungan.


"Aku pun mikirnya gitu Mas. Siapa yang melihat? Dan buat apa?" ulang Meka yang juga bingung.


"Kamu gak usah mikirinnya sayang. Kita hadapi dan jalani. Mas aja selalu ada bersamamu," Zain memberikan dukungannya.


"Makasih Mas. Aku jadi tambah semangat jika kamu terus di sisiku Mas," balas Meka.


"Itu Deon dan Isna," tunjuk Zain ketika mereka sampai di parkiran Kampus.


Meka menoleh ke depan, melihat keberadaan Deon dan Isna yang baru keluar dari dalam mobil Deon.


Meka pun langsung keluar dari dalam mobil Zain, dia menghampiri Deon dan Isna yang sednag berjalan ke arah Kampus.


"Isna....!" panggil Meka yang mempercepat jalannya.


"Loh Mek..!" balas Isna.


"Kamu sama siapa? Mana Pak Zain?" tanya Deon yang mencari keberadaan Dosga mereka.


"Itu disana, bentar lagi juga kemari," jawab Meka.


Zain pun datang menghampiri ketiganya. Mereka berjalan bersama ke dalam Kampus.