
Mamanya Zain semakin ketakutan melihat anaknya yang sudah terlihat seperti orang tidak waras.
"Apa yang terjadi denganmu nak... Ya Allah, kenapa anakku jadi seperti ini," ucap Mamanya Zian dengan rasa sedihnya.
"Sayang kamu kenapa tertawa sendiri?" tanya Mamanya.
"Siapa yang tertawa sendiri Ma. Zain ketawa sama si Inem," jawab Zain acuh.
"Deg," seketika Mamanya Zain menjadi tegang, wajahnya pucat dan bulu kuduknya langsung merinding. Dia menatap sekeliling ruangan kamar anaknya dan bergidik ngeri.
"Ma, ayo kita keluar," ajak Zain. "Apa Mama mau ngobrol sama Inem?" tanya Zain lagi.
"Ah nggak-nggak," Mamanya menggeleng dengan cepat. Dan buru-buru berjalan ke arah pintu menghampiri Zain. "Ayo kita temui Ustadz itu dan Papa kamu diluar," ajak Mamanya.
Saat mereka keluar melewati pintu, Zain menoleh ke belakang dan dia tersenyum. Kemudian keduanya berjalan menuju ruang tamu. Zain melihat seorang Ustadz sedang ngobrol sama Papanya.
"Zain, sini," panggil Papanya yang langsung berdiri.
"Assalammu'alaikum Pak Zain," sapa Ustadz itu sambil menyalaminya.
"Wa'alaikumussalam Ustadz," balas Zain. Zain menatap serius ke Ustadz itu. Ada rasa tidak senang saat berhadapan dengan sang Ustadz. "Ada apa gerangan Ustadz ke sini?" tanya Zain acuh.
"Zain, Papa dan Mama ingin kita mengaji dan mendengarkan tausiah dari Ustadz. Dan kami ingin kamu juga mengikutinya," ucap Papanya memberitahu.
Sementara Ustadz itu tersenyum hangat melihat ekspresi Zain yang memperlihatkan seperti orang ketakutan saat berhadapan dengannya.
"Benar Pak Zain, saya sangat senang jika bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat terhadap keluarga ini," jawab Ustadz itu.
"Kalau begitu Ustadz, kita kerjakan sekarang ya," pinta Mamanya Zain.
"Baik Bu, ayo kita mengaji," balas Ustadz itu.
Lalu mereka bersiap-siap untuk melakukan pengajian. Dan sekarang Zain beserta keluarganya duduk di karpet yang sudah di siapkan untuk pengajian.
Saat Ustadz itu membuka suaranya dengan mengaji, tiba-tiba terdengar suara teriakan kesakitan dari dalam kamar Zain.
"Akh.....saakiit.....!" teriak suara yang ternyata perempuan. Ya suara yang di miliki Inem bekas pembantu di rumah itu yang menjadi tumbal Mona berteriak kesakitan saat mendengar Ustadz itu melantunkan ayat Alqur'an.
Ustadz itu terdiam dan berhenti sejenak, lalu dia menoleh ke arah kamar Zain.
"Maaf Pak, Bu, kalau boleh tau itu kamar siapa ya?" tanya Ustadz itu.
Papa dan Mamanya Zain bingung saat Ustadz itu menanyakan kamar itu.
"Ah itu kamar anak saya ini Ustadz, kamar Zain," jawab Mamanya.
"Siapa yang tinggal di kamar itu?" tanya Ustadz itu lagi.
Mamanya Zain menjadi semakin bingung dan mengerutkan keningnya semakin dalam.
"Maaf Ustadz ada apa ya? Di sana tidak ada yang tinggal. Hanya anak saya Zain ini saja yang tinggal di sana," jawab Mamanya Zain.
Lalu Ustadz itu menoleh ke arah Zain. Ustadz itu bisa merasakan ada hal tidak baik terhadap Zain. Tapi dia tidak memiliki kemampuan untuk membantu lebih jauh untuk Zain. Dia hanya bisa melihat mahluk ghaib dan mengusirnya dengan membaca ayat Alqur'an.
"Baik kalau gitu ayo kita lanjut membacanya," ucap Ustadz itu.
Papa dan Mamanya Zain mulai membaca lagi, namun tidak sama Zain. Dia merasa gelisah dan kegerahan. Dia mencoba membacanya namun ntah kenapa lidahnya tidak bisa mengucapkannya.
Ustadz itu terus memperhatikan tingkah Zain yang mulai berkeringat.
"Pa, Ma, Zain ke kamar dulu. Badan Zain sepertinya tidak enak," ucap Zain yang menghindari kegiatan membaca Alqur'an.
Zain buru-buru pergi dari hadapan mereka. Dia berjalan cepat masuk ke dalam kamarnya. Zain menutup pintunya dengan keras dan langsung duduk di tempat tidur.
Ustadz dan Mama serta Papanya Zain terkejut mendengar suara pintu yang ditutup kencang.
"Astaghfirullahal'adzim," ucap Ustadz itu sambil geleng-geleng kepala.
"Hah," Ustadz itu menghempaskan nafas kasarnya. "Ya saya bisa melihatnya Pak, Bu," jawabnya.
"Maksud Ustadz melihat apa? A--apa Ustadz melihat ha--hantu..?" tanya Mamanya dengan wajah kaget.
"Maaf Pak, Bu, apakah di sini pernah terjadi kejadian mengerikan?" tanya Ustadz itu dengan rasa penasaran.
Papa dan Mamanya Zain saling menatap mencoba meyakinkan diri mereka untuk menceritakan kejadian perginya pembantu mereka yang lalu.
"Iya Ustadz, tapi kami tidak tau kenapa pembantu kami tiba-tiba pergi begitu saja," jawab Papanya Zain. "Memangnya ada apa ya Ustadz?" tanya nya penasaran.
"Saya melihat kalau pembantu itu sedang mengikuti anak Bapak dan Ibu," jawab si Ustadz yang masih terus memandang ke arah pintu kamar Zain. "Apakah pembantunya perempuan muda?" tanya Ustadz itu lagi.
"Iya benar dia perempuan muda yang tidak jelas asal usulnya Ustadz," jawab Mamanya Zain.
"Dia menjadi tumbal orang yang bersekutu dengan iblis. Dan orang tua masih berhubungan dengan keluarga anda," jelas si Ustadz lagi.
"Tumbal? Keluarga?" tanya keduanya dengan wajah bengong.
"Iya, apa kalian tidak mengetahuinya? Bagaimana dengan orang yang saat itu ada di sini" tanya Ustadz itu lagi.
"Saya yang melihat kepergiannya tak wajar Ustadz. Kalau istri saya tidak," jawab Papanya Zain.
"Saya tidak bisa terlalu membantu anak Bapak. Karena saya melihat sepertinya ada sesuatu kekuatan yang membelenggunya. Hingga dia tidak bisa mengingat masa lalunya dan itu di tuju untuk seseorang. Apakah dia sudah menikah?" tanya Ustadz lagi.
"Benar Ustadz. Dia sudah menikah. Dan setiap kami menanyakan tentang istrinya, dia seperti orang sedang berpikir Ustadz," jawab Mamanya Zain.
"Ya, kuatan itu sengaja membuatnya tidak mengingat nama itu. Dan anak anda hanya mengingat keluarga dan yang lainnya," balas Ustadz itu lagi.
"Ya Allah Pa, berarti dugaan Mama benar. Anak kita seperti di guna-guna," ucap istrinya.
"Ya benar Bu, anak Ibu sudah di guna-guna dengan ilmu hitam," sambung si Ustadz.
"Jadi apa yang harus kami lakukan Ustadz? Kemana kami harus membawanya? Kasihan dengan istrinya yang tidak bisa diingatnya," ucap Papanya Zain.
"Saran saya sebaiknya Bapak dan Ibu membawanya ke Ustadz yang bisa menangani hal ini," saran si Ustadz.
Mamanya Zain menoleh ke Papanya Zain. Mereka bingung mau membawa Zain kemana.
"Lebih baik segera Bapak bawa, sebelum terlambat. Karena bagaimanapun energinya akan terserap lambat laun. Dan jangan sampai dia melakukan hubungan suami istri dengan orang yang membuatnya seperti itu," jelas Ustadz lagi.
"Kenapa bisa seperti itu Ustadz?" tanya Mamanya Zain penasaran.
"Karena mereka yang melakukan pemujaan iblis, setiap sasaran yang diinginkan, lambat laun energi mereka akan terserap dan mati perlahan-lahan," jelas Ustadz itu lagi.
"Astaghfirullahal'adzim Pa, gimana ini? Mama gak mau terjadi apa-apa dengan Zain. Dia anak kita satu-satunya Pa," ucap istrinya putus asa.
"Sabar Bu, pasti ada jalan keluarnya," balas suaminya.
"Lebih baik kalau ada yang Bapak kenal seorang Ustadz, bawalah hari ini juga ke sana," ucap Ustad itu. "Maaf Pak, Bu, saya harus kembali ke Masjid karena ada acara pengajian di sana," pamit si Ustadz.
"Baik Ustadz, terima kasih atas kedatangannya dan informasinya," balas Papanya Zain.
"Iya Pak, semoga Pak Zain bisa di selamatkan ya Pak, Bu, saya permisi dulu," Ustadz itu berlalu dari hadapan keduanya dan berjalan ke arah pintu lalu meninggalkan rumah orang tua Zain.
Setelah kepergian Ustadz itu, Papa dan Mamanya Zain duduk lemas di sofa mereka. Keduanya tak bisa berpikir dengan benar.
"Pa, bagaimana dengan Zain? Mama gak mau kehilangannya," ucap istrinya yang bersandar di bahu suaminya.
"Kita akan pikirkan caranya Ma," balas suaminya.
Papanya Zain terus berpikir dan mencoba mengingat-ingat kembali siapa Ustadz yang bisa di minta bantuannya. Hingga akhirnya Papanya Zain mengingat satu nama yaitu Ustadz Ahmad.
"Ma, Papa baru ingat tentang Ustadz itu," ucap Suaminya tiba-tiba.
"Siapa Pa?" tanya istrinya.