
Meka masa bodok dengan sepupu-sepupu genitnya. Dia asyik mengunyah makanannya.
"Meka, Papa rasa besok kamu sudah harus kembali ke Jogja. Papa tidak mau kamu berlarut-larut dalam kesedihan dirumah ini," Papanya Meka merasakan adanya bahaya terhadap Meka jika berlama-lama dirumah ini.
"Lusa aja ya Pa, Meka masih mau disini. Biarkan Meka mengunjungi makamnya Mama dan Biyu dulu," jawab Meka dengan wajah sendunya. Dia masih menyimpan kesedihan yang mendalam. Rasanya ingin menangis berhari-hari sampai mata bengkak pun tak masalah. Namun dia tidak mau Mama dan Biyu tersiksa karena rasa tak ikhlasnya.
Papanya menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu dia Papanya melihat ke arah Zain. Zain yang dilihatin seperti itu, mengerti dengan kegelisahan Papanya Meka. Karena dia memahami dan menyadari bahwa orang yang dia cintai memiliki kelebihan yang tak dimiliki orang lain. Dan itu sangat membahayakan dirinya jika orang lain yang memiliki sifat jahat mengetahuinya.
"Iya Pa, lusa saja kami kembali. Papa tenang aja ya. Zain akan menemani Meka kok," sambung Zain.
Meka lirik sekilas kearah Zain. Dan bertepatan dengan itu, Zain tersenyum hangat melihat Meka.
"Baiklah nak Zain. Nanti malam adalah malam kedua tahlilan dan besok terakhir. Jadi setelah selesai, kembalilah keJogja," pinta Papanya Meka.
Setelah selesai sarapan, Papanya kembali masuk kedalam kamarnya. Dia tidak mau bertemu dengan banyak keluarga saat ini. Semua persiapan dilakukan oleh iparnya.
Tantenya Meka, istri dari Omnya, adik Mama Meka sudah kembali kemaren sehabis jenazah dimakamkan. Dia harus menjaga suaminya yang masih berada dirumah sakit.
Meka pun melupakan sosok Omnya yang ikut mengalami kecelakaan. Dia terlalu larut dalam kesedihan. Saat ini, setelah selesai menghabiskan sarapan paginya Meka kembali ke kamarnya. Sedangkan Zain, masih mencoba setia berada diatas meja makan. Zain merasa tidak enak jika harus mengikuti Meka kedalam kamarnya.
"Hai, kenalkan aku sepupunya Meka, Lastri," tiba-tiba datang perempuan cantik, bahenol menghampiri Zain dan duduk disamping Zain bekas tempat duduk Meka.
Zain menoleh sekilas, berusaha sopan dihadapan keluarga Meka.
"Kamu apanya Meka ya, kalau boleh tau?" tanya perempuan bahenol itu dengan genitnya.
"Saya calon suaminya Meka," jawab Zain tegas.
"Ihhhh masih calon suamikan...,belom jadi suaminya Meka kan! Mmmm berarti boleh dong aku kenal kamu lebih dekat," perempuan itu berusaha menggoda Zain.
Zain males meladeni perempuan disampingnya, lalu dia pun pergi meninggalkan perempuan itu.
"Huuuu sombong banget sih! Sok kecakapan banget. Masih banyak cowok yang lebih ganteng dari dia," gumam perempuan itu yang masih didengar Zain. Karena sepupu Meka sengaja mengencangkan sedikit gumamannya.
Zain terus berjalan dan masuk kedalam kamarnya Meka.
"Sayang, kamu lagi ngapain? Gimana kalau kita keluar menghirup udara diluar rumah. Atau kita ke pemakaman Mama dan adik kamu. Tapi tidak boleh ada yang tau kita kemana. Gimana?" tanya Zain yang mencoba menghiburnya ur Meka.
"Iya Zain, aku mau. Kita kesana aja. Aku ingin mengunjungi Mama dan Biyu," jawab Zain.
"Kita berangkat sekarang ya."
Meka menganggukkan kepalanya. Dan bersiap-siap untuk pergi.
"Tunggu, kita harus pamit dulu sama Papa kamu dulu," ajak Zain.
"Heum," balas Meka.
Mereka keluar dari dalam kamar Meka. Lalu berjalan menuju kamar Papanya.
"Tok tok tok, Pa...!" panggil Meka.
Hingga beberapa saat, pintu kamar Papanya terbuka dan terlihatlah wajah Papanya yang habis menangis.
"Loh, Papa kenapa?" tanya Meka khawatir.
"Gak apa-apa sayang, Papa hanya teringat dengan Mama kamu," jawab Papanya.
"Pa, Meka boleh ya ngunjungi Mama sama Biyu sekarang! Zain yang akan nemani Meka," ucap Meka sambil menatap sedih kearah Papanya.
"Kalian hati-hati ya. Jangan lama-lama disana. Jangan bilang sama keluarga lain, kalian kesana ya," pinta Papanya yang sama dengan kemauan Zain.
"Baik Om," jawab Zain.
Zain dan Meka menayalmin tangan Papanya Meka, kemudian mereka pergi meninggalkan Papanya yang sendirian dikamar.
Zain dan Meka berjalan santai melewati beberapa saudara yang sedang bercengkrama.
"Mek, mau kemana?" tanya Tantenya.
"Mau keluar sebentar Tante," jawab Meka tanpa embel-embel.
"Kamu kan baru berduka, gak baik Lo keluar rumah sekarang?" balas Tantenya.
"Tadi udah izin kok Tante sama Papa dikamar. Papa ngasih izin kok Tan!" ucap Meka yang merasa tidak suka dengan Tantenya yang mencoba mengaturnya.
"Oh...ya sudah, kalian hati-hati dijalan ya," Tantenya berusaha menahan kesalnya karena tidak dituruti perkataannya.
"Mari Tante," Zain berpamitan sama Tantenya Meka.
"Kenapa sih dikasih dia keluar rumah? Awas saja nanti, akan aku adukan kamu ke Om mu karena tak mendengarkan ucapanku," bathin Tantenya yang merasa kesal dengan sikap pembangkang Meka.
Meka dan Zain terus berjalan keluar dari rumahnya. Mereka naik sepeda motor menuju tempat pemakaman Mama dan adiknya.
"Zain, ada yang ingin aku ceritakan sama kamu," ucap Meka yang duduk diboncengan belakang.
"Cerita apa sayang?" tanya Zain sambil membawa motornya.
"Kemaren malam, aku mimpi Zain. Mimpinya aneh, ada anak kecil yang suaranya mirip sama Biyu, dia meminta tolong."
"Loh siapa yang minta tolong?" tanah Zain bingung.
"Aku gak tau Zain, karena dia tidak memperlihatkan sosoknya. Tapi dia terus mengatakan, "Tolong aku...., kembalikan...!"
"Kok aneh gitu sayang mimpi kamu? Kenapa tadi kamu gak cerita sama Papa kamu?" tanya Zain lagi.
"Aku khawatir Papa akan kepikiran Zain."
"Apa maksudnya ya?" Zain juga bingung mau bagaimana.
"Dan kemaren malam, aku melihat dari bawah pintu kamarku, seperti ada orang yang sedang berdiri didepan pintu kamarku. Saat aku ingin membuka pintu kamarku, aku mendengarkan bisikkan, dan katanya, "Jangan dibuka...!"
"Ya ampuuun sayang, sepertinya kita harus cerita sama Papa kamu. Karena beliau harus tau semua ini," ucap Zain yang hati-hati membawa motornya.
"Iya, nanti sehabis pulang dari pemakaman, kita akan kekamar Papa untuk membicarakan ini," balas Meka.
Tak berselang lama, mereka sampai di depan Pemakaman. Zain memarkirkan motornya disamping pintu masuk pemakaman.
"Ayo sayang kita masuk," ajak Zain setelah selesai memarkirkan motornya.
Mereka memasuki pemakaman dan berjalan terus kedalam hingga sampailah mereka dihadapan kuburan Mama dan adiknya Meka. Meka berhambur ke hadapan makam Mamanya, dia menangis tersedu-sedu.
Zain yang berada disampingnya Meka berusaha menenangkan Meka dengan mengusap-usap punggungnya. Mereka berdua tidak menyadari adanya perubahan yang terjadi di makam adiknya.
Dari arah belakang mereka, seorang kuncen datang menghampiri keduanya.
Juru kunci adalah sebuah jabatan budaya yang biasanya tidak memiliki gaji atau pembayaran apapun, tetapi mereka memiliki kedudukan penting dan terhormat di kalangan masyarakat. Selain itu tugas dan philosopi juru kunci adalah mengunci semua rahasia buruk dan menjaga semua kebaikan supaya tetap terjalin hubungan serasi antara masyarakat, adat dan juga alam lingkungan.
"Pagi Mbak dan Mas," maaf mengganggu waktunya," seseorang menegur mereka dari belakang.
Zain dan Meka menoleh kebelakang mereka dan melihat seorang kakek-kakek.
"Iya kek, ada apa ya?" tanya Zain.
Kakek itu menatap Meka dengan lekat, dia mengetahui apa yang ada didiri Meka saat ini. Dan diapun menundukkan seperti orang memberi hormat kepada Meka.
"Apakah kalian keluarga dari makam ini?" tanya kakek itu.
"Iya, saya anak dari orang yang dikubur disini dan kuburan itu adalah adik saya. Kenapa ya kek?" tanya Meka curiga.
Sepertinya salah satu yang dikubur didalam sana meminta tolong.
"Maksudnya kek?"
"Kemaren malam, saya melihat seorang laki-laki pergi meninggalkan makam ini dan berlari dari pemakaman ini. Saya tidak bisa berteriak karena saya melihatnya dari kejauhan. Saya langsung berjalan ke makam ini, dan saya melihat salah satu makam seperti habis dibongkar. Dan saya juga mendengar teriakan "Tolong kembalikan...!"
Meka tertegun mendengar ucapan kakek itu. Dan Zain juga terkejut mendengarnya. Karena apa yang disampaikan kakek itu, sama persis dengan yang ada di mimpi Meka.
Zain menoleh kearah Meka dan mereka sama-sama terbengong.
"Apa saya bisa bertemu dengan orang tua kamu nak?" tanya kakek itu yang menyadarkan keduanya dari sikap bengong.
"Ah, oh iya kek, nanti saya sampaikan dengan Papa saya. Karena saat ini kami masih dalam berduka. Baru kemaren kami menguburkan keduanya disini," ucap Meka.
"Sepertinya ada yang sedang terjadi disini. Saya harap besok pagi, kalian harus kembali kesini bersama orang tua kamu," pinta kakek itu.
"Iya kek, besok pagi kami pasti kemari. Oh ya kek, bisakah semua ini dirahasiakan dari yang lainnya. Cukup saya dan Papa saya saja yang mengetahuinya. Karena saya gak mau ada anggapan negatif dari yang lainnya," Meka memohon agar dirahasiakan kejadian ini.
"Baiklah nak, saya tunggu kalian disini besok pagi," balas si kakek itu.
"Baik kek," jawab Meka.