
Meka melihat Zain yang masih belum siuman. Sedangkan Ustadz itu melihat Deon dan Isna. Kemudian dia melihat kejanggalan di wajah Isna.
"Dia hampir kehilangan nyawanya."
Meka memiringkan kepalanya kebelakang, lalu dia berjalan kearah Deon dan Isna.
"Kenapa hampir kehilangan nyawanya Ustadz? Dia hanya terluka ringan, tidak akan menyebabkan kematian," Meka kebingungan.
"Ya, dia hampir saja dibawa mahluk itu ke alamnya sebagai pengganti tumbalnya yaitu kamu. Tapi syukurnya Khodam yang berada disampingmu bisa menghadang mahluk itu saat dia hendak menarik jiwa sahabatmu keluar dari tubuhnya dan itu karena dia sahabatmu.
"Apakah Ustadz tau kalau saya memiliki Khodam?" tanya Meka hati-hati.
"Tentu, dia sekarang berada didekat suamimu, lihatlah kebelakang."
Meka langsung menoleh ke belakang dan melihat Harimau itu yang sudah merubah bentuknya menjadi laki-laki tampan dengan berpakaian jadul.
"Kamu beruntung memiliki Khodam leluhur seekor Harimau putih. Mereka adalah penjaga yang sangat kuat dan tangguh. Tidak ada yang berani melawan kekuatan mereka," jelas Ustadz itu.
Meka tak berani menjawab, karena dia takut menjawab sembarangan. Lalu dia mengalihkan pandangannya kearah Isna.
"Ustadz, terima kasih karena sudah membantu dan menemani saya sampai saat ini. Saya tidak ingin merepotkan Ustadz terlalu lama disini. Khawatir keluarga Ustadz mencari keberadaan Ustadz," Meka mencoba menyuruh Ustadz itu pergi karena tidak ingin merepotkan terlalu lama.
"Baiklah, ini juga sudah terlalu malam. Istri dan anak saya pasti khawatir. Kamu berhati-hati, karena dia berada disekitar sini," ucap Ustadz itu.
"Iya Ustadz."
Ustadz itu berpamitan hendak melangkah keluar kamar itu. Saat dia berada diluar pintu, Ustadz itu melihat mahluk ghaib genduruwo itu berdiri diujung lorong dekat tangga. Dia menatap geram dengan menggeretekkan giginya yang tajam serta air liur yang menetes disela mulutnya dan berbau busuk.
Namun Ustadz itu tidak memperdulikannya. Dia terus berjalan hingga menuju luar rumah sakit. Dia pun menghilang tanpa jejak.
Di dalam ruangan, Meka kembali ketempat Zain berbaring. Dia mengusap lembut lengan Zain dengan wajah sedihnya.
"Sayang, cepatlah sadar. Aku takut kehilanganmu." Meka meneteskan air matanya hingga membasahi pipi Zain.
Zain tersadar karena tetesan air mata Meka yang jatuh dipipinya. Dia menggerakkan tangannya dan menggenggam tangan Meka.
Meka terkejut dan menatap kearah suaminya.
"Sayang, kamu sudah sadar! Alhamdulillah...!" seru Meka dengan senangnya.
"Sayang, kita dimana? Kenapa Mas di infus? Apa yang terjadi dengan kita?" banyak pertanyaan yang dilontarkan suaminya terhadap Meka.
"Kita saat ini di rumah sakit Mas. Tadi kita mengalami kecelakaan tunggal. Dan syukurnya tidak ada yang terluka parah diantara kita."
"Sahabat-sahabat kamu dimana? Apa mereka baik-baik aja?" Zain juga merasa bersalah atas keadaan sahabat Meka.
"Mereka berdua juga baik Mas. Mereka sekarang ada diruangan ini juga. Isna dan Deon ada disebelah kamu Mas," Meka memperlihatkan keberadaan Ghani dan Isna.
"Mas haus.."
"Iya Mas bentar, aku ambilkan air putih dulu," Meka mengambil gelas diatas meja samping tempat tidur Zain dan membantunya untuk duduk agar bisa minum.
"Makasih sayang," ucap Zain ketika dia selesai meminum air putih yang diberikan Meka.
"Gimana apa masih pusing," tanya Meka cemas.
"Sudah berkurang. Kamu baik-baik aja kan sayang?" Zain memperhatikan Meka.
"Aku baik Mas. Kamu istirahat lagi ya!" Meka membantu Zain berbaring lagi.
Meka berjalan menghampiri Isna. Dia melihat luka ringan di kening Isna.
"Maaf kan gw ya Na, ini semua karena gw sehingga kalian juga ikut merasakannya. Cepatlah sadar Na, biar kita kembali ke Apartement," gumam Meka.
Meka langsung beralih ke sisi Deon
"Deon, Lo udah sadar?" Meka merasa senang melihat Ghani yang sudah siuman.
"Kita berada dimana Mek?" itulah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Deon.
"Kita dirumah sakit Deon. Kita mengalami kecelakaan tunggal. Syukurlah Li udah siuman.
"Kepalaku pusing banget Mek! Isna, dimana dia?" Deon mulai memikirkan Isna.
"Dia ada disebelah Lo Deon. Dia belum sadar dari tadi."
Deon memiringkan kepalanya dan melihat keberadaan Isna yang juga terbaring.
"Apa yang terjadi Mek!? Pak Zain gimana keadaanya? Dimana dia?" Deon masih memikirkan yang lainnya.
"Pak Zain ada diruangan ini juga disebelah Isna. Lo istirahatlah, kalau sudah pulih banget, gw pasti ceritakan."
Deon beristirahat kembali. Dia masih merasakan pusing dikepalanya.
Meka memilih beristirahat juga. Dia membalikkan badannya dan melangkah kearah sofa. Dia mulai memejamkan matanya. Meka tidak mengetahui bahwa mahluk halus yang mengikutinya yaitu genduruwo itu berada di samping kamar mereka.
Khodam penjaga Meka melihat keberadaan genduruwo itu dan menjaga Meka dan yang lainnya. Genduruwo itu tidak bisa mendekati Meka, dia hanya memantau keadaan Meka. Dia menggeram karena tidak bisa membawa Isna sebagai pengganti Meka.
Shinta yang menawarkan Meka untuk menjadi pengantinnya dialamnya, merasa cemas dan was-was. Karena setelah kejadian tabrakan itu, genduruwo mendatanginya dan mengancam dirinya.
"Arrrggggh, manusia bodoh...!"Genduruwo itu mengamuk dengan mata merah yang menyala serta gigi taringnya yang tajam menghempaskan tubuh Shinta ke dinding dan membuat kamarnya berantakan.
"Apa yang terjadi, kenapa kau menyerangku?" tanya Shinta ketakutan.
"Hei manusia bodoh dan rendah, kau tau kenapa aku sangat marah? Itu karena kau...!" aura membunuh keluar dari mata genduruwo itu.
"Apa maskudnya? Aku tidak berbuat salah!" tekan Shinta yang semakin ketakutan.
"Aku tidak bisa memilikinya! Dia punya penjaga yang sangat kuat! Kau harus membantuku jika ingin nyawamu selamat!"
"Apa yang harus aku lakukan?" Shinta bertanya dengan nada gemetar.
"Kau harus membawanya untukku bagaimanapun caranya. Dia harus menjadi pengantinku, kalau tidak, kau yang akan menggantikannya dan kubawa kau ke alamnya sebagai budak nafsuku, kau mengerti..!" bentak genduruwo itu dengan suara yang menggelegar di dalam kamar Shinta.
"I...iya, aku akan melakukannya. Aku pasti akan membawanya kehadapanmu, percayalah," Shinta mencoba menenangkannya dengan janjinya.
"Ku tunggu kau sampai malam purnama nanti, tidak hari lagi. Kalau kau tak sanggup membawanya kehadapanku, bersiaplah kau akan kubawa." lalu genduruwo itu menghilang dengan angin kencang yang kembali memporak-porandakan isi kamar Shinta.
Shinta menjadi cemas penuh ketakutan. Bagaimana dia bisa menyerahkan Meka ke hadapannya? Dia berusaha memikirkan caranya.
Di dalam kamar di rumah sakit, Meka masih tertidur. Dia tidak mengetahui bahaya yang sedang mengancamnya. Tiba-tiba seorang suster masuk ke dalam ruangan itu untuk memeriksa keadaan ketiga pasien itu.
Meka tersentak mendengar langkah kaki suster itu dan dia melihat kehadirannya.
"Suster, mereka sudah pada siuman tadi. Hanya saja masih merasakan pusing. Tapi yang satu lagi belum siuman suster. Bagaimana keadaannya?" Meka bertanya sambil berjalan mendekati suster itu.
Suster itu mengecek keadaan Isna. Dia menoleh kearah Meka.
"Dia baik-baik aja kok Mbak. Sebentar lagi juga pasti siuman. Mbaknya tunggu aja ya," ucap suster itu.
Lalu dia beralih kearah Deon dan kemudian ke Zain. Setelah selesai memeriksa ketiga pasien, dia keluar dari ruangan itu.
Meka menatap kearah pintu kamar mereka. Ntah kenapa dia merasakan seperti ada yang sedang mengawasinya.