
Malam kian larut dalam kesedihan dari orang-orang yang ditinggalin. Papanya Meka saat ini sedang berada diantara Jenazah istri dan anaknya. Air mata lagi-lagi terjun bebas dari sudut matanya. Walaupun bibir sudah mengucapkan ikhlas namun hati masih tidak bisa dibohongi untuk menerima kenyataan yang memilukan ini.
"Dek, istirahatlah dulu! Nanti kamu sakit. Besok kamu harus fit karena akan mengantar kedua orang yang kamu sayangi ketempat peristirahatannya," Abangnya datang menghampiri menyuruh untuk beristirahat.
"Aku disini aja bang! Aku ingin menemani mereka sampai waktunya tiba. Karena saat waktu itu tiba, aku tidak bisa lagi melihat kedua wajah orang yang aku sayangi," Papanya Meka menatap ke wajah istri tercintanya sambil meneteskan air mata.
"Kalau gitu, Abang istirahat dulu ya," Abangnya pergi meninggalkan adiknya yang sedang menatap wajah iparnya.
Suasana sepi dan hening. Didepan pintu yang tertutup ada dua bayangan putih yang melayang di depan pintu sedang menatap kearah sosok laki-laki yang duduk diantar dua jenazah. Bayangan itu terus memandangi nya hingga membuat Papanya Meka menyadari adanya penampakan yang melayang.
Lalu saat dia menyadarinya, Papanya Meka mendongakkan kepalanya menghadap ke bayangan itu. Bayangan yang tak lain adalah istri dan anaknya.
"Mama!" Papanya Meka bisa melihat mahluk tak kasat mata. Karena dia ada keturunan dari Almarhum Papanya yang terpilih memiliki khodam dan mata bathin.
Kedua bayangan itu tersenyum kearah Papanya Meka. Kemudian Papanya Meka berjalan kearah bayangan itu. Dia menangis tersedu-sedu, ingin memeluk tapi tak bisa.
"Kenapa kamu pergi dan membawa Biyu, Ma! Sekarang aku hanya memiliki Meka. Dan saat ini dia sedang terguncang jiwanya. Biyu...Kenapa ninggalin Papa, nak! Papa sudah belikan mobilan mainan buat Biyu," ucap Papanya Meka yang berusaha menggapai mereka namun tangannya hanya melewati bayangan itu.
"Pa, jaga Meka. Dia pasti sangat terpukul atas kehilangan kami. Kamu harus menjaganya untukku. Pa, dia sama sepertimu yang mampu melihat yang tak kasat mata, dia juga bisa merasakan sesuatu hal yang terjadi hal buruk terhadap orang terdekatnya. Jadi kamu jaga dia, jangan sampai dia terluka," ucap bayangan istrinya.
"Aku akan menjaganya Ma, aku gak akan membiarkan dia disakiti orang lain. Ma pergilah dengan tenang dan bawa anak kita bersamamu. Kamu jangan mengkhawatirkan Meka. Aku akan melindungi dia dari hal yang buruk nantinya," Papanya Meka tersenyum pilu melihat bayangan istri dan anaknya.
Lalu kedua bayangan itu melambaikan tangannya dan perlahan-lahan hilang tak berbekas. Papanya Meka menundukkan kepalanya dengan posisi yang masih berdiri didepan pintu. Dia menarik nafasnya untuk menetralkan dirinya yang baru melihat bayangan istrinya dan anaknya.
Tiba-tiba dari belakang, dia dikagetkan karena pundaknya ditepuk oleh abangnya.
"Kau ngapain dek disini? Dan ngomong sama siapa kau?" abangnya merasa curiga dengan sikap adiknya.
"Aku melihat mereka bang! Mereka tadi ada disini," ucap adiknya datar.
"Mereka siapa dek? Apa maksud kamu istri dan anakmu?" tanya abangnya.
"Iya bang, mereka menyuruhku menjaga Meka dari hal yang akan mengganggunya. Apalagi dari orang yang akan jahat kepadanya," jawab adiknya.
"Kamu benar-benar bisa melihatnya?" tanya abangnya curiga.
Papanya Meka baru tersadar dan melihat kearah abangnya. Dia menyadari keceplosannya yang memberitahukan secara tak langsung bahwa dia memiliki mata bathin. Dia tak sadar mengatakannya. Papanya Meka teringat akan pesan Almarhum Ayahnya untuk tidak memberitahukan kepada saudara kandung yang lainnya bahwa dia memiliki kelebihan. Karena dia adalah orang pilihan untuk memiliki khodam. Jika saudara lain mengetahuinya, maka akan membahayakan dia dan keluarganya terutama mereka yang nantinya juga menjadi terpilih.
Orang-orang terpilih ini akan menjadi incaran para dukun-dukun sakti yang menginginkan jiwa dan energi mereka untuk kesaktian dukun-dukun itu. Karena dengan menyerap jiwa dan energi orang yang memiliki kelebihan, mereka akan semakin sakti dan tidak mudah dikalahkan. Makamya kelebihan itu harus dirahasiakan.
Dia langsung meralat ucapannya dan mengatakan.
"Aku bermimpi bang dan berjalan sampai didepan pintu. Makanya aku tidak sadar. Saat Abang tepuk pundakku baru aku menyadari bahwa aku tidur sambil berjalan," kilah Papanya Meka. Lalu dia meninggalkan abangnya yang semakin curiga.
Papanya Meka memiliki 3 bersaudara, mereka terdiri dari dua laki-laki dan satu perempuan. Abangnya Papanya Meka tidak memiliki kelebihan itu. Dan adik perempuannya juga. Hanya Papanya Meka yang memilikinya.
Abangnya orang yang sangat berambisi. Dia mau menggunakan orang pintar untuk meningkatkan karirnya. Seperti saat ini, dia menggunakan bantuan dukun sakti untuk membuat karir yang saat ini sedang meningkat.
Papanya Meka berusaha menghindari abangnya, dia takut jika abangnya mengetahui kelebihannya itu. Bisa-bisa dimanfaatkan sama abangnya untuk kepentingannya. Dia kembali duduk diantara dua jenazah istri dan anaknya. Dan dia harus menjauhkan Meka dari keluarganya.
Saat ini yang dipikirannya, Papanya Meka ingin menceritakan semuanya dengan teman laki-laki yang dibawa Meka. Karena dia bisa merasakan ketulusan dari laki-laki itu yang tak lain Zain. Dia berharap Zain bisa menjaganya dari hal-hal yang buruk.
Pagi pun tiba menampakkan kecerahannya. Meka terbangun dari tidurnya. Dia melihat Dosganya tidur disofa. Meka langsung turun dari tempat tidurnya. Dia baru tersadar kalau hari ini akan memandikan jenazah Mama dan adiknya. Meka buru-buru hendak keluar dari kamar, namun Zain menarik tangan Meka.
"Sayang, bersihkan dulu tubuhmu baru kita kebawah," pinta Zain yang langsung bangkit dari sofa.
"Aku ingin melihat Mama dan adikku Zain! Kenapa kamu melarangnya?" protes Meka.
Didepan kamar ternyata Papanya Meka sedang berdiri, lalu dia mengetuk pintu kamar anaknya.
"Tok tok tok, Meka.., kamu sudah bangun nak?" tanya Papanya Meka.
Zain yang mendengar suara laki-laki memanggil. Dia langsung membuka pintu kamar Meka dan melihat ada Papanya Meka.
"Meka lagi bersih-bersih Om. Saya akan menunggu diluar, setelah Meka selesai saya mau bersih-bersih juga."
"Nak Zain, saya mau bicara sama kamu. Bisa ikut Om kekamar?" pinta Papanya Meka.
"Iya Om."
Mereka berdua berjalan kearah kamar Papanya Meka. Zain masuk kedalam mengikuti calon mertuanya.
"Silahkan duduk, nak Zain," suruh camernya.
Didalam kamar orang tua Meka, ada sebuah ruangan khusus untuk tempat bekerja Papanya dan beberapa dokumen penting serta benda peninggalan Almarhum Papanya disembunyikan di dalam ruangan itu.
"Silahkan duduk nak Zain."
Zain pun duduk di kursi yang ada didepan meja kerja camernya.
"Maaf, ada apa ya Om mengajak saya kemari?"
"Ada yang akan saya ceritakan sama kamu Zain. Ini berhubungan dengan Meka. Bisakah saya mempercayaimu dan menitipkan Meka denganmu?" tanya Papanya Meka penuh harap.
"Saya akan menjaga Meka dan melindunginya dalam keadaan apapun Om," ucap Zain penuh ketegasan.
"Baiklah, Om senang mendengarnya. Apakah kamu percaya dengan hal yang ghaib?" tanya Papanya Meka.
"Ya saya percaya Om. Ada apa ya Om?" Zain semakin bingung.
"Zain ini menyangkut Meka."
Lalu Papanya Meka menceritakan sejarah dengan silsilah keturunan keluarga besarnya dari sejak kakek buyut sampai ke cucu-cucunya. Dan dia juga menceritakan tentang khodam yang dimiliki oleh salah satu anggota dari setiap keturunan yang menjadi pilihan. Dan setiap keturunan pasti akan memiliki khodam dan mata bathin.
"Jadi maksud Om, Meka memiliki semua itu?" tanya Zain tak percaya.
"Ya, kamu benar Zain. Meka lah keturunan Om yang mewarisi kelebihan itu. Dan hal itu tidak boleh diketahui keluarga Om. Karena mereka akan mengincar orang-orang seperti itu untuk meningkatkan kesaktian mereka. Dan Meka, lambat laun akan mengetahui bahwa dia memiliki kelebihan itu. Asal dia mau melakukan meditasi selama satu bulan setiap malam Jum'at. Dan dia juga harus menemui Kyai Nasrullah yang bisa membantunya membuat mata bathin Meka sepenuhnya," Papanya Meka menjelaskan semuanya.
"Zain berjanji Om akan menjaga Meka dari hal yang buruk. Dan saya juga meminta sama Om secara langsung untuk menikahi Meka secepatnya agar saya bisa melindungi Meka.
Papanya Meka berpikir sejenak, lalu dia menatap mata Zain mencari kesungguhannya.
"Baiklah, setelah 40 hari kepergian Mamanya Meka, kita akan membicarakannya lagi. Untuk sementara jangan ceritakan ke Meka. Dan usahakan hindari dia dari Om dan Tante. Kamu harus selalu berada disisinya saat dirumah ini," pinta Papanya Meka.
"Baik Om, saya mengerti semuanya. Setelah dari sini, saya akan membicarakannya sama keluarga di Jogja.
Akhirnya obrolan mereka selesai. Dan sekarang Zain mengetahui bahwa Meka calon istrinya memiliki kelebihan yang jarang dimiliki orang lain. Dan dia teringat akan perkataan-perkataan Meka yang kadang tidak masuk akal bagi mereka yang tidak mengetahuinya. Dan sekarang Zain mempercayai semua apa yang pernah disampaikan Meka itulah kenyataannya.
Lalu Zain kembali kekamar Meka, dia membuat kamar Meka dan melihat Meka duduk ditempat tidur sambil menangis.
"Sayang, jangan lah berlarut-larut dalam kesedihan. Kasihan Mama dan adikmu. Aku mandi dulu ya sayang, setelah itu kita bareng-bareng keluar," Zain langsung masuk kedalam kamar mandi.
Meka menunggu Zain sampai selesai dari dalam kamar mandi.