
Zain terus melajukan mobilnya ke Toko kue yang sering di datangi Mamanya. Sesampainya di Toko itu, Zain dan Meka segera masuk. Mereka melihat banyak macam jenis kue yang dijual di dalam etalasenya.
"Mau beli yang mana Mbak?" tanya seorang pelayan.
Meka dikejutkan dengan kehadiran seorang pelayan Toko. Dia pun menoleh ke samping.
"Ah iya Mbak saya lagi nyari kue pesanan mertua saya," jawab Meka tersenyum.
"Oh, kue apa Mbak?" tanya pelayan itu lagi.
Lalu dari belakang, Zain datang menghampiri Meka.
"Sayang, ayo, kue nya udah dapat. Kamu mau beli kue yang mana?" tanya Zain.
Pelayan itu menoleh ke samping dan melihat ketampanan wajah Zain. Dan dia sempat mengerutkan keningnya sambil memicingkan matanya.
"Tuan Zain!" sapa pelayan itu.
"Maaf, anda kenal saya?" tanya Zain yang memang tidak mengenal pelayan Toko itu.
"Iya Tuan, Mama anda sering beli kue disini. Dan saya yang selalu menemaninya. Dan Tuan juga pernah kesini. Mungkin Tuan lupa sama saya," ucap pelayan itu dengan senyum genitnya.
"Maaf, saya tidak kenal," balas Zain dengan kejam.
Pelayan itu merasa malu, karena di cuekin sama Zain, dia pun meninggalkan keduanya sambil mendengkus.
"Siapa sih perempuan itu, kok bisa Tuan Zain tertarik sama dia. Padahal cakepan gw dari dia, nyebelin," gerutu pelayan itu yang berjalan ke bagian dalam kasir.
"Kenapa Lo ngomel-ngomel gitu?" tanya kasir itu.
"Tuh, gw suka sama tuh laki-laki, tapi dia tidak tergoda dengan tubuh gw yang aduhai ini. Dia normal gak sih?" tanya pelayan itu.
"Hahaha, ya normal lah, tuh perempuan di sebelahnya cakep banget. Mungkin itu kekasih atau istrinya," jawab kasir itu.
Mereka terus berdebat tentang status Zain dan Meka.
Sedangkan Meka masih memilih-milih kue yang akan dibelinya. Setelah mengambil beberapa kue, Zain langsung membayarnya ke kasir.
"Ada lagi Tuan?" tanya kasir itu.
"Tidak," jawab Zain acuh tak acuh.
Lalu si kasir menghitung semua kue yang di beli Zain dan Meka. Setelah melakukan pembayaran, Zain dan Meka meninggalkan Toko kue itu.
"Mas, kamu lihat gak tadi sio pelayan Toko itu?" tanya Meka yang tidak suka dengan pelayan tadi.
"Mas tidak begitu memperhatikannya sayang, ada apa?" tanya Zain.
"Dia sepertinya menyukaimu. Lihat saja cara dia memandangmu," jawab Meka cemburu.
"Hahaha, apakah istriku saat ini sedang cemburu?" tanya Zain senyum-senyum.
"Sapa yang cemburu, aku cuma tidak suka melihatnya yang genit terhadapmu," kilah Meka.
"Aku tau kamu sayang, jangan mencoba menutupi wajah juteknya itu yang mengatakan kalau kamu cemburu," balas Zain.
"Ihhhh sok tau kamu Mas."
Mereka pun tertawa sambil menggenggam tangan sepanjang jalan menuju parkiran mobil.
Kemudian, Zain dan Meka masuk ke mobil. Zain membawa mobilnya menuju rumah orang tuanya.
"Mas, Mama di rumah sama siapa ya?" tanya Meka sambil mengunyah kue yang di belinya.
"Mas kurang tau sayang. Karena tadi Mas tidak nanya," jawab Zain.
"Mas nih mau kuenya?" tanya Meka lagi.
Zain menoleh ke kue yang ditawarkan Meka. Dia pun mengangguk menginginkannya.
"Suapin," pinta Zain.
Lalu Meka menyuapinya pelan-pelan. Zain mengunyah kuenya sambil membawa mobil.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup memakan waktu, akhirnya mereka sampai di ruang orang tua Zain.
Mereka di sambut oleh Mamanya Zain. Dia berdiri di depan pintu rumah itu saat mendengar suara mobil memasuki area pekarangan rumahnya.
Meka keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Mama mertuanya.
"Assalamu'alaikum Ma," sapa Meka sambil mencium punggung tangan mertuanya
"Wa'alaikumussalam sayang," sahut Mamanya Zain.
Kemudian Zain pun menyusul dan menyalami Mamanya serta memeluk Mamanya dengan rasa rindunya.
"Anak Mama akhirnya datang juga ke sini," ucap Mamanya yang menyindir secara halus.
"Maaf Ma, Zain belakangan ini banyak kerjaan. Dan Meka juga kuliah," bohong Zain yang tak ingin mengecewakan Mamanya.
"Belum Ma," jawab Zain dan Meka bersamaan.
"Kalau gitu kita sekarang makan dulu ya, Mama sudah masak buat kalian berdua. Pasti kalian suka," ucap Mamanya dengan semangat.
Mamanya Zain membawa mereka ke meja makan. Disana sudah terhidang banyak makanan. Meka merasa tak enak karena harus membuat Mama mertuanya repot.
"Wah Ma, banyak banget masakan Mama? Apa ini semua Mama yang melakukannya?" tanya Zain.
Meka ingin bertanya seperti itu, tapi takut Mama mertuanya tersinggung. Dan ternyata Zain justru yang menanyakan itu. Sepertinya Zain dan Meka sehati, sepemikiran.
"Iya sayang, ini semua Mama yang masak loh," jawab Mamanya percaya diri.
"Ma, aku udah laper. Kita makan yuk. Pengen makan masakan Mama," ajak Meka yang sudah tak sabaran.
"Iya sayang, ayo, ayo kita makan," balas Mama mertuanya.
Zain dan Meka pun duduk mengikuti Mamanya. Lalu mereka mulai mengambil makanan yang dihidangkan. Meka yang tak sabaran, tanpa menunggu lama, dia langsung menikmati makanan itu setelah berdo'a.
"Sayang pelan-pelan makannya. Nanti keselek," ucap Zain mengingatkan Meka.
Mamanya Zain melihat ke arah menantunya, lalu dia beralih menatap anaknya. Dia bisa melihat betapa besar rasa cinta anaknya terhadap wanita yang duduk di hadapannya. Hingga mampu menduakan seorang Ibu.
Mamanya Zain tersenyum bahagia melihat keharmonisan keluarga anaknya. Dia berharap semoga mereka terus rukun sampai akhir hayat.
"Gimana sayang, enak masakan Mama?" tanyanya ke menantunya.
"Mantep Ma, Meka suka banget. Nih buktinya Meka mau tambah lagi, bolehkan Ma?" puji Meka sekaligus bertanya.
"Tentu boleh sayang, ini semua Mama masak untuk kalian. Dan kalian harus menghabiskannya," ucap Mamanya yang merasa senang atas pujian menantunya.
"Dibawa pulang boleh Ma?" tanya Meka bercanda dan tanpa malu.
"Boleh dong, nanti kalau gak habis, kalian boleh membawanya ya," jawab Mamanya dengan senang hati.
Meka merasa senang karena Mamanya menerima kehadirannya di keluarga Zain. Rasa bahagia menyeruak dalam hati Meka. Dia pun mengunyah makanannya sambil tersenyum bahagia.
Setelah makan siang yang nikmat, Mamanya Zain mengajak mereka ngobrol di taman belakang rumah.
"Zain, gimana kerjaan kamu? Kapan kamu menjalankan Perusahaan Papa kamu?" tanya Mamanya.
"Zain belum berminat Ma, Zain masih senang menjadi Dosen yang tidak harus berpikir keras dan mengatur banyak orang," jawab Zain.
"Tapi kan cuma kamu nak harapan kami untuk. bisa menjalankannya. Papa kamu sudah mulai berumur, kalau kamu tak mencobanya, kapan lagi nak," ucap Mamanya Zain berusaha membujuk Zain.
"Nanti Zain pikirkan dulu ya Ma. Tapi untuk saat ini, Zain emang gak ingin bergelut di bisnis Ma," balas Zain tegas.
Zain tak ingin memberi harapan yang diinginkan Mamanya. Dia akan melakukannya, jika memang dia siap menjadi pembisnis.
"Baiklah, Mama gak akan memaksa kamu, tapi Mama harap kamu memikirkannya ya nak," pinta Mamanya dengan harapan besar.
"Iya Ma, nanti Zain akan pikirkan ya," balas Zain.
Meka yang berada di antara suami dan mertuanya, tidak ingin ikut campur dalam obrolan mereka. Dia memilih diam dan hanya mendengar sambil tersenyum kaku.
"Oh ya Ma, besok kami akan pergi liburan berdua," ucap Zain memberitahu.
"Loh kalian mau liburan kemana Zain?" tanya Mamanya.
"Rencananya Zain mau membawa Meka ke Paris Ma. Karena setelah menikah kemaren, Zain belum membawa Meka liburan," balas Zain sambil menoleh ke Meka.
Meka membalasnya dengan senyuman yang menawan.
"Jauh sekali Zain, kenapa tidak di Bali atau dimana gitu," ucap Mamanya yang tidak setuju dengan ucapan anaknya.
"Zain ingin ke Paris Ma. Disana tempatnya menyenangkan untuk honeymoon. Dan Zain ingin menyenangkan Meka ke tempat yang terkenal romantis," balas Zain bersikeras.
"Ya sudah kalau itu kemauan kalian berdua. Mama hanya mengingatkan untuk berhati-hati disana dan jaga Meka disana," nasehat Mamanya.
"Iya Ma, pasti Zain akan selalu menjaga Meka. Gak akan Zain biarkan Meka kenapa-napa," balas Zain.
Setelah lama menghabiskan waktu di rumah itu, Zain dan Meka berpamitan pulang.
"Kami pamit pulang dulu ya Ma, dan salam sama Papa. Zain gak bisa menunggunya karena harus mempersiapkan keperluan buat berangkat besok," ucap Zain.
"Iya sayang, nanti Mama sampaikan sama Papa kamu ya. Hati-hati dijalan. Dan jangan lupa besok khabari Mama kalau berangkat," balas Mamanya.
"Iya Ma."
Zain dan Meka pun menyalami orang tuanya. Lalu mereka pergi meninggalkan rumah itu menuju Apartement.
"Mas, aku suka banget dengan masakan Mama Mas. Enak banget, udah lama gak merasakan masakan dari seorang Ibu," ucap Meka tersenyum.
"Mama emang sangat pinter masak, sayang. Makanya Papa jatuh cinta dan sangat menyayangi Mama," jelas Zain.
"Iya, aku juga bisa melihatnya Mas, kalau Papa, Mas sangat menyayangi Mama," balas Meka.
Mereka ngobrol sepanjang perjalanan menuju Apartement. Hingga akhirnya mereka sampai di Apartement.