
Semua Mahasiswi senyum-senyum melihat Eko yang tampan. Berbeda dengan Mahasiswanya yang menatap Eko biasa saja. Lalu Eko duduk bersama Bu Arin di bangku bersebelahan sama Meka.
"Baiklah, karena semua sudah kumpul dan saya akan mengabsensi teman-teman yang ikut dalam kegiatan ini," ucap salah satu panitia penyelenggaranya yang dibawah bimbingan Bu Arin dan Dosen lainnya.
Lalu Mahasiswa itu mulai mengabsensi satu persatu teman-temannya. Setelah itu Bus pun segera berangkat menuju lokasi.
Eko melihat kearah bangkunya Meka. Dia sempat bersitatapan mata dengan Meka, dan Eko memberika senyumannya terhadap Meka. Lalu Zain menatap kearah Eko dan memberikan tatapan tak sukanya terhadap Eko.
"Eh Pak Zain, gimana khabarnya?" tanya Eko yang kepergok ngelihatin Meka.
"Baik," jawab Zain datar.
"Akhirnya kita bisa bertemu lagi ya Pak. Saya senang bisa mengikuti kegiatan ini," ucap Eko sekedar basa basi.
Zain tidak merespon ucapan Eko. Dia merasa Eko sangat menyukai istrinya. Dan itu bisa menjadi ancaman baginya jika dia lengah.
"Sayang, Mas minta kamu jangan dekat sama dia, Mas gak suka," ucap Zain yang mulai menunjukkan sikap protect terhadap Meka.
"Iya Mas, aku akan nurutin apa kata kamu Mas. Duh suamiku ini ngegemesin kalau lagi cemburuan," bisik Mila
"Mas gak mau kehilangan kamu sayang. Kamu harus terus berada disamping Mas, ya," pinta Zain.
"Iya Mas," balas Meka yang menyenangkan hati Zun
Bus terus melaju santai. Mahasiswa yang berada di dalam Bus sibuk dengan aktivitas mereka sendiri.
Asih memandang Eko dari belakang bangku Eko. Dia juga memperhatikannya dari tadi.
"Kenapa Eko ikut ya? Apa dia punya niat yang tidak baik terhadap Meka? Masa sih hanya karena Bu Arin itu Mbaknya, lantas dia ikut begitu saja. Sepertinya ada sesuatu ini," bathin Asih yang terus melihat Eko.
Sedangkan Dian sibuk mendengarkan musik di ponselnya. Dia mencoba tidak terkecoh dengan keributan teman-temannya yang lain.
Milan pun lebih senang memandang jalanan yang dilewati Bus mereka. Padahal banyak sekali penampakan-penampakan mahluk halus yang mencoba mengganggunya. Namun karena terbiasa, Meka tidak lagi merasa takut. Walaupun terkadang dia masih merasa jijik dengan penglihatan yang menyeramkan.
"Milan berhati-hatilah dengannya, dia menginginkanmu. Aku akan terus menjagamu sebisaku," tiba-tiba Khodamnya menyampaikan sesuatu melalui bathin.
"Wanita itu, kau harus berada disisi suamimu selalu, jangan pernah lengah Meka...," jawab Khodamnya.
Milan menoleh kesamping melihat Zain yang memejamkan matanya sambil menyenderkan kepalanya kebelakang.
"Apa yang akan terjadi ya?" pikir Meka.
Meka menghembuskan nafasnya dengan berat. Dia melirik sekilas kearah Bu Arin dari celah tubuh suaminya.
Akan tetapi, Mila tak memperhatikan mahluk halus yang sedang berbaring di atas nisan itu. Mahluk yang akan membuat mereka meregang nyawa satu persatu
"Eh Bu Arin, selamat datang di Desa kami ini. Saya dan Ini Kepala Desa sinii serta beberapa warga sangat senang atas kehadiran Mahasiswa-mahasiswa yang ingin memberikan penyuluhannya disini. Saya dan warga lainnya berharap Bu Arin dan yang lain bisa menyelesaikan kegiatannya sampai selesai," ucap Ki Baron yang dengan ramah menyambut rombongan.
"Selamat datang Bu Arin dan Pak Robby, Bu Dewi, Pak Anton dan Pak Zain serta anak-anak yang lainnya. Perkenalkan saya Pak Yos selaku Kepala Desa disini dan yang akan bertanggung jawab atas kegiatan nantinya. Jadi untuk segala sesuatu bisa berurusan sama saya," ucap Kepala Desa yang memperkenalkan dirinya.
"Saya mewakili Dosen lainnya sangat berterima kasih atas kebaikan Ki Baron dan Kepala Desa yang memperbolehkan kami melakukan tour kegiatan disini," balas Bu Arin.
"Maaf Bu Arin, sebelumnya saya ingin memberitahukan kepada para rombongan untuk mematuhi aturan di Desa kami. Disini masyarakatnya dilarang keluar malam. Setelah Adzan Maghrib tidak ada yang diperbolehkan keluar rumah. Selain itu jangan menggunakan pakaian berwarna merah, karena merah melambangkan darah. Jadi saya tetua disini meminta mohon kerja samanya agar saling menjaga dan mematuhi aturan yang diberlakukan di Desa tua ini," jelas Ki Baron dengan wajah yang sedikit menyeramkan.
Deon, Isna dan Asih saling berpandangan dengan penuh tanda tanya. Mereka merasakan bulu kuduk mereka meremang seketika. Sedangkan Meka hanya diam dan mendengarkan penjelasan Ki Baron.
"Oh baik Ki. Saya dan yang lainnya akan mematuhi aturan yang dibuat oleh Desa ini," balas Bu Arin.
"Oh ya Pak Yos, kalau boleh tau, dimana kira-kira kami bisa beristirahat?" tanya Bu Arin ke Pak Yos.
"Kalau begitu mari saya antar Bu. Disini, ada rumah warga yang tidak digunakan karena penghuninya pindah ke kota mengadu nasib. Jadi rumahnya di serahkan tanggung jawab terhadap saya," ucap Pak Yos.
Mereka semua berjalan mengikuti Ki Baron dan Pak Yos menuju sebuah rumah besar berlantai dua. Dengan taman yang bagus dan bersih.
Tapi ada yang aneh dengan warga setempat. Mereka tidak ikut mengantar para rombongan ke rumah itu. Beberapa warga memilih kembali ke rumahnya masing-masing. Hanya Ki Baron dan Pak Yos yang mengantar rombongan ke rumah itu.
Meka merasakan keanehan dengan keadaan Desa itu. Dia bisa melihat banyak mahluk ghaib yang berada di samping rumah.
Sejenak Meka terdiam ditempat ketika langkah kakinya menginjak halaman rumah itu, matanya melihat sosok wanita muda cantik bersembunyi disamping rumah besar itu. Tetapi saat Meka berjalan kearah samping, sosok itu langsung menghilang.