
Mereka berdua masih berada didalam kamar menunggu sepupu dan teman-temannya itu pulang dari rumah Meka
"Kamu istirahat saja di sini dulu Zain. Aku mau beres-beres barang-barangku dulu Zain," ucap Meka.
Lalu dia pun membereskan barang-barangnya. Meka membawa bingkai foto dirinya bersama adiknya Biyu.
"Semoga nanti malam, tali pocongmu bisa kembali lagi. Dan kamu bisa merasa tenang," bathin Meka.
Diluar kamar, sepupunya dan teman-temannya sedang asyik ngobrol. Mereka tidak mengetahui pertunjukkan yang tak kasat mata terjadi.
Saat Harimau putih memasuki rumah itu bersama Meka, sosok kuntilanak memandangnya dari kejauhan dengan memperlihatkan taringnya.
Kemarahan dari Harimau putih itu terlihat menakutkan. Dia mengaum kearah kuntilanak itu. Tapi si kuntilanak tidak mengindahkan auman Harimau itu.
"Hihihihi, kau pikir aku takut dengan auman mu!" seru si kuntilanak.
"Kalau kau tidak segera pergi dari rumah ini, aku akan mencabik-cabik tubuhmu yang sudah banyak memakan janin bayi. Enyahlah kau dari rumah ini!" bentak Harimau itu.
Si kuntilanak ketawa-ketawa hingga suaranya bergema diruangan itu, namun yang bisa mendengarnya hanya Harimau putih dan Meka serta Papanya Meka. Tapi mereka tidak mau keluar dari kamar masing-masing. Mereka mengetahui bahwa sedang terjadi sesuatu diluar kamar mereka.
Tanpa peringatan lagi, Harimau itu menerkam kuntilanak itu dan mulai mencabik-cabiknya. Kuntilanak itu tidak menyangka jika Harimau itu bisa berubah menjadi Harimau besar dan menakutkan dengan mata merahnya. Harimau itu tidak memberi ampun kepada kuntilanak itu hingga hilang lenyap dari rumah itu.
Tiba-tiba wajah teman sepupunya Meka berubah menjadi jelek kembali dan tidak memiliki aura memikat. Karena sesuatu yang membuatnya menjadi pemikat sudah lenyap musnah dibuat Harimau itu.
"Loh Din, kenapa wajah Lo?" Kok menghitam seperti itu?" tanya salah satu temannya yang kaget melihat perubahan wajah temannya yang menggunakan susuk.
"Emang kenapa dengan wajah gw?" tanya nya bingung.
"Iya Din, itu wajah Lo menghitam begitu, ih jelek banget Din!" seru teman lainnya.
"Apa maksud mereka ya?" bathin Dinda.
"Ir, gw mau ketoilet Lo bentar," ucap Dinda yang ingin melihat wajahnya.
"Disana, Lo lurus aja berjalan, disebelah dapur itu kamar mandi," jelas Irma.
Lalu temannya yang bernama Dinda itu berlari menuju kamar mandi. Dia masuk kekamar mandi dan melihat wajahnya di cermin. Seketika dia terkejut melihat wajahnya yang mulai menghitam semua. Dia memegang wajahnya dan histeris.
"Kenapa wajahku begini! Ini ada apa? Gak mungkin, aku gak mungkin kembali jelek lagi! Sialan itu dukun membohongiku!!" teriak Dinda ketakutan dan histeris.
Lalu dia keluar dari dalam kamar mandi dan menggunakan masker penutup wajahnya. Dia berjalan cepat meninggalkan teman-temannya tanpa berpamitan. Dia keluar dari rumah Meka dengan wajah yang sudah menghitam akibat susuknya sudah tak berfungsi lagi. Dia melajukan motornya ke rumah dukun yang memakaikannya susuk itu.
Dirumah Meka, teman-temannya bingung melihat perubahan wajah Dinda.
"Ir, kenapa si Dinda? Apa dia sakit ya?" tanya salah satu temannya.
"Iya, gw juga gak ngerti. Aneh sih ya lihat wajahnya," jawab Irma.
"Dia kok lari ketakutan begitu ya? Apa dia alergi sesuatu atau ada hal yang lainnya ya?" tanya temannya yang lain.
"Ya udah deh Ir, kami pulang aja ya. Lagian Lo gak bisa ngenalin kita-kita sama cowok ganteng tadi."
"Iya ngapain juga kami nongkrong disini. Mending di Mall bisa cuci mata ngelihat yang cakep-cakep," sambung yang lainnya.
"Iya yuk pulang, kita lanjut di Mall aja, gw mau belanja-belanja baju nih. Dah gatel nih tangan. Habis dapat jatah dari si Om," celetuk yang lainnya.
Teman-temannya Dinda, mereka terbiasa hidup mewah dengan cara yang tidak baik. Ada yang yang menjadi simpanan Om-Om, ada yang pacaran sama cowok tajir, demi memenuhi kebutuhan mereka.
Akhirnya teman-temannya keluar dari rumah Meka. Dan sepupunya Meka berpamitan sama Papanya Meka. Dia datang ke alamat Papanya Meka dan memanggil-manggil dari luar kamar.
"Tok tok tok Om....aku balik dulu ya!" teriak keponakannya dari luar kamar.
"Yuk jalan, gw juga pengen belanja nih," ucap Irma saat masuk kedalam mobil.
Akhirnya mobil pergi meninggalkan rumah Meka menuju Mall yang terkenal di Kota itu.
Dirumah Meka, saat ini Zain sedang menikmati pemandangan mondar-mandir yang dilakukan Meka. Zain duduk di tempat tidur Meka. Sedangkan Meka membereskan barang-barangnya kedalaman tas ransel besar.
Saat ini dikediaman Meka tidak ada keluarga besar Papanya Meka lagi. Mereka sudah pada kembali kerumah masing-masing. Namun malam nanti mereka akan kembali berkumpul untuk melakukan tahlilan terakhir.
Meka melirik kearah Zain yang sedang memperhatikannya.
"Zain sepertinya diluar sudah tidak terdengar suara rame lagi. Apa mereka sudah perginya?" tanya Meka penasaran.
"Masa sih."
"Aku mau cek dulu diluar. Sepertinya mereka sudah tidak ada diruang tamu lagi," Meka berjalan kearah pintu kamar dan membukanya.
Dia keluar dari kamar dan mengecek ruang tamu. Namun tidak ada seorangpun disana. Meka juga melihat pintu rumahnya tertutup rapat.
"Syukurlah mereka sudah pergi. Datang tak diundang, pergi juga gak pamit," gumam Meka. Meka tidak tau kalau sepupunya tadi sudah berpamitan sama Papanya. Namun Papanya sudah tertidur lelap sehingga tidak mengetahui keponakannya yang berpamitan.
Meka kembali kedalam kamarnya dan melihat kearah Zain.
"Gimana, apa mereka sudah pergi semuanya?" tanya Zain saat melihat Meka membuka pintu kamarnya.
"Ya mereka sudah tidak ada disana. Sepertinya mereka bosan dirumah ini karena keinginan mereka tidak terlaksana," jawab Meka nyantai.
"Apa keinginan mereka?" tanya Zain bingung.
"Ya apa lagi, kalau tidak ingin berkenalan dengan Pak Dosgaku ini," balas Meka tersenyum.
"Ah masa sih sayang?"
"Iya benar loh Pak Dosgaku..!"
"Rumah kenapa sepi banget? Apa mereka sudah pada pulang kerumahnya masing-masing ya?" tanya Zain yang merasa heran melihat keadaan rumah yang sepi.
"Mungkin. Tapi nanti malam mereka akan datang untuk tahlilan terakhir. Sekarang kamu balik gih ke kamar. Biar istirahat juga," Meka mengusir Zain keluar dari kamarnya.
"Iya-iya sayang, aku akan kembali kekamar. Aku juga pengen istirahat. Lagian nanti malam kan ada tahlilan. Kamu juga istirahatlah," suruh Zain. Lalu dia keluar dari kamarnya meninggalkan Meka dan kembali kedalam kamarnya.
Meka yang berada sendirian didalam kamarnya, menatap bingkai foto Biyu dan Mamanya bergantian. Rasa sedih yang dirasakannya kemaren tiba-tiba kembali menyergap relung hatinya. Meka mengingat segala kenangan yang dilaluinya bersama adiknya Biyu. Dan kenangan saat bersama Mamanya waktu di Kota Jogja.
"Meka, bersiap-siaplah untuk kedepannya. Akan ada hal yang membahayakanmu nantinya. Berdo'a mohon perlindungan dari sang Pencipta," ujar Harimau itu yang tiba-tiba muncul dismaping Meka.
Meka sempat terkaget melihat kehadirannya yang tiba-tiba.
"Apa maksudnya?" ucap Meka dalam hatinya.
"Banyak orang yang tidak menyukaimu karena kedekatan kalian berdua. Dia adalah laki-laki yang bisa membuat perempuan ingin memilikinya."
"Maksudnya Dosga ku?"
"Ya, dia. Karena dia memiliki sesuatu yang tak dimiliki orang lain. Yaitu ketampanan yang terpancar dari wajahnya bisa memikat banyak kaum perempuan.
Meka langsung mengalihkan pikirannya ke wajah Zain. Dia membayangkan bentuk wajah Zain yang memang diakuinya sangatlah menarik dan tampan. Meka merasa beruntung bisa memikat sang pujaannya.
Lalu Meka tidak melihat keberadaan sosok Harimau itu lagi. Meka pun membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dan memejamkan matanya hingga terlelap.