
Meka merasa tak yakin melihat Zain ingin ikut bersamanya. Tapi dia tidak bisa menolak keinginan suaminya yang ingin menemaninya.
"Apa Pak Zain benar-benar sudah pulih?" Deon pun ikut bertanya.
Zain menoleh ke arah Deon, dia tersenyum melihat sahabat istrinya yang mengkhawatirkannya.
"Saya sudah membaik. Hanya semalam pusing. Tapi pagi ini sudah bisa bergerak kembali," jawab Dosga mereka.
"Ya sudah, mari aku bantu Mas," Meka memegang lengan suaminya dan Zain sudah berdiri disamping tempat tidurnya.
"Ayo ke depan, kasihan pesanan onlinenya kelamaan nunggu," Zain mengajak Meka keluar dari ruangan itu.
"Iya Mas."
"Na, Deon bentar ya, gw ke depan dulu ngambil pesanan kita."
"Iya Mek, jadi ngerepotin Lo," balas Isna.
"Ah biasa aja kok. Udah ah kasihan tuh si pesanan onlinenya." Meka meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan itu.
Meka keluar bersama Zain menuju depan rumah sakit.
Sedangkan di dalam ruangan, Isna dan Deon saling berpandangan.
"Deon, aku kasihan banget ya lihat Meka. Dia belum diterima dikeluarga Pak Zain," Isna membuka percakapan.
"Iya sayang, kamu benar. Aku juga kasihan melihatnya. Dia sahabat yang sangat baik. Sepertinya kita harus bisa mendukungnya dalam keadaan sulit sekalipun," Deon membenarkan ucapan Isna.
"Aku juga gak nyangka ya Deon dengan sahabat kita Shinta. Yang aku tau dia itu gak pernah menaruh kebencian terhadap Meka. Tapi kok bisa ya hanya karena cinta malah musuhan," Isna menggelengkan kepalanya.
"Dari dulu aku tidak begitu dekat sama dia. Dia sedikit pendiam walaupun dia centil. Dia jarang nimbrung dalam obrolan kita saat kumpul."
"Ya kamu benar Deon. Aku ngeri loh saat Meka mengatakan dia bersekutu dengan iblis. Apalagi menggunakan genduruwo ihhhhh serem banget Deon..!"
"Udah ah jangan cerita tentang itu, aku ngeri kalau bahas gituan sayang," Deon bergidik ngeri mendengar nama genduruwo apalagi di rumah sakit.
"Hehehe, dasar penakut!" ledek Isna sambil tertawa.
"Huuuu kayak kamu gak penakut aja," balas Deon yang gak mau kalah.
"Deon, apa Mama kamu mau dirukiyah nantinya?" tanya Isna seketika teringat Mamanya Deon.
"Aku berharap Mama mau melakukannya. Ini demi kebaikannya sayang."
"Semoga ya Zain, Mama kamu mau keluar dari jeratan iblis itu," harap Isna.
"Iya sayang."
Mereka ngobrol di dalam ruangan itu, tanpa mereka sadari ada sosok mahluk tinggi besar sedang memantau mereka dari luar ruangan itu dengan mata merahnya.
Tapi sesaat kemudian pintu ruangan itu terbuka lebar.
Deon dan Isna membelalakkan matanya menatap pintu yang terbuka itu. Mereka tersentak saat mendengar suara pintu yang dibuka kencang. Namun tidak ada siapa-siapa yang masuk ke dalam ruangan itu.
Deon dan Isna saling menatap penuh horor. Isna mulai merasakan buku kuduknya berdiri. Dan Deon langsung lompat dari tempat tidurnya dan merapat kearah Isna.
"Sayang, kok pintunya terbuka gitu. Tapi gak ada yang masuk," ucap Deon yang sudah berada disamping Isna.
"Deon, kok aku merinding ya, kamu gih turun dan lihat siapa yang membukanya," suruh Isna.
"Gak ah, kamu aja yang lihat. Aku gak mau kesana. Ini gara-gara kamu cerita gituan. Jadi datang kan mahluk bulu itu," ketus Deon yang sudah ketakutan.
"Kok aku sih Deon..., kita berdua tadi kan emang lagi bahas Meka. Mana aku tau kalau dia yang datang," protes Isna.
"Terus gimana dong Na!?"
Tiba-tiba pintu terhempas menutup kembali. Isna dan Deon melompat terkejut mendengar suara pintu itu tertutup kembali.
"Na, Meka kok lama banget ya...., gw takut nih...," Deon sudah ngompol sedikit dicelananya karena ketakutan.
"Eh coba Lo hubungi dia, Na," suruh Deon.
"Tapi ponsel gw gak ada Deon, kan sama Meka."
"Oh ya pakai ponsel gw aja Na, nih tlp Meka sekarang buruan!" Deon menyerahkan ponselnya.
Isna mengambil ponsel Deon dan menghubungi no Meka. Saat Isna menghubungi Meka, pintu ruangan itu terbuka lebar kembali dengan suara yang pelan.
"Krieeeet....," pintu terbuka perlahan.
Deon dan Isna saling berpandangan, mereka deg degan apa yang akan muncul dari pintu terbuka itu. Isna memeluk Deon dengan erat. Dia ketakutan dan tidak berani menatap kearah pintu.
Lalu dari depan pintu, Meka dan Dosga mereka masuk dan melihat kondisi Deon dan Isna yang sedang berpelukan dengan tatapan terpelongo menatap suami istri dihadapan mereka.
"Deon...Isna....apa yang kalian lakukan?!" teriak Meka gak percaya.
Dosga mereka menatap keduanya dengan keheranan.
Isna yang mendengar teriakan Meka langsung melepas pelukan Deon. Dia salah tingkah dipergoki oleh Meka dan Dosga mereka.
"Mek, ini gak seperti yang Lo pikirkan. Kami bisa jelasin kok," Deon berusaha membela diri.
"Iya Mek, kita gak ngelakuin apa-apa kok, percaya deh," Isna mendukung jawaban Deon.
"Terus itu apaan? Kok kalian main pelukan dalam keadaan belum terlalu pulih."
"Mek, gw jelasin ya," ucap Deon seperti kekasih yang kepergok selingkuh.
Meka berjalan masuk bersama Pak Zain. Dan Pak Zain langsung kembali keatas tempat tidurnya. Dan Meka menyiapkan sarapan buat suaminya.
"Nih sarapan buat kalian, makanlah, biar cepat sembuh," Meka menyiapkan sarapan untuk mereka berdua dan menyerahkan soto ayam itu kepada Deon dan Isna.
Deon dan Isna mengambilnya dari tangan Meka.
"Makasih Mek," ucap mereka bersamaan.
Lalu Meka kembali ke suaminya dan mulai menyuapi suaminya. Setelah selesai mengurus Zain, Meka makan sarapannya.
Isna dan Deon juga sudah selesai memakan sarapannya. Kemudian Deon berkata,
"Mek, Lo dah kelar sarapannya?" tanya Deon yang melihat kearah Meka dan Dosganya.
"Udah, sekarang ceritakan apa yang terjadi," Meka menyuruh Deon buat cerita
Deon menatap Isna dan dia mulai bercerita.
"Mek, tadi saat Lo sama Pak Zain keluar dari ruangan ini, kami sedang cerita tentang Lo. Selain itu juga kami menceritakan Shinta yang berbuat jahat kepada Lo. Tepat saat kami bercerita tentang mahluk genduruwo itu, tiba-tiba pintu itu terbuka lebar. Tapi gak ada yang masuk ke dalam ruangan ini. Awalnya kami mengira itu Lo yang buka, ternyata tidak," cerita Deon.
Meka diam sesaat dan mencerna cerita Ghani. Dia melihat kearah suaminya yang juga ikut mendengarkan dengan serius.
"Terus apa yang terjadi?" tanya Meka.
"Gw ya jujur ketakutan, makanya gw lari ke tempat tidur Isna. Kami berdua ketakutan dan bulu kuduk gw sampai berdiri. Terus setelah menunggu lama, pintu itu tertutup sendiri dengan kencang. Siapa coba yang gak ketakutan Mek!" cerita Deon lagi.
"Dan saat itu pintu kembali dibuka tapi dengan perlahan. Gw gak berani melihat siapa yang membukanya, sehingga gw memalingkan wajah kebahu Ghani. Saat pintu terbuka ternyata Lo dan Pak Zain yang masuk. Padahal kami udah ketakutan akan adanya penampakan Mek," sambung Isna.
Meka teringat saat dia berjalan kearah ruangan ini, dia melihat mahluk wanita tadi berjalan merangkak meninggalkan kamar ini.
"Apa mungkin mahluk itu yang tadi datang kesini ya," gumam Meka.
"Siapa Mek yang datang?" tanya Isna dan Deon bersamaan. Karena mereka mendengar gumaman Meka.
"Tadi ada anak kecil yang iseng membuka pintu ini dan waktu kami jalan mendekat, anak itu lari saat melihat kedatangan kami," ucap Meka yang melihat kearah suaminya sambil mengedipkan sebelah matanya memberi kode.
Meka tak mungkin mengatakan bahwa yang datang adalah benar benar mahluk halus. Kalau meka jujur, pasti mereka berdua akan semakin ketakutan. Dan Meka sengaja tidak memberitahukan kebenarannya.