Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 46


Meka merasa kasihan melihat kondisi Tantenya yang sedang hamil harus menemani Omnya dirumah sakit.


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya Tante, Om," pamit Meka.


"Iya Meka, kalian hati-hati dijalan. Salam sama Papa ya Meka. Bilang sama Papa, Om sangat menyesal akan kejadian itu," ucap Omnya yang masih merasa bersalah.


"Sudah Om jangan terus-terusan berkata seperti itu. Kejadian itu sudah berlalu. Meka gak mau, Mama sedih melihat Om yang terus-terusan menyalahkan diri sendiri," balas Meka dengan bijak.


"Iya Meka, Om kamu dari kemaren terus-terusan menyalahkan dirinya. Dia benar-benar kehilangan Mama kamu. Kamu tau kan kalau Om kamu ini sangat dekat sama Mama kamu. Makanya Om mu benar-benar terpukul sekali," sambung Tantenya yang berada disisi suaminya.


"Udah ya Om, jangan sedih lagi. Nanti kalau Om bersedih terus, Meka juga sedih nih....Meka cuma punya Om dan Tante saja yang Meka sayangi," ucap Meka sambil bermanja dengan Omnya.


"Iya nak, Om juga sayang banget sama Meka. Pulanglah sekarang, nanti malam mau tahlilan kan?" tanya Omnya.


"Iya Om, kami pulang dulu ya Om, Tante. Tante jaga kesehatan ya. Lusa Meka kembali ke Jogja. Sebelum kembali, Meka mau bertemu Om dan Tante dulu," ucap Meka.


"Iya nak, nanti Tantemu akan memberi khabar. Om juga sepertinya kembali kerumah besok. Nanti Om pasti menghubungi Meka ya," balas Omnya.


Lalu mereka berdua menyalami tangan Om dan Tantenya. Kemudian Meka dan Zain keluar dari kamar yang ditempati Omnya.


Mereka berjalan menuju kelantai bawah. Kemudian mereka sampai di tempat parkiran.


"Ayo Zain kita kembali, aku khawatir sama Papa. Gak tau kenapa perasaanku gak enak Zain. Aku seperti akan ada yang hilang," ucap Meka yang mengajak Dosganya pulang. Mereka naik keatas motor dan meninggalkan rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, Meka hanya diam saja, dia gak habis pikir dengan apa yang dialaminya sekarang. Begitu banyak hal yang harus dihadapinya.


Zain juga fokus dengan membawa motornya. Dia membiarkan Meka untuk larut dalam pikirannya. Saat ini yang dipikirkan Zain, bagaimana cara dia menyampaikan niatnya untuk menikahi Meka tahun depan terhadap orang tuanya. Karena orang tuanya sudah memilih jodoh untuknya.


Perjalanan yang ditempuh tidak terlalu jauh dan jalanan juga tidak macet. Mungkin karena siang menjelang sore. Jadi jalanan masih sepi. Mereka pun sampai dirumah Meka. Zain memarkirkan motor Meka di bagasinya.


Meka menunggu Zain memasuki motor dalam bagasi. Setelah itu mereka masuk kedalam rumah bersamaan. Meka melihat Om dan Tante serta para sepupunya sedang berkumpul diruang tengah.


"Itu dia, Meka datang!" seru sepupunya saat melihat kedatangan Meka.


"Meka.., kamu dari mana nak?" tanya adik Papanya yaitu Tante Irma.


"Meka tadi ada perlu Tante diluar sana," jawab Meka tersenyum.


"Meka, sini nak gabung sama yang lainnya," ajak Omnya.


Zain meninggalkan Meka gabung dengan keluarganya. Sedangkan dia kembali kekamarnya untuk menghubungi Papanya.


Meka berjalan kearah kumpulnya keluarga. Para sepupunya menatap Meka dengan tatapan berbeda. Ada yang menatap Meka dengan tidak suka, ada juga yang menatap Meka dengan rasa iba dan kasihan. Namun ada juga yang tidak berduli dengan kesedihan Meka.


"Kamu dari mana sayang? Tadi Om kamu nyariin kamu. Papa kamu tuh dari tadi tidak mau keluar kamar untuk makan. Kamu kesulitan untuk mengajaknya makan," ucap Tantenya yang bernama Irma, saat Meka sudah duduk disebelahnya.


"Apa! Papa belom makan dari tadi Tante..!" Meka langsung berdiri meninggalkan mereka dan lari kearah kamar Papanya.


"Tok tok tok, Papa, papa...! Ini Meka...buka pintunya Pa!" panggil Meka dari luar kamar. Meka menunggu sampai pintu kamar terbuka.


Kemudian tanpa menunggu lama, pintu kamar terbuka lebar dan memperlihatkan sosok yang sedikit pucat.


"Papa kenapa gak mau makan?" tanya Meka khawatir.


"Kamu sudah pulang sayang?" tanya Papanya yang merasa senang saat melihat Meka dihadapannya.


"Iya Pa, Meka udah pulang. Papa kenapa gak makan sih! Meka gak mau Papa sakit loh!" ucap Meka marah.


"Tidak ada yang mengajak Papa makan, Meka..! Saat Papa keluar kamar, mereka tidak ada dirumah. Dan makanan pun tidak ada dimeja makan. Papa pikir, mereka pada keluar mengerjakan aktivitas masing-masing," ucap Papanya memberitahu.


"Loh tadi kata Tante, Papa yang gak mau makan dipanggil-panggil. Ini kok jadi membingungkan?" pikir Meka.


"Mereka semua jahat Meka...hati hati, menjauhlah dari mereka," terdengar bisikkan peringatan dari sosok yang tak terlihat.


"Sekarang Papa makan dulu ya, biar Meka buatin soup untuk Papa. Papa tunggu sebentar ya.., gak lama kok," ucap Meka yang menyembunyikan sesuatu.


"Iya nak, Papa juga sudah laper banget," jawab Papanya.


Lalu Meka meninggalkan Papanya dan berjalan menuju dapur. Disana dia mulai memasak. Hingga salah satu sepupunya laki-laki datang menghampiri Meka.


"Mau masak apa Mek?" tanya nya tiba-tiba saat mengambil air minum.


"Eh kamu Radit, nih buat soup untuk Papa. Katanya udah laper banget," jawab Meka sambil meracik bumbu untuk soup.


"Aku cuma buat khusus Papa aja. Kalau buat kamu, suruh yang lain aja," ketus Meka. Meka tidak suka melihat sepupunya itu karena dia terkenal sebagai laki-laki yang menyebalkan dikeluarga.


"Jangan galak-galak Meka. Nanti cepat tua loh..., kalau udha tua, mana ada yang mau, termasuk tuh cowok yang sama kamu," celetuk sepupunya dengan ketus.


"Udah pergi sana, aku mau fokus buat masak," Meka mengusir sepupunya yang mengganggu nya memasak.


"Iya-iya." Lalu sepupunya itu pergi meninggalkan Meka yang serius memasak.


Tak berapa lama, Tantenya yang bernama Irma datang menghampirinya.


"Loh Meka mau masak apa nak?" tanyanya basa basi.


"Masak soup Tante buat Papa. Karena blom makan dari tadi, jadi Papa udah kelaparan katanya," jawab Meka.


"Tuh kan kelaparan. Padahal tadi siang sudah dipanggil-panggil tapi gak ada sahutan," balas Tantenya.


"Sini biar Tante bantu, biar cepat. Nanti kasihan Papa kamu nungguin lama masakannya," ucap Tantenya.


"Iya Tante," balas Meka.


Lalu mereka membuat soup ayam dan pergedel untuk Papanya Meka. Sedangkan dikamar, Zain mencoba menghubungi Papanya. Tapi gak diangkat sampai beberapa kali panggilan.


"Kemana sih Papa, tumbenan gak ngangkat," gumam Zain saat didalam kamar.


Saat Zain hendak masuk kedalam kamar mandi, ponsel Zain berbunyi. Zain buru-buru mengambil ponselnya dan melihat nama Papanya dilayar ponselnya.


"Hallo, Assalamu'alaikum Pa!" sahut Zain.


"Wa'alaikumussalam Zain. Kamu ini gimana sih! Papa kan sudah nyuruh kamu pulang. Kenapa belom kembali juga?" tanya Papanya marah.


"Iya Pa, Zain minta maaf gak bisa kembali saat ini juga. Mungkin lusa Zain akan kembali," balas Zain.


"Kenapa harus lusa Zain! Papa sudah janji sama teman Papa akan mengenalkan kamu sama anak gadisnya," Papanya Zain emosi.


"Maaf Pa, tapi Zain benar-benar tidak bisa meninggalkan nya saat ini juga. Nanti setelah diJogja pasti Zain akan memberitahukannya sama Papa," ucap Zain.


"Baiklah Papa akan menunggumu disini, Papa harap kamu akan menjelaskan semuanya," pinta Papanya.


"Iya Pa."


Lalu tlp pun ditutup. Saat ini Zain merasa lega karena Papanya sehat-sehat aja. Dan mau menerima keputusannya sekarang. Zain kembali masuk kedalam kamar mandi untuk bersih-bersih.


Kembali ke Meka, dia sedang sibuk menyiapkan makanan untuk Papanya.


"Akhirnya selesai juga Tan, sini biar Meka bawa ke kamar Papa aja Tante," ucap Meka.


"Ya sudah, mungkin kalau sama kamu, Papamu mau makan. Bawalah kekamarnya," suruh Tantenya.


Lalu Meka membawa soup dan nasi ke dalam kamar Papanya.


"Pa.., nih Meka!" panggil Meka dari luar.


Pintu kamar terbuka dan Papanya menyuruh Meka masuk.


"Masuk sayang, Papa sudah lapar sekali nak. Mana si Zain?" tanya Papanya saat tak melihat keberadaan Zain.


"Dia kembali ke kamarnya Pa, karena mau bersih-bersih dulu. Biarlah dia istirahat dulu Pa," ucap Meka sambil meletakkan makanannya diatas meja.


"Ini masakan kamu sayang?" tanya Papanya saat melihat makanan yang lezat.


"Iya Pa, tapi tadi Tante Irma membantu Meka kok masak di dapur," balas Meka.


Lalu Papanya mencoba masakan anaknya. Dan sesaat dia tertegun, saat lidahnya merasakan masakan anaknya.


"Ini seperti masakan almarhum Mama kamu sayang," ucap Papanya dengan meneteskan air matanya.


"Pa...Meka memeluk Papanya dan menangis dibagi Papanya.


"Kamu mirip seperti Mama kamu sayang," Papanya mengusap rambut anaknya dengan lembut.


"Meka kangen sama Mama dan Biyu Pa!" ucap Meka dengan meneteskan air matanya.