
"Jangan pikirkan itu. Ingat, kamu lagi hamil sayang. Mas gak mau kamu terlalu banyak berinteraksi dengan mahluk ghaib. Jaga kandunganmu ya," mohon Zain agar Meka mengerti apa yang menjadi kekhawatiran Zain.
Meka pun menunduk dan mengangguk pelan. Dia tidak bisa membantah ucapan suaminya. Walaupun dalam hatinya Meka sangat penasaran. Jiwa keperduliannya masih menariknya untuk mencari tau tentang mahluk bayangan merah itu. Tapi Zain sebagai suaminya yang tak mengizinkannya untuk berinteraksi dengan mahluk ghaib, membuatnya mengurungkan niatnya.
Zain dan Meka berjalan sampai ke lobby, dimana banyak tamu yang ingin melakukan ceking. Meka duduk di salah satu sofa panjang yang kosong.
"Mas kita duduk di sini aja ya," pintanya.
Zain pun menyetujuinya dan langsung duduk di samping Meka. Mereka berdua menunggu kedatangan Papanya Meka dan keluarganya.
Ketika Meka menunggu kedatangan keluarganya di lobby, matanya lagi-lagi menangkap sosok bayangan merah berjalan bebas keluar dari lift. Lalu tiba-tiba mata bayangan merah itu menangkap sorotan mata Meka. Hingga keduanya saling bersitatapan. Meka pun menjadi gugup dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Reseptionist.
"Ya Allah...., apakah dia tau kalau aku melihatnya? Tolong jauhkan hambamu dari pandangan buruk ya Allah," bathin Meka yang terus berdegup kencang.
Tangan Meka pun terasa dingin dan basah, dia langsung memegang lengan Zain dengan gugup.
"Ada apa sayang?" tanya Zain dengan suara pelannya. Zain mengerti perubahan sikap Meka dengan memegang lengannya. Akan tetapi dia tidak ingin istrinya berhubungan dengan hal ghaib saat kehamilannya. Tapi itu tidak mungkin di hindari Meka.
"Mas, aku melihatnya," ucap Meka yang merebahkan kepalanya ke bahu Zain demi menghindari tatapan bayangan merah itu.
"Sudah, sebentar lagi Papa dan yang lainnya datang. Sabar ya sayang," ucap Zain sambil mengusap lembut kepala Meka.
Meka tidak mengetahui jika bayangan merah dengan sorot mata menyalang itu telah meleset di hadapan Meka dan dia langsung mencengkeram leher Meka.
Meka terkejut dan berteriak histeris "Akkkkkkkkkkkh," Meka kesakitan karena cengkraman kuku tajam mahluk itu menancap di lehernya.
"M--mas, a--kkh....," suara Meka tertahan karena cengkraman yang kuat.
Khodamnya Meka terlambat datang, tapi dia langsung muncul begitu merasakan kesakitan yang di alami Meka. Begitu melihat cengkraman tangan mahluk itu menancap di leher Meka, Khodamnya langsung menarik paksa lengan mahluk yang berbentuk bayangan itu sehingga mahluk itu kepanasan karena genggaman Khodam Meka yang seperti api membara.
"Jangan ganggu dia! Kalau tidak aku akan memusnahkanmu!" bentak Khodamnya Meka dengan garang.
"Aakuuu laapaarrr, diiiaaaa haaaruuum. Diiaa maakaannaankuuu!" bantah mahluk bayangan itu dengan tatapan nyalangnya.
"Kau masih berani menginginkannya! Kalau begitu terima kesakitan dariku! Hiaaaaaaa," Khodamnya Meka mengeluarkan cahaya berwarna biru yang tentu saja hanya mereka yang memiliki kelebihan yang bisa melihatnya.
Khodamnya Meka mengarahkan cahaya itu ke arah mahluk bayangan merah itu dan membakar tubuhnya hingga menjadi asap pekat dan menghilang.
Sementara Meka terbatuk-batuk ketika cengkraman itu terlepas.
"Uhuk uhuk uhuk, s--sakit Mas," ucap Meka sambil memegang lehernya yang memerah. Namun Zain tidak bisa melihatnya.
Pada saat itu Papanya Meka muncul dan melihat Meka yang kesakitan. Sejak di dalam kamar, Papanya sudah merasakan firasat yang tidak baik terhadap Meka. Sehingga dia buru-buru turun ke lantai bawah. Ternyata apa yang di khawatirkannya, itu menjadi nyata. Meka kesakitan dan lehernya terlihat memerah.
"Sayang, kamu kenapa nak....?" tanya Papanya Meka yang bisa melihat bekas cengkraman kuku tajam milik mahluk tadi. "Astaghfirullahal'adzim nak, apa ini?!" pekiknya terkejut.
"Papa!" ucap Meka tertahan.
"Apa yang terjadi dengannya Zain?" tanya Papanya Meka dengan panik.
"Zain tidak mengetahuinya karena Zain tidak bisa melihatnya Pa. Meka kesakitan di lehernya, Zain tidak bisa melihatnya Pa," jawab Zain yang merasa bersalah karena tidak bisa melindungi istrinya.
Lalu Khodamnya Meka muncul di hadapan Papa dan Meka. Dia menghampiri Meka dan memegang leher Meka lalu mengusapnya sehingga bekas cengkraman tadi sekejap hilang.
"Apa yang terjadi tadi?" tanya Papanya dengan Khodamnya Meka.