Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 43


Zain hanya mendengar omelan Meka, kemudian dia berkata.


"Sayang, nanti habis tahlilan dirumah ini, kita kembali ke Jogja ya. Karena menurutku kamu tidak aman kalau lama-lama disini," ucap Zain yang menatap Meka lekat.


"Tapi, aku masih ingin bersama dengan Papaku Zain disini. Mana mungkin aku meninggalkannya sendirian disini," protes Meka.


"ku rasa, Papa kamu juga menginginkan hal yang sama denganku, demi keamanan kamu."


"Nanti aku pikirkan lagi Zain. Ya udah sekarang kamu kembali kekamarmu. Aku mau istirahat Zain," Meka mengusir Zain karena dia lagi gak ingin membahas masalah itu.


"Baiklah sayang, aku akan kembali kekamarku.Tapi ingat, kunci pintu kamarmu. Dan jangan buka kalau bukan aku dan Papa kamu, mengerti Mek?" tanya Zain serius.


"Kenapa seperti itu Zain?" tanya Meka yang ngeyelan.


"Ikutin aja apa kataku Mek! Ini juga Papa kamu yang minta agar aku yang menyampaikannya."


"Baiklah," balas Meka.


Lalu Zain meninggalkan Meka didalam kamarnya. Setelah keluar dari kamar Meka, sayup-sayup dia mendengar orang berbicara. Tapi makhluknya gak kelihatan.Zain langsung mempercepat langkahnya masuk kedalam kamar. Seketika bulu kuduknya berdiri. Zain langsung naik keatas tempat tidur dan mulai memejamkan matanya.


Malam semakin larut. Terdengar suara longlonga. anjing disekitar ruang Meka.


Tidak ada yang mendengar suara itu, hanya Meka saja yang mendengar karena saat ini Meka sedang tidak bisa tidur. Lalu dia menatap kearah pintu kamarnya. Dari bawah dia melihat seperti ada seseorang yang sedang berdiri didepan pintunya. Meka penasaran dan dia ingin keluar melihat siapa yang ada didepan pintu. Saat hendak melangkah keluar, Meka mendengar bisikan.


"Jangan..! Diamlah disini. Jangan buka...!" begitulah bisikan yang tak tampak makhluknya.


Meka berhenti dan melihat ke sekeliling, dan tidak ada yang muncul. Dia bingung bercampur penasaran dengan sosok yang didepan pintu.


Meka tidak tau siapa yang berada didepan pintunya. Orang yang ada didepan sana tak lain adalah Omnya, abang dari Papanya. Dia baru saja selesai mengambil tali pocong milik adiknya Biyu untuk diberikan ke dukun sakti Omnya. Omnya mengira, bahwa yang memiliki khodam keturunan itu adalah Biyu. Sehingga dia mengambilnya untuk membuatnya semakin kaya raya dan hidup mewah selamanya.


Saat sudah selesai mengambil tali itu, Omnya kembali kerumah dan melewati kamar Meka. Dia berhenti sesaat dan melihat kearah pintu kamarnya Meka. Lalu dia bergegas kembali ke kamarnya karena istrinya sudah menantinya didalam kamar. Istrinya juga mengetahui aktifitas suaminya malam itu. Dan segala perbuatan suaminya didukung sama istrinya demi hidup mewah.


Kembali dengan Meka yang berada didalam kamarnya. Setelah beberapa menit, Meka mondar-mandir didalam kamarnya. Dia merasa gelisah, gak tenang. Dia merasa ada sesuatu hal yang sedang terjadi. Lalu Meka melihat jam dindingnya sudah menunjukkan pukul 01.30. Menandakan sudah tengah malam mau menuju pagi.


Meka kembali keatas tempat tidurnya dan melihat sudah tidak ada lagi terdengar langkah didepan pintunya. Dia mencoba memejamkan matanya. Dan akhirnya dia bisa tertidur dengan lelap. Namun didalam tidurnya, Meka bermimpi aneh.


"Kakaaaaak, tolong aku! Tolong...!" Meka mendengar suara teriakan anak kecil. Tapi Meka tak melihat adanya seseorang yang berteriak.


"Siapa kamu?" tanya Meka.


"Kakaaaaaak, aku Biyu! Tolongin aku!! Dia mengambilnya! Kembalikan!" ucap suara yang tak terlihat sosoknya.


Meka berlari-lari tak tentu arah. Dia hanya berputar-putar disekitar rumahnya mencari orang yang minta tolong. Lalu dia dikagetkan dengan penampakan seseorang yang sedang menggali sesuatu.


" Siapa itu? Apa yang dilakukannya?" Meka mencoba mendekat, namun ada sebuah tangan yang menariknya.


"Jangan kesana, bahaya. Dia akan mengetahui siapa kamu. Kembali lah keasalmu!" ucap sosok yang tak terlihat.


Lalu Meka berteriak dan kembali. Dia terduduk diatas tempat tidur. Tubuhnya berkeringat karena ketakutan. Lalu dia melihat jam, ternyata sudah jam 04.00 pagi.


"Hahhh, masih jam segitu. Aku masih ngantuk," Meka melanjutkan tidurnya sampai pagi.


Pagi yang cerah namun tak membuat orang yang berada didalam rumah ceria seperti dulu. Papanya Meka sudah bangun, namun dia enggan untuk keluar kamar. Dia masih bersedih atas kepergian istrinya yang meninggalkannya.


Hingga suara ketukan di pintu menyadarkannya dari lamunan menatap foto istri dan anaknya.


"Dek! Sarapan dulu yuk. Udah dimasakin sama si mbok," ucap Abangnya dari luar kamar.


"Iya bang, duluan saja. Nanti aku akan menyusul," jawab Papanya Meka dari dalam kamar.


"Jangan lama-lama dek, nanti kamu sakit kalau tidak makan," Abangnya mengingatkannya untuk menjaga kesehatannya.


Lalu Abangnya pergi dari kamar adiknya. Sedangkan Papanya Meka, keluar dari dalam kamarnya. Namun dia tidak langsung menuju meja makan. Dia berhenti didepan pintu kamar anaknya.


"Meka...! Bangun sayang! Ayo kita sarapan dulu!" panggil Papanya yang mengajak Meka sarapan.


"Iya Pa, nanti aja. Meka masih sangat mengantuk nih Pa!" jawab Meka dari dalam kamar dengan posisi diatas tempat tidur.


"Ya sudah, Papa kekamarnya Zain dulu. Mau ngajak dia sarapan."


Lalu Papanya Meka berjalan kearah kamar Zain dan mengetuk pintu kamarnya Zain.


"Tok tok tok. Nak Zain! Ayo sarapan dulu!" ajak Papanya Meka.


Zain yang ternyata sudah bangun dari subuh tadi, menjawab panggilan Papanya Meka dari luar.


"Iya Om, saya akan menyusul," sahut Zain dari dalam kamarnya.


"Kita bareng aja nak Zain!"


Zain pun merasa tak enak karena Papanya Meka mau menunggunya didepan pintu kamarnya. Akhirnya dia keluar dari dalam kamar dan melihat wajah Papanya Meka yang kelihatan kurang tidur.


"Ayo Om, kita sarapan," ajak Zain.


"Ayo nak Zain," balas Papanya Meka.


"Meka mana Om? Apa masih tidur ya?" tanya Zain sambil berjalan bersama Papanya Meka.


"Tadi Om sudah bangunin, tapi dia lagi males bangun. Katanya masih sangat mengantuk," jawab Papanya Meka.


"Oh, nanti biar Zain yang membawakan makanan kekamarnya ya Om!" Zain meminta izin untuk mengurus anaknya.


"Baiklah, terserah nak Zain mana baiknya aja ya," balas Papanya Meka.


Mereka berdua berjalan kearah meja makan, dimana sudah berkumpul beberapa saudara yang memang menginap di rumah Meka.


Saudara-saudara Meka, menatap Zain dengan beraneka ragam pikiran.


"Ganteng banget pacar si Meka. Pinter juga dia milih pacar," bathin sepupu perempuannya.


"Cakep ya nih anak, pengen aku jodohin sama si Zahra. Sapa tau dia tertarik. Secara Zahra kan cantik tidak seperti Meka," bathin Tantenya adik dari Papanya yang memiliki anak perempuan juga.


Semua yang berada disana merasa terpesona melihat ketampanan Zain di pagi hari.


"Ayo nak Zain silahkan ambil tempat duduknya. Jangan sungkan ya," ucap Papanya Meka yang mempersilahkan Zain untuk duduk.


"Iya Om," balas Zain tersenyum manis.


Lalu dari belakang muncul Meka dengan santainya berjalan. Dia masih menggunakan pakaian tidur dengan gambar Tom and Jerry. Zain senyum-senyum melihat kecuekan Meka dihadapan saudara-saudaranya.


"Meka kenapa gak mandi dulu nak," suruh Papanya.


"Ntar aja Pa, Meka sudah laper banget," jawab Meka cuek.


Tanpa menunggu, Meka langsung mengambil makanan sarapannya. Dia pun mulai mengunyahnya tanpa memperdulikan sekitarnya. Saudara yang melihat tingkah Meka hanya menggeleng saja. Bagi mereka, Meka anak yang sangat cuek dengan penampilan didepan keluarganya.


Zain pun ikut menikmati sarapan paginya bersama keluarga besar Meka. Mereka ada yang curi-curi pandang terhadap Zain.


Zain yang mengetahui dilirik seperti itu, biasa saja. Dia tidak menghiraukan lirikan sepupu Meka.