Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 69


Meka merasa kasihan melihat Deon yang dilanda kesedihan.


"Meka, sepertinya eike harus berubah jadi cowok yang normal. Eike ingin mencoba hidup biasa aja. Tapi eike gak punya uang yang cukup. Nih aja dibantu sama Isna," Deon menoleh kearah Isna.


"Jadi Lo benar-benar sudah keluar dari rumah itu?" tanya Meka menyelidik.


"Heum, sekarang eike tinggal dikost-kostan Isna yang campur."


Meka menatap Isna dan kembali menatap kearah Deon.


Lalu mata Meka tak sengaja melihat penampakan nenek-nenek tua sedang memandangnya dengan tajam. Nenek itu berada tak jauh dibelakang Deon.


"Deon sebaiknya Lo pergi ke Ustadz deh. Kayaknya tuh Nyai emang menginginkan Lo," ucap Meka yang masih menatap tajam nenek itu.


"Serius yei Mek...!" seru Deon yang mulai ketakutan.


"Mek, Lo lihatin apa sih barusan," celetuk Isna.


"Ah, enggak. Gw cuma lihat Shinta kok sinis banget lihatin gw tadi!" bohong Meka.


"Hahh, dia udah berubah Mek. Sepertinya dia tertarik sama Dosga kita deh. Karena gw ngelihat dia sering datang keruangan Dosga. Tapi yang gw dengar, tuh Dosga beberapa hari ini tidak masuk," jelas Isna.


"Meka, Lo ada hubungan ya beib sama tuh Dosga?" tanya Deon serius.


"Iya Mek, Lo jujur deh sama kita berdua. Lo punya hubungan sama Dosga kita" Isna ikut mengulang pertanyaan Deon.


"Apakah kalian akan menyimpan rahasia ini? Dan tidak boleh ada orang lain yang mengetahuinya termasuk Shinta," tunjuk Meka dengan dagunya.


Isna dan Deon saling bertatapan. Lalu mereka mengangguk secara bersamaan.


"Ceritanya panjang, yang pasti gw dan Dosga sudah menjadi suami istri sekarang," ungkap Meka.


Tentu saja ungkapan Meka itu membuat kedua sahabatnya terkejut dan mengerjapka mata berulang kali sambil menutup mulut masing-masing.


"Serius Lo beib....!" bisik Deon agar tak ada yang mendengarnya.


"Serius," jawab Meka tegas.


"Wah....gila Lo ya Mek, gak bilang-bilang ke kita. Gak ngundang-ngundang lagi, parah Lo jadi sahabat," ketus Isna yang gak suka dengan sikap Meka.


"Hussst jangan berisik Napa Na. Gw kan dah bilang, ceritanya panjang. Waktunya juga gak cukup kalau kalian berdua ngedengerinnya," kesal Meka melihat sahabatnya itu.


"Terus kapan Lo mau jelasin ke kita?" tanya Isna.


"Ya udah sekarang pulang kuliah kita ke Apartement gw. Disana gw akan ceritakan semuanya, gimana?" tanya Meka terhadap dua sahabatnya itu.


"Mm.., ok gw setuju. Pulang kuliah kita kesana," balas Isna.


"Eike juga setuju beib. Eike penasaran dengar cerita yei," sambung Deon.


Tiba-tiba Dosen masuk ke dalam kelas mereka. Dan yang masuk ke kelas mereka ternyata Bu Arin.


"Kenapa dia yang masuk. Kemana Pak Imran Dosen yang seharusnya mengajar kami?" bathin Meka mengernyitkan keningnya dan menatap Bu Arin dengan curiga.


"Selamat pagi semuanya!" sapa Bu Arin.


"Pagi Bu....!"


"Saya masuk ke kelas ini karena menggantikan Pak Imran yang sedang terlambat karena ada keperluan mendadak. Jadi mari kita mulai pelajaran sekarang," ucap Bu Arin namun matanya menatap ke arah Meka.


Deon dan Isna menyadari tatapan Bu Arin ke arah Meka. Isna memberi kode terhadap Ghani untuk melihat tatapan Bu Arin.


"Hust tuh," tunjuk Isna menggunakan dagunya.


Deon pun menoleh ke arah Bu Arin. Dia bingung, kenapa Bu Arin serius banget melihat Meka. Tatapannya seperti sangat membenci Meka. Lalu Deon beralih menoleh ke Meka sahabatnya. Meka terlihat santai dan tidak memperdulikan pandangan Bu Arin terhadapnya.


"Meka, kemari kamu!" perintah Bu Arin.


Meka kaget karena namanya disebut dan disuruh ke depan.


"Iya Bu." Meka berjalan kearah Bu Arin dan berdiri dihadapannya.


"Ada apa ya Bu?" tanya Meka.


"Maaf Bu, saya tidak sempat izin karena mendadak harus kembali ke Medan," balas Meka dengan menatap tajam Bu Arin lalu melirik kebelakang Bu Arin menatap wanita tua.


Wanita tua itu menatap tajam dengan mata merahnya dan menyeringai memamerkan gigi hitamnya.


"Kenapa Bu Arin diikuti sama wanita tua itu? Apa Bu Arin di guna-guna atau mau mengguna-guna orang lain? Apa dia yang dimaksudnya. Berhati-hati dengan Bu Arin?" bathin Meka bergejolak dengan apa yang dilihat dan didengarnya.


"Ada urusan apa kamu ke Medan?" tanya Bu Arin yang penasaran. Bu Arin ingin mengetahui kemana Meka dan Dosga Zain. Apakah mereka pergi bersama atau tidak, semua masih menjadi pertanyaan dibenak Bu Arin.


"Saya mengalami musibah kemalangan Bu, dan mengharuskan saya untuk tinggal beberapa hari di Medan," jawab Meka tegas.


"Siapa yang meninggal?" tanya Bu Arin yang sedikit lunak.


"Orang tua saya Bu," jawab Meka lagi.


"Innalillahi wainnailaihi raji'un, maaf saya tidak bermaksud kasar. Seharusnya kamu mengabari teman kamu untuk tidak bisa masuk beberapa hari ke depan. Lain kali harus ada infonya."


" Baik Bu, say minta maaf."


"Silahkan kembali," suruh Bu Arin.


Lalu Meka kembali ke tempat duduknya. Lagi-lagi dia melihat nenek-nenek tua di dekat Ghani menyeringai memandangnya. Lalu Meka mencoba berkata dalam hatinya.


"Jangan ganggu sahabatku, kalau tidak kamu akan saya musnahkan!" bathin Meka berbicara sambil menatap nenek tua itu.


"Jangan ikutan campur anak ingusan. Dia milikku dan akan aku ambil tumbalku yang terakhir dari keluarga itu. Aku akan menjadikannya tumbal untuk melampiaskan hasratnya hingga dia mati!" ternyata nenek tua itu bisa mendengar suara hati Meka.


Meka sedikit terkejut dengan kemampuannya yang bisa berbicara melalui bathin dengan mahluk halus.


"Saya tidak akan membiarkanmu melakukannya terhadap sahabat saya. Kalau itu terjadi, kamu akan saya musnahkan!" tekan Meka.


"Hahahahaha, kamu tidak akan bisa!" teriak nenek tua itu sambil tertawa kencang. Dan hanya Meka yang bisa mendengar tawanya.


Nenek tua itu tidak mengetahui bahwa Meka memiliki liontin yang memiliki energi kuat yang bisa digunakannya untuk menghancurkan semua mahluk ghaib jika melukainya. Dan nenek tua itu juga tidak mengetahui Khodam leluhur yang menjaga Meka. Karena Khodam itu jarang menampakkan wujudnya.


Lalu Meka kembali fokus mengikuti pelajaran Bu Arin. Sesekali dia melirik ke arah Shinta. Dia merasa janggal saat melihat Shinta. Seperti ada sesuatu yang dimilikinya.


Pembelajaran pun akhirnya selesai. Meka merapikan buku dan tasnya. Meka melihat Bu Arin keluar dan diikuti dengan wanita tua itu.


Deon dan Isna menghampiri Meka. Mereka duduk disamping dan hadapan Meka.


"Beib, eike mau nanya nih. Karena dari kemaren eike penasaran dengan kejadian yang membuat kita terpecah?" tanya Deon.


"Tentang apa De?" tanya Meka balik.


"Kenapa yei bisa mengatakan kalau Bokap eike sudah meninggal beib. Padahal eike aja taunya masih hidup dan berada diluar kota. Jangan-jangan yei punya mata bathin ya beib?" tanya Deon yang penasaran.


"Hussst, bibir nya dikondisikan. Jangan Ampe anak-anak denger apa yang Lo sampaikan De!" protes Meka.


"Jadi benar Mek, Lo punya mata bathin" lanjut Isna dengan suara pelannya.


Meka menatap kedua sahabatnya bergantian. Dia bingung harus jujur atau tidak. Dia teringat pesan suaminya untuk tidak memberitahukan kelebihannya terhadap orang lain.


"Tidak Deon, itu hanya perasaan gw aja. Karena gw melihat di foto itu Bokap Lo terlihat berbeda. Gw gak punya mata bathin. Gw hanya menggunakan perasaan atau feeling saja," jelas Meka yang berusaha menutupi kelebihannya.


Deon dan Isna menatap Meka curiga. Terutama Deon, dia memicingkan matanya menatap Meka. Dia yakin Meka punya kelebihan. Tapi Meka gak mau memberitahukannya.


Deon pun tak mempermasalahkannya. Yang terpenting baginya saat ini hubungannya dengan sahabatnya itu sudah kembali seperti dulu.


"Eh beib, kita jalan-jalan yuk hari ini. Tapi beib, eike lagi bokek alias gak punya uang," ucap Deon sedih.


"Yeeee, Lo ngajak jalan-jalan tapi gak punya doku, gimana sih De," hardik Isna.


"Eike pengennya Meka yang traktir. Kan sudah lama gak ditraktir sama Meka. Mau ya beib....?" bujuk Deon dengan merengek dilengan Meka.


"Iya deh kita pergi. Tapi gw ke kamar mandi ya bentar. Nih titip tas gw Na, nanti gw kemari lagi," Meka buru-buru keluar karena dia penasaran dengan Shinta.


Dugaan Meka benar, Shinta berjalan menuju ruangan suaminya. Dia mengikuti dan berjalan cepat kearah ruangan suaminya. Meka melihat Shinta sudah masuk ke dalam ruangan itu. Dan Meka mempercepat jalannya dan berdiri di depan pintu ruangan itu.


Di dalam ruangan, Shinta masuk tanpa mengetuk dan izin Dosganya.


"Kenapa anda tidak mengetuk pintu terlebih dahulu! Apa anda tidak tau ini ruangan Dosen!" bentak Dosganya.