
Suasana diluar rumah Ustadz Ahmad sepertinya semakin mencekam dengan kehadiran mahluk ghaib kiriman iblis itu.
Sementara di dalam ruangan rumah Ustadz Ahmad tak kalah menegang. Meka mengambil jarak sedikit menjauh dari Kakek dan Ustadz Ahmad. Meka mau memberitahukan kepada Deon tentang situasi di sini.
Saat ini posisi Meka berada di dekat meja makan, Meka melihat Umi dan Nenek yang sedang menyiapkan makan malam.
Istri Ustadz Ahmad menghampiri Meka dengan wajah bingungnya.
"Nak Meka ada apa? Kenapa kalian kelihatan waspada seperti itu? Apa yang terjadi?" istri Ustadz Ahmad bisa melihat kecemasan dari wajah Meka.
"Umi, maaf kalau saya membuat keadaan di rumah ini menjadi rumit. Karena kehadiran saya disini, iblis itu mengirimkan mahluk ghaib untuk menghancurkan saya, Ummi," jawab Meka yang menundukkan wajahnya.
Meka tak berani menatap ke Ummi, dia merasa tak sanggup untuk menerima kekecewaan dari istri Ustadz Ahmad.
"Astaghfirullahal'adzim, Ya Allah..., apakah itu benar nak Meka?" tanya Ummi tak terkejut.
"Iya Ummi, itu benar. Banyak mahluk ghaib sedang menunggu di depan rumah."
"Ya Allah, semoga mahluk-mahluk itu segera pergi dari sini. Ummi hanya bisa membantunya dengan berdo'a. Nak Meka sabar ya, pasrahkan semua dengan Allah SWT," dukung Istri Ustadz Ahmad.
Meka langsung memeluk Ummi itu dengan rasa haru. Meka berpikir dia akan di marahi ataupun dikatai karena kedatangan mahluk ghaib itu. Ternyata Ummi itu justru memberikan dukungannya dan semangat kepada Meka agar bisa melewati semuanya.
"Sudah, sudah jangan down ya nak Meka. Semua sudah jalan dari yang Maha kuasa. Berdo'a agar mahluk ghaib itu pergi dari sini," suruh Ummi itu.
"Iya Ummi, saya menjadi legah Ummi karena dapat dukungan dari Ummi. Maaf Ummu saya mau menghubungi Deon dulu," ucap Meka.
"Oh iya, silahkan. Ummi juga mau nemani nenek di dapur dulu ya," Ummi itu pun pergi meninggalkan Meka.
Sementara Meka mencoba menghubungi no Isna. Beberapa panggilan, akhirnya Isna mengangkat tlpnya.
"Assalamu'alaikum Na..!" sapa Meka.
"Wa'alaikumussalam Mek. Li masih di tempat Ustadz Ahmad kan?" tanya Isna.
Ternyata Isna dan Deon sedang dalam perjalanan menuju rumah Ustadz Ahmad. Posisi mereka sudah hampir dekat dengan rumah itu.
"Iya Na, tapi kalian jangan kemari Ma. Kalian dimana sekarang?" tanya Meka khawatir.
"Loh, kami udah mau nyampai di rumah Ustadz. Kan mau bareng sama kalian balik ke Apartementnya," jawab Isna.
"Berhenti.....Na..!" teriak Meka.
"Berhenti....!" ulang Isna.
Deon yang mendengar Isna mengeluarkan kata berhenti dengan teriakan, langsung mengerem mendadak.
"Awww...!" Isna terkejut karena Deon ngerem mendadak.
"Kenapa Na?" tanya Meka yang masih khawatir.
Meka khawatir kalau mobil Deon sudah berada di depan hingga dia mendengar Isna mengeluarkan kata seperti itu.
"Ini Mek, Deon ngerem mendadak karena mendengar gw bilang berhenti," jawab Isna sambil menatap ke Deon.
"Oh...syukurlah, kirain kenapa-napa," ucap Meka sambil mengusap dadanya.
"Lo tadi nyuruh kami berhenti kenapa Mek? Apa ada masalah disana?" tanya Isna bingung.
"Ah iya Na, gw ampe lupa. Na bilang sama Deon, jangan datang kesini. Karena disini keadaaan sedang bahaya. Banyak mahluk tak kasat mata yang tidak bisa kalian lihat ada di perkarangan rumah Ustadz Ahmad. Kami semua masih berada di dalam rumah sampai menunggu Adzan Maghrib," jelas Meka.
"Apa..! Lo gak asal bicara kan Mek? Kok bisa banyak mahluk ghaibnya? Gw kok jadi ngeri ya Mek dengarnya, ihhhh," ucap Isna yang bergidik ngeri membayangkannya.
Deon yang berada di samping Isna mengernyitkan keningnya menatap Isna serius.
"Ada apa?" tanya Deon dengan suara pelan.
"Meka bilang, kita jangan melanjutkan perjalanan ke rumah Ustadz Ahmad," jawab Isna.
"Loh kenapa emangnya? Apa ada masalah" tanya Deon lagi.
"Lo dengerin aja nih apa kata Meka," jawab Isna.
"Mek, nih gw speakerin ya, biar Deon dengar langsung penjelasan dari Lo," ucap Isna yang langsung menekan tombol speaker.
"Deon, kalian langsung aja ke Apartment. Gw dan Pak Zain akan lama disini. Karena di depan rumah Ustadz Ahmad banyak mahluk tak kasat mata. Dan kami masih berada di dalam rumah. Ini sangat berbahaya," jelas Meka diseberang tlp.
"Ya ampuuun Mek....! Serius Lo Mek..! Serem amat, banyak mahluk ghaibnya. Dari mana Lo tau Mek?" tanya Deon penasaran.
"Nanti aja gw ceritakan. Ini keadaan lagi bahaya. Gw gak bisa lama-lama. Sebentar lagi Adzan Maghrib, udah dulu ya De, kalian hati-hati di jalan. Dan jangan coba-coba mendekati rumah ini," ucap Meka yang memperingati Deon.
"Iya Mek, Lo dan yang lainnya hati-hati ya. Kami bantu do'a aja dari sini," balas Deon.
Setelah Meka menjelaskan sedikit tentang keadaan di rumah Ustadz Ahmad, dia kembali bergabung dengan yang lainnya. Meka melihat Khodamnya masih berada di dekat Kakek tua itu. Khodamnya masih berwujud seperti manusia. Dia akan merubah wujudnya jika keadaan sangat bahaya.
Sementara Ustadz Ahmad dan Zain sedang duduk sambil membaca do'a. Mereka berdua terlihat tenang. Meka tidak tau kalau Zain sangat ketakutan. Karena mendengar banyak mahluk ghaib yang ada di depan rumah. Namun dia tidak ingin melihat istrinya cemas dan khawatir terhadapnya.
"Meka, Kakek persiapkan diri kalian. Dan Ustadz duduk di dekat mereka sambil melantunkan do'a. Dan laki-laki itu harus bersiap di depan pintu untuk membuka pintu itu. Ketika terdengar suara Adzan Maghrib, kekuatan mereka akan melemah, bukalah pintu itu dan biarkan mereka mendekat. Setelah mahluk itu hampir dekat, Meka bisa mengarahkan liontin bulan sabit yang sudah terkena tetes darahmu ke arah mahluk ghaib itu dan Kakek tua bisa mengarahkan kekuatanmu ke Meka agar tenaga Meka semakin kuat memegang liontin itu. Karena Meka harus memusnahkan banyak mahluk ghaib, dia butuh tenaga dalam dan energi yang kuat. Bersiaplah!" jelas Khodam Meka panjang lebar.
"Baiklah aku mengerti," balas Meka.
Lalu Meka duduk bersila dan mengambil liontinnya. Kemudian dia meneteskan darahnya ke liontinnya dan seketika liontin itu memantulkan cahaya terang. Meka langsung menggenggamnya.
Kemudian Kakek tua itu duduk bersila di belakang Meka sambil tangannya merapat ke punggung Meka sambil membaca mantra.
Sementara Zain sudah berdiri di samping pintu itu. Dia sudah bersiap dengan segala resikonya.
Dan Ustadz Ahmad juga sudah duduk bersila di samping Meka sambil membaca do'a.
Setelah mereka semua siap, terdengarlah suara Adzan Maghrib berkumandang.
"Buka sekarang....!" perintah Khodam Meka.
Zain yang gugup dan gemetar, segera membuka pintu itu, lalu dia mendekati pintu dan berdiri di dekat pintu yang terbuka lebar.
Mahluk ghaib yang banyak di luar rumah menatap lapar ke arah sosok manusia yang berdiri di depan pintu. Mahluk-mahluk itu berjalan berlomba untuk mendapatkan tubuh Zain.
Meka dan yang lainnya bisa melihat begitu banyak mahluk ghaib yang ada di luar rumah itu. Mahluk itu menatap nyalang ke arah Zain. Mereka tidak bisa melihat keberadaan Meka dan yang lainnya kecuali Zain.
"Sekarang Meka.....arahkan liontinnya.....cepat....!" teriak Khodamnya dengan memerintah Meka.
Meka pun yang mendengar teriakan Khodamnya, langsung mengarahkan liontinnya ke arah mahluk ghaib itu setelah pagar ghaib dibuka oleh Khodamnya.
"Rasakan ini..........!" teriak Meka sambil mengarahkan liontinnya.
Liontin Meka langsung bersinar terang memusnahkan mahluk-mahluk yang ada di depan mereka. Kakek tua terus menyalurkan tenaga dalamnya dan energinya sampai tubuhnya berkeringat.
Begitu juga dengan Meka, keringat bercucuran dari tubuhnya. Dia terus mengarahkan liontin itu membinasakan mahluk-mahluk itu.
Khodamnya yang melihat Kakek dan Meka sudah hampir lemas dan tak bertenaga, mulai membantu dengan memberikan tenaganya ke Meka.
Meka pun menjadi kuat dan liontin itu semakin bercahaya terang dan langsung menghanguskan mahluk-mahluk itu hingga menjadi asap berbau busuk.
Setalah semua mahluk-mahluk itu musnah, Meka pun jatuh lunglai ke lantai. Begitu juga dengan Kakek tua itu, dia langsung lemas tak berdaya.