
Mereka yang sedang berada di dalam kamar menghancurkan sumbernya, maka kita akan menghadapinya malam bulan purnama. Hah..," Meka mengehela nafasnya dengan berat.
"Kalau gitu, kita akan melakukannya sekarang? Bagaimana dengan nak Meka, apakah bisa melakukannya?" tanya Kakek tua.
"Saya harus melakukannya kek. Dan saya meminta untuk Ustadz dan Ummi membuat pengajian saat ini. Karena saya dan Kakek akan melakukan perjalanan ghaib," ucap Meka.
"Ta--pi bagaimana dengan Mas disini?" tanya Zain tiba-tiba.
"Mas bisa ikut melakukan pengajian bersama Ustadz Ahmad. Dan selama perjalanan ghaib kami, jangan ada yang keluar dari dalam rumah ini. Karena rumah ini akan diberi pagar ghaib. Apapun yang di dengar dari luar rumah ini, tolong jangan beranjak dari sini," jelas Meka.
"Gimana Ustadz, kita bisa melaksanakannya?" tanya Pak Zain.
"Isya'allah Pak Zain," jawab Ustadz Ahmad.
"Bu, tolong kumpulkan murid pengajian disini, karena kita akan mulai mengaji," suruh Ustadz Ahmad.
"Baik Pak," balas istrinya. Ummi pun pergi meninggalkan kamar itu dan mulai mempersiapkan segala sesuatunya.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang nak Meka?" tanya Ustadz Ahmad.
Meka bangkit dari tempat tidurnya, dia mulai menjelaskan semuanya.
"Saya dan Kakek akan duduk bermeditasi di ruang ini. Ustadz dan Mas Zain akan berada disini membantu kami. Selama perjalanan ghaib, jangan pergi meninggalkan kamar ini. Mengenai mereka yang melakukan pengajian diruangan, akan terjaga. Saat kami melakukan perjalanan ghaib, Ustadz dan Mas Zain mengadakan pengajian juga. Jika dalam waktu 2 jam kami tidak kembali, tolong teruslah mengaji dan jangan berhenti," jelas Meka panjang lebar.
"Sayang, ini sangat berbahaya, apa tidak ada cara lainnya?" tanya Zain.
Meka menggeleng, " tidak ada Mas. Ini adalah cara yang tepat untuk menghentikan iblis itu. Dan masalah iblis itu, nanti biar Khodam saya yang memusnahkannya, jawab Meka.
Zain pun pasrah dengan keputusan istrinya. Sesungguhnya dia tidak ingin melepaskan Meka, namun disisi lain, dia tidak ingin iblis itu merajalela merusak manusia. Walaupun manusianya sendiri yang menginginkannya.
"Baiklah sayang, Mas ikhlas kamu melakukannya. Semoga apa yang kamu lakukan, membuahkan hasil yang baik untuk semuanya," balas Zain.
"Ya sudah kalau gitu, saya mau mengecek persiapan yang di kerjakan Ummi diluar. Saya akan menemui Ustadz lain yang akan membantu mengawasi mereka saat pengajian berlangsung," ucap Ustadz Ahmad.
"Baik Ustadz, kami akan menunggu disini. Setelah semua selesai, tolong Ustadz kembali ke ruangan ini segera. Karena kita tidak bisa menyiakan waktu," balas Meka.
Lalu Ustadz itu pergi meninggalkan Meka dan yang lainnya di dalam ruangan itu.
Sementara, Kakek tua masih menatap Meka dengan tatapan cemas.
"Kenapa Kakek menatapku seperti itu? Apa yang Kakek pikirkan?" tanya Meka yang bisa melihat kecemasan di mata Kakek tua.
"Iya nak Meka. Kakek hanya khawatir jika kita tidak akan bisa kembali," jawab Kakek tua.
"Kalau begitu biar saya yang melakukannya sendiri kek. Saya tidak ingin Kakek kenapa-napa," ucap Meka yang memang tidak ingin banyak orang terlibat.
"Tidak nak Meka, saya akan membantu sampai selesai. Saya hanya khawatir, mereka terlalu banyak siasat untuk mengelabui kita. Dan banyak cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan mereka. Saat ini, kita tidak tau dimana jasad itu berada. Apakah jasad Ki Baron dan kembang Desa itu satu tempat atau terpisah. Kalau terpisah, bagaimana kita menyelesaikannya dalam waktu singkat," jelas Kakek tua.
Tiba-tiba muncul Khodamnya Meka di hadapan mereka. Namun Zain tidak bisa melihatnya.
Kakek tua tersentak dan sedikit terhuyung ke belakang ketika sosok laki-laki tampan muncul.
"Assalammu'alaikum kek!" sapa Khodamnya.
"Wa'alaikumussalam," sahutnya.
"Maaf kalau saya harus memperlihatkan wujud saya dalam bentuk seperti ini. Saya akan membantu kalian untuk melihat keberadaan kedua jasad itu," jelas Khodamnya.
"Saya sangat senang bisa bertemu langsung dan berhadapan dengan Khodamnya nak Meka," balas Kakek tua.
"Bagaimana kami bisa mengetahui keberadaan kedua jasad dan dukun itu?"tanya Meka yang langsung memotong percakapan keduanya.
"Kakek dan Meka hanya perlu berkonsentrasi dalam bermeditasi. Nanti saya yang akan menuntun kalian untuk bertemu dengan dukun dan kedua jasad itu," jawab Khodamnya.
"Baiklah kalau gitu, kami akan melakukannya. Sekarang kami menunggu Ustadz Ahmad datang kesini. Dan bagaimana dengan iblis itu?" tanya Meka lagi.
"Aku yang akan menghadapinya. Karena iblis itu bukan tandinganmu," jawab Khodamnya.
Mereka semua terdiam mendengar penjelasan Khodamnya Meka.