
Zain memeluk erat Meka dalam keadaan tanpa pakaian. Hanya handuk yang melilit di pinggangnya. Zain mengusap lembut rambut Meka.
Meka yang tak menyadari keadaan Zain seperti itu, langsung terpaku diam tak bergerak.
"Mas, kok belum pakaian?" tanya Meka yang langsung melepaskan pelukannya.
"Mas gak sempat berpakaian karena tadi melihat kamu terbengong sambil menatap ponsel. Ya, Mas curiga, makanya langsung menghampirimu sayang," jawab Zain tersenyum.
"Udah pakai bajunya dulu Mas," suruh Meka yang merasa wajahnya terasa panas.
Ada desiran di tubuh Meka seperti tersengat listrik saat menatap tubuh suaminya. Padahal mereka sudah sering melakukannya. Ntah kenapa Meka selalu terpana melihat sosok Zain.
"Apa kita akan bertempur lagi ini?" tanya Zain dengan menggoda.
Meka malu-malu dan memalingkan wajahnya kesamping. Sedangkan Zain tau kalau istrinya juga menginginkannya.
Tanpa aba-aba Zain langsung menggendong Meka dan mereka naik ke atas tempat tidur. Zain langsung membuka handuk yang berada di pinggangnya. Lalu dia menyerang Meka dengan penuh kelembutan.
Pagi yang cerah di awali dengan percintaan yang dahsyat. Zain tak henti-hentinya menghentakkan miliknya dengan berbagai gaya. Hingga akhirnya hentakkan terakhir membuat mereka mencapai puncaknya dan mengerang bersamaan. Akhirnya keduanya jatuh terkulai di tempat tidur. Mereka tertidur karena kelelahan akibat percintaan yang dahsyat.
Tak terasa siang pun tiba, Meka mengerjapkan matanya menatap langit-langit kamarnya. Dia terkejut dan langsung terduduk sambil menoleh ke arah jam.
"Oh ya ampuuun sayang....! Kita udah kesiangan!" teriak Meka terkejut.
Zain yang mendengar teriakan Meka, masih malas-malasan. Dia enggan membuka matanya karena kelelahan.
"Mas....! Ayo banguuun!" Meka menggoyang-goyangkan tubuh suaminya yang masih berbaring.
"Sayang, kenapa kamu teriak-teriak kayak di hutan aja," celetuk Zain.
"Mas lihat ini sudah siang. Kita bahkan belum sarapan pagi dan sekarang sudah telat makan siang. Ayo bangun, kita mandi!" ucap Meka yang sedikit panik.
Meka ornag yang tak pernah telat makan. Dia selalu teratur jika menyangkut makan. Baik itu sarapan, makan siang bahkan makan malam, selalu oetso waktu. Meka menghindari sakit di perut jika sering telat makan.
"Iya sayang, ayo mandi. Tunggu Mas pesankan dulu makan siang kita biar diantarkan ke atas sini aja," ucap Zain.
"Iya Mas, kamu nyusul aja ya," balas Meka.
Meka beranjak dari tempat tidur dan dia berjalan ke kamar mandi. Meka tak mau ketika pelayan datang, dia masih berada di kamar mandi, sehingga dia memutuskan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sementara Zain memesan makanan. Setelah itu dia menyusul istrinya ke kamar mandi. Mereka pun mandi berdua untuk mempersingkat waktu.
Tak berapa lama, Meka dan Zain menyelesaikan mandinya. Tepat saat mereka sudah selesai, pelayan Restaurant datang mengantarkan pesanan mereka.
Pelayan tersebut masuk ke dalam kamar dan meletakkan hidangan itu diatas meja.
"Ceci est votre commande monsieur. Profitez-en mesdames et messieurs."
"(Ini Tuan pesanannya. Silahkan di nikmati Tuan dan Nyonya)" ucap pelayan itu sopan.
"Merci."
"(Terima kasih)," balas Zain.
Kemudian pelayan itu meninggalkan kamar mereka dengan menunduk hormat.
Zain mengajak Meka untuk segera makan. Dia khawatir kalau Meka nantinya sakit.
"Sayang, ayo makan. Maaf kita harus telat makannya," sesal Zain.
"Iya Mas gak apa-apa. Aku juga lalai. Seharusnya aku duluan bangun untuk mengingatkanmu makan siang."
"Ya sudah, ini tidak akan terulang lagi. Ayo sayang kita makan," Zain memberikan makanan ke Meka.
"Mas lupa bertanya sama kamu sayang."
"Tentang apa Mas?" tanya Meka bingung.
Dia menghentikan kunyahan di mulutnya dan serius menatap ke arah Zain.
"Kenapa Deon dan Isna bisa tinggal di rumah Ustadz Ahmad?" tanya Zain penasaran.
"Apa ini ada hubungannya dengan hal ghaib sayang?" tanya Zain lagi.
"Kemungkinan sih iya Mas. Seperti angin kemaren aku bilang, disana itu kurang baik. Apalagi di depan kamar Isna, kamar itu auranya gelap Mas," jelas Meka.
"Syukurlah kalau dia berada di ruang Ustadz itu. Setidaknya Deon bisa di obati kalau itu berhubungan dengan hal ghaib," balas Zain.
"Iya Mas."
Mereka melanjutkan menikmati makan siangnya. Meka terlihat kelaparan sehingga dia makan dengan lahap. Berbeda dengan Zain, dia tetap santai menikmati makanannya.
"Jadi hari ini apakah kita di Hotel saja atauau keluar sayang?" tanya Zain di sela menikmati makanannya.
"Kayaknya aku pengen di kamar aja Mas. Apalagi tadi kita melakukannya lagi. Aku lelah banget Mas. Pengen nyantai aja di sini," jawab Meka.
"Mas juga berpikir seperti itu. Pengen nyantai di kamar ini," Zain menyetujui ucapan Meka.
Makanan yang di hidangkan pun habis tak bersisa. Karena mereka sangat kelaparan akibat permainan panas yang dilakukan pagi-pagi.
Sedangkan di tempat lain. Deon dan Isna saat ini berada di rumah Ustadz Ahmad. Isna memberanikan dirinya membawa Deon seorang diri. Dia tidak punya pilihan agar Deon tak menderita terus-terusan.
Saat ini kondisi Deon sudah membaik di bawah pengawasan Ustadz itu. Tapi mereka belum kembali ke kostan yang mereka tinggalin.
"Nak Isna, saran saya lebih baik kalian segera keluar dari tempat itu. Karena akan sangat berbahaya untuk kalian berdua," tekan Ustadz itu saat Deon dan Isna duduk santai di ruangan itu.
"Saya tidak menyangka Pak kalau kost itu tidak seperti yang kami lihat," balas Isna.
"Ini hanya kebetulan saja terjadi terhadap kalian karena nak Isna dan Deon masih suci dan belum kehilangan kehormatan kalian," ucap Ustadz itu dengan menjaga kata-katanya dengan hati-hati.
"Maaf Pak Ustadz, apakah yang ada di sana mereka sudah tidak memiliki kehormatannya?" tanya Isna polos.
"Ya mereka sudah tidak, maaf, perawan dan perjaka. Kalaupun ada, mereka akan mengalami hal yang sama seperti kalian."
"Saya tidak mengetahui hal ini Ustadz," balas Deon.
"Syukurlah nak Isna segera membawa kamu Deon kesini. Karena telat sedikit saja, maka nyawa kamu tidak akan tertolong," jelas Ustadz itu.
"Iya Ustadz."
"Maaf, apakah kamu sudah pernah berhubungan badan dengan mahluk itu?" tanya Ustadz itu.
"Tidak pernah Ustadz. Memang di dalam mimpi, dia selalu mengajak dan merayu saya untuk melakukannya Ustadz, tapi itu tidak terjadi karena saya mendengar suara Ibu saya mengaji," balas Deon.
"Masya Allah, berarti nak Deon masih di lindungi sama Allah SWT.
"Iya Ustadz. Jadi setiap saya bermimpi bertemu dengan wanita itu, dan saat dia menginginkannya, saya akan di dengarkan suara Ibu saya mengaji. Dan sesaat kemudian saya terbangun dari tidur, Ustadz," ungkap Deon.
"Gimana dengan nak Meka? Apa dia mengetahui kejadian ini?" tanya Ustadz itu.
"Tidak Ustadz, saya hanya mengatakan kalau Deon sakit dan saat ini di rumah Ustadz," jawab Isna.
"Kapan mereka kembali?" tanya Ustadz itu.
"Belum tau Ustadz."
"Mereka juga mengalami hal mengerikan di sana sesuai penglihatan saya."
"Maksud Ustadz?" tanya Deon dan Isna bersamaan.
"Meka berhadapan dengan seorang psikopat separuh iblis," ungkap Ustadz itu.
"Apa Ustadz?" Mereka berdua terkejut mendengarnya
"Tapi Meka sudah melewatinya dari kejadian mengerikan itu," legah Ustadz itu.
"Kejadian apa emangnya Ustadz?" tanya Isna penasaran.
"Nanti kalian akan tau sendiri ketika mereka sudah kembali," jawab Ustadz itu.
Mereka menghabiskan ngobrol di ruangan itu hingga waktu pun menjelang sore. Isna dan Deon masih tinggal di tempat Ustad itu.