
Meka dan Zain masuk ke dalam rumah itu mengikuti Mamanya. Meka sangat senang dan sudah tak sabar ingin memberitahukan khabar gembira ini sama mertuanya.
"Akhirnya kalian datang juga menemui Mama. Padahal baru aja kemaren Mama cerita sama Papa kcalau Mama kangen sama kalian berdua. Eh ternyata Zain menghubungi Mama dan memberitahukan bahwa kalian akan datang sore ini. Mama senang....banget," ucap Mamanya panjang lebar.
"Iya Ma, sebenarnya dari kemaren kami ingin berkunjung Ma. Tapi Mas Zain banyak tugasnya.l, jadi di undur dulu jemarinya," balas Meka yang sudah duduk di sofa ruang tengah.
"Oh ya Ma, ini ada cemilan dikit buat Mama," Meka menyerahkan bingkisan ke Mama mertuanya.
"Loh apa ini sayang? Kok repot-repot sih nak! Kalian datang mengunjungi Mama aja, rasanya udah senang banget," balas Mama mertuanya.
"Ah tidak repot kok Ma."
Lalu Mamanya Zain meminta pembantunya untuk menghidangkan cemilan yang di bawa Meka.
"Gimana dengan pekerjaan mu Zain? Apakah masih bertahan menekuni sebagai Dosen?" tanya Papanya tiba-tiba.
"Oh itu Pa, Zain sudah memutuskan untuk fokus mengurus Perusahaan yang sudah di rintis," jawab Zain.
"Wah bagus itu kalau kamu sudah berpikir ke sana. Papa senang mendengarnya. Jadi kapan kamu bisa gabung dan memimpin Perusahaan kita. Papa udah pengen pensiun dari Perusahaan. Mamamu sudah tidak mau di tinggal-tinggal," jelas Papanya sambil menunjuk ke arah istrinya dengan dagunya.
Meka pun ikut menoleh ke arah Mama mertuanya. Mama mertuanya terlihat malu-malu saat suaminya mengatakan itu.
"Iya Pa, Zain sudah memantapkan hati untuk meninggalkan profesi Dosen. Dan menjalankan Perusahaan kita. Papa tenang aja, insyaallah Zain bisa membuatnya lebih maju," balas Zain semangat.
"Oh ya, gimana nih, kapan Mama dan Papa bisa nimang cucu?" tanya Mamanya sambil menoleh ke arah Meka.
Meka menunduk dan bersikap malu-malu. Lalu dia menatap ke arah Zain.
"Alhamdulillah Ma, kami ke sini juga ingin memberikan khabar gembira kepada kalian. Meka saat ini sedang hamil muda Ma, Pa," Zain yang menjawab pertanyaan Mamanya.
"Apa!" pekik Mamanya terkejut. "Alhamdulillah ya Allah sayang....., Mama senang banget mendengarnya. Pa, akhirnya kita bisa mempunyai cucu," haru Mamanya dengan sangat gembira.
"Sayang, selamat ya, Ini hadiah yang sangat indah Mama dengar," ucap Mamanya sambil memeluk Meka dan mencium kening Meka dengan penuh kasih sayang.
"Papa senang mendengarnya. Selamat ya Zain, Meka. Ini benar-benar khabar yang menggembirakan buat kami. Semoga kalian sehat-sehat ya nak," ucap Papanya Zain dengan tersenyum bahagia.
"Gimana, apa kalian sudah USG sayang?" tanya Mama mertuanya.
"Sudah Ma, tadi kami sudah ke klinik untuk memeriksakan kandungan Meka," jawab Zain.
"Terus gimana kata dokter? Bayinya sehat kan di dalam sini?" tanya Mama mertuanya sambil mengusap perut Meka yang belum kelihatan besar.
"Alhamdulillah Ma sehat. Meka bahagia banget Ma, akhirnya penantian kami terwujud juga," balas Meka tersenyum.
"Iya sayang. Kalau gitu kita akan buat syukuran untuk menyambut kehadiran calon bayi kalian. Ya kan Pa?" tanya Mama mertuanya terhadap Papa mertua.
"Papa nurut Mama aja. Sepertinya itu ide yang baik Ma. Secara kemaren mereka belum melaksanakan pesta pernikahan yang besar. Jadi kita harus merayakan kedatangan calon cucu kita. Kita akan undang semua keluarga dan tetangga. Papa juga akan mengundang karyawan kantor serta rekan bisnis Papa sambil memperkenalkan Zain sebagai CEO baru di Perusahaan," jelas Papanya.
Meka yang mendengar antusias mertuanya dalam menyambut calon bayi mereka sangat berlebihan menurutnya. Meka tidak ingin terjadi hal yang buruk nantinya jika mempublikasikan kehamilannya. Meka ingin melindungi calon bayinya. Karena bagaimanapun Meka berbeda dengan yang lainnya.
Meka menatap ke arah Zain, dia ingin Zain mengerti kalau dirinya tidak menginginkan pesta besar-besaran. Namun Zain yang sempat melihat ke arah Meka, tak mengerti keinginan istrinya melalui syarat matanya.
"Gimana sayang, kamu setuju kan. Nanti kita rayakan di sini aja. Kalian beberapa hari nginep di sini aja. Atau gimana kalau Meka mulai sekarang tinggal di rumah Mama" tanya Mamanya yang memberikan saran.
"Tidak usah Ma, Meka tinggal di Apartement aja. Kalau memang Mama mau membuat pesta syukuran. Meka ngikut aja Ma. Nanti biar kami nginep di sini untuk beberapa hari," jawab Meka yang menyetujui saran Mamanya.
"Gimana kalau pestanya Minggu ini kita buat?" tanya Mamanya.
"Loh, apa gak kecepatan Ma? Nanti Mama kerepotan kalau mendadak membuatnya," jawab Zain yang protes dengan ide Mamanya.
"Kamu tenang aja sayang. Kalau masalah urusan itu, Mama gampang mengaturnya. Nanti Mama minta tolong sama keluarga besar kita untuk membantu menguris semuanya," balas Mamanya.
"Ya udah, kami ngikut aja deh Ma."
"Sayang, kalian malam ini nginep di sini aja ya. Mama kangen banget sama Meka. Lagian dia lagi hamil, kasihan bulak balik gitu. Besok aja kalian kembali ke Apartement ya?" pinta Mama mertuanya.
"Maaaa, jangan memaksa mereka kalau ingin kembali ke Apartement. Besok-besok kan mereka akan nginep di sini," protes suaminya yang tidak mendukung sikap istrinya.
Meka hanya tersenyum melihat Mama mertua dan Papa mertua. Dia tidak ingin membantah kemauan Mama mertuanya tapi syukurnya Papanya mengerti dan membantah istrinya sendiri.
"Mama kan pengennya mereka menginginkan di sini Pa. Tapi kalau Zain dan Meka ingin kembali, Mama bisa bilang apa," balas istrinya dengan merajuk.
Zain pun menghampiri Mamanya dan duduk di sampingnya, lalu Zain memeluk Mamanya dan mencium pipinya.
"Baiklah Ma, kami akan menginap di sini malam ini. Mama senangkan?" tanya Zain yang menuruti kemauan Mamanya.
"Beneran sayang!?" tanya Mamanya. "Tuh kan Pa, mereka aja mau kok nginep di sini. Papa ini gak kasihan sama menantunya yang sedang mengandung. Malah di suruh pulang. Kalau sudah malam, jangan pulang. Mama takut banyak demitnya, apalagi Ibu hamil, bahaya," jelas istrinya yang merasa menang.
Meka berusaha mengatur nafasnya karena mendengar kata mahluk ghaib. Dan apa yang dikatakan Mama mertuanya itu ada benarnya. Jangankan malam hari, bahkan siang bolong pun kalau Meka bisa melihatnya tentu ada saja dan dimanapun.
"Kalau gitu, si bibi bisa menyiapkan makan malam kita," ucap Papanya Zain.
"Ah iya, Papa benar. Mama kelupaan, karena gembiranya mendapat hadiah dari mereka, Mama lupa untuk menyuruh si bibi menyiapkan makan malam kita," sambung istrinya.
Lalu Mamanya Zain memanggil si bibi dan menyuruhnya untuk menyiapkan makan malam setelah Maghrib.
"Oh ya sayang, tadi Tante kamu kemari sama Mona. Katanya tadi ketemu sama kalian di supermarket," ucap Mamanya.
"Oh itu, iya Ma. Zain jijik aja, karena Mona tidak bisa membatasi dirinya. Zain sudah menikah, masa dia tiba-tiba datang memeluk Zain tadi," jelas Zain.
"Tuh Pa, Mama juga gak suka mendengarnya," dukung Mamanya Zain.
"Mama jangan pernah mempercayai Tante dan anaknya. Zain tidak suka sama mereka," terang Zain to the point.
"Tidak baik seperti itu Zain. Mereka kan kerabat dekat kita. Kalau pun mereka berbuat yang tidak baik, tidak perlu di perlihatkan. Lebih baik kalian menjauhinya," nasehat Papanya Zain.
"Iya sayang, Mama gak mau kenapa-napa sama Meka. Mama khawatir mereka akan berbuat lebih jika kalian memperlihatkan ketidak sukaan terhadap mereka," sambung Mamanya Zain.
"Baiklah Pa, Ma, Zain akan menuruti perkataan kalian kalau itu baik untuk Meka."
Mereka pun ngobrol terus sampai tiba waktunya adzan Maghrib terdengar. Zain dan Meka masuk ke dalam kamar Zain dan melaksanakan sholat berjama'ah.