
Pagi menyapa, matahari mulai memperlihatkan sinarnya untuk menerangi sang bumi. Begitupun rumah Ustadz Ahmad yang sudah terbagi benderang oleh cahaya matahari yang masuk dari jendela yang terbuka.
Deon terbangun dan langsung bergegas ke kamar mandi. Pagi ini dia dan Isna harus ke Kampus untuk mengurus kelengkapan KKN.
Sedangkan Isna saat ini sudah berada di dapur bersama Umi dan Nenek tua. Dia membantu keduanya untuk menyiapkan sarapan.
"Nek, biar aku aja yang menyiapkan piring dan perlengkapan lain di atas meja. Nenek duduk yang tenang aja disana," pinta Isna.
"Gak apa-apa. Nenek lebih suka banyak bergerak daripada hanya diam duduk dan melihat," balas Nenek itu.
"Ya sudah kalau itu mau Nenek," pasrah Isna.
Isna tidak ingin menahan keinginan Nenek itu untuk bekerja. Dia memilih mengalah daripada menyinggung perasaan nenek itu.
Sementara di ruangan tengah, Kakek dan Ustadz itu sedang ngobrol santai. Mereka membicarakan tentang pengajian yang di laksanakan di rumah itu.
Saat keduanya berbincang, Deon keluar dari kamar dan menghampiri Ustadz dan Kakek tua itu.
"Nak Deon, kemarilah. Minum teh anget dulu," ajak Ustadz itu.
"Iya Ustadz, saya mau mencari Isna. Apakah sudah bangun atau belum?" ucap Deon.
"Dia sudah bangun nak Deon. Tadi Kakek melihatnya sedang membantu di dapur," balas si Kakek yang sempat melihat keberadaan Isna di dapur.
"Oh..., saya mau menemuinya dulu kek. Ada yang mau saya sampaikan," ucap Deon.
Si Kakek dan Ustadz hanya bisa mengangguk mempersilahkan Deon menemui Isna.
Deon berjalan ke arah dapur. Namun saat di ruang makan, dia melihat Isna sedang menata peralatan makan di atas meja ruang makan.
"Na, hari ini kita ke Kampus kan?" tanya Deon menghampiri Isna.
"Iya De, kita sarapan dulu. Gak enak sama Umi dan Nenek yang sudah masak disini," jawab Isna.
"Baiklah, kamu sudah mencoba menghubungi Meka? Apakah dia sudah sampai? Coba Na, kamu hubungi," suruh Deon.
"Oh sebentar, ponselku di dalam kamar. Aku ambil dulu ya," Isna pergi berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil ponselnya.
Deon mengikuti Isna dari belakang. Dia menunggu Isna di depan pintu kamarnya sambil berdiri.
Kemudian Isna keluar dari dalam kamar dan mendapati Deon yang sedang berdiri.
"Kenapa berdiri disini Deon? Kamu kan bisa nunggu duduk di meja makan," ucap Isna yang merasa heran.
"Gak apa Na, aku pengen tau apa mereka sudah sampai apa belum," balas Deon.
Lalu Isna mencoba menghubungi Meka. Ternyata tersambung, dia menunggu hingga tlp diangkat.
"Assalamu'alaikum Mek.....!" seru Isna yang merasa senang.
"Wa'alaikumussalam Na....," Meka membalas tak kalah seru.
"Lo udah di Apartemen belum?" tanya Isna yang gak sabaran.
"Udah Na. Kalian ke Kampus atau gimana nih?" tanya Meka balik.
Isna menoleh ke samping melihat Deon. "Kata Meka kita ke Kampus kan hari ini?" tanya Isna ke Deon sambil menjauhkan sedikit ponselnya.
"Iya Mek, kami ke Kampus. Lo ke Kampus gak?" tanya Deon dari jauh.
"Kayaknya hari ini gw istirahat dulu. Lo berdua ke sini ya. Gw pengen banyak cerita nih!" ucap Meka memohon.
"Ok, habis pulang dari Kampus, kami ke Apartement ya. Lo tungguin kita ya. Karena gw dan Deon juga banyak cerita untuk Lo," balas Isna semangat.
"Sip, gw tunggu kehadiran kalian berdua. Sampai ketemu nanti," ucap Meka menyudahi obrolannya.
"Baiklah, tunggu kami ya," Isna pun mematikan tlpnya. Lu dia beralih menatap ke Deon.
"Habis dari Kampus, kita ke tempat Meka. Dia menunggu kita di Apartementnya," ucap Isna memberitahu.
"Ok, aku udah gak sabaran Na, mau ngobrol banyak dengan Meka. Kayaknya bakalan seru nih kalau kita kumpul dan membahas hal-hal ghaib," semangat Deon.
"Yeeee, nanti kamu malah ketakutan kalau dengar cerita Meka tentang hal ghaib gitu. Awas kalau kamu ketakutan. Ogah banget aku nemani kamu tidur lagi," ledek Isna dengan mengerucutkan bibirnya.
"Hehehe, walaupun takut, tapi seru Na, kalau membahas hal seperti itu. Sesekali gak apa, biar melatih keberanian, hehehe, balas Deon cengengesan.
"Udah yuk, aku mau ke dapur lagi. Gak enak sama Umi dan Nenek."
Isna meninggalkan Deon yang masih berdiri di depan kamar Isna. Sementara Isna kembali ke dapur untuk melihat kesiapan untuk sarapan.
"Wah udah selesai ya nek?" tanya Isna saat tiba di ruang makan.
"Udah, pergi panggil Ustadz dan Kakek sama Deon biar sarapan bareng. Kalian mau ke Kampus kan?" suruh Nenek itu sambil bertanya.
"Iya Nek, habis sarapan kami ke Kampus," jawab Isna.
Lalu Isna pergi ke arah ruang tamu, dimana ada Ustadz dan Kakek. Sedangkan Deon tak nampak batang hidungnya.
"Ustadz, Kakek ayo sarapan. Semua udah siap," ucap Isna memberitahu.
"Deonnya kemana ya Ustadz?" tanya Isna yang tidak menemukan Deon.
"Mungkin di kamar. Bukannya tadi dia tadi menemuimu?" tanya Ustadz itu.
"Iya, tapi tak kira dia kembali ke sini Ustadz," ucap Isna yang gak tau menahu.
"Dia tidak kemari, coba cari ke kamarnya," suruh Ustadz itu.
Isna pun berjalan ke arah kamar Deon. Dia membuka pintu kamarnya dan mendapati Deon sedang menghubungi seseorang. Isna masuk ke dalam dan duduk di tepi tempat tidur Deon.
Setelah Deon memutuskan obrolannya dengan Mamanya, dia duduk di dekat Isna. Wajah Deon terlihat sedikit cemas setelah tlp berkahir.
"Ada apa Deon?" tanya Isna mengerutkan keningnya.
"Mama Na. Mama pengen datang ke kost. Gimana nih?" Deon pun panik dan cemas.
"Terus kamu bilang apa sama Mama kamu?" tanya Isna lagi.
"Aku bilang, kalau hari ini harus mengurus jadwal KKN, kemungkinan akan di luar kost dan malam baru kembali," jawab Deon.
"Kita terpaksa harus membohongi Mama kamu De. Kayaknya kita harus secepatnya pindah dari sana. Tapi gimana? Uangku sudah habis buat bayar kost setengah tahun dan gak mungkin kita minta sama yang punya kost. Apa alasannya?" tanya Isna bingung.
"Ah pusing aku Na, lebih baik kita sarapan dulu aja yuk. Nanti kita pikirkan lagi itu," kesal Deon dengan keadaan yang di alaminya.
"Iya, Ustadz dan yang lainnya sudah berada di meja makan. Ayo!"
Isna dan Deon keluar dari dalam kamar. Mereka berjalan menuju meja makan. Saat mereka hampir tiba, semua mata tertuju kepada mereka berdua.
"Apa ada masalah?" tanya Ustadz itu yang langsung menebak.
"Gak ada Ustadz," jawab Deon berkilah.
"Ayo makan sini. Nanti kalian terlambat ke Kampus," sambung Umi.
"Iya Umi," jawab Deon dan Isna bersamaan.
Isna dan Deon mendekati meja makan. Mereka mengambil posisi tempat duduk masing-masing. Semuanya menyantap sarapan dengan obrolan santai.
Sejam kemudian mereka menyelesaikan sarapan. Deon dan Isna berpamitan untuk ke Kampus.
"Ustadz, maaf kalau saya dan Isna harus duluan. Kami harus ke Kampus," ucap Deon yang merasa sungkan.
"Oh iya gak apa-apa nak Deon. Silahkan, kalian hati-hati di jalan ya," balas Ustadz itu yang mengerti keadaan mereka.
Kemudian mereka berpamitan meninggalkan ruangan makan itu. Deon dan Isna yang dari tadi memang sudah rapi, segera berangkat ke Kampus meninggalkan rumah Ustadz itu.
Di dalam perjalanan, Isna dan Deon tidak ada yang membuka suaranya. Mereka masih memikirkan apa yang akan dilakukan untuk pindahan. Seakan kedua pikiran mereka saling terhubung dan keduanya saling menatap.
"Gimana kalau kita bilang sama yang punya kost, kita pindah ke luar kota?" Isna dan Deon mengeluarkan pendapat yang sama dengan berbicara secara bersamaan. Karena itulah yang tercantum di dalam pikiran mereka berdua.
"Hahahaha, kok bisa kita mikir hal yang sama Na!" seru Deon tertawa terbahak-bahak.
Deon merasa lucu, mereka berdua bisa sama-sama memikirkan hal seperti itu untuk mengatakan sama yang punya kost.
"Hihihi, iya ya De. Wah kita benar-benar sehati nih. Aku suka pemikiranmu," canda Isna yang merasa lucu.
"Ah kamu Na, aku udah pusing mikirnya gimana. Terus gimana dengan kekurangannya nanti ya? Kayaknya kita harus meminta bantuan sama Meka deh," ucap Deon yang tak merasa sungkan.
"Aku gak enak De, kalau kita harus menyusahkan Meka terus. Apalagi sama Pak Zain."
"Tapi mau gimana lagi Na, cuma Meka sahabat kita yang bisa nolongin kita. Dan Pak Zain tentu bisa mengerti," balas Deon percaya diri.
"Ok lah, kita coba nanti ngomong sama Meka ya."
Obrolan yang panjang membuat mereka tak menyadari kalau mereka telah sampai di Kampus. Deon memarkirkan mobilnya di area parkir Kampus.
"Ayo Na," ajak Deon.
Mereka keluar dari mobil dan berjalan memasuki gedung Kampus mereka.
"Na, aku kok kadang merinding di Kampus ini. Apa Bu Arin gentayangan ya," Deon tiba-tiba mengatakan hal yang menakutkan.
"Hust diem ah. Jangan ngomong gitu kalau lagi disini. Kita gak tau apa Bu Arin tenang atau tidak disana. Masalahnya dia meninggal dengan cara seperti itu. Bisa jadi dia masih belum tenang," balas Isna.
Saat mereka ngobrol tentang Bu Arin, bulu kuduk keduanya berdiri. Mereka merasakan hembusan angin melintas di depan wajah mereka.
Keduanya berhenti diam mematung. Lalu saling menoleh satu sama lainnya.
"De, kamu ngerasa gak tadi?" tanya Deon ambigu.
"Iya De, aku ngerasa. Bulu kudukku berdiri De. Apa Bu Arin ada disini ya?" tanya Isna yang mulai ketakutan.
"Jangan bercanda Na, masa siang bolong gentayangan," ucap Deon yang menepis hal tak masuk akal.
"Buktinya aku merinding dan merasakan hembusan angin lewat dari hadapan kita," balas Isna.
"Mungkin itu kebetulan Na. Mungkin angin lagi kencang," Deon mencoba menepis kejanggalan yang ada.
Tiba-tiba dari belakang seseorang mengejutkan keduanya.
"Woi......! Ngapain di sini!" Sentak orang tersebut sambil memukul pundak Deon dan Isna.
Sontak saja keduanya terkejut dan jantung mereka langsung berdetak kencang seperti habis lari maraton.
"Astaghfirullahal'adzim....., setan, setan.....!" teriak Isna terkejut.
"Eh sialan Lo ngagetin gw, hantu!" bentak Deon yang kesal dengan perbuatan orang itu.
Dia adalah teman satu kelas mereka yaitu Robby yang sering ngegodain keduanya.
"Lagian bengong di jalan. Ngapain sih disini berdiri?" tanya Robby.
"Lagi nunggu setan lewat," ketus Deon yang masih menstabilkan jantungnya.
"Awas loh Deon, nanti benaran lewat loh," ucap Robby menakutinya.
Tiba-tiba angin berhembus kencang lagi lewat dari hadapan ketiganya. Sontak saja mereka terdiam tak ada yang berani bersuara. Mereka seperti tersengat listrik diam mematung. Bulu kuduk mereka pun berdiri.