Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 190


Hai pembaca setiaku, saya senang banget kalian masih setia mengikuti novelku ini. Saya sengaja membuat novel yang bergelombang, terkadang menakutkan dan terkadang santai dan tenang.


Jadi jangan bosan-bosan ya untuk terus mengikutinya. Jangan lupa tetep kasih LIKE, KOMEN, HADIAH GIFT ATAUPUN IKLAN, DAN BINTANGNYA.


Terima kasih ya karena kalian selalu mendukung karya saya ini walaupun masih jauh dari kata sempurna atau mendekati sempurna.


-------------------😘😘😘😘😘😘-----------------------


Meka dan Pak Zain serta Kakek tua itu sedang dalam perjalanan menuju Desa tua untuk menemui Ki Baron.


"Kek, dimana kita harus mencari Ki Baron? Apakah dia mau membantu dan bertemu dengan kita?" tanya Meka yang duduk di bangku belakang.


"Kakek juga gak tau Meka. Kita berdo'a saja semoga dia mau membantu kita," jawab Kakak itu.


"Saya khawatir kek, kalau kita Baron menolak kedatangan kita. Dan bagaimana dengan Kepala Desa itu, orang tua Bu Arin? Apa dia akan menghalangi kita saat di Desa tua itu?" Meka terus bertanya dengan rasa cemas yang tinggi.


"Meka, apa yang kamu tanyakan itu, Kakek juga tidak bisa menjawabnya. Karena mereka juga akan senang jika anak mereka itu hidup kembali walaupun ditubuh wanita yang sudah meninggal itu," jawab Kakek itu menjelaskan.


Meka terdiam dan tidak memberikan pertanyaan lagi. Dia melihat ke luar jendela, jalanan yang ramai dan sedikit macet. Lalu sang Khodam muncul dan duduk di sebelah Meka.


"Meka, temui Ki Baron di rumahnya yang tak jauh dari rumah kembang Desa yang kalian tempati waktu itu," bisik Khodamnya Meka yang sudah duduk di samping Meka.


Meka menoleh ke arah Khodamnya tanpa senyum dan ekspresi. Dia hanya mendengarkannya saja, tidak ingin menyahutnya.


"Kek, dimana kita akan menemui Ki Baron?" tanya Meka dari belakang.


"Kita akan menemuinya di kediamannya Meka. Karena sepenglihatan Kakek, saat ini dia sedang berada disana," jawab Kakek itu.


Meka sengaja bertanya dengan Kakek itu. Dia ingin mengetahui sejauh mana Kakek itu bisa melihat keadaan. Ternyata Meka tidak bisa menyepelekan kelebihan Kakek itu.


"Jangan ragukan dia Meka. Dia memiliki kelebihan sepertimu. Bedanya, dia berlatih memperdalam ilmunya dan membuat dia menyatu dengan ilmunya. Sedangkan kamu tidak mau melatih kemampuan kamu sehingga bisa menyatu dengan tubuh kamu," ungkap Khodamnya.


"Aku tidak ingin berlatih, karena aku tidak ingin menjalani sepanjang hidupku dengan kegelisahan. Aku ingin tenang," protes Meka.


"Itu tidak mungkin Meka, ini sudah jalan hidup kamu. Aku hanya meminta, kamu tidak perlu membantu mereka lagi. Karena masalah yang kamu hadapi dalam kehidupanmu juga akan ada," nasehat Khodamnya.


"Kamu benar. Aku lupa akan pesan Papaku. Yang tidak memperbolehkan aku mengumbar kelebihanku terhadap orang lain. Tapi aku sudah terlanjur memberitahu dengan kedua sahabatku," balas Meka menyesal.


"Mulai sekarang, berhenti memikirkan orang lain. Biarkan mereka menjalani kehidupan mereka sesuai dengan keinginannya. Aku tidak ingin, kamu hanya di manfaatkan saja oleh mereka," Khodamnya Meka tak ingin memberitahu kepada Meka tentang perbuatan kedua sahabatnya.


"Baiklah, setelah masalah ini selesai, aku ingin menemui Papa. Hahh, rasanya sudah lama tidak bertemu dengannya dan ziarah ke makam Mama," ucap Meka melalui bathinnya.


"Ya kamu harus menemui Papamu. Dia sudah sangat tua dan merindukanmu. Kemaren aku menemuinya dan dia mengkhawatirkanmu," balas Khodamnya.


"Kamu menemuinya?!" tanya Meka yang langsung menoleh ke samping.


Secara real, tidak ada sosok yang terlihat. Namun kalau dilihat dengan mata bathin, maka akan terlihat sosok laki-laki tampan dengan pakaian jadulnya.


"Ya, bagaimanapun, dia adalah keturunan yang terpilih sebelum kamu. Tapi karena Papa kamu tidak menginginkanku, maka aku memilih kamu," cerita Khodamnya.


Meka diam sejenak tak membalas ucapan Khodamnya.


"Meka bersiaplah, dan berhati-hatilah. Iblis itu tau kedatangan kalian. Dan dukun sakti itu sudah menanti kalian di hutan angker," ucap Khodamnya tiba-tiba memberitahukan keadaan di sana.


"Meka, Pak Zain bersiap-siap, kita akan menghadapi sesuatu yang akan menghalangi jalan kita menuju Desa tua itu," peringat Kakek tua itu.


"Baik kek, saya akan berhati-hati," balas Zain.


"Iya, Mas akan hati-hati," balas Zain.


Zain pun mulai fokus menjalankan mobilnya sambil berdo'a.


Sementara Kakek tua itu juga memejamkan matanya dengan memfokuskan dirinya untuk mengahadapi sesuatu di depan sana.


"Meka, mobil ini sudah dibuat pagar ghaib. Mahluk-mahluk itu tidak akan bisa menyentuh kalian. Akan tetapi mahluk itu masih bisa menyentuh Zain," jelas Khodamnya.


"Loh terus apa yang bisa aku lakukan? Tidak mungkin aku membiarkan suamiku kenapa-napa. Apa tidak ada jalan keluarnya?" tanya Meka bingung.


"Karena dia adalah sasaran yang akan mereka ambil," jawab Khodamnya.


"Mass hentikan mobil ini sekarang juga..!!" teriak Meka tiba-tiba.


Zain pun gelagapan, namun dia mencoba menenangkan tangannya untuk fokus dan perlahan-lahan, Zain mengambil jalan ke samping untuk berhenti. Zain pun memarkirkan mobilnya di depan ruko yang sedang tutup sehingga tidak mengganggu aktifitas lainnya.


"Ada apa Meka?" tanya Kakek itu duluan.


"Sayang, ada apa ini?" tanya Zain bingung.


"Mas, lebih baik kamu tidak usah ikut. Sebaiknya kamu kembali ke rumah Ustadz Ahmad. Karena ini sangat berbahaya untuk kamu ikuti," jawab Meka menjelaskan.


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu dan membiarkanmu sendirian menghadapi keadaan di depan sana," protes Zain yang tetap pada pendiriannya.


"Maaf Mas, kali ini aku tidak bisa mengajak kamu ke sana. Ini sangat berbahaya. Izinkan aku pergi bersama Kakek untuk menemui Ki Baron," pinta Zain.


"Ada apa Meka kalau Pak Zain ikut dengan kita?" tanya Kakek tua itu.


"Dia tidak boleh datang ke Desa tua itu kek. Karena dia adalah sasaran iblis itu. Jika kita membawa Pak Zain ke sana, itu artinya kita menyerahkannya begitu saja. Sementara kita ingin menemui Ki Baron meminta bantuannya," jawab Meka menjelaskan ke Kakek itu.


"Kakek lupa dengan hal satu itu. Ya kamu benar Meka, kita melupakan hal yang akan membahayakan Pak Zain. Saya sependapat dengan kamu Meka," balas Kakek tua itu.


"Tapi sayang, aku gak mau kamu ke sana tanpa aku. Please, aku ingin ikut," ucap Zain memohon.


"Tidak kali ini Mas. Demi keselamatan kita semua, aku mohon Mas untuk memenuhi keinginanku kali ini," balas Meka yang juga memohon.


Zain menghela nafasnya dengan berat, dia masih menatap Meka dengan memutar tubuhnya ke belakang.


"Baiklah, Mas akan ikuti kemauan kamu kali ini. Mas harap, kamu segera kembali sayang," ucap Zain.


"Pasti Mas. Do'akan agar semua bisa berjalan dengan baik. Mas bisa kembali ke tempat Ustadz Ahmad dengan Khodamku," balas Meka.


"Baiklah Meka, suruh suamimu memejamkan matanya dan berkonsentrasi lah, aku akan mengembalikannya ke rumah Ustadz Ahmad," ucap Khodamnya Meka.


"Heum," balas Meka.


"Mas, pindahlah ke belakang. Kamu akan kembali ke rumah Ustadz Ahmad dalam sekejap. Khodamku akan membantumu," pinta Meka yang menyuruh Zain untuk duduk di belakang disampingnya.


Zain pun menuruti kemauan istrinya. Dia segera pindah ke belakang dan mulai berkonsentrasi dengan memejamkan matanya.


Sementara Meka terus menatap suaminya yang berada disampingnya dalam keadaan mata tertutup.


Bagaimana Zain kembali ke ruang Ustadz itu? Dan apa yang akan terjadi dengan Meka dan Kakek tua itu ketika berada di Desa tua.