
Meka masih bisa bertahan beberapa menit dalam perjalanan menuju rumah Ustadz Ahmad. Hingga mereka tiba di rumah yang berhalaman sangat luas itu. Meka segera memarkirkan mobilnya di depan teras rumah itu.
Sementara di dalam rumah, Zain dan Ustadz Ahmad berdiri langsung dari temoat duduknya ketika mendengar suara deruan mobil masuk ke pekarangan rumah.
"Ustadz, itu mereka sudah kembali!" ucap Zain yang langsung berlari ke depan pintu rumah.
Ustadz Ahmad menyusul Zain ke depan. Zain membuka pintu rumah itu lebar-lebar dan melihat mobil Meka sudah parkir di depan teras. Zain merasa tenang dan bahagia saat melihat Meka sudah kembali. Namun rasa tenang itu sekejab lenyap ketika melihat Meka yang keluar dari mobil, tiba-tiba jatuh terkulai ke tanah.
"Sayaaaang.....!" teriak Zain dan berlari kencang tanpa menggunakan alas kaki menghampiri Meka yang jatuh terkulai. Dia terlihat panik ketika melihat darah keluar dari sudut bibir Meka.
"Astaghfirullahal'adzim nak Meka......!" teriak Kakek tua itu yang terkejut ketika Meka sudah keluar dari mobil dan melangkah selangkah lalu jatuh terkulai.
"Ya Allah nak Meka....," teriak Ustadz Ahmad.
"Ayo cepat Pak Zain, bawa Meka ke dalam!" teriak Ustadz Ahmad yang ikut panik.
Zain langsung membopong tubuh istrinya ke dalam rumah sambil bertanya.
"Apa yang terjadi sayang denganmu?" tanya Zain meraung.
"Bangun sayang....!" teriak Zain ketakutan.
Zain meletakkan tubuh Meka di atas tempat tidur di dalam kamar. Dia membaringkannya dengan hati-hati.
Sedangkan Ummi dan Nenek yang mendengar teriakan mereka di luar, ikut menghampiri Zain dan yang lainnya ke dalam kamar.
"Ya Allah, kenapa Meka Pak Zain...?" tanya Ummi ketika berada di dalam kamar.
"Tenang Bu, tolong ambilkan air putih Bu, biar di bantu untuk meminumkannya," suruh suaminya.
"Iya Pak, sebentar," balas istrinya. Lalu Ummi bergegas cepat ke ruang makan untuk mengambil segelas air putih. Kemudian Ummi langsung berjalan cepat kembali ke kamar dan menyerahkannya ke Ustadz Ahmad.
"Ini Pak air putihnya," serah istrinya.
Ustadz Ahmad mengambil segelas air putih dari tangan istrinya. Kemudian dia membacakan do'a dan menyerahkannya ke Pak Zain.
"Pak Zain tolong bantu berikan air putih ini ke nak Meka. Kita berdo'a semoga nak Meka bisa sadar dan kembali pulih," ucap Ustadz Ahmad sambil menyerahkan gelas itu.
Zain pun menerimanya dan mengangkat sedikit kepala Cha agar tubuhnya naik sedikit ke atas dan meminumkan air putih itu ke dalam mulut Cha. Cha yang masih belum sadar tak bisa meresponnya. Zain berusaha kuat agar Cha bisa meminumnya. Dia sangat khawatir dengan kondisi Cha saat ini. Kepanikan sangat terlihat jelas di wajahnya yang tampan.
"Nak Zain, kita banyak berdo'a, semoga ini hanya sementara dan nak Meka segera pulih," hibur Kakek tua itu.
"Percayalah, nak Meka pasti bisa melewatinya. Dia sangat kuat untuk bisa menyelesaikan semuanya," sambung Ustadz Ahmad.
Zain hanya diam saja. Dia terus memandangi wajah istrinya yang sedang tertidur. Zain merasa kesal terhadap dirinya yang tidak mampu melindungi istrinya.
"Pak Zai sebaiknya kita biarkan Meka istirahat, saya keluar dulu," ucap Ustadz Ahmad.
"Kakek juga mau keluar dulu. Mudah-mudahan Meka bisa segera siuman," Kakek tua juga berpamitan keluar dari kamar.
"Iya Ustadz, kek. Saya disini aja menunggu Meka siuman dan menjaganya," balas Zain.
Ustadz dan Kakek tua keluar dari dalam kamar itu. Mereka berjalan menuju ruang tengah. Kakek dan Ustadz saling menatap sambil mengehela nafas mereka dengan berat.
Disamping itu, Khodamnya Meka ternyata sedang duduk tepat di samping tubuh Meka. Dia menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Cha agar kembali siuman. Setelah melakukannya, si Khodam kembali menghilang.
Zain seketika merasakan bulu kuduknya berdiri ketika Khodamnya Meka menghilang seperti angin. Zain menoleh ke kanan dan ke kiri memperhatikan sekelilingnya. Bagaimanapun Zain orang awam yang tidak memiliki mata bathin seperti istrinya. Sehingga dia hanya bisa merasakan bulu kuduknya berdiri jika ada mahluk ghaib di sekitarnya.
Setelah sejam Meka tertidur, barulah dia membuka matanya perlahan. Silau matahari siang membuat mata Meka tidak bisa melihat jelas ruangan itu. Lalu dia mencoba duduk dan memejamkan matanya sejenak kemudian membukanya kembali dan bisa beradaptasi dengan cahaya luar. Sehingga dia bisa dengan jelas melihat keberadaan Zain di sampingnya sedang tertidur dengan posisi duduk.
"Mas, bangun Mas...!" ucap Meka dengan mengusap kepala Zain.
Zain perlahan-lahan mengangkat kepalanya ketika mendengar suara dan belaian di kepalanya. Zain melihat Meka yang sudah siuman. Zain langsung berhambur memeluk Meka.
"Sayang....., Alhamdulillah kamu sudah siuman. Mas cemas banget tadi," ucap Zain dengan kesedihan.
"Maaf ya Mas udah buat kamu khawatir dengan keadaanku," sesal Meka.
"Tidak, kamu jangan berkata seperti itu. Mas yang seharusnya mengatakan minta maaf karena sudah menyusahkan kamu," ralat Zain.
Meka memeluk erat Zain dia meneteskan air matanya dengan rasa haru.
"Mas, aku gak mau kehilangan kamu. Aku melakukan semua ini demi keluarga kita Mas," ucap Meka di sela tangisnya.
"Maaf sayang, gak bisa melindungi kamu. Udah jangan nangis lagi ya. Yang penting sekarang kamu sudah siuman. Alhamdulillah, Allah masih melindungi kamu sayang," balas Zain sambil mengecup kening Meka.
"Iya Mas. Oh ya dimana yang lainnya? Apa merasa gak enak, takut kalau mereka mengkhawatirkanku juga Mas," ucap Meka.
"Semua orang mengkhawatirkanmu sayang. Ustadz dan Kakek tua sudah keluar dari kamar sejak tadi saat kamu belum siuman. Mungkin sekarang mereka berada di ruang tengah. Kamu harus beristirahat ya," jelas Zain.
"Iya Mas, aku akan beristirahat. Terima kasih udah menjagaku ya Mas," ucap Meka dengan rasa sayangnya.
"Tidurlah lagi, Mas akan menemani kamu disini," suruh Zain.
"Heum," Meka pun mengangguk. Kemudian dia kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya kembali hingga tak berapa lama, Meka pun tertidur pulas.
Zain kembali menatap wajah istrinya sambil menggenggam tangan Meka.
"Mas ingin semua bisa berakhir sayang. Mas ingin hidup tenang seperti yang lainnya. Sepertinya Mas harus melakukan sesuatu untuk kehidupan kita ke depannya," gumam Zain yang menatap Meka dengan kesedihan.
Sementara di ruang tengah, Kakek dan Ustadz Ahmad sedang membahas tentang kejadian di Desa tua. Kakek tua menceritakan bagaimana mereka membujuk Ki Baron agar mau membantu mereka tanpa syarat. Sehingga mereka bisa berhasil membakar jasad laki-laki itu.
"Berarti kita harus mempersiapkan diri untuk nanti malam ya kek, saat bulan purnama tiba," ucap Ustadz Ahmad.
"Ya, mulailah pengajian setelah Isya nanti
Karena mereka akan melakukan ritual tepat tengah malam nanti," balas Kakek tua.
"Baik kek, saya akan mempersiapkan semuanya. Semoga malam ini akan segera berakhir dan besok kita bisa menjalani hidup dengan normal kembali," harapan Ustadz Ahmad.
"Saya juga berharap seperti itu Ustadz. Kami sudah memiliki rencana untuk kehidupan kami selanjutnya. Mudah-mudahan malam ini selesai semuanya," sambung Kakek tua.
Saat mereka sedang ngobrol di ruang tengah, tiba-tiba angin kencang berhembus kencang membuat pintu depan rumah Ustadz Ahmad buka tutup, begitupun dengan jendela-jendela rumah itu. Kakek tua dan Ustadz Ahmad langsung berdiri saling menatap. Lalu mereka menoleh ke arah pintu, dan mereka terkejut saat melihat ke luar tepat di depan pintu.