Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 200


Dukun itu masih berdiri di depan rumah kecil yang berada di belakang rumahnya. Dia mengendus-endus aroma wangi yang sesekali tercium oleh penciumannya. Matanya yang tajam menelisik sekitar wilayahnya.


"Kek, kenapa dukun itu masih diam disana? Apa dia bisa merasakan keberadaan kita?" tanya Meka yang khawatir.


"Saya juga tidak tau nak Meka. Kalau yang saya lihat, ilmunya memang sangat tinggi, hingga bisa mengontrol mahluk sekitar sini yang sangat beringas. Apa yang membuat dukun itu belum meninggalkan rumah itu ya?" Kakek tua itu juga bertanya.


"Iya kek, saya juga bingung. Gimana ini kek, waktu kita sudah tidak banyak," Meka bingung mau berbuat apa. Dia sama sekali tidak memikirkan akan terjadi seperti ini.


Dukun itu berjalan perlahan dan menghampiri sosok genduruwo yang ada di dekat pintu rumah itu. Tidak ada yang tau apa yang di bicarakan dukun itu dengan genduruwo disana.


"Kek, sepertinya dia mengetahui keberadaan kita. Kita harus waspada kek," ucap Meka.


Meka tidak tau, apa yang membuat dukun itu berhenti di depan rumahnya. Dukun sakti itu bisa mencium aroma harum janin yang masih sangat muda. Dan itu membuatnya bisa merasakan keberadaan janin itu. Tetapi Meka tak mengetahui kalau saat ini dia sedang berbadan dua. Hanya Khodamnya yang mengetahui keadaan Meka.


Setelah dukun itu berbicara dengan genduruwo disana, tiba-tiba genduruwo itu menghilang. Meka dan Kakek tua saling menatap heran.


Lalu dukun itu meninggalkan rumah kecil itu tanpa penjagaan. Rumah itu terlihat sepi, tidak ada mahluk ghaib yang berada disana. Dan suasana itu membuat Meka dan Kakek tua curiga dengan situasi di rumah itu.


"Tunggu nak Meka, saya kok sepertinya merasakan kejanggalan disini ya. Apa ini sebuah jebakan atau dia sudah mengetahui kedatangan kita?" tanya Kakek tua itu bingung.


"Saya juga merasakan hal yang sama kek. Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Meka.


"Sepertinya kamu harus bertanya dengan Khodammu, apa yang akan kita lakukan dengan situasi seperti ini. Karena menurut Kakek, mereka sedang merencanakan sesuatu," jawab Kakek tua.


"Baik, saya akan menanyakannya kek."


Meka memanggil Khodamnya dan berkomunikasi dengannya melalui bathinnya.


"Aku tidak tau apa yang harus dilakukan. Disana sangat sepi. Aku takut itu sebuah jebakan," ucap Meka.


"Ya, aku sudah mengetahuinya Meka. Dukun itu berada di dalam rumahnya sedang melihat keadaan rumah dan sekitarnya melalui kendi besar yang diisi air dan darah serta taburan kembang tujuh warna. Meka, kalian tidak punya waktu banyak, binasakan jasad itu dengan menggunakan liontin kamu, sama seperti kamu menghancurkan jasad laki-laki itu," jelas Khodamnya.


"Tapi bagaimana kami melakukannya. Dukun itu memantau kami dari dalam rumah besarnya. Jika dia mengetahui keberadaan kami, tentu itu sangat sulit buatku memusnahkan jasad itu," ucap Meka.


"Kamu bisa menggunakan lingkaran ilusi tapi waktunya tidak bisa lama. Karena bagaimanapun lingkaran ilusi tidak bertahan lama terhadap dukun itu. Karena dia bukan mahluk ghaib. Jadi waktu kalian tidak banyak, kalian harus segera memusnahkan jasad itu dan kembali ke raga kalian. Ayo lakukan Meka, di duniamu sudah hampir tiba waktu Maghrib," balas Khodamnya.


Meka pun menjelaskan ke Kakek tua tentang apa yang di bicarakan Khodamnya. Lalu Meka langsung membuat lingkaran ilusi di daerah rumah kecil itu. Sehingga bisa mengelabui pemandangan dukun itu terhadap sekelilingnya melalui kendi yang ada di dalam rumahnya.


"Ayo kek cepatan, waktu kita tidak banyak lagi," ajak Meka.


Keduanya langsung keluar dari persembunyiannya, dan berjalan cepat ke arah rumah kecil itu. Walaupun jalan yang mereka lewati penuh dengan lendir dari mahluk genduruwo dan sisa-sisa daging manusia yang berceceran di area rumah kecil itu tak menyurutkan tujuan Meka untuk memusnahkan kedua jasad itu.


Kakek tua itu mencoba membuka pintu rumah itu, tapi sayangnya rumah itu dikunci dengan menggunakan kunci ghaib. Sehingga yang bisa membukanya hanya dukun itu. Akan tetapi Meka memiliki kalung bulan sabit yang banyak diincar oleh dukun sakti bisa membuka penutup rumah itu.


"Ayo nak Meka kita masuk, kita harus membakar jasad itu."


Meka pun mengangguk walaupun sebenarnya dia agak takut ketika masuk ke dalam.


Kakek tua dan Meka langsung masuk ke dalam ruang itu ketika pintunya sudah terbuka lebar. Di dalam. rumah itu, Meka dan Kakek tua mengedarkan pandangan mereka mencari jasad yang dicari.


"Dimana jasad itu kek? Kenapa tidak ada disini?" tanya Meka bingung.


"Sebentar nak Meka, Kakek harus konsentrasi dulu untuk melihat keberadaan jasad itu."


Lalu Kakek tua itu memejamkan matanya untuk berkonsentrasi, lalu dia bisa melihat keberadaan jasad itu yang di sembunyikan di balik tumpukan jerami.


"Nak Meka, ayo kebelakang, jasad itu ada disana.Dukun itu meletakkannya di tumpukan jerami," ucap Kakek tua.


"Ayo kek, kita harus segera melihatnya."


Meka dan Kakek tua berjalan ke arah belakang dapur rumah itu. Disana ternyata bukan sebuah dapur. Tapi ternyata sudah di persiapkan untuk ritual saat bulan purnama. Lalu Kakek tua melihat tumpukan jerami itu dan dia menyibakkannya. Hingga terlihat dua jasad yang terbaring di dalam peti mati, dimana di dalam peti mati itu sudah diisi darah gadis perawan dan bunga kembang tujuh warna. Serta di atas kepala jasad itu ada ayam cemani hitam yang sudah mati dan di letakkan di pinggir masing-masing kepala.


"Sepertinya kita harus mengangkat jasad ini keluar dari peti mati ini, ayo nak Meka kita lakukan, cepat...!" seru Kakek tua.


Meka ketakutan saat memegang tubuh jasad itu. Karena bagaimanapun dia tidak pernah berurusan dengan jasad manusia di kehidupan nyatanya.


Meka dan Kakek tua mengangakt jasad itu dari peti mati dan meletakkannya di atas tanah. Hingga kedua jasad itu sudah dibaringkan di tanah.


"Meka lakukan sekarang, tusukkan liontin itu tepat di jantung jasad itu, dan bakar jasad itu menggunakan kemampuan Kakek tua," bisik Khodam Meka.


Meka pun duduk bersila di depan kedua jasad itu. Begitu juga dengan Kakek tua, dia pun mulai berkonsentrasi untuk membakar kedua jasad itu.


Lalu Meka mengambil liontin itu dari lehernya, dan menggoreskan darahnya ke ujung liontin itu sehingga sinar biru terpancar dari liontin itu dan Meka langsung menusuk jantung wanita kembang Desa itu.


"Hiaaaaaaa, musnahlah kau........!" Teriak Meka.


"JLEB," ujung liontin itu yang sudah berubah menjadi belati sakti langsung menusuk jantung itu hingga dada jasad itu terbelah. Begitu juga dengan jasad Ki Baron. Meka juga menusukkan jantungnya dengan liontinnya.


"Lakukan sekarang kek...! Bakar jasad itu buruan....!" teriak Meka yang mundur kebelakang.


Lalu Kakek tua itu dengan kekuatan penuh dia mengarahkan tangannya ke jasad itu hingga membakar kedua jasad itu. Jasad yang tadinya utuh, mulai terbakar dan mencair mengeluarkan asap pekat berbau busuk hingga musnah meresap ke tanah.


"Ayo kek, kita harus segera keluar dari sini!" teriak Meka karena waktu mereka sudah hampir selesai.


Ketiak mereka selesai membakar kedua jasad itu hingga tak bisa lagi dikembalikan, mereka berdua keluar dari rumah kecil itu. Tapi sungguh mereka terlambat, saat mereka membuka pintu rumah itu, mereka dikejutkan dengan hal yang menakutkan.