Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 119


Meka masih diam mendengarkan apa yang diucapkan Khodamnya.


"Bagaimana dengan mereka yang sudah meninggal. Pasti orang tua mereka mencarinya. Apa yang akan terjadi nantinya?" tanya Meka dengan bingung.


"Mereka yang sudah tiada, memang sengaja dipilih sama wanita itu. Karena mereka jauh dari keluarganya. Jangan buang waktu lagi Meka, mereka akan sadar semuanya. Pergi tinggalkan Desa ini dan masuk ke dalam mobil!" seru Khodamnya.


Lalu Meka mengajak Zain, Kakek dan membawa Nenek, Isna dan Deon masuk ke dalam mobil.


"Ayo Mas kita berangkat dan tinggalkan tempat ini," ucap Meka.


"Bagaimana dengan mereka sayang?Apakah kita harus meninggalkannya?" tanya Zain yang melihat kearah Bus.


"Biarkan mereka disana nak Zain. Nanti kamu akan melihat apa yang terjadi saat kamu dan Meka ke Kampus," jawab Kakek itu.


"Apa maksudnya Kek?" tanya Zain lagi.


Kakek itu hanya diam dan sulit untuk menjelaskan terhadap orang yang memang tidak mengerti hal ghaib.


"Tidak ada maksud apa-apa nak Zain. Semua akan membaik kok. Percayalah," ucap Kakek itu yang berusaha membujuk Zain agar tidak menunda kepergian mereka.


"Baiklah Kek, saya akan mencoba berdamai dengan keadaan," ucap Zain dengan tersenyum.


"Mas, kita bawa Kakek dan Nenek ke rumah Pak Ustadz Imron aja. Gimana?" tanya Meka yang memberikan saran.


Zain berpikir sejenak, dia memandang Kakek dan Nenek bergantian.


"Sepertinya saran kamu boleh juga sayang. Ayo kita ajak mereka kesana. Kamu hubungi dulu Ustadz itu ya," ucap Zain.


"Iya Mas."


Zain melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tidak terlalu kencang. Dia tetap fokus menelusuri jalanan Kulon Progo menuju Jogja. Sepanjang perjalanan, yang lainnya pada tertidur, terkecuali Meka dan Zain serta si Kakek. Dia selalu waspada sepanjang jalan.


Sedangkan Meka mencoba menghubungi Ustadz Imron. Hingga beberapa saat kemudian, Meka sudah mendapatkan hasilnya.


"Gimana sayang, apa kata Pak Ustadz?" tanya Zain saat melirik Meka dari kaca spionnya.


"Pak Ustadz ada dirumah kok. Beliau sangat senang menerima kedatangan kita bersama Kakek dan Nenek," jelas Meka.


"Oh syukurlah. Oh ya gimana Kek, apakah kalian mau berkunjung ke rumah Ustadz yang pernah menolong keluarga Ghani," tanya Pak Zain.


"Saya ngikut aja nak Zain, mana yang terbaik


untuk kami berdua," jawab Kakek itu.


Setelah melewati perjalanan yang lumayan jauh dengan jarak yang ditempuh memakan waktu sekitar satu jam setengah. Hingga akhirnya mereka memasuki Jogja.


Lalu Zain mengarahkan mobilnya ke rumah Ustadz itu. Setelah sampai di rumah Ustadz, Meka mengajak Kakek itu turun bersama Nenek itu.


"Ayo Kek, kita sudah sampai di rumah Ustadz itu. Inilah rumah Ustadz yang saya ceritakan tadi Kek," ucapnya.


Si Kakek berjalan bersama si Nenek memasuki halaman rumah itu. Rumah yang sederhana dengan halaman yang luas. Membuat mata yang memandang merasa nyaman dengan adanya tanaman bunga warna warni menghiasi halaman itu.


"De, ini masih mimpi gak ya?" tanya Isna saat melihat rumah Ustadz itu.


"Coba kamu cubit tanganku juga Na, kita sedang gak bermimpi kan?" tanya Deon juga yang merasa senang.


Deon dan Isna gak percaya kalau mereka sudah keluar dari zona tak aman. Berkali-kali Deon mencubit kulit lengannya. Begitu juga dengan Isna.


"Na, kita benaran udah keluar dari Desa itu! Lihat itu benar rumah Ustadz Imron!" seru Deon.


"Aku ingin pulang Na, nemui Mamaku hiks hiks hiks," balas Deon yang menangis.


"Ih.....cengeng banget sih De. Maluin aku aja. Ayo jalan, tuh Meka dan yang lainnya udah masuk ke rumah Ustadz," ajak Isna yang kesal melihat Deon menangis.


"Aku nangis karena merasa senang Na, akhirnya masih punya kesempatan melihat Mamaku. Coba kamu ingat gimana seremnya hari yang kita lewati kemaren!"


"Iya kamu benar De. Aku juga jadi kangen sama Mama," Isna pun ikutan melow melihat Deon menangis.


Saat mereka sibuk dengan adegan melow, Meka datang menghampiri keduanya.


"Deon, Isna, kalian kenapa masih berdiri disini? Ayo masuk, dicariin sama Ustadz tuh," ajak Meka.


"Eh, hehehe, sorry Mek, kami masih merasa gak percaya akhirnya bebas dari Desa angker itu," balas Deon.


"Iya Mek, gw bersyukur banget bisa sampai di rumah Ustadz," sambung Isna.


"Iya gw juga Na, De. Rasanya lelah banget menghadapi semuanya. Tapi sekarang kalian lihat kita sudah berada di rumah Ustadz Imron," ucap Meka yang merasa bersyukur.


"Ayo lah Na, Mek kita ke dalam. Gw pengen ketemu Ustadz," kata Deon.


Mereka bertiga akhirnya berjalan memasuki rumah Ustadz. Sesampainya di dalam Deon dan Isna di sambut oleh Ustadz itu.


"Assalamu'alaikum nak Deon, Isna, gimana khabar kalian?" tanya Ustadz saat melihat kehadiran mereka.


"Wa'alaikumussalam Ustadz, saya dan Isna sehat seperti yang Ustadz lihat," jawab Deon.


"Syukur Alhamdulillah, ayo masuk. Duduk disini bareng Pak Zain dan Kakek," suruh Ustadz Imron.


"Iya Ustadz," jawab Deon dan Isna berbarengan.


Isna, Deon dan Meka gabung dengan Pak Zain dan Kakek itu. Mereka pun mulai ngobrol membahas kejadian yang dialami mereka.


"Ustadz, apakah juga mengetahui tentang Desa itu?" tanya Deon.


"Iya, Desa itu memang Desa yang tidak pernah dikunjungi oleh masyarakat luar. Kalau ada yang berkunjung kesana, pasti mereka tidak akan pernah kembali lagi. Dan tidak ada yang mengetahui apa yang ada disana oleh orang awam kecuali mereka yang memiliki mata bathin dan para dukun," jelas Ustadz Imron memberitahukannya.


"Apakah Ustadz mengenal Ki Baron?" tanya Meka tiba-tiba.


"Mengenal dekat sih tidak. Tapi saya tau sedikit tentang dia. Dia adalah dukun yang awalnya hanya mengobati orang sakit dan kena guna-guna ataupun sejenisnya. Awalnya saya tidak tau kalau dia berada di Desa itu. Yang saya tau dia ada di Jogja. Dan saya juga tidak mengetahui kenapa dia bisa berada di sana," ucap Ustadz itu.


"Apa Kakek tau kenapa Ki Baron tinggal disana?" tanya Meka saat menoleh kearah si Kakek.


"Kami warga Desa taunya Ki Baron seorang pemuda matang yang berkunjung kerumahnya orang tuanya. Ki Baron adalah salah satu anak dari warga di Desa itu. Dia kembali sepuluh tahun yang lalu ke Desa itu karena Ibunya meninggal. Dan ayahnya sudah lama meninggal. Setelah itu dia menetap di Desa itu membantu warga disana. Ya hingga kejadian itu, kami baru mengetahui bahwa Ki Baron juga mencintai gadis kembang Desa disana. Itulah yang membuatnya berubah haluan menjadi dukun ilmu hitam," jelas Kakek itu.


Saat mereka asyik ngobrol, dari arah dapur datang lah istri Ustadz Imron dan Nenek itu. Mereka menghidangkan cemilan dan minuman untuk semuanya.


"Aduh Nek....Umi...kenapa repot-repot...! Jadi gak enak nih kami," ucap Isna gak enakan.


"Gak apa-apa nak, Umi dan Nenek senang bisa menghidangkan cemilan ini. Ini buatan si Nenek, ayo di makan."


"Iya Umi," jawab Meka dan Isna serta Deon bersamaan.


Lalu si Nenek duduk di sebelah si Kakek. Dan ini memilih duduk di samping Isna.


"Saya rasa semua sudah selesai disana, saat ini Ki Baron sepertinya terluka parah di rumahnya yang berada di hutan itu," ucap Ustadz Imron sambil meneguk minumnya.


"Nak Meka dan yang lainnya bisa kembali ke rumah masing-masing. Dan bersikap biasa saja karena semua akan kembali seperti semula kecuali mereka yang sudah meninggal dan menghilang disana, tidak ada yang mengetahuinya. Karena semua yang datang ke Desa itu kemaren akan melupakan bahwa mereka pernah kesana," jelas Ustadz Imron.