Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 89


Kemudian Zain dan Meka kembali ke dalam ruangan rawat inap mereka.


"Gimana Mek, udah beres semuanya?" tanya Isna saat melihat Meka masuk bersama Dosga mereka.


"Sudah. Apakah semua sudah siap? Kita bisa kembali sekarang ke Apartement."


"Iya Mek, gw dan Deon udah siap kok. Gimana dengan Pak Zain, apakah sudah membaik?" tanya Isna yang melihat wajah Dosganya masih sedikit pucat.


"Iya Mek, Sepertinya Pak Zain masih kelihatan pucat," sambung Deon.


Mereka berdua melihat Dosganya yang memaksakan diri untuk kembali ke Apartemennya sekarang juga.


"Saya baik-baik aja," Pak Zain menjawabnya.


"Kita ke Apartement menggunakan Grab online, karena mobil Pak Zain berada di bengkel. Dan Pak Zain juga gak mungkin menyetir mobil dalam beberapa hari ke depan," jelas Meka.


"Apakah nanti kita juga menggunakan Grab online Mek?" tanya Deon.


"Iya Deon. Mobilnya Pak Zain juga selesai besok. Ayo kita kembali ke Apartement sekarang. Gw mau istirahat dulu sebelum bertemu Mama Lo," Meka mengajak sahabatnya segera.


Mereka berempat keluar dari ruangan inap dan berjalan menuju depan rumah sakit. Ketika Meka berjalan bersama Zain, dia dihadang dengan mahluk halus wanita itu.


"Meeekaaa tooloong aakuuu!" seru mahluk halus itu.


Meka berhenti dan tak melanjutkan perjalanannya.


"Ada apa sayang?" tanya suaminya.


Deon dan Isna menoleh kebelakang. Mereka melihat Meka dan Dosganya berhenti. Lalu mereka berdua menghampiri Meka. Deon dan Isna tidak mengetahui kehadiran mahluk yang tak kasat mata dihadapannya.


"Mek, kenapa berhenti? Apa ada yang ketinggalan?" Deon bertanya.


"Iya Mek, bukannya semua sudah dibawa ya. Kita kan gak terlalu banyak barang bawaan?" Isna ikut bertanya juga.


Meka menunjuk kearah lantai yang dihadapannya.


"Itu, mahluk wanita itu berada didepan kami Na, Deon!" seru Meka.


Deon langsung melompat dan Isna mundur beberapa langkah kebelakang.


Busyet Mek...Lo gak bilang dari tadi. Kalau keinjek gw gimana tuh si halus bisa makin halus dia," celetuk Deon dengan somplak.


Isna menoyor kepala Deon dan berbisik.


"Hati-hati kamu berbicara Deon! Bisa marah tuh si mahluk halusnya. Lihat Meka aja diam, kamu malah ngomong sembarangan," kesal Isna.


"Iya sayang, aku kan bicara apa adanya. Lihat tadi Meka nunjuknya kearah aku. Nah berarti aku kan gak salah, tar si halus keinjek gimana dong," protes Deon yang gak mau disalahkan.


"Hadehhh ya ya kamu benar. Sekarang kita dengar apa yang di bicarakan Meka aja," Isna menyuruh Deon untuk menutup mulutnya.


"Kamu mau apa?" tanya Meka terhadap mahluk itu.


"Tooolooong keeluuaarkaan jaaasaadkuu Meekaa!" ucap mahluk halus itu dengan suara sendunya.


Meka mencoba berbicara melalui bathinnya dengan Khodamnya.


"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini?" Meka bertanya melalui bathinnya.


Seketika Meka mendengar suara dari Khodamnya yang mengatakan.


"Pergilah ke orang tuanya dan sampaikan kematiannya agar orang tuanya yang melakukannya," bisik Khodamnya.


Meka menoleh kesamping dimana suaminya berdiri. Dia harap cemas untuk meminta izin dengan suaminya.


"Mas, apa boleh aku menemui orang tuanya agar mereka yang mengurusnya? Kasihan dia Mas. Aku juga kasihan sama Ibunya yang sendirian dikampung," Meka mencoba merayu suaminya agar memperbolehkannya melakukannya.


Zain diam sejenak, tampak berfikir apakah harus mengizinkan istrinya membantu mahluk ghaib atau tidak dan melupakan semuanya. Dia melihat ke istrinya dengan penuh kecemasan. Tapi dia juga tidak ingin mengabaikan hati nurani istrinya yang terlalu berempati terhadap orang lain bahkan mahluk tak kasat mata sekalipun.


"Sekali ini, Mas izinkan kamu melakukannya. Untuk yang pertama kali dan terakhir kali. Tidak akan ada yang berikutnya, kamu paham Meka..," ucap Zain dengan ketegasannya.


"Iya Mas, makasih banyak. Aku janji gak akan melakukannya. Ini yang pertama dan terakhir Mas," Meka bergelayut manja dilengan suaminya dihadapan kedua sahabatnya.


"Terus apa yang akan kita lakukan Mek?" tanya Isna tiba-tiba.


Meka mengembalikan posisinya dengan berdiri tegak di hadapan mereka.


"Kita akan ke rumah Ibunya saat mobil Pak Zain selesai diperbaiki. Mungkin besok atau lusa. Apakah kalian mau ikut menemaniku?" tanya Meka terhadap kedua sahabatnya.


Deon dan Isna saling berpandangan, mereka merasa tertantang dengan keadaan ini. Ini pengalaman yang menyenangkan bagi mereka.


"Gimana dengan Lo Deon?" tanya Meka.


"Gw ikut deh Mek. Walaupun sebenarnya gw gak ingin mencampuri masalah yang berhubungan dengan mahluk ghaib, tapi karena pacar gw Isna ikut, ya mau gak mau gw juga ikut," terang Deon yang setuju ikut.


"Duhhhh sayangku ini so sweet banget ya mau nemani aku kemana pun pergi," puji Isna.


Lalu Meka melangkah kedepan dan berdiri dihadapan mahluk itu yang tepat dihadapan Deon juga.


Mahluk itu mendekati Meka dan menggenggam tangan Meka yang diulurkannya. Meka merasakan aliran hangat ditubuhnya dengan memejamkan mata dia bisa melihat dimana keberadaan orang tua mahluk itu. Meka melihat dengan jelas kehidupan Ibunya yang selalu duduk di depan rumah papan semi dinding setiap pagi dan sore hari. Lalu Meka melepaskan tangannya setelah mengetahui dimana lokasi rumahnya.


"Meekaa teeriimaa kaaasiiihh, saampaaikaan saamaa Ibuuukuuu, aakuuu menyaaayaangiinyaaa," Lalu mahluk itu menghilang.


Meka meneteskan air matanya karena sedih melihat penampakan sosok Ibu yang selalu merindukan anaknya yang tak pulang-pulang.


"Apa yang terjadi sayang?" tanya Zain yang menghampiri istrinya. Dia khawatir dengan istrinya.


"Ada apa Mek?" tanya Isna yang khawatir.


"Mek, gak usah dilanjut kalau memang membahayakan Lo. Kami gak mau Lo kenapa-napa!" ucap Deon cemas.


"Bukan begitu, gw baru aja dikasih lihat gambaran keberadaan rumah mahluk itu. Lusa kita berangkat kesana," jelas Meka.


"Tapi kamu gak kenapa-napa kan sayang?" Zain semakin khawatir karena melihat istrinya menangis.


"Tidak Mas, aku baik-baik aja kok."


"Terus itu air mata kenapa mengalir seperti air terjun?" tanya Deon ngasal.


"Oh ini," Cha memegang pipinya yang basah.


"Ini air mata karena gw sedih melihat sosok Ibunya yang duduk didepan rumahnya menunggu kepulangan anaknya Mas. Ibunya terlihat sedih dan sudah sangat tua. Aku kasihan Mas, ingin rasanya aku merawat Ibu itu," ucap Meka yang prihatin dengan kondisi Ibu itu.


"Sudah ya, kita akan menyelesaikannya lusa. Kita akan mengunjungi orang tuanya. Sekarang kita kembali ke Apartemen karena Mas juga banyak yang harus dikerjakan," suaminya memberikan perhatian yang lembut untuk Meka.


Mereka berjalan keluar dari rumah sakit itu dan masuk ke dalam mobil karena mobil itu sudah berada di depan rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, Meka memejamkan matanya dibahu Zain. Dia merasa kelelahan setelah melihat peristiwa dan keadaan dari mahluk itu.


Zain mengusap lembut tangan Meka, memberikan ketenangan untuknya. Zain sangat menyayangi istrinya. Dalam lamunan, tiba-tiba ponsel Zain berdering. Zain melihat nama yang tertera, nama Mamanya.


"Mama menelpon, kenapa ya?" gumam Zain.


Meka tak menghiraukan apa yang dikatakan suaminya. Dia tetap memejamkan matanya dan membiarkan Zain mengangkat tlp nya.


"Hallo Ma, Assalamu'alaikum," sapa Zain.


"Wa'alaikumussalam Nak. Mama ingin bertemu dengan mu. Apa kau tak merindukan Mama sayang?" tanya Mamanya dengan sedih.


"Iya Ma, Zain akan kesana tapi tidak hari ini. Zain masih ada kerjaan beberapa hari ini," jelas Zain tanpa ekspresi. Tangannya tetap menggenggam tangan istrinya.


"Baiklah sayang, Mama akan tunggu kedatanganmu," balas Mamanya.


"Zain akan kesana bersama istri Zain," tekan Zain.


Mamanya terdiam sesaat. Dia mencoba menguasai hatinya untuk bisa menerima kehadiran Meka.


"Terserah kau saja Zain. Mama merindukanmu," ucap Mamanya yang mencoba menghasut anaknya dengan kata rindu.


"Nanti Zain khabari. Udah dulu ya Ma, Assalamu'alaikum," ucap Zain yang menyudahi percakapannya.


"Iya sayang, Wa'alaikumussalam," balas Mamanya diseberang.


Zain menutup ponselnya dan menoleh kebahunya, melihat keadaan Meka. Ternyata istrinya masih memejamkan matanya. Zain tidak ingin membahasnya di hadapan sahabat istrinya karena bagi Zain tidak semuanya harus diekspose dengan Deon dan Isna.


Waktu terus berjalan, hingga mobil yang mereka tumpangi sampai di depan Apartement Zain. Zain membangunkan Meka dengan pelan dan kelembutan.


"Sayang, kita sudah sampai. Ayo turun," ucap Zain yang mencoba membangunkan Meka.


Meka membuka matanya dan melihat mobilnya yang sudah berhenti. Dia melihat suaminya masih setia disampingnya.


Deon dan Isna sudah duluan turun dari mobil. Mereka menunggu Meka dan Dosga mereka.


Zain membawa Meka keluar dari mobil itu dan berjalan kearah Deon dan Isna. Mereka memasuki Apartemen hingga sampai ke ruangan Zain.


"Ayo, kita istirahat sayang di dalam," Zain mengajak istrinya agar istirahat di dalam kamar mereka.


"Na, Deon, kalian juga istirahat karena nanti kita akan pergi menemui Mama Deon," Meka mengingatkan keduanya.