Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 194


Meka syok mendapatkan cairan darah yang berwarna hitam menetes mengalir dari atas kepalanya. Dia memegang darah itu dan...


"Wuekkk..wuek..," Meka terus muntah-muntah dan dia pun mengusap-usap wajahnya dengan tangannya secara


"A--apa i--ini kek! Baunya wuek..," Meka terus mengusap-usap darah busuk itu di wajahnya hingga dia melihat di tangannya sudah berlumur darah berwarna hitam.


Lalu Ki Baron langsung pergi mengambil air di belakang untuk membersihkan wajah Meka.


"Ini bersihkan wajah kamu dengan air, cepat..!" seru Ki Baron memaksa.


"Kenapa Ki, ada apa dengan darah ini?" tanya Meka yang langsung membasuh wajahnya dengan air yang ada di baskom.


"Darah itu akan merusak wajah kamu hingga kecantikan yang kamu miliki akan berpindah ke mahluk wanita itu," tunjuk Ki Baron ke arah sosok yang berada di atas mereka dengan menyeringai.


"Mak--sudnya darah itu menyerap kecantikan wajah seseorang untuk dimiliki mahluk itu?" tanya Meka mengulang ucapan Ki Baron.


"Ya, kamu benar, dia salah satu korban dari iblis itu yang meminta tumbal sebagai kecantikan wajah kembang Desa itu," jawab Ki Baron.


Meka sedikit kaget mendengarnya, dan Meka tak mungkin mengabaikannya karena itu sudah mengancam dirinya. Bagaimanapun mahluk itu sudah mencoba menyakitinya dengan menginginkan wajahnya. Dia menatap tajam ke arah mahluk yang ada di atas langit atap rumah itu.


Meka, abaikan mahluk itu, biar aku yang akan mengurusnya. Maaf, aku tidak bisa membantumu saat ini secara berlebihan. Karena malam bulan purnama akan menjadi pertarungan yang mengerikan dengan iblis itu. Aku harap kamu cepat menyelesaikannya," ucap Khodam Meka mengingatkannya akan tujuan mereka.


"Baik, aku akan segera naik ke lantai atas," balas Meka melalui bathinnya.


Lalu Kakek tua itu menyadarkan Meka dari melamunnya. Seakan dia mengetahui kalau Meka sedang berkomunikasi dengan Khodamnya.


"Gimana nak Meka, wajahnya sudah bersih? Sekarang, bisa kita lanjutkan untuk naik ke lantai atas? Waktu kita tidak banyak," ajak Kakek tua.


"Iya kek, kita lanjut. Sepertinya mahluk-mahluk itu mencoba menghalangi kita untuk mencapai tujuan kita kek," ucap Meka memberitahu.


"Kakek juga berpikir seperti itu. Mahluk-mahluk itu sengaja membuat kekacauan agar waktu yang sempit akhirnya sia-sia," balas Kakek tua itu.


Sekarang Meka menyadari sesuatu. Kejadian ini merupakan perbuatan oleh iblis itu yang memang di sengaja untuk menghentikan langkah mereka.


Kemudian dengan keberanian dan tekad yang kuat, Meka melangkah ke depan dan berjalan bersama Kakek tua. Sedangkan Ki Baron memimpin mereka menaiki tangga. Sesampainya di lantai dua, Meka bisa merasakan aura yang mengerikan dilantai itu. Kamar-kamar yang berada di lantai itu memiliki penghuni yang tak kasat mata.


Mahluk-mahluk itu terkurung di dalam kamar itu, namun tangan mereka ingin menggapai-gapai tubuh Meka yang sangat harum.


Meka yang tak menyadari kalau di dalam tubuhnya saat ini akan tumbuh janin yang masih akan membentuk gumpalan darah. Sehingga membuat mahluk tak kasat mata sangat menginginkan tubuh Meka.


Khodam Meka sengaja tidak memberitahu tentang keadaan Meka yang sedang tumbuh janin. Dan Meka memang tak menyadarinya karena tak merasakan hal yang aneh pada dirinya. Namun mahluk tak kasat mata itu bisa mencium aroma harum dari tubuh Meka.


"Kenapa mahluk-mahluk itu terus menggangguku?" bathin Meka bertanya-tanya.


Meka sempat bingung dengan mahluk-mahluk itu yang terus menerus mengganggunya.


Suasana di alntai atas sangat mencekam, hingga terdengar suara pintu terbuka tutup.


Meka menoleh ke samping, tapi pintu itu tertutup kembali. Meka terus berjalan berdampingan dengan Kakek tua.


Saat mereka hendak melangkah lebih dekat dengan pintu kamar itu, tiba-tiba dari bawah pintu yang terkunci itu keluar darah bercampur nanah berbau busuk. Dan pintu itu pun langsung terbuka lebar hingga menampakkan keadaan yang gelap dalam ruangan itu.


"Awas kek!" ucap Meka ketika melihat darah itu keluar dari pintu kamar itu.


Kakek tua itu tak menyadari jika darah keluar dari bawah pintu. Dia hanya fokus pada pintu yang terbuka lebar. Begitu juga dengan Ki Baron. Mereka terkejut dan langsung menghindar mundur ke belakang.


"Darah apa itu Ki Baron?" tanya Kakek tua itu memicingkan matanya menatap tajam ke arah Ki Baron.


"Katakan Ki, darah apa yang keluar dari kamar itu!" teriak Meka emosi.


"Ayo nak Meka, kita masuk. Tapi tunggu biar saya membersihkan darah itu dari lantai," ucap si Kakek tua.


Lalu Kakek itu memusatkan pikirannya dan fokus mengarahkan kekuatannya menghilangkan darah itu. Dalam sekejap darah itu berasap dan lama-lama menyusut hingga menghilang.


"Ayo cepat, kita masuk dan ambil jasad itu!" seru Kakek tua.


Ki Baron dan Meka berjalan cepat memasuki kamar yang sudah terbuka sendiri. Sesampainya mereka di dalam, mereka terkejut dengan penampakan yang sudah menunggu mereka.


Meka menatap tajam ke arah sebuah kursi yang bergoyang berayun ke depan ke belakang. Mereka bertiga melihat sosok tubuh laki-laki dalam kegelapan yang remang-remang.


"S--siapa kamu!" bentak Ki Baron.


Ki Baron sangat terkejut dengan adanya sosok di dalam kamar itu. Dia gemetaran dan ketakutan. Ki Baron yang sudah kehilangan kekuatannya, tak berani maju untuk menantang. Dia hanya bertanya di samping Kakek tua.


"Hahahahaha," suara tawa menggema di dalam ruangan itu.


"Meka, cepat bawa jasad itu dan bakar. Sebelum kamu bakar tusuk jantungnya dengan liontin bulan sabit yang sudah di lumuri darah. Agar jasad itu hancur dan tak bisa di manfaatkan lagi," ucap Khodamnya.


"Jasad yang mana? Disini ada sosok mahluk laki-laki sedang duduk di kursi goyang itu. Apa yang harus kami lakukan" tanya Meka bingung.


"Yang duduk di kursi goyang itu adalah jasad laki-laki pasangan dari kembang Desa ini. Yang ada di tubuh laki-laki itu hanya mahluk ghaib yang mencoba mengusir kalian. Karena dia sudah merasa nyaman dengan tubuh itu, sehingga kalian ancaman baginya untuk mengambil tubuh itu. Ayo cepat Meka, waktu kalian tidak banyak. Sebentar lagi akan datang perubahan waktu, dari nyata ke dunia lain," ucap Khodamnya mengingatkan Meka.


"Baiklah, aku akan memusnahkan tubuh itu."


"Kek, itu jasad laki-laki yang kita inginkan. Di dalamnya hanya sosok mahluk ghaib yang sudah lama menempati tubuh itu. Dia tidak ingin kita membawa tubuh itu. Tapi kekuatannya hanya biasa saja. Ayo kek kita ambil tubuh itu," jelas Meka.


Lalu si Kakek tua mengarahkan kekuatannya untuk menarik paksa mahluk yang bersemayam dalam tubuh itu.


"Keluar dari tubuh itu.....!" bentak Kakek tua itu dengan mengarahkan tangannya ke arah tubuh itu.


"Tiiidaaakkk...., lepaaskaaann. Jaangaan aaambiiill diiiaaaa!" teriak mahluk yang ada dalam tubuh itu.


"Enyahlah kau, jangan gunakan tubuh itu. Atau ku hancurkan," ancam Ki Baron.


"Aakuuu aaakaaan keeeluuaaar....!" teriak kesakitan mahluk itu.


Tiba-tiba tubuh itu tergeletak di kursi goyang itu tanpa bergerak lagi. Namun hal yang mengerikan terjadi. Di dalam ruangan itu bermunculan darah beserta belatung dilantai serta dinding kamar itu. Mereka yang sudah membiasakan mata dengan penerangan dari lampu ponsel, bisa melihat apa yang ada di lantai. Sontak ketiganya mundur ke arah pintu kamar.


"Astaghfirullahal'adzim, apalagi nih kek?!" tanya Meka ngeri dan jijik.


Lalu Kakek tua itu mengerahkan tenaganya untuk menghilangkan darah yang keluar dari lantai dan dinding.


"Ayo nak Meka, kita bawa keluar jasad itu cepat!" ucap Kakek tua buru-buru.


"Ki Baron...bantu saya mengangkatnya. Kita harus segera membakarnya!" teriak Kakek tua.


Kakek tua langsung berlari ke arah jasad itu dan mengangkatnya dengan di bantu Ki Baron dan Meka. Namun langkah mereka terhenti karena tiba-tiba pintu kamar itu terhempas keras tertutup rapat.


"Gimana ini kek?" tanya Meka.


"Kamu tau jawabannya Meka, lakukan sekarang!" perintah Kakek tua.


Meka pun meminta bantuan Khodamnya untuk membuat pagar ghaib yang sangat kuat, sehingga tidak ada yang menghalangi tujuan mereka.


Tanpa menunggu lama, ternyata sang Khodam langsung bergerak, dia membuat pagar ghaib untuk mereka. Dan pintu itu terbuka lebar. Sesaat mereka merasa lega, dan segera keluar.