Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 41


Meka sedang melihat keluar jendela saat menunggu Dosganya selesai mandi. Saat Meka melamun, Zain keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Meka sedang melamun didepan jendela.


"Sayang, kenapa kamu melamun didepan jendela? Ayo kita turun. Papa kamu pasti sudah menunggu dibawah bersama keluargamu," Zain mengusap rambut Meka untuk menyadarinya.


Meka menoleh kebelakang melihat Zain yang sudah rapi.


"Zain, salahkah aku, jika masih belom bisa menerima kenyataan ini? Apakah aku tidak boleh meratapi kepergian orang yang sangat aku sayangi dalam hidupku?" Cha bertanya dengan wajah sendunya dan mata yang sembab karena semalam menangis terus.


"Meka sayang, tidak ada yang melarang kamu untuk belom bisa menerima kenyataan ini. Karena ini memang sangat membuat kita syok. Tapi jangan berlarut sayang karena kasihan Mama dan adik kamu tidak bisa tenang dalam melangkah. Dan mereka juga akan merasa sedih karena harus meninggalkanmu di dunia ini. Jadi untuk membuat mereka senang, kirimkan lah do'a buat mereka sayang," Zain memberikan nasehat dan dukungan untuk Meka.


"Makasih sayang, kamu selalu ada untukku. Jangan pernah meninggalkan ku," Meka memeluk Zain dengan erat dan meneteskan kembali air matanya.


"Ayo kita keluar sayang," ajak Zain sambil merangkul bahu Meka untuk memberikan kekuatan.


Mereka berdua keluar dari dalam kamar dan melihat sudah banyak orang yang datang melayat. Meka melihat kondisi Papanya yang berantakan dan hancur karena tidak tidur. Meka langsung berhamburan memeluk Papanya.


"Sudah sayang, sudah. Ikhlaskan ya Mama dan adik kamu. Kita do'akan agar mereka tenang di alamnya," Papanya menepuk-nepuk bahu Meka.


"Iya Pa."


Meka duduk disamping Papanya, dia terus memandang wajah Mama dan adiknya yang terakhir kali sebelum dimandikan dan dikafani. Lalu Meka terkejut melihat bayangan putih yang berada didekat jenazah. Ketika Meka hendak berbicara, Papanya mencekal tangan Meka dan berkata.


"Diamlah nak, apa yang kamu lihat jangan kamu ucapkan dengan mereka. Karena mereka tidak akan mempercayainya. Cukup kamu melihat dan tersenyumlah kepada mereka. Mereka adalah bayangan Mama dan adikmu."


Meka terkejut karena Papanya mengetahui apa yang dilihat Meka. Lalu Meka menoleh ke Papanya, dan Papanya membalas dengan anggukkan.


"Kenapa Papa bisa tau kalau aku sedang melihat dua bayangan putih itu. Apakah Papa juga bisa melihatnya? Ada apa ini? Kenapa Papa dan Mama tidak pernah cerita tentang sesuatu terhadapku? Apa yang disembunyikan mereka?" pikir Meka.


Meka kembali melihat kedua bayangan itu. Lalu bayangan itu mendekat kearah Meka dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.


Lalu bayangan itupun hilang perlahan-lahan saat seseorang mengatakan akan segera memandikan jenazah.


"Pa, Meka boleh ikut memandikan Mama untuk yang terakhir kalinya?" tanya Meka.


"Boleh sayang."


Meka dan orang yang memandikan jenazah mulai memandikan Mamanya Meka. Meka meneteskan air matanya melihat tubuh Mamanya yang sudah tak bernyawa. Sedih yang berkepanjangan dirasakan oleh Meka.


Setelah beberapa menit memandikannya, jenazah dibawa kedalam dan mulai dikafani. Setelah semua prosesnya selesai, jenazah akan disholatkan. Meka tak henti-hentinya meneteskan air matanya. Banyak pelayat yang ikut untuk mensholatkan jenazah. Para tetangga berdatangan untuk mengantar kepergian Mama dan adiknya Meka.


Meka ikut mengantar kepergian Mama dan adiknya ke kuburan. Dan ini adalah moment terakhir buat Meka dan Papanya untuk melihat Mama dan adiknya.


Meka berjalan bersama Tantenya dan tetangga yang lainnya. Sedangkan Zain ikut andil mengangkat keranda yang membawa adiknya Meka. Dan Papanya Meka beserta beberapa keluarga mengangkat keranda istrinya.


Sesampainya di area pemakaman, jenazah pun mulai diarahkan ke liang kubur. Hingga prosesnya selesai. Air mata dari para pengantar baik dari keluarga dan tetangganya tak henti-hentinya meneteskan air mata mereka.


"Zain...,hiks hiks hiks, Mama....Biyu...!! Meka menangis tersedu-sedu karena sudah tidak bisa lagi melihat mereka di dunia ini.


Papanya Meka berusaha tegar dan kuat agar tidak menangis terus.


Setelah itu para pelayat dan keluarga, mereka meninggalkan kuburan. Sedangkan Papa dan Meka serta Zain masih setia menunggu di kuburan dihadapan batu nisan Mama dan adiknya.


"Ma, semoga Mama dan Biyu tenang disisi Allah SWT. Meka akan selalu mengirimkan do'a untuk Mama dan Biyu. Selamat jalan Ma, selamat jalan dek!" Meka memeluk Papanya yang termenung melihat gundukkan tanah yang masih basah milik istri dan anaknya.


"Ayo Om, Meka kita kembali kerumah. Mereka sudah tenang disana," ucap Zain mengajak mereka berdua untuk meninggalkan pemakaman.


Meka dan Papanya serta Zain meninggalkan area pemakaman dengan hati yang hancur. Sudah tidak bisa dibayangkan bagaimana bentuk mata Meka yang membengkak akibat terus menangis.


Mereka pulang berjalan kaki kembali kerumah Meka. Dalam perjalanan Meka melihat sosok laki-laki ganteng itu lagi. Dia tersenyum melihat Meka dan kedua laki-laki yang berada didekat Meka.


"Pa, kita harus bicara malam ini setelah pengajian," ucap Meka memulai percakapan.


"Iya sayang, Papa juga mau menyampaikan sesuatu denganmu dan Zain."


Setibanya mereka dirumah Meka melihat sekeliling ruangan dimana dia mengingat setiap moment yang menyenangkan bersama Mama dan adiknya. Lalu Meka berjalan masuk kedalam kamarnya. Dia melewati Om dan Tantenya yang sedang berkumpul diruangan itu.


Zain membiarkan Meka kekamarnya. Sedangkan dia ikut bergabung dengan keluarga yang lainnya.


"Maaf anak ini siapanya Meka ya?" tanya salah satu keluarga Meka.


"Saya Dosen dikampusnya Meka. Kebetulan kami satu tujuan dan saya ikut kerumah Meka," jawab Zain yang berusaha sopan.


"Apa kalian punya hubungan khusus?" tanya keluarga Meka yang lainnya.


"Ya Pak, dia calon istri saya," jawab Zain dengan tegas tanpa ekspresi.


"Oh....,Meka sudah punya calon rupanya."


"Pulang kemari mau ngenalin sama keluarga kali ya. Kasihan harus menerima keadaan seperti ini," celetuk salah satu keluarga yang perempuan.


"Hmmm, masih kecil kok sudah punya calon sih!" ketus yang lainnya.


Zain hanya diam saja, tidak menggubris dan membalas ucapan mereka. Lalu dia beranjak dari kumpulan keluarga Meka, pergi menepi kearah meja makan. Zain merogoh kantongnya dan mengambil ponselnya. Lalu dia menghubungi no Papanya.


"Assalamu'alaikum Pa, ini Zain!" sapa Zain.


"Wa'alaikumussalam Zain, kamu dimana ini sekarang" tanya Papanya.


"Maaf Pa, Zain lagi dirumah teman yang sedang kena musibah. Kemungkinan beberapa hari Zain baru kembali ke Jogja," balas Zain yang memelankan suaranya.


"Siapa teman kamu sampai segitunya kamu disana? Papa malu sama teman Papa karena sudah berjanji akan menemukan kamu dengan putrinya. Kami sudah sepakat ingin menikahkan kalian berdua," sahut Papanya dengan kesal.


"Maaf Pa, Zain sudah punya pilihan sendiri. Zain harap Papa menghargai keputusan Zain. Zain hanya mau kasih khabar. Bukan untuk mendengarkan tentang perjodohan Pa."


"Zain, kamu jangan kurang ajar sama Papa ya. Kamu harus secepatnya pulang. Dan Papa tunggu kamu disini," Tlp pun dimatikan langsung sama Papanya.


Zain hanya bisa menghela nafasnya dan dia melihat kearah Papanya Meka yang sedari tadi memperhatikannya.


Zain tersenyum kearah calon mertuanya itu. Lalu dia menghampiri Papanya Meka.


Pengajian dirumah Meka dimulai. Banyak orang berdatangan untuk mengaji. Sedangkan Meka hanya berada didalam kamarnya saja. Dia enggan luar dari kamarnya. Meka menatap foto adiknya Biyu yang sangat disayanginya.


Hingga beberapa jam, selesai lah pengajian yang dilakukan dirumah Meka. Para tamu pulang kerumah mereka masing-masing.


"Nak Zain bisa kita kekamar Meka sekarang?" tanya Papanya Meka.


"Iya Om bisa," jawab Zain.


Mereka berdua berjalan kearah kamarnya Meka.


"Sayang, kamu sudah tidur?" tanya Papanya Meka yang berdiri didepan kamarnya.


Meka langsung membuka pintu kamarnya dan melihat Papa dan Zain sudah ada didepannya.


"Masuk Pa, Zain."


Zain dan Papanya Meka masuk kedalam kamar. Dan kamarpun dikunci, karena Papanya tidak mau ada yang mendengarkan obrolan mereka bertiga.


"Ada apa, Papa mengumpulkan kami berdua disini?" tanya Meka.


"Ada yang ingin Papa ceritakan ke kamu tentang sesuatu yang sangat dirahasiakan.


"Tentang apa itu Pa?" tanya Meka bingung.