Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 65


Mereka akhirnya sampai di dekat Halte Busway. Meka duduk di bangku yang ada disitu.


"Mek, Lo udah pesan kan grabnya?" tanya Asih yang ngos-ngosan karena mengejar Meka yang cepat berjalan.


"Udah Sih. Nih bentar lagi sampai disini," jawab Meka.


Meka menatap orang yang berlalu lalang, selain manusia, Meka juga bisa melihat mahluk ghaib yang berlalu lalang. Hingga tiba-tiba, Meka dikagetkan dengan sosok anak kecil yang berlumuran darah menarik-narik tangan Meka.


"Eh apaan ini, hus hus hus, pergi sana!" usir Meka sambil menghempaskan tangannya karena jijik dengan mahluk yang menyentuhnya.


"Lo kenapa Mek?" Asih bingung melihat tingkah Meka.


"Ini Sih, ada anak kecil megangin tangan gw. Nyeremin tau.... Sana pergi..." Meka sedikit membentak.


Lalu anak kecil itu ketawa melihat Meka ketakutan.


"hihihihihi," kasih aku makanan....aku lapar...hihihi," ucap demit itu.


Meka terus berusaha melepaskan tangannya dari genggaman demit yang sangat kenceng.


"Tolong lepaskan tanganku!" bathin Meka berteriak.


Lalu tiba-tiba muncullah sosok Harimau Putih besar mengaum membuat telinga demit itu mengeluarkan darah hitam karena menahan sakit mendengar auman Harimau itu. Dan demit itu seketika melihat Harimau besar. Dia ketakutan dan langsung melepaskan genggamannya.


"Ampuuuun jangan musnahkan aku...!" teriak demit anak kecil itu yang meraung kesakitan.


Harimau itu terus mengaum dan menatap tajam kearah demit itu.


"Aku tidak akan mengganggunya. Aku gak akan menyakitinya! Tolong jangan musnahkan aku...!" teriak demit itu lagi.


"Grrrrrrr,"


"Siapa dia? Kenapa kau mengikutinya?" tanya demit anak kecil yang sudah berumur ratusan tahun.


Harimau itu tak menjawabnya, dia tidak memberi ampun kepada demit yang mengganggu cicit turunan leluhur terdahulu. Dia langsung memangsa demit itu hingga musnah menjadi kepulan asap dan menghilang. Lalu dia kembali kehadapan Meka.


"Demit itu sudah musnah. Berpura-pura lah tak melihat keberadaan mereka. Jika sampai terjadi kontak mata, mereka akan mengganggumu," Khodamnya Meka mengingatkannya. Lalu Harimau itu menghilang.


Meka memandang pergelangan tangannya, namun tidak ada bekas jeratan tangan dari demit itu. Dia membolak-balikkan tangannya, ternyata memang tidak berbekas.


"Meka, Lo kenapa sih. Dari tadi teriak mulu. Ada apa dengan tangan Lo? Please Mek, kasih tau gw dong!" Asih menatap Meka penuh tanda tanya.


"Gw baik-baik aja kok Asih. Tadi gw lihat ada hewan serangga yang gw takutin. Ya seperti fobia gitu, makanya gw teriak, hehehe," kilah Meka sambil cengengesan.


Asih semakin curiga dengan Meka. Dia melihat Meka aneh. Dari dulu sampai sekarang, dia malah terlihat lebih aneh.


"Ada apa dengan Lo Mek? Gw kok curiga ya kalau dia punya indra keenam. Benar gak sih?" bathin Asih yang masih menatap Meka dengan memicingkan matanya yang penuh curiga.


"Eh nih bentar lagi Mobilnya datang. Lo lihatin Sih platnya AB 245 CY. Nih dia posisinya udah dekat. Lo bantu lihatin ya," pinta Meka yang mengalihkan pikiran Asih.


"Oh dah mau sampai ya. Ok gw bantu lihat."


Meka bersyukur, Asih tidak banyak bertanya tentang kejadian tadi. Meka sangat males untuk menjelaskannya. Dia membiarkan Asih menyimpan banyak pertanyaan dibenaknya.


"Mek, tuh Mobilnya! Ayo lambaikan tangan Lo Mek?" suruh Asih.


Meka melakukan apa yang disuruh sahabatnya itu. Dia melambaikan tangannya kearah Mobil itu agar Mobilnya berhenti.


Pas dihadapan mereka, Mobil berhenti. Meka dan Asih segera masuk ke dalam Mobil.


"Ahhh, akhirnya bisa nyantai," ucap Asih yang langsung menyenderkan kepalanya.


"Iya Sih, kita ngadem dulu di dalam Mobil. Diluarkan panas banget, nih adem di dalam Mobil, ya kan!"


"Bener banget. Gw aja gerah banget tadi diluar."


Tak ada obrolan diantara keduanya. Mereka berdua memejamkan matanya untuk beristirahat. Jalanan terlihat ramai karena sudah menjelang sore hari. Hingga kemacetan tak bisa dihindari.


Sekitar satu jam lebih mereka baru sampai di kontrakan. Saat Meka keluar dari Mobil, ternyata Zain sudah menunggu di depan kontrakan mereka.


"Loh Mas Zain udah lama disini?" tanya Meka yang merasa gak enak.


"Baru aja. Habis tadi kamu kirim pesan, Mas langsung bergerak kemari."


"Eh ada Pak Zain. Gimana khabarnya Pak? Lama gak ketemu," sapa Asih.


"Saya baik aja Sih."


"Kalau gitu saya masuk duluan ya Mek, Pak," Asih pergi berlalu dari hadapan keduanya. Dia berjalan menuju kamarnya.


Sedangkan Meka mengajak Dosganya ke kamarnya.


"Barang-barangnya udah siap Mas, tinggal dibawa masuk ke Mobil aja," jelas Meka sambil membuka pintu kamarnya.


"Banyak barang-barangnya?" tanya Zian.


"Ya udah kita berangkat sekarang aja. Biar Mas masukin barangnya ke mobil dulu. Kamu tunggu di kamar aja ya!"


"Iya Mas."


Kemudian Zain langsung mengambil barang-barang Meka dan dia membawanya ke dalam Mobil. Setelah sisanya selesai, Zain kembali ke kamar Meka.


"Mas, aku ke kamar Asih dulu ya. Mau bialng ke dia, kalau kita berangkat."


"Oh ya udah gak apa-apa sayang. Pergilah, aku nungguin disini aja," jawab Zain.


Meka keluar dari dalam kamarnya meninggalkan Zain. Dia berjalan kearah kamar Asih.


"Tok tok tok , Asih....!" panggil Meka dari luar kamarnya.


Sedangkan Asih yang berada di dalam sedang asyik mandi membersihkan tubuhnya yang gerah. Dia tidak mendengar suara ketukan pintu.


Lalu Meka mencoba membuka pintu kamarnya dan ternyata tidak terkunci. Meka melangkah masuk ke dalam kamar yang redup penerangan.


"Ihhhh, Asih nih kenapa lampunya redup begini ya? Gw nyalakan aja lampu semuanya biar terang," gumam Meka. Dia berjalan hendak menyalakan lampunya dengan menekan tombolnya. Lalu dia dikagetkan dengan teriakan.


"Jangan dinyalakan...! Jangan campuri urusanku atau kamu akan menerima akibatnya!" ancam seseorang yang belom terlihat oleh Meka.


"Siapa itu? Kenapa ada laki-laki di dalam kamar Asih?" gumam Meka.


"Keluar dari kamar ini! Keluar...!" bentak sosok itu.


Meka mengedarkan pandangannya dan kembali dia melihat penampakan demit laki-laki yang tadi pagi.


"Kamu! Pergi dari kehidupan sahabat saya. Jangan ganggu dia!" ucap Meka dengan tegas.


Tiba-tiba Meka diserang dengan kekuatan sosok ghaib itu. Meka terhempas keatas tempat tidur Asih dan mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya.


Saat Meka terhempas, suara auman Harimau terdengar kencang hingga membuat mahluk ghaib itu menjerit kesakitan.


"Hentikaaaannnn!" teriak mahluk ghaib itu sambil menutup telinganya.


"Pergi kalian...! Jangan ganggu aku..!" teriak mahluk ghaib itu.


"Grrrrrrr," Harimau itu mendekati mahluk itu dan menatapnya dengan tajam. Mata yang merah menyala dengan taring yang panjang serta kuku yang tajam.


"Ampuuuun, lepaskan aku...!" teriak mahluk itu.


Meka berdiri dari tempat tidur Asih dan menghampiri mahluk itu.


"Biarkan dia pergi. Jangan sakiti dia," pinta Meka terhadap Khodamnya.


"Jangan ganggu sahabatku lagi, kalian beda dunia. Tidak akan mungkin bersama. Biarkan dia hidup dengan pasangannya yang lain. Dan kamu carilah pasangan yang sama dari duniamu," ucap meka dengan tegas dan sorot mata yang tajam.


"Tapi aku menginginkannya?!" teriak mahluk itu.


"Kalau kau tak mau mendengar, maka akan ku musnahkan!" bentak Meka.


"Kau tak bisa melakukannya, wahai manusia!" teriak mahluk itu dengan marah.


"Grrrrrrr," Harimau itu mengeluarkan suaranya.


Dalam sekejap mahluk ghaib itu diterkam oleh Harimau itu dan tercabik-cabik oleh kukunya yang tajam, hingga musnah menjadi kepulan asap.


Meka menatap ngeri dan merinding melihat sorot mata mahluk itu yang menatapnya tajam saat dicabik-cabik oleh Harimau besar miliknya.


Tiba-tiba dari belakang Meka, Asih keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Meka dengan tatapan curiga.


"Loh Mek, sejak kapan Lo disini?" tanya Asih.


"Baru aja Sih. Habis tadi gw panggil Lo gak dnegar. Makanya gw masuk ke dalam. Ternyata Lo lagi di dalam kamar mandi," jelas Meka yang merasa gugup.


"Oh....Lah Lo udah mau pergi ya?" tanya Asih.


"Iya Sih, gw kemari mau pamit sama Lo. Dan mau bilang, kalau lusa gw akan kemari lagi nemani Lo buat nyari kontrakan."


Asih langsung memeluk Meka. Dia merasa sedih karena ditinggal sahabatnya.


"Gw pasti kesepian Mek tanpa Lo disini. Lo jangan lupain gw ya. Lo harus sering ketemuan sama gw," pinta Asih.


"Iya Asih. Gw akan sering ngajak Lo ketemu. Mudah-mudahan kedepannya Lo jauh lebih baik ya. Saran gw, kalau Lo kemana-mana jangan sering melamun. Dan banyaklah berdo'a setiap melangkahkan kaki," Meka memberikan nasehat bijak terhadap Asih.


"Makasih ya Mek, Lo emang sahabat gw yang terbaik. Ya udah, gw anter Lo keluar ya," Asih mengajak Meka keluar kamarnya.


"Ayo, Mas Zain juga sudah nunggu di depan."


Mereka keluar dari kamar Asih berjalan menuju ruang tamu. Dimana Zain sudah menunggu Meka.