Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 70


Zain sangat marah ketika melihat Mahasiswinya masuk tanpa izinnya.


Namun yang terjadi, justru Shinta terus berjalan mendekati meja kerja Dosganya.


"Pak Zaiiinn, saya kemari ingin memberikan makan siang ini untuk Bapak. Maaf kalau saya lancang Pak," Shinta berucap dengan nada sensualnya dan mencoba mendekat kearah Zain.


Sedangkan diluar ruangan Zain, Meka sudah hampir dekat. Hingga dia mendengar bisikan dari Khodamnya.


"Masuk Meka....! Cepat hentikan dia!" teriak Khodamnya tanpa wujudnya terlihat.


Dan di dalam ruangan itu, Shinta mencoba mendekati Dosganya dengan berjalan ke sampingnya, lalu saat Shinta hendak membaca mantra peletnya agar Zain jatuh cinta dengannya, tiba-tiba Meka masuk mendobrak pintu ruangan itu. Dia memperlihatkan pancaran amarah kearah suaminya dan berkata, "Apa yang kamu lakukan diruangan ini Shinta?!" tanya Meka dengan emosi yang terpancar dari wajahnya.


"Shinta tersenyum sinis, lalu berjalan kearah Meka. Aku ingin Dosga kita jatuh cinta denganku. Apa masalah buat Lo?" tanya Shinta yang sudah berdiri dihadapan Meka.


Lalu Zain berdiri dari kursinya dan menghampiri Shinta dan berkata, " Keluar dari ruangan saya! Saya tidak pernah menyuruhmu masuk ke dalam," bentak Zain sambil memeluk pinggang Meka.


Tentu saja adegan itu terlihat oleh Shinta. Amarahnya semakin membuncah dan dia tidak terima dibentak dihadapan Meka.


Lalu dengan segera dia membacakan mantra dengan mulut komat kamitnya dan menghembuskannya ke arah wajah Zain. Namun yang terjadi, Meka langsung berdiri di depan suaminya, sehingga mantra itu tidak mengenai suaminya melainkan dirinya.


"Sialan kau Meka...!" teriak Shinta dengan emosi yang memuncak.


Meka menatap tajam ke arah Shinta yang juga menatapnya dengan tajam. Meka menyadari sesuatu akan terjadi saat Shinta membaca mantra dengan mulut komat kamitnya. Saat itu juga Meka langsung menghadangnya dan berdiri tepat dihadapan suaminya.


"Lebih baik sekarang Lo pergi dari ruangan ini Shin. Gw akan melupakan kejadian ini asal Lo tidak mengulanginya lagi," Meka mengusir Shinta dari ruangan itu.


Dan itu membuat Shinta menjadi murka. Lalu dia memberi peringatan terhadap Meka.


"Jangan halangi gw untuk mendapatkan Pak Zain. Dia harus menjadi milik gw. Lo gak berhak atas dirinya. Kalau tidak Lo akan terima akibatnya mantan sahabat gw!" ancam Shinta dengan tersenyum sinis.


Lalu Shinta pergi meninggalkan Meka dan Zain diruangan itu.


"Sayang, kenapa kamu berdiri di depan Mas?" tanya Zain bingung.


"Mulai sekarang Mas berhati-hatilah terhadapnya. Dia punya niat yang tidak baik. Dia menginginkanmu Mas," jelas Meka sambil membelai pipi suaminya.


Zain menatap Meka tak percaya dengan ucapannya.


"Bukannya dia salah satu sahabatmu sayang?" tanya Zain lagi.


"Iya benar. Dia salah satu sahabatku Mas. Memang dari dulu dia menyukaimu Mas. Tapi aku gak tau sampai dia terobsesi seperti ini untuk mendapatkanmu," jawab Meka.


"Terus tadi apa yang dilakukannya sehingga kamu berdiri dihadapan Mas?" tanya Zain yang merasa tidak puas dengan jawaban Meka.


"Mmmmm...."


Meka menggantung ucapannya, dan dia menatap Zain dengan serius.


"Please jangan ada rahasia diantara kita. Mas ingin mengetahuinya," pinta Zain.


"Apakah Mas percaya dengan pelet?" tanya Meka dengan menaikkan alisnya.


"Pelet? Ya Mas pernah dengar kalau kebanyakan wanita menginginkan seseorang menggunakan pelat. Berarti itu artinya dia....!" Zain terbengong tak menyangka bahwa dikehidupannya dia akan menemui secara langsung pelet terhadap dirinya.


"Heum, dia menggunakannya Mas. Makanya kamu harus berhati-hati terhadapnya. Tapi dia tidak tau kalau aku mengetahui tentang dirinya yang ingin membuatmu jatuh cinta dengan cara menggunakan pelet."


"Sayang, Mas benar-benar khawatir. Kalau Mas kena pelet bisa lupa denganmu. Mas gak mau itu terjadi," Zain merasa ketakutan saat mendengar kata pelet terhadap dirinya.


"Lebih baik Mas kita banyak berdo'a dan minta perlindungan sama Allah SWT."


"Kamu benar sayang, dan kenapa kamu keruangan Mas? Apa kuliahmu sudah kelar?" tanya Zain.


"Kuliahku sudah selesai Mas, tapi tadi gak tau kenapa perasaanku tidak enak. Aku melihat Shinta buru-buru jalan keluar kelas. Dan aku berpikir kalau dia masuk ke ruangan Mas. Ternyata benar, makanya aku langsung berlari masuk ke dalam."


"Syukurlah kamu tepat waktu ya sayang. Kalau tidak, Mas gak akan pernah memaafkan kesalahan Mas jika sampai jatuh cinta dengannya," Zain ketakutan saat membayangkan bagaimana cintanya dengan Cha nantinya jika itu terjadi.


"Oh ya Mas, bolehkah hari ini aku jalan sama teman-temanku?" tanya Meka.


"Mereka menghampiriku tadi Mas dan Deon meminta maaf atas kesalahannya kemaren. Ternyata Papanya memang sudah meninggal. Dan dia meninggal secara tidak wajar. Papanya Deon telah ditumbalkan oleh Ibunya Deon untuk kekayaaan keluarga," ungkap Meka yang bergidik ngeri.


"Itu artinya orang tua Deon bersekutu dengan iblis?" tanya Zain.


Meka menganggukkan kepalanya dan berkata lagi. "Dan saat ini Deon yang menjadi sasarannya Mas. Iblis itu menginginkan Deon menjadi budak *** nya. Dan dia mengikuti Deon sampai sekarang.


"Dari mana kamu tau sayang?" tanya Zain.


"Deon telah menceritakannya karena dia juga mendengarnya dari Mamanya. Saat ini dia meninggalkan rumahnya sekarang. Dan aku melihat iblis itu menyeringai menatap ku, Mas."


"Sayang..., kamu melihatnya?" tanya Zain tak percaya.


"Iya Mas. Aku melihatnya dan sedikit takut. Tapi aku harus memberanikan diri melihatnya."


Zain langsung memeluk Meka dan mengecup kening Meka dengan lembut.


"Apa kamu tersiksa dengan penglihatanmu?"


"Sedikit sih Mas. Karena yang aku lihat, kebanyakan berwujud asli yang sangat menyeramkan dan menakutkan."


"Mas gak bisa bayangin gimana melihat mahluk ghaib."


"Gimana apa aku boleh jalan sama mereka Mas?" tanya Meka kembali.


"Mas ikut ya sayang. Mas gak mau kamu kenapa-napa nantinya. Dan nanti sore kita kerumah Mas."


"Baiklah kalau gitu. Aku akan menemui mereka dikelas. Karena mereka menungguku disana."


"Baiklah, Mas akan tunggu disini," ucap Zain sambil melepaskan pelukannya.


"Heum."


Lalu Meka pergi meninggalkan Zain dan keluar dari ruangannya. Dia menghampiri sahabatnya yang masih menunggunya di dalam kelas. Meka berjalan kearah sana lalu melihat sahabatnya sedang ngobrol.


"Ayo Na kita berangkat," ajak Meka tiba-tiba.


"Kenapa lama banget sih beib....! Baru aja diceritain, dah nongol. Panjang umur yei Meka ku..!" ucap Deon dengan girang.


"Iya nih lama banget ke toiletnya. Kirain tadi ketiduran di dalamnya," celetuk Isna sambil tertawa.


"Udah yuk ah beib, eike dah gak sabar nih buat cuci mata lagi. Sekian lama menjanda, akhirnya eike bisa cari mangsa baru," ucap Deon dengan gemas.


"Eits, tapi ada yang mau ikut deh," tiba-tiba Meka mengatakannya.


"Eh, siapa beib?" tanya Deon yang heboh.


"Tuh Dosga kita yang sudah berdiri di depan ruangannya," tunjuk Meka ke arah suaminya.


"Ihhhh ya ampun Meka...., kok bisa si tampan ikut sama kita? Yei yang ngajak ya?" Deon menunjuk Meka dengan telunjuknya.


"Hahaha, emang Dosganya yang mau Deon!" seru Meka.


"Hahaha bucin banget tuh si Dosga sama yei ya, duh...eike jadi pengen deh dibucinin," ucap Deon.


"Biasa pengantin baru, jadi bucinnya berlebihan," sambung Isna.


"Meka, yei harus cerita semuanya ke kita nanti. Ya kan Na!" ucap Deon.


"Gw gak bisa cerita sekarang sama kalian berdua. Nanti ada saatnya pasti gw cerita," jelas Meka.


"Mmmm, baiklah, yei hutang cerita sama eike. Janji ya beib buat ceritain," pinta Deon.


"Iya gw janji."