
Setelah sampai di lobby, mereka berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke Apartement Zain.
"Mek, tadi ada apa sih sebenarnya. Kenapa kita harus buru-buru berangkat dari sana?" Deon mulai bertanya.
"Nanti gw akan jelaskan Deon, yang terpenting sekarang kita masuk ke dalam dan membersihkan diri masing-masing," jawab Meka.
"Sayang kamu gak apa-apa kan? Wajah kamu masih terlihat pucat Meka!" Zain mengkhawatirkan keadaan istrinya.
"Aku baik kok Mas. Kamu gak usah khawatir. Makasih tadi sudah berada disampingku.Tapi lain kali kamu jangan berada di dekatku ya saat terjadi sesuatu," pinta Meka dengan memohon.
"Mas gak mungkin ninggalin kamu, kalau perlu Mas ikut membantu."
Deon dan Isna semakin bingung dan mengerutkan alis mereka yang penuh dengan tanda tanya.
Akhirnya mereka sampai juga di Apartemen Meka.
"Ayo masuk Na, Deon. Kalian mandi dulu aja. Setelah itu kita ngobrol di sofa ya." Meka menyuruh mereka untuk bersih-bersih.
"Baiklah, kami akan mandi dulu. Setelah itu Lo harus menceritakan semuanya tanpa ada rahasia lagi, ok!" ucap Deon yang dari tadi sudah penasaran.
"Heum."
Mereka semua mulai membersihkan tubuhnya. Meka dan Zain berada di dalam kamarnya. Sedangkan Deon bersama Isna di kamar sebelah.
"Sayang, sini Mas lihat. Kamu ada yang terluka gak?" Zain memperlakukan Meka seperti anak kecil harus dicek satu demi satu kondisinya.
"Massss! Aku nih gak apa-apa loh. Ayo kita mandi, habis tuh kita kumpul didepan bersama mereka," ajak Meka.
"Kita mandi bareng ya sayang, pengen nih..., kalau nunggu nanti malam kelamaan. Jangan biarkan senjata Mas nganggur dong. Dia perlu dipanaskan loh sayang, yuk ah kita main di kamar mandi aja. Sensasi baru," Zain langsung membopong istrinya ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi terjadilah pertempuran kenikmatan dan *******-******* menggema di dalam ruangan kamar mandi. Zain terus menghentak-hentakkan pinggulnya dari belakang. Mereka terus mendesah, Zain tidak akan pernah puas jika sudah melihat tubuh Meka yang hot. Mereka terus melakukannya hingga akhirnya Zain dan Meka mau mencapai klimaksnya.
"Sayaaaang, ahhh eennak. Aaaku maaau keluar Massss," desis Meka.
"Ayo sayang kita sama-sama keluarin," balas Zain dengan suara ngos-ngosan nya.
Lalu Zain melepaskan cairan nikmat yang akan menjadi calon anaknya ke dalam kewanitaan istrinya. Meka juga melakukan hal yang sama. Sehingga mereka secara bersamaan melakukan pelepasan.
"Akhhhhh, sayang kamu benar-benar nikmat sekali," ucap Zain yang merasa puas.
"Hah hah, Mas ayo kita mandi. Gak enak sama mereka yang sudah menunggu kita," ajak Meka.
Lalu mereka segera mandi membersihkan tubuh mereka setelah bercinta panas. Akhirnya Meka dan Zain selesai dari kamar mandi. Dan mereka keluar dari dalam kamarnya.
"Deon, Na sudah lama kalian nunggu disitu?" tanya Meka yang merasa tak enak.
"Hmmmm, udah dong. Gini nih kalau pengantin baru, bawaannya mau berduaaa terus," ledek Isna.
"Hehehe, maklum lah. Oh ya, gw buatin susu coklat hangat dulu ya biar kita ngobrolnya santai," ucap Meka.
"Gw bantu ya Mek..!" Isna berdiri dan berjalan mengikuti Meka.
Lalu Zain dan Deon ngobrol di sofa depan TV.
Sementara Meka dan Isna membuat coklat panas.
"Mek, enak gak nikah?" tanya Isna tiba-tiba.
"Kenapa Lo nanya seperti itu? Apa kalian punya rencana mau nikah cepat?" goda Meka.
"Deon sih tadi pengen menghalalin gw secepatnya. Dia gak mau gw diambil sama orang lain, katanya," jelas Isna.
Isna tersipu malu dengan ucapan Meka. Dia merasa bahagia karena Deon mau menikahinya.
"Gw mau dong Mek! Lo kan tau dari dulu gw udah suka sama Deon. Dan akhirnya dia mau menjadi pendamping gw. Gw benar-benar gak nyangka Mek!" ujar Isna penuh antusias.
"Gw senang kalau kalian bersama. Semoga berjalan dengan sesuai harapan ya Na."
"Aamiin Mek. Udah yuk ke depan," ajak Meka.
Isna dan Meka membawa coklat panas dan beberapa cemilan untuk mereka nikmati sambil ngobrol.
"Nah nih dia...coklat panasnya, silahkan Deon, Pak Zain," Isna meletakkan coklat panasnya dan cemilan diatas meja.
"Wahhhh enak nih minum yang hanget sambil ngobrol," ucap Deon.
Meka duduk disebelah suaminya. Dan Isna duduk disamping Deon. Sekarang waktunya lah Meka untuk menceritakan semuanya terhadap mereka.
"Mek, bisa sekarang Lo ceritain ke kita atas apa yang terjadi?" tanya Deon yang sudah tidak sabaran.
"Hu huh, kalian gak sabaran banget sih. Gw baru aja nyeruput nih coklat hangatnya."
"Maklum Mek, dalam pikiran kita nih banyak banget pertanyaan buat Lo. Dan Lo saat ini harus menjawab semua yang ada dipikiran kami," balas Isna.
"Baiklah gw akan cerita kenapa tadi gw ngajak kalian buru-buru keluar dari kost. Dan ini ada hubungannya dengan Deon. Sebelumnya gw minta kalian untuk tidak memberitahukan kepada yang lain tentang cerita gw. Dan maaf Deon, Lo akan dengar khabar yang tak baik nantinya," jelas Meka panjang.
"Maksud Lo gimana Mek?" Deon semakin penasaran.
"Deon, Lo ingat kan waktu gw bilang Papa Lo udah meninggal?" tanya Meka.
"Iya gw ingat, terus kenapa?" Deon malah bertanya.
Meka melirik kearah suaminya dan Zain memberikan anggukan untuk Meka terus bercerita.
"Papa Lo meninggalkan karena menjadi tumbal oleh keluarga Mama Lo. Dan Iblis yang mengambil jiwa Papa Lo saat kemaren juga menginginkan Lo sebagai budak pemuas nafsunya. Setelah itu Lo akan menjadi tumbal berikutnya."
Deon dan Isna terkejut mendengarnya. Mereka saling bersitatapan.
"Lo serius Mek...Lo tau dari mana? Sekarang jujur sama gw, apa Lo punya mata bathin?" tanya Deon dengan memicingkan matanya.
"Ya De, gw punya mata bathin. Dan kelebihan gw ini berasal dari leluhur gw. Dan gw juga memiliki Khodam pendamping. Saat pertama kali gw masuk kampus, gw melihat iblis nenek bongkok sedang berdiri didekat Lo. Dan saat itu Isna bertanya, apa yang gw lihat. Dan kemaren iblis itu berhasil menemui tempat tinggal Lo. Dia sangat menginginkan Lo, karena Lo masih perjaka," Meka menjelaskan lagi.
"Gw benar-benar gak ngerti dan gak menyangka akan menjalani semua ini Mek," ucap Isna yang mendadak lemas.
"Sabar Na, itu sudah jalan hidup Deon yang lalu. Dan kemaren Iblis itu sudah dimusnahkan oleh Khodam leluhur gw.
"Jadi Lo berdiri kemaren itu karena sedang melawan iblis itu Mek?" tanya Deon tak percaya.
"Heum, dia tidak mau meninggalkan Lo, dia sangat menginginkan Lo Deon. Tapi saat dia menyerang gw, Khodam leluhur gw memusnahkannya begitu saja. Walaupun sebenarnya iblis tidak bisa musnah. Tapi dia tidak akan kembali lagi untuk menginginkan Lo sebagai tumbalnya," terang Meka.
"Terus kenapa Lo ngajak kami buru-buru keluar dari kost-kostan itu Mek?" giliran Isna yang bertanya.
"Karena sesaat setelah kepergian kita, datang seorang Dukun sakti yang diperintahkan keluarga Mama Lo untuk membawa Lo pulang ke rumah mereka. Dukun itu mungkin tidak tau kalau iblis itu sudah musnah. Dan maaf Deon, akibat dari musnahnya dukun itu, pasti akan membawa anggota keluarga Lo serta harta semuanya akan musnah," jelas Meka dengan raut wajah khawatir.
"Maksud Lo, keluarga gw akan jatuh miskin! Dan apa maksud Lo membawa anggota keluarga?" tanya Deon mengerutkan keningnya.
"Maaf Deon, keluarga Lo akan meninggal kecuali kita membawa Mama Lo dan menyelamatkannya. Dan kita harus ke Ustadz untuk merukiyah Mama Lo. Karena hanya dia yang bisa gw selamatkan, sebab, Mama Lo tidak terlalu lama berada dalam lingkaran iblis itu," jelas Meka.
"Meka....gw sedih banget. Kenapa harus seperti ini? Gw akan berusaha menyadarkan Mama untuk keluar dari jeratan iblis itu.
"Kalau bisa kita harus segera membawanya Deon! Jangan sampai terlambat, karena Dukun itu tidak mau melepaskan apa yang sudah terikat dengan perjanjian iblis," Meka menatap kearah Deon dengan serius.