
Meka mengingatkan kedua sahabatnya kalau mereka nanti akan menemui orang tua Deon. Sehingga Meka menyuruh mereka untuk beristirahat sejenak.
Setelah Meka dan Zain masuk ke dalam kamarnya. Deon dan Isna masih diam berdiri di tempatnya. Mereka saling memandang dengan kebingungan.
"Kamu mikirin apa yang aku pikirkan De?" tanya Isna saat melihat tatapan Deon.
"Iya Na, terus sekarang gimana? Apa kita bergantian di dalam kamarnya. Sekarang, aku dulu yang di dalam dan membersihkan diri, setelah itu kamu dan aku menunggu diluar duduk di sofa. Gimana Deon?" tanya Isna menunggu jawaban Deon.
"Ya udah, kita gantian. Sekarang giliran kamu yang dikamar buat bersih-bersih. Setelah itu lanjut aku yang bersih-bersih. Baru kita bisa istirahat," Deon setuju dengan pendapat Isna.
Deon akhirnya menunggu Isna diluar. Dia duduk di sofa dan berbaring. Sementara Isna masuk ke dalam kamarnya dan mulai membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi.
Tak berapa lama, akhirnya mereka bergantian. Dan sekarang giliran Deon yang berada di dalam kamar dan mulai bersih-bersih. Setelah semuanya selesai, Deon dan Isna berada di dalam kamarnya dan mereka beristirahat.
Sedangkan di kamar Meka. Zain dan Meka sudah membersihkan tubuh mereka. Dan sekarang keduany berada diatas tempat tidur untuk beristirahat.
Sekitar dua jam lebih Meka dan Zain masih berbaring, rasa lelah dan letih yang dirasakan belum sepenuhnya hilang. Mereka berdua masih enggan untuk membuka matanya. Hingga suara ketukan di pintu memaksa mereka untuk segera bangkit dan sadar dari kenyamanan tidurnya.
"Tok tok tok, Mek...!" panggil Isna yang berdiri di luar kamar.
Meka menajamkan pendengarannya. Dia merasa ini bukan sedang bermimpi, suara ketukan di pintu terdengar kembali.
"Tok tok tok Meka...!" panggil Isna kembali.
Meka membuka matanya dan pandangannya beralih ke pintu kamarnya. Dia bangkit dari tempat tidurnya dengan kesadaran yang belum sepenuhnya berada ditubuhnya. Namun dia tetap berjalan kearah pintu. Meka terdiam sesaat untuk membuka lebar-lebar matanya dan mengedip-ngedipkannya untuk membuang rasa ngantuk yang masih tersisa.
Lalu Meka membuka pintu kamarnya. Dia melihat Isna yang sudah rapi di depan kamarnya.
"Eh sorry Mek, gw gangguin tidur Lo. Apa kita jadi pergi hari ini Mek?" Isna bertanya tapi dia merasa gak enak telah mengganggu tidur Meka.
"Jadi Na, bentar ya, gw siap-siap dulu. Lo sama Deon udah siap?" Meka bertanya balik.
"Deon lagi siap-siap Mek. Gw nunggu disofa sambil nonton. Ya udah gw tungguin di sofa aja. Lo siap-siap deh."
"Ya udah gw siap-siap dulu ya Na, Meka masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya.
Meka berjalan menghampiri suaminya yang masih setia berbaring. Meka naik keatas ranjangnya dan meniupkan angin ditelinga suaminya dan membisikkan dengan suara yang lembut.
"Mas, ayo bangun. Kita harus berangkat," ucap Meka sambil membelai wajah suaminya.
Zain yang terkena hembusan angin ditelinga nya, tubuhnya seperti tersengat listrik tegangan tinggi. Dia melihat Meka yang berada disampingnya. Lalu Zain menariknya masuk ke dalam dekapannya.
"Meka kamu nakal sekali. Menggoda Mas dalam keadaan seperti ini, hah," Zain memberikan kecupan terus menerus di pipi Meka hingga membuat Meka kegelian.
"Maaasss ampuuun, geli Maaasss. Udah-udah, aku cuma ingin membangunkanmu dengan cara yang romantis," ucap Meka malu-malu.
"Oh istriku ini berusaha belajar romantis sekarang ya? Mas suka itu," balas Zain dengan membelai pipi Meka.
"Mas, ayo mandi. Isna dan Deon sudah menunggu kita. Hari ini kita akan pergi ke rumah orang tua wanita itu," Meka mengingatkan suaminya.
"Ayo sayang, tapi Mas minta jatah sekali aja. Udah kepengen banget nih sayang..Biar Mas punya tenaga buat jagain kamu, ya," rengek Zain seperti anak-anak.
"Iya, tapi janji sekali aja ya Mas. Gak enak sama mereka yang nungguin kita," balas Meka.
Meka tidak bisa menolak kemauan suaminya jika sudah urusan kenikmatan. Tapi dia juga merasa tak nyaman karena di dalam Apartementnya ada dua sahabatnya yang menunggu mereka diluar.
Lalu Zain membopong Meka masuk ke dalam kamar mandi. Mereka melakukan penyatuan dua dalamnya hingga suara ******* kenikmatan menggema mengisi ruangan itu. Tidak ada rasa dingin yang dirasakan keduanya, mereka telah mabuk dalam kenikmatan surga dunia yang menciptakan suara-suara merdu. Hingga akhirnya cairan yang akan menjadi calon anak itu disemburkan ke dalam liang kenikmatan Meka.
Mereka mengerang secara bersamaan saat pelepasannya.
"Ahhhh Maaasss..., enak," ucap Meka spontan.
"Oh....sayang...ini benar-benar luar biasa. Kamu nikmat sekali. Nanti malam Mas minta lagi. Ayo Mas mandiin biar bersih," Zain memandikan istrinya, memberi sabun di seluruh tubuh Meka dan menggosok-gosoknya hingga bersih.
Setelah itu Meka melakukan hal yang sama untuk membersihkan suaminya. Akhirnya kegiatan mereka di dalam kamar mandi selesai. Zain dan Meka keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang fresh dan segar.
Keduanya lantas bersiap-siap memakai pakaiannya kembali. Kemudian Meka dan Zain keluar dari dalam kamarnya.
"Na, Deon, udah lama ya nunggu?" tanya Meka yang sedikit canggung.
Meka semakin canggung, tapi tidak dengan suaminya yang cuek tanpa ekspresi.
"Mek, sapa nih yang mesan grab, kita atau Lo?" Isna mencoba mengendalikan suasana canggung Meka.
"Eh, gw aja Na. Biar gw yang pesan grab onlinenya," ucap Meka.
Meka dan Zain duduk bersebelahan di sofa, sambil Meka memesan grab onlinenya.
"Deon, Lo udah hubungi kembali Mama Lo buat mastiin kita ketemuan sekarang?" tanya Meka setelah memesan mobil grab.
"Udah Mek, dan Mama gw sekarang lagi on the way katanya. Semoga kita bisa sampai duluan karena jarak kita lebih dekat dengan cafe itu," jawab Deon.
"Semoga aja kita duluan sampai," Meka mengulang ucapan Deon.
Lalu Meka melihat ponselnya dan mengecek keberadaan mobil Grabnya. Ternyata mobil itu sudah masuk ke area Apartement di bawah.
"Ayo, mobilnya udah nunggu dibawah," ujar Meka yang memberitahukan keberadaan mobil itu.
"Oh sudah sampai ya Mek?" tanya Deon.
"Iya udah nunggu dibawah," jawab Meka.
Mereka semua bangkit dari sofa dan melangkah keluar. Zain menggenggam tangan Meka, seolah-olah takut akan kehilangan sosok Meka. Dia tak melepaskan sedetik pun genggaman tangannya. Hingga mereka sampai di lantai bawah.
Meka melihat ada mobil parkir didepan lobby. Meka mengecek ponselnya dan menyesuaikan plat no mobil itu. Ternyata mobil itu pesanan Meka.
Meka mengajak suami dan sahabatnya masuk ke dalam mobil itu.
Di dalam mobil itu, Deon merasa bimbang untuk melanjutkan keinginannya. Meka bisa merasakan kebimbangan Deon walaupun dia duduk di depan.
"Deon, Lo siap kan melakukannya?" tanya Meka tiba-tiba.
Deon menoleh kebelakang dan menatap Meka dengan wajah yang membingungkan.
"Iya Mek, gw agak takut jika terjadi sesuatu terhadap Mama gw, Mek," ungkap Deon.
"Deon, kamu gak usah khawatir ya, kita serahkan semuanya sama Allah SWT ya," Isna menyela obrolan mereka.
"Gw gak maksa Lo Deon, jika emang Lo keberatan melakukannya dan meneruskan semua yang dilakukan keluarga Mama Lo, ya itu hak Lo Deon. Berarti Lo harus siap menanggungnya seumur hidup Lo bersama keluarga baru Lo nantinya," Meka sengaja menakut-nakuti Deon agar dia tidak menggunakan perasaannya saat mengambil keputusan tentang hal ghaib.
Deon terdiam menatap kearah Isna. Dia mengerti arti maksud dari ucapan Meka. Keluarga barunya yaitu Isna dan anak-anaknya nanti. Dia gak mau melakukan apa yang seperti dilakukan Mamanya terhadap Papanya yang telah ditumbalkan Mamanya demi kekayaan.
"Baiklah Meka, gw gak akan menyesali keputusan gw. Kita lanjut untuk menyadarkan Mama gw," ucap Deon lantang dan tegas.
Meka tersenyum mendengar keputusan Deon yang tidak ada kebimbangan lagi di dalamnya. Beberapa menit dalam perjalanan, mereka sampai di cafe yang sudah dijanjikan.
Meka dan yang lainnya keluar dari mobil dan segera memasuki cafe.
Di dalam cafe, Deon mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dirindukannya. Namun yang ditunggu ternyata belum datang ke cafe itu.
Cafe itu terlihat ramai oengunjung, tidak seperti kemaren. Saat mereka makan malam sebelum kejadian itu terjadi. Ya cafe yang mereka tuju adalah Phuket dimana letaknya gak jauh dari lokasi kejadian dan dekat dengan rumah Ustadz Imron yang akan mereka temui.
Deon sengaja duduk sendirian di meja yang tak jauh dari tempat Meka dan yang lainnya duduk. Mereka sengaja duduk terpisah, supaya Deon bebas ngobrol dengan Mamanya.
Meka yang duduk di meja tersendiri, mencoba menghubungi no Ustadz Imron.
"Assalamu'alaikum Ustadz, saya Meka yang kemaren Ustadz tolong saat kejadian tabrakan di dekat rumah Ustadz," ucap Meka yang memperkenalkan dirinya.
"Wa'alaikumussalam salam nak Meka. Saya sudah menunggu khabar dari kamu. Bawalah orang tua sahabat kamu sekarang juga. Karena waktunya tidak bisa ditunda lagi," ucap Ustadz itu.
"Baik Ustadz, saya dan yang lain akan berusaha membawa orang tua sahabat saya," balas Meka.
"Kalau begitu saya tunggu di kediaman saya, Assalamu'alaikum," ucap Ustadz Itu dan menyudahi tlp nya.
"Wa'alaikumussalam Ustadz."