Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 51


Tak terasa waktu dalam perjalanan mereka habiskan dengan mengobrol. Hingga akhirnya mereka sampai di area Pemakaman tempat Mama dan Biyu dimakamkan. Mobil berhenti di area parkiran. Meka mengajak Papanya turun. Mereka berjalan kearah pintu Pemakaman, sesaat angin kencang menerpa wajah mereka.


Papa Meka diam sesaat tak melanjutkan langkahnya. Hatinya merasakan kegelisahan yang tak bisa dimengertinya.


"Meka, kemana kita harus menemui kuncen itu?" tanya Papanya dengan datar.


"Kita masuk aja Pa, kedalam pemakaman. Nanti diujung sana ada sebuah gubuk, kakek itu berada di gubuk itu," terang Meka.


"Ayo kita kesana," ajak Papanya.


"Iya Pa."


Meka menggandeng lengan Papanya masuk kedalam pemakaman. Sedangkan Zain mengikuti mereka dari belakang. Saat kakinya Zain menginjakkan tanah Pemakaman, bulu kuduknya berdiri. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling pemakaman. Zain tidak tau kalau ada sosok Mbak Kunti sedang melihatnya dan memperhatikan mereka hingga sampai ke gubug kuncen Pemakaman.


"Ini Pa, tempat kuncen itu. Meka akan coba mengetuk pintunya ya," ucap Meka yang berjalan kedepan pintunya.


"Tok tok tok," Assalamu'alaikum," sapa Meka.


""Wa'alaikumussalam, masuklah nak!" sahut kakek tua itu dari dalam gubuknya.


Lalu Meka membuka pintu itu, perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya memasuki gubuk itu. Meka melihat kakek tua itu sedang bermeditasi diatas tempat tidur dipan.


"Masuklah, saya sudah menunggu kalian," ucap si kakek.


"Baik kek," balas Meka.


Mereka bertiga masuk dan duduk dihadapan kakek kuncen itu.


"Maaf, ada gerangan apa anda memanggil saya kakek kuncen?" tanya Papanya Meka.


"Saya tau, anda bisa merasakan sesuatu yang terjadi disini," ungkap si kakek kuncen.


"Maksud anda gimana ya kek?" tanya Meka bingung.


"Apakah kalian beberapa hari ini bermimpi sesuatu?" tanya kakek kuncen.


Meka sejenak terdiam mendengarkan ucapan kakek kuncen itu. Dia teringat pernah bermimpi dan mendengarkan suara orang minta tolong. Lalu dia menatap kakek kuncen penuh tanda tanya.


"Apakah nak Meka pernah bertemu dengan anak kecil secara nyata?" tanya kakek kuncen langsung menebak.


"Kok kakek bisa tau?" tanya Meka bingung.


"Saya tau, karena anak kecil yang kamu temui itu adalah adik kamu sendiri," jawab kakek kuncen.


"Apa? Kenapa Biyu mendatangi saya? Bukannya mereka sudah tenang disana?" Meka tidak percaya dengan ucapan kakek kuncen itu.


"Apa khodam yang selalu menemani kamu tidak memberitahumu apa yang terjadi?" tanya kakek itu lagi.


"Maksud anda bagaimana kek?" sekarang Zain yang bertanya.


"Beberapa hari yang lalu ada seorang laki-laki datang ke Pemakaman ini. Saya melihatnya tengah malam saat dia keluar dari area Pemakaman ini. Saya tidak tau apa yang dilakukannya dan saya merasa curiga. Awalnya saya tidak tau apa yang dilakukannya, tapi setelah saya menerawang dengan mata bathin saya. Saya melihat orang tersebut sedang menggali salah satu kuburan seseorang yang baru dikubur. Saat itu baru saya ketahui bahwa dia mengambil tali pocong anak kecil yang baru saja dikubur disini. Dan anak kecil itu adalah keluarga kalian.


Meka, Papanya dan Zain terkejut mendengar penuturan kakek kuncen itu.


"Buat apa dia mengambilnya kek? Dan apa kakek tau siapa yang mengambilnya?" tanya Zain tiba-tiba.


"Dia mengira tali pocong yang diambilnya berasal dari anak yang memiliki khodam leluhur. Sehingga dia ingin memberikan tali pocong itu kepada dukun sakti yang membuatnya sesat.


"Kepa***, siapa yang berani melakukannya!" bentak Papanya Meka sambil berdiri.


"Tenang Pa, biar kita dengarkan dulu apa yang disampaikan kakek itu, Meka berusaha menenangkan Papanya yang emosi karena gak terima jasad anaknya dipermainkan.


"Orang yang melakukannya berasal dari keluarga dekat anda sendiri. Karena dia menginginkan harta berlimpah untuk kehiduoannya. Dan dia melakukan barteran terhadap dukun sakti itu dengan memberikan tali pocong yang memiliki khodam leluhur. Karena dengan tali itu, dukun tersebut akan menjadi sakti dan dia menumbalkan jasad orang yang memiliki khodam leluhur itu.


"Katakan kek, siapa yang melakukannya? Dan apa yang harus kami lakukan?" tanya Papa ya Meka yang sudah gusar.


"Kenapa kakek ini ngelihatin gw seperti itu ya? Apa kakek ini mengetahui sesuatu tentang kelebihan gw?" bathin Meka yang membalas menatap kakek kuncen itu.


"Saya tau anak ini memiliki khodam leluhur dan mata bathin. Dan saat ini khodam kamu sedang berdiri disamping kamu," ucap si kakek tersenyum.


"Apa yang terjadi kek, jika dukun itu mengetahui bahwa anak saya Biyu tidak memiliki khasiat untuk kesaktiannya?" tanya Papanya Meka.


"Tentu orang yang mengambil tali itu akan mengetahui siapa yang memiliki khodam itu!" jelas kakek kuncen.


"Itu artinya dia akan mengetahui bahwa Meka yang memilikinya? Dan artinya Meka akan berada dalam bahaya?" jawab Zain dengan melongo.


"Benar nak. Bawalah dia pergi dari sini. Karena saat ini orang itu sedang pergi ketempat dukun itu. Dan nanti malam mereka akan melakukan ritual. Jika mereka akhirnya mengetahui tidak adanya khasiat dari tali itu, maka besok orang yang mengambil tali itu akan mengetahui anak ini yang memilikinya. Maka saran dari sana, kembalilah ke kota dimana kamu sekolah saat ini. Karena jika kamu sudah berada diluar dari Pulau ini, antara Pulau Sumatera-Jawa, itu akan sulit untuk dijangkau. Sebab, masing-masing Pulau memiliki kekuasaan yang dikuasai jin," terang kakek kuncen itu.


"Maksud kakek, jika anak saya berada di Pulau Jawa, orang yang menginginkan anak saya tidak akan bisa menggapainy, gitu kek?" tanya Papanya Meka.


"Benar, karena antara Sumatera dan Jawa akan memiliki kekuasaan. Jadi semua mahluk astral tidak akan bisa memasuki wilayah Jawa karena itu adalah kekuasaan jin di Pulau Jawa. Kecuali dia meminta bantuan dukun sakti di Pulau Jawa, maka anak anda akan dalam bahaya," ungkap kakek kuncen itu.


"Terus bagaimana dengan tali pocong anak saya kek?" Apa yang harus saya lakukan, kasihan anak saya?" tanya Papanya Meka.


"Kita tunggu tengah malam, jika dukun itu sudah melakukan ritualnya tetapi gagal, saya akan mencoba mengembalikan tali pocong itu ke jasadnya," jawab kakek kuncen itu.


"Sekarang saya harus bagaimana kek?" tanya Meka ketakutan.


"Jangan pernah tinggalkan Ibadahmu dan selalu berbuat kebajikan. Minta perlindungan sama sang pencipta, karena hanya dia yang mampu menolong umatnya. Kamu memiliki kelebihan, pergunakan itu dengan bijak," nasehat kakek kuncen itu.


"Baik kek, terima kasih karena kakek sudah memberitahukan tentang keadaan ini," Zain langsung berteriak kasih sama kakek kuncen.


"Kamu laki-laki yang baik, jaga gadis ini dan abwalah segera ke tempat asal kamu. Besok pagi kalian akan mengetahui siapa orang yang mengambil tali pocong tersebut. Tapi jika kalian melihat kejanggalan terhadap orang itu, berpura-puralah tidak mengerti. Cukup sekedar kalian mengetahuinya," jelas kakek kuncen itu.


"Baik kek, terima kasih atas saran dan nasehat kakek. Saya akan melakukan apa yang anda sampaikan," balas Papanya Meka.


"Pulanglah sekarang, karena orang yang mengambilnya saat ini sedang bersama dukun itu. Berhati-hatilah nak. Kalau bisa nanti malam, kamu ditemani sama teman laki-laki kamu. Dan jangan biarkan nak Meka ini sendirian tengah malam nanti," jelas kakek kuncen itu yang memberikan informasi penting.


"Kenapa kek?" tanya Zain.


"Karena jin yang digunakan dukun itu akan murka karena merasa dipermainkan sama dukun itu. Dan dukun itu akan mencari keberadaan orang yang memiliki khodam leluhur melalui tali pocong itu. Karena kalian punya ikatan darah. Jadi saran saya, beribadah lah ditengah malam nanti minta perlindungan sama sang pencipta," terang kakek kuncen itu.


"Baiklah kek, saya akan menjaganya dan tidak akan tidur sampai pagi menjelang," balas Zain.


"Kalau begitu kami pulang dulu kek, dan sekali lagi terima kasih karena sudah memberitahukan tentang keadaan almarhum anak saya," ucap Papanya Meka dengan tulus.


"Wahai Harimau putih, lakukan tugas kamu sesuai janjimu dulu terhadap leluhur mereka!" kakek kuncen itu tiba-tiba berbicara lantang dengan sosok yang tak kasat mata.


"Kamu nak Meka, berhati-hatilah terhadap seseorang di tempat kamu kuliah, akan banyak yang tidak menyukaimu, karena laki-laki yang berada disampingnya ini. Banyak yang menginginkannya, jadi segeralah halal kan hubungan kalian," pinta kakek kuncen itu.


Zain menoleh kearah Meka dan memandangnya dengan tatapan teduh. Dan memang itu yang diharapkan Dosganya selama ini.


"Iya kek, saya akan segera menghalalkan Meka," jawab Zain.


Lalu mereka bertiga berpamitan dan keluar dari gubuk itu. Setelah mereka keluar, mereka terus berjalan kedepan, setelah menjauh dari gubuk itu, Meka menoleh kebelakang dan dia tidak melihat penampakan gubuk itu lagi.


"Loh kemana gubuk itu. Perasaan tadi ada disana? bathin Meka penuh tanda tanya.


"Jangan bingung Meka, dia juga sosok yang tak kasat mata. Dia kuncen yang sudah lama berada disini. Tapi ajalnya tiba. Namun dia akan memperlihatkan diri terhadap orang yang diinginkannya," bisik Harimau putih Meka.


Meka langsung mengerti dengan apa yang diucapkan khodamnya. Lalu dia pun kembali mengikuti langkah Papa dan Dosganya. Mereka akhirnya keluar dari area Pemakaman. Saat berada diluar Pemakaman, mereka disapa oleh seseorang.


"Selamat pagi Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya orang tersebut yang berumur setengah baya.


"Ah tidak Pak, tadi kami baru bertemu kuncen makam ini," jawab Zain.


Sedangkan Meka dan Papanya mengetahui yang sebenarnya.